
“25998, itu adalah kode kelahirannya.”
Samar-samar suara itu terdengar di telinga Harina yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Matanya perlahan terbuka namun tak ada siapa-siapa di sana, bukan tetapi lebih tepatnya ia tak tahu apakah ada seseorang di sampingnya atau tidak. Kepalanya masih pusing dan ia tak tahu di mana sekarang ia berada.
Sebuah ruangan gelap gulita dengan hawa panas dan sangat pengap di sana. Ia sampai sulit bernafas karena tak ada setitik cahaya pun yang dapat menerangi jalannya. Hanya satu yang ia ketahui. Yang pastinya saat ini ia masih berada di dalam penjara neraka yang bahkan ia tak tahu lagi sekarang ia berada di tingkatan berapa saking lelahnya dirinya menjalani pelatihan ini.
Ia terbangun dengan susah payah dan berniat tuk segera bergerak mencari penerangan jalan.
“Hosh... Hosh... Hosh...”
Ia berlari tak menentu dengan kaki telanjangnya, tangannya dan pakaiannya telah basah akibat lautan cairan kental yang ada di bawahnya serta pijakan yang rasanya tidak rata lagi. Kaki telanjangnya merasakan banyak gelombang dengan tekstur yang lengket, terkadang ia merasa seperti menginjak kain basah dan terkadang seperti tulang keras.
Ia berlari kecil seiring semakin mendakinya pijakan di kakinya. Jalan yang tak merata membuatnya harus berhati-hati meski terkadang tanpa aba-aba ia terjatuh dan membuat pakaiannya semakin terciprat cairan kental itu.
Semakin ia mendaki, cahaya samar mulai terlihat dan itu membuatnya bersyukur. Ia semakin bersemangat dan akhirnya kini ia mencapai pendakian tertinggi. Cahaya terang telah menerangi tempat ia berpijak dan alangkah syoknya ia tatkala melihat ternyata yang sedari tadi ia pijak adalah tumpukan mayat yang tubuhnya telah bercincang, tulang-tulang dan organ-organ yang juga telah keluar dari tubuh-tubuh mereka dan darah-darah mereka layaknya lautan darah.
Harina terjatuh, kakinya tak mampu menahan berat badannya sendiri. Kakinya tiba-tiba melemas dan jantungnya berdegup kencang. Ia takut melihat mayat-mayat ini, ia menangis sungguh ia seperti ingin mati saja jika harus terus hidup entah sampai kapan ia akan bertahan di penjara neraka.
Mata Harina menangkap sebuah jembatan gantung di depan sana dan itu merupakan jalan satu-satunya keluar dari tempat menyeramkan ini. Dengan seluruh tenaga yang ia kumpulkan, ia bergerak melewati jembatan gantung itu dan akhirnya sampai ke sebuah terowongan yang menghubungkan antara ia dan sumber cahaya tersebut.
__ADS_1
Langkah demi langkah akhirnya ia sampai di ujung terowongan itu namun ia terhenti ketika matanya menangkap sesosok monster buaya yang pernah menyerang kota Frando. Seekor buaya raksasa dengan kulit baja yang terbakar. Monster yang banyak memakan penduduk kota saat itu. Harina bertanya-tanya apa yang ia lakukan hingga buaya raksasa tersebut berada di penjara neraka sepertinya.
Jika ia melangkah, maka ia akan bertemu monster buaya raksasa itu untuk yang kedua kalinya dan ia sangat ingat betul jika saat kota Frando di serang, buaya itu bergerak mengincarnya dan pasti buaya raksasa itu juga masih akan bertindak seperti dahulu. Namun, jika ia tetap di sini, maka ia akan terkurung bersama mayat-mayat ini.
Posisi Harina saat ini adalah posisi terbaik untuk menatap wajah mayat-mayat yang dapat ia jangkau. Ia menemukan kepala paman Kedde, rekan ayahnya. Walaupun mereka hanya 3 kali saja ia pernah bertemu secara langsung, tapi ia masih mengingat wajah itu.
Pandangan Harina beralih ke mayat lain yang ia kenali. Melihat kondisi tragis mereka semua, hanya wajar datarlah yang bisa ia tampakkan sekarang ini. Bukannya tak sedih, tapi rasa syoknya kini berubah menjadi mati rasa. Dan tanpa pikir panjang langsung menerobos keluar dari terowongan itu dan bertemu langsung dengan monster buaya raksasa itu.
Mata Harina dan monster buaya raksasa itu bertemu. Harina segera mengalihkan pandangannya dan terus melewati monster itu. Ia mengabaikan keberadaannya. Monster itu hanya terdiam menonton perjalanan panjang Harina ketika melewati tubuh besar dan panjangnya.
Tubuh Harina kini mandi keringat. Tangannya mengibas-ngibas udara, tenggorokannya juga sudah kering. Ia telah melewati monster buaya raksasa itu tanpa gangguan sedikitpun dan ia merasa lega. Ia tak akan mengira monster itu hanya terdiam melihatnya. Ia berbalik melihat pergerakan lambat dari monster buaya raksasa itu mulai melangkahkan ke-empat kakinya dan mengikuti jejak Harina.
Harina menghela nafasnya. “Huft... Sudah kuduga ini akan terjadi lagi.”
Sampailah ia ke tingkatan berikutnya bersama monster buaya raksasa itu. Seperti tingkat pertama dari penjara neraka, tingkatan kali ini penuh dengan api dan lava. Meski telah melewati tempat yang mirip dengan tingkatan kali ini namun Harina tetap saja tak terbiasa, tubuhnya banyak melepuh dan terluka berat membuatnya kini bersimbah darah.
Buaya itu menyebarkan pandangannya ketika ia merasakan dari kejauhan para roh-roh cacat mendekat ke arah mereka. Monster itu menyenggol tubuh Harina menggunakan moncongnya. Harina langsung bergidik ngeri kemudian berlari ke arah samping menghindari monster itu.
Harina kini berhadapan dengan roh-roh cacat itu. Roh-roh yang terbang tak memiliki kaki, kepala terbang, tangan-tangan yang merayap, kaki-kaki yang melompat. Mereka bergerak seadanya tapi cepat dan lincah tepat mengincar tubuh Harina yang memiliki tubuh lengkap. Roh-roh itu menginginkan tubuh cacat Harina agar seperti mereka. Iri pada manusia yang masih utuh membuat membuat roh-roh itu sangat dendam mengingat mereka dahulunya merupakan manusia-manusia yang juga lengkap yang akhirnya cacat seperti sekarang ini. Mereka sama sekali tak menerima hukuman neraka pada mereka.
__ADS_1
Harina tak tahu lagi kemana arah yang harus ia tuju. Di belakang terdapat monster buaya raksasa yang ingin memakannya, di depan terdapat rombongan roh-roh cacat yang juga mengincar tubuhnya.
Roh-roh semakin dekat bahkan beberapa tangan yang merayap itu telah sampai mengganggu tubuhnya dan monster buaya itu kini menganga bersiap untuk menyantapnya namun sebelum itu terjadi, Harina dengan sigap meraih tangan-tangan yang merayap di tubuhnya itu dan melemparnya ke mulut monster raksasa itu.
Tak secepat itu, satu roh dengan tubuh yang terbang tanpa kaki mulai menabrak-nabrak tubuh ringannya sehingga terpental jauh kesana kemari terus mempermainkannya layaknya bola. Harina terjatuh dan menabrak batu hitam yang bertumpuk. Ia tahu batu dari tingkatan pertama itu. Ia bangkit dengan seluruh sisa tenaganya dan mulai melempar batu-batu itu ke arah roh-roh cacat yang sedang mendekatinya.
Harina sangat panik. Batu-batu yang ia lemparkan kebanyakan meleset, di dukung oleh tubuh mereka yang terbang, kaki dan tangan yang melompat dan merayap hanya bisa membuat mereka bertahan sejenak atas serangan dan kembali menyerang Harina.
Kepala-kepala yang beterbangan mempelototinya dengan mata yang membesar dan perlahan menumpahkan darah dari matanya, kepala-kepala terbang itu tersenyum melihat Harina yang saat ini sangat ketakutan. Suara tertawa mereka terdengar begitu menggema membuat pendengaran Harina seperti akan pecah sedikit lagi. Harina menutup telinganya keras.
Tiba-tiba tanpa aba-aba buaya raksasa itu langsung melahap seluruh tubuhnya tanpa terkecuali beserta batu-batu dan tanah yang ia pijak. Ia sangat syok, ia sama sekali tak menyadari kedatangan monster buaya raksasa itu karena terlalu fokus pada roh-roh cacat yang menyerangnya.
Ia berdiri melihat sekelilingnya. Benar, ia hanya berada di dalam mulut monster buaya raksasa tersebut dan tak sampai terkunyah maupun tertelan oleh monster itu. Ia tak lagi mendapat serangan dari roh-roh cacat itu bahkan suara tawa dari kepala terbang perlahan meredup dan akhirnya tak terdengar lagi. Itu membuatnya sedikit tenang.
Ia berbalik ke arah tenggorokan si monster buaya raksasa itu dan melangkah melewati tenggorokannya tanpa pikir layaknya seperti seseorang yang telah terhipnotis.
"2..."
.
__ADS_1
.
.