Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Craze


__ADS_3

Harina menapakkan kaki kanannya ke belakang sebagai ancang-ancang untuk menghabisi semua orang yang terdeteksi musuh di atas geloranya. Posisi kepalanya masih dalam keadaan menunduk mendengar berbagai remehan yang masuk ke dalam telinganya.


Kedua menjaga yang menyeret Harina ke dalam sini pun semakin menggenggam erat kedua bahu Harina agar kembali keposisi tegak. Namun sebelum itu terjadi, Harina lebih dulu bergerak berbalik arah menyiapkan kedua jari tengah dan telunjuknya untuk menyerang titik energinya tepat di tengah perut mereka.


Dari belakang, mereka semua tampak terkejut termasuk Ayato dan Irvin tatkala kedua penjaga itu bertekuk lutut lalu terjatuh pingsan di depan Harina.


“Harina, jangan gegabah...,” Khawatir Ayato ketika melihat beberapa panah langsung terjun ke arah gadis itu.


Sejenak Harina masih terdiam ditempatnya membuat Ayato dan Irvin semakin memberontak meski panah-panah yang ada di punggung mereka masih tertancap kuat.


“Harina larilah!” perintah Irvin tetapi masih tak di dengarkan oleh gadis yang tak berkepentingan itu.


“6..7...” gumam Harina menghitung jumlah panah yang mengarah padanya, seketika itu juga kaki kirinya langsung berputar kemudian menangkap kedua panah yang tiba duluan dan langsung mengubah arah panah dengan menabrakkan kedua panah yang ia pegang.


Sisa 3 panah dan itu dengan mudah ia tepis hanya dengan satu tangan kosongnya. Meski ia sedang dalam mode menggila, kali ini dia masih bisa membedakan kondisinya saat ini yang tak memungkinkan ia untuk menggunakan kekuatan atau sihirnya. Semua yang ia lakukan hanyalah dengan bela diri.


“Ciih... Lepaskan mereka brengsek.” Harina mendekati 2 orang musuh yang tengah menginjak bahu Irvin dan Ayato yang masih terus bertekuk lutut dibuatnya.


Pandangan Harina terhalangi dengan keberadaan seorang pria berkumis tebal, berkulit hitam dengan tubuh besar dan tinggi. Pria itu memegang sebuah palu besar miliknya.


“Haha... Jangan songong dulu nona, kau tak akan bisa menyentuh teman-teman pengecutmu yang sudah sekarat itu. Kau tahu mengapa? Karena kau telah berada di dalam kandang singa.”


Harina segera menyebarkan pandangannya. Yang benar saja, tak segan-segan pria berkumis itu memerintahkan seluruh pasukannya untuk mengepung Harina. Meski ia hanya seorang gadis biasa, tetapi pria berkumis itu tahu bahwa Harina memiliki teknik bela diri yang handal.

__ADS_1


Sekitar 50 pasukan tengah mengepung Harina yang merupakan bala bantuan dari gerbang lorong kedua. Berkat kedatangan mereka, Harina akhirnya dapat merasakan langkah kaki yang di lakukan oleh Aira dan Annie yang masih berada di lorong pertama. Memang lorong pertama sangatlah panjang, ditambah berbagai drama mengulur-ulur waktu dari mereka, tentu saja ia mendapat banyak waktu untuk menghabisi semuanya.


Di setiap sudut goa itu, 20 orang pemanah telah berjejer mengarahkan arah panah ke tengah tepat di mana Harina berdiri, kemudian 30 orang pemegang pedang dan perisai pun ikut menodongkan senjatanya, dan yang terakhir pria berkumis itu melangkahkan kakinya ke sebuah tepat di singgasana khusus untuknya lalu matanya kini tertuju pada Harina yang masih berlagak songong.


Selain palu besar, ternyata pria berkumis itu sekarang menunjukkan 2 buah pistol yang mampu melumpuhkan lawannya di manapun ia berada. “Aku tak akan menerima permintaan maafmu nona meskipun kau merengek padaku.” Pria berkumis itu mengangkat tangannya dan langsung menggerakkan kedua jarinya sebagai aba-aba untuk memulai pertarungan ini.


Harina terkesiap dan langsung melompat ke dinding-dinding goa dan berlari dengan cepat. Musuh pertama yang akan ia serang dan yang paling mengganggunya adalah para pemanah jarak jauh. Ia bisa saja terkena jika mereka tak segera di habisi.


Ingin segera menyelesaikannya, terpaksa Harina menggunakan kekuatannya sedikit saja untuk mengadu domba lawan. Gadis itu merampas panah lalu berlari lari ke atas dinding-dinding goa sembari mengarahkan anak panah itu secara sembarangan, tak terkecuali Irvin dan Ayato yang juga ikut kelabakan melihat Harina yang kelewat menggila bagi mereka.


“Apa dia lakukan? Sial.” Dengan segala tenaga yang ia kumpulkan, Irvin yang telah mencabut anak panah dari punggungnya bergerak reflek membunuh satu pemegang pedang dengan anak panah itu kemudian merampas perisai dari tangannya untuk melindungi mereka dari kegilaan aneh gadis yang mereka ingat jelas adegan di mana mereka pernah pertontonkan ketika Harina berada di dimensi lain.


Sementara Ayato semakin tak tahan akan ke-tiga anak panah yang masih menancap, Irvin segera membantunya lalu menekan pendarahan yang di alami sahabatnya itu. “Tenanglah, Ayato. Aku akan membawamu keluar dari sini.”


“Irvin, a~aku masih bisa...” Ayato mencoba berdiri sekuat tenaganya demi tetap bertarung, ia sangat takut jika saja gadis itu kalah jika di lihat dari jumlah yang berkali-kali lipat itu.


Irvin menggeleng. “Percayalah padanya, lihatlah para pemegang panah menusuk diri mereka sendiri, sisanya Harina tengah mengatasi para pemegang pedang karena mereka memiliki perisai. Mungkin membutuhkan waktu, aku akan datang membantunya jadi kau keluarlah dari sini.”


“Ukhuuk...” Ayato terbatuk darah akibatnya.


Irvin menyadari tatapan pria berkumis yang baru saja tersadar akan niat mereka. Irvin berbisik. “Pergilah, aku akan mengalihkan perhatian pria besar itu.”


Ayato kini mempercayakan pada Irvin dan Harina. Namun sebelum ia beranjak diam-diam, ia menangkap punggung Irvin yang juga terluka panah tadi masih mengeluarkan darah yang banyak. “Sial, anak itu.”

__ADS_1


Langkah terhenti lalu meraih sebuah anak panah yang penuh darah di tanah goa itu dan langsung melemparkan anak panah dengan kuat tepat di leher sang pria berkumis yang tadinya tengah teralihkan oleh keberadaan Irvin.


Pemuda berambut panjang itu membulatkan matanya tatkala melihat anak panah menusuk pria besar itu akibat ulah Ayato yang entah sedang dirasuki apa. “Ayato, larilah.”


Reflek Irvin pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun berlari naik kesinggasana dan menusuk dua anak panah ke kedua dada pria besar itu. Tak sampai di sana, beberapa pasukan pedang yang menyadarinya pun bersama-sama menyerang Irvin yang tak menyadari bahaya yang mendatanginya.


“IRVIIIIN!”


Reflek Ayato berlari dan menepis satu persatu pasukan yang berniat jahat pada sahabatnya. Ia masih bisa bertarung. Meski di saat-saat terendahnya pun ia tak akan lari dari tekanan ini.


“Aku tak akan segan, enyahlah!” teriak Ayato mengalihkan perhatian Harina dan Irvin.


“Hihhi, jangan melupakanku.” Dengan sekali tembakan, peluru itu sukses mengenai tubuh Irvin. Satu hal yang mereka lupakan, pria besar itu masih memegang pistolnya.


Deg...


Tepat di depan mata Ayato dan Harina. Irvin terjatuh tak berdaya, dengan darah yang keluar dari bibirnya. Matanya terlihat kosong nan gelap, perlahan tertutup kehilangan kesadarannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2