
Seraya mengepalkan tangannya erat, merasakan emosi yang begitu mengganjal di hatinya. Siapakah yang benar?
Hari semakin hari, Ayato semakin serius menekuni dunia perpedangan dan ilmu bela diri yang dapat melihaikan seorang ahli pedang. Entah mengapa jejaknya seperti memanas setiap melakukan kegiatan.
Ia berlatih sangat keras, tak ada jeda bermain bahkan siapapun yang berlatih dengannya akan di habisi tanpa ampun. Pedang kayu itu terjatuh dari kedua tangannya, ia menunduk ketika mendapatkan tamparan dari lawan latihannya.
“Ayato! Mengapa kau begitu serius ini hanya latihan, bagaimana jika tanganku sampai bengkok gara-gara ulah kau?!” geram murid yang bernama Janggun itu.
Irvin yang melihat suasana panas antara sahabatnya dan lawan latihannya langsung menengahi keduanya. “Aigo aigo, Janggun-ah, maafkan Ayato belakangan ini dia memang ada masalah jadi tolong pahami, dia sedang tidak baik-baik saja.”
Janggun mengalihkan pandangannya ke arah Irvin yang mencoba menghalanginya dengan muka masamnya karena terlanjur emosi akan kekerasan yang dilakukan Ayato secara langsung padanya.
“Aku tak peduli dia punya masalah sepele ataupun serius, itu bukan urusanku. Yang penting adalah dia telah memukulku menggunakan pedang kayu itu jadi terimalah akibatnya!”
Irvin sontak mendorong Ayato ke samping menghindari pedang kayu milik Janggun yang di layangkan ke arah mereka.
Emosi yang semakin memuncak, adik dari dokter Jessica Park itu mengcekeram baju Irvin dengan kuat. “Irvin ku tegaskan padamu, berhenti ikut campur. Aku tak mau kau terluka. Mengerti?” kukuhnya kemudian menepuk-nepuk dada Irvin.
Irvin yang merasakan hawa gelap yang di keluarkan Janggun tanpa basa-basi langsung meng-iyakan saja dan menelan ludahnya pahit. Begitu Janggun berdiri dan memfokuskan perhatiannya lagi pada Ayato yang sekarang berdiri tegak menatapnya penuh gairah ingin menghabisi.
Irvin lantas berlari ke arah Tasiro yang sedari tadi hanya menonton pertunjukan yang di buat oleh anaknya sendiri. “Sensei, tolong hentikan mereka.” Mohonnya.
Tasiro meneguk segelas jus jeruk miliknya kemudian melihat cuaca cerah yang menyinari dua orang yang sedang saling serang itu. Ia hanya tertawa kecil dan tak ingin mengganggu apalagi menghentikan kegiatan mereka.
“Biarkan mereka seperti itu, pertarungan karena emosilah yang pantas menjadi latihan sungguhan. Heumm, benarkan Irvin?” tanya Tasiro sambil menawarkan segelas jus jeruk di gelas lainnya.
__ADS_1
Irvin menerima gelas itu dengan perasaan canggung dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Tasiro langsung menunjuk Ayato yang sekarang sedang tersudutkan. “Lihatlah Irvin, apa yang akan Ayato lakukan selanjutnya? Bukankah perasaan tersudutkan itu membuat kita merasa menyedihkan dan lemah?”
“Maaf Sensei, tapi murid-murid lain semua berhenti berlatih gara-gara keributan yang mereka timbulkan.” sela Irvin, Tasiro hanya menghela nafasnya dalam.
“Perkelahian memang selalu menjadi hiburan yang menyenangkan untuk di saksikan. Tetapi kau benar, mereka harus segera melanjutkan latihan. Aku memberimu tugas pribadi,” ucap Tasiro berdiri dari tempat duduknya kemudian memberi sebuah pedang sungguhan pada Irvin.
“Tugasmu adalah hentikan mereka, tidak ada jam istirahat, buat semua kembali fokus pada latihannya kemudian kembali padaku dan bawa Ayato De Ryuu dan Park Janggun kepadaku.” Perintahnya lalu meninggalkan Irvin yang sedang dalam kebingungan besar.
Irvin menatap dalam bilah pedang yang sangat tajam dan mengkilap itu. Sungguh keren, namun ini bukan saatnya untuk mengagumi pedang itu. Irvin berbalik melihat Sensei Tasiro yang ternyata belum pergi dari tempat latihan dan berdiri tegak di sana menyaksikannya.
Dengan segala keberanian yang telah di kumpulkannya, Irvin mendekati kerumunan kemudian menodongkan pedang itu ke seluruh murid. Semuanya langsung tergerak mundur termasuk Janggun yang sesungguhnya masih belum puas memukuli Ayato dengan tinjuannya. Mereka tahu bahwa pedang asli itu milik Sensei Tasiro yang artinya Irvin membawa sebuah perintah tidak langsung pada mereka.
Setelah memastikan semua murid cukup jauh darinya, ia langsung menyayat sebuah kayu kokoh yang tegak di sana di depan semua murid. “Perhatian semuanya. Aku berdiri di sini atas perintah Sensei Tasiro, silahkan lanjutkan latihan kalian semuanya. Tidak ada jam istirahat, kalian sudah menggunakan waktu latihan sebagai jam istirahat, dan kalian berdua ikut aku!”
Baru saja Irvin berbalik, seorang murid langsung mengoceh. “Ayolah, kalian sendiri yang membuat keributan, jadi yang salah itu kalian. Wajarlah jika kami semua terganggu karena ulah kalian.”
“Hei Irvin, apa benar itu adalah perintah Sensei Tasiro? Dianya saja tidak ada di sini, dari mana kamu mencurinya?”
Tawa remeh murid-murid yang juga tak setuju dengan perintah yang baru saja di tujukan Irvin yang menurut mereka sangat beralasan itu sedangkan Irvin mulai mencari keberadaan gurunya itu yang telah hilang dari tempatnya.
Ayato mengelap darah di sudut bibirnya kemudian berdiri merangkul Irvin yang sedang terpojokkan itu. Sementara itu, Janggun hanya terduduk tak banyak gerak. Sungguh ia benar-benar merasakan seluruh titik tubuhnya mengkaku saat mendapatkan pukulan tangan kosong dari Ayato, walaupun ia setelah itu ia langsung bangkit melemparkan pedang kayu itu ke wajahnya dan akhirnya ia membalas pukulan itu, tetapi tetap saja dampak yang di rasakannya sangatlah berbeda. Semakin lama, perlahan semakin sakit. Ia sungguh penasaran teknik apa yang telah di gunakan oleh Ayato. Ia berdecih kesal, ia sungguh iri dan merasa terkalahkan.
“Sensei Tasiro tadi ada di sebelah sana, ia menyuruhku menghentikan keributan ini dan pergi dari sini.” Jelas Irvin membela diri.
“Sudahlah, mentang-mentang kau berteman dekat dengan anaknya kau jadi seenaknya menipu kami. Dan kau Ayato mentang-mentang kau anak dari Sensei Tasiro, kau jadi seenaknya berlaku kasar pada lawan latihanmu.” celoteh satu lagi murid yang jelas memihak ketua gengnya Janggun.
__ADS_1
Janggun reflek menjentikkan jarinya. “Benar sekali Zayan, sepertinya mereka merasa di atas angin hanya karena hubungan mereka.”
Mereka tertawa.
Ayato hanya memutar bola matanya malas. Ia memang tak pernah menyukai Janggun dan para anggota gengnya. Yang setiap hari hanya menebar pesona pada murid-murid pelayan dan juga membully murid-murid yang dengan latar belakang keluarga yang lebih rendah darinya.
Ayato yang sedang merangkul Irvin lantas menariknya berniat menghadap ke ruangan ayahnya karena ia sangat percaya pada sahabatnya itu, namun Irvin menolak. Ia tak ingin meninggalkan tempat latihan sebelum ia melaksanakan tugasnya dengan baik.
“Hei kalian, dengarkan baik-baik. Setelah Sensei Tasiro memberiku pedangnya, dia berkata jika tak ada yang menuruti perintahku, layangkan saja pedang ini ke tangan-tangan mereka,” kata Irvin sambil mengangkat pedang itu bersiap menebas mereka.
Janggun reflek berdiri sedangkan murid-murid pembangkang itu pun semakin mundur dan beberapa murid teriak ketika pedang itu akan mengenai tangan Zayan. Bersamaan dengan teriakan beberapa murid, pedang langsung beralih target menuju leher Janggun.
Tanpa berpikir lagi, para murid langsung melaksanakan perintahnya dengan setengah hati kemudian Ayato dan Janggun akhirnya mengikutinya untuk menghadap ke ruangan Sensei Tasiro.
...~~~
...
Tasiro berdiri tepat di depan jendela lantai atas seraya menyaksikan kinerja Irvin yang sukses melaksanakan tugasnya. “Bagus Irvin, biarkan aku menilaimu, apakah kau lebih berguna dibanding anakku sendiri.”
Tawa puas Tasiro menggema di ruangannya.
.
.
__ADS_1
.