Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
EXcape


__ADS_3

Harina, Ginni dan ke-lima pengawal itu bertepuk tangan meriah setelah mereka sukses membawakan lagu mereka.


“Terima kasih semuanya, kami mencintai kalian.” Lontar Irvin seraya melambaikan tangannya begitu percaya diri diikuti ke-tiga temannya.


Sebagai perayaan kecil-kecilan mereka, mereka akhirnya berada di sebuah resto kecil beramai-ramai. Tak hanya The Tyranny, bahkan Ginni dan Harina pun di sana. Masih dengan alasan hadiah pemenang konser, tanpa segan Ginni lagi-lagi mengiyakan penawaran mereka.


Sembari menyantap makanan, mereka pun berbincang kecil dengan santai di dalam resto bergaya sederhana itu. Ginni yang begitu cerewet terus menyatakan pendapatnya dan menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh Annie, Aira dan Irvin. Sedangkan Ayato hanya terdiam gugup merasakan sepasang mata yang menatapnya dalam.


Ayato sedikit melirik pada Harina yang tak segan-segan menatapnya penuh penasaran dan tentu saja hal itu membuat wajahnya terlihat merona.


“Jadi apa yang terjadi dengan nona Harina?” tanya Aira pada Ginni seolah-olah baru bertemu dengan Harina dan menanyakan hal-hal yang di lihatnya hari ini. Sedikit kekhawatiran tersimpan di hari mereka di mana hari sebelumnya Harina tampak baik-baik saja, namun sekarang terduduk di kursi roda.


Ginni berpikir sejenak mencoba menemukan alasan yang bisa tetap menyembunyikan identitas Harina sebelum acara penobatan dilaksanakan. “Sebulan yang lalu nona mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang. Kata dokter nona hanya lumpuh sementara tetapi entah sementaranya itu kapan.”


Mereka hanya terdiam menyadari bahwa Harina sedang berakting lumpuh.


“Kak Ginni, sudah jangan membicarakan tentangku terus, masih banyak pembahasan lain yang lebih menarik bukan,” ketus Harina lalu melanjutkan makanannya.


Setelah selesai acara makan bersama mereka, di hari-hari berikutnya pun Ginni dan Harina tetap bertemu dengan Ayato dan kawan-kawan, mereka pun terlihat akrab semakin hari hingga Harina mengakhiri akting lumpuhnya karena lelah dengan keberadaan Ginni yang harus mendorongnya dan juga 5 pengawal yang harus tetap berjaga, sungguh merepotkan. Gadis itu tak ingin di ikuti seperti itu.


Satu minggu kemudian. Harina berjalan di siang hari yang masih terlihat ramai. Pasar pusat masih terbuka hingga sore hari memudahkan ia untuk berjalan-jalan santai menikmati kepadatan penduduk.


Gadis itu menghela nafasnya panjang merasakan hembusan semilir angin. “Sesekali aku mencium aroma makanan pasaran. Dari aromanya saja sangat menggiurkan, sayang sekali aku tidak memiliki uang sepeser pun untuk di bayar. Walaupun...,”


Harina berbalik ke beberapa pria yang sedang sibuk menyamar. “Huft, aku sudah lepas dari Ginni tetapi aku tak bisa lepas dari para pengawal yang menyamar itu. Jika aku memakan dagangan orang tanpa membayar, apa mereka akan datang membayarnya?”

__ADS_1


Langkah kaki Harina mendekati sebuah pedagang kecil yang menyediakan kue-kue kering dan beberapa roti panggang. Sesuai dugaan, salah satu pengawal juga mencicipi sebuah roti panggang yang sama dengan Harina kemudian membayar keduanya.


Harina menyenggol lengan pengawal di sampingnya. “Hei, apa yang lainnya tidak mau mencicipinya juga?”


Pengawal itu hanya menunduk. “Tidak nona. Kami hanya akan bertugas menjaga nona bukan untuk makan.”


Harina tertawa lepas. “Haha makanlah, panggil yang lain juga. Aku merasa tak enak jika makan di depan kalian. Apalagi kalian tidak ikut makan bersamaku dengan Ginni kemarin. Aku jadi merasa bersalah. Aku seperti menyiksa kalian, maka dari itu jika ingin menjagaku sebaiknya tambah energi kalian dengan makanan-makanan mengenyangkan di pasar ini.


Tanpa aba-aba Harina memanggil mereka satu-persatu agar berkumpul bersamanya.


Sampailah mereka di rumah makan besar. “Makanlah sepuasnya, selamat menikmati. Sini dompetnya biar aku yang bayar.”


Pengawal itu akhirnya mengisi perut mereka. Mereka terlihat begitu akrab berbicara dan bercerita dengan begitu lepas seperti tak ada tugas yang mereka tengah kerjakan. Mempercayakan semuanya pada gadis yang mereka hormati. Gadis yang sangat baik hati, gadis yang tidak tegaan hingga dengan senang hati menyuruh para pengawal untuk beristirahat dari pekerjaan mereka. Sementara itu.


“Terima kasih yah Non...”


“Sial... Nona kabur!”


Semua pengawal langsung menyebar mencari jejak Harina.


......


...


Di suatu gang yang gelap. Harina yang tengah berlari sejauh mungkin untuk menghindari para pengawalnya yang telah menyadari rencananya tiba-tiba di tarik oleh tangan kekar yang langsung mengurungnya dengan badan besarnya sehingga gadis itu tak dapat terlihat lagi. Harina mendongak menengok pemilik tangan kekar yang telah membantunya bersembunyi.

__ADS_1


“Ayato” gumamnya terpesona karena hanya sosok Ayato yang dapat di tangkap oleh matanya, posisi mereka yang begitu dekat membuat mereka dapat merasakan detak jantung masing-masing yang berdegup kencang. Tangan Harina yang menyentuh dada bidang itu menahan posisi mereka agar tidak terlalu dekat. Jika ingin jujur, Harina tengah mati-matian menahan kekuatannya untuk tak keluar saat ini karena perasaan aneh yang ia rasakan.


Tubuh tinggi Ayato membuat Harina dapat merasakan hembusan nafasnya yang memberat. “Nona Harina...” panggilnya.


Tangan Ayato yang semula berada tepat di samping kedua sisi bahunya kini bergerak semakin ke bawah meraih sebuah ganggang pintu di belakang Harina dan membuka pintu itu perlahan membuat Harina yang semakin mundur dalam kurungannya.


“Nona, bersembunyi lah saat ini di sini dulu. Aku akan pergi keluar sekaligus memastikan orang-orang itu telah pergi kemudian nona boleh pergi ke mana pun.”


Sebelum Ayato pergi, Harina menahannya. Tentu saja di ruangan sempit ini bisa-bisa pengawalnya mencurigai tempat ini, karena mereka telah terlatih dan berpengalaman. Mencari seorang gadis kecil sepertinya pasti mudah bagi mereka, maka dari itu dia perlu untuk terus di sisi Ayato saat ini.


“Ada apa nona?”


Harina menarik nafasnya dalam-dalam. “Jangan pergi, tinggallah di sini bersamaku atau aku ikut bersamamu.”


Mata Ayato tampak membulat dan mengalihkan pandangannya sebentar tak sanggup melihat wajah Harina saat ini. Bukannya ingin menolak, tetapi demi keselamatan Harina, ia harus tetap pergi meninggalkan Harina apapun yang terjadi.


Tanpa aba-aba Ayato langsung mengurung Harina lebih dekat dengannya dan memposisikan wajahnya tepat di depan wajah gadis yang tampak kaget itu. “Nona, aku tidak sedang bersama Annie, Aira dan Irvin, aku bisa saja melakukan apapun terhadapmu saat ini. Apa kau tak takut pada apa yang ku bawa ini?” ancamnya menakuti Harina.


Ayato sedikit menggoyangkan sarung pedangnya yang terikat di pinggangnya sebagai pertanda. Tentu saja Harina tahu apa itu dan sama sekali tak takut, seandainya saja pemuda itu tahu kekuatan tersembunyinya. Yang ia yakini saat ini bahwa Ayato sedang dalam bahaya.


Harina menggeleng. “Aku ingin ikut,” Paksanya.


Ayato sedikit tersentak mendengar jawaban gadis itu. “Kau benar-benar tak takut padaku? Penampilanku saat ini sangat berbeda dari yang biasanya. Sekarang ini aku mengincar seseorang untuk di bunuh. Kau tetap ingin ikut bersamaku?” Tanyanya memastikan sedangkan Harina pun hanya membalasnya dengan anggukan penuh keyakinan.


Pemuda itu tampak tertegun dan bergerak menyatukan kedua dahi mereka kemudian menutup matanya. Ia bahkan tak menyangka gadis ini terlihat begitu mempercayainya dan ingin mengikutinya dalam keadaan polos seperti ini. Tak ada pisau seperti biasanya atau peralatan untuk melindungi diri lainnya.

__ADS_1


“Baiklah. Ayo kita pergi bersama.”


__ADS_2