
Tebalnya kabut memisahkan kedua pemuda bersenjata pedang itu tanpa sadar semakin menjauh dari posisi mereka masing-masing. Kabut tebal yang membatasi pandangan mata, hawa pengap yang di timbulkan membuat mereka semakin sulit bernafas.
“Ayatoo...”
“Irvin...”
Panggil mereka masing-masing namun tak ada jawaban yang terdengar di telinga mereka.
“Irvin, aku tak suka bercanda di saat-saat seperti ini, kemarilah bersembunyi dariku,” sahut Ayato sambil meneruskan jalannya lurus terus meskipun ia tak melihat suasana di depannya.
Ayato berdecih kesal kemudian tanpa ingin bertele-tele lagi, memutuskan untuk meninggalkan jejak Irvin. Ia menyusuri jalan berkabut itu dengan cepat dan was-was terhadap sekitar membuatnya semakin sulit menemukan jalan keluarnya.
Di sisi lain, Irvin menepuk-nepuk bahu Ayato yang sedari tadi tak menoleh padanya dan itu membuatnya gelisah. “Ayato, aku sedari tadi mencarimu ternyata kau di sini. Hei Ayato, kau dengar tidak?”
Irvin menarik kembali tangannya di bahu Ayato yang sedari tadi diam tak bergerak. Sungguh mengkhawatirkan, Irvin mencoba mengibas-ngibas dengan tangannya sendiri agar kabut itu menghilang tapi sayangnya kibasannya tak dapat mengalahkan tebalnya kabut.
Irvin menoleh ke belakangnya di mana Ayato berada, Ayato masih terdiam membisu menatapnya. Ia kembali menghadap ke depan, Ayato sedang berdiri di sana membelakanginya, lalu berbalik lagi ke arah kanan lagi-lagi Ayato ada di sana. Irvin tersentak kaget kemudian menyipitkan matanya curiga. Dengan gerakan cepat ia langsung berbalik ke samping kiri lalu kembali ke belakang. Ayato ada di mana-mana.
Irvin menutup matanya mencoba sekalem mungkin, ia mencoba menebak Ayato yang sesungguhnya yang mana. Ia membuka matanya perlahan melihat ke bawah namun masih enggan menatap ke arah lainnya membuat Ayato-Ayato palsu itu berbalik menghadap dirinya memaksa Irvin turut untuk menatap mereka.
“Oy...oy...oy... Ayato sejak kapan kau memiliki seribu bayangan, para bayanganmu menakutiku.” decak Irvin tertawa paksa ketika para Ayato palsu itu mendekatinya dengan lanban dan berbagai ekspresi yang di tujukan terlihat begitu menakutkan. Ada yang mengerutkan alisnya, tersenyum lebar memperlihatkan giginya, wajah datar cenderung murung, sedih, bahkan kesal.
Posisi mereka semakin mendekat, reflek Irvin berlari ke depan tanpa pikir harus menabrak beberapa dari mereka yang penting saat ini, ia bisa kabur dari ilusi yang menakutkan itu. Langkah yang besar tercipta di antara kedua kakinya yang sibuk bergerak untuk melarikan diri dari tempat tadi.
“Aauch...” rintih seorang nenek dalam kabut.
Irvin pun terjatuh karena menabrak nenek itu namun tidak dengan nenek yang masih kokoh berdiri itu. Nenek itu menatap Irvin dengan wajah penuh kebingungan. Ia pun menunduk dengan tangan mengulur memberi sebuah pertolongan pada anak muda yang baru di lihatnya di lingkungan itu.
__ADS_1
“Terima kasih nek,” Irvin berniat melepas tangannya dari tangan nenek itu namun begitu sulit. Beberapa kali ia mencoba dan meminta agar tangannya di lepaskan tetapi tetap saja tidak bisa. Irvin mulai panik dan takut, tiba-tiba nenek renta itu berkata. “Nak, apa kau melihat cucuku yang masih bayi, besarnya sekitar umur 1,5 tahun?”
Irvin hanya bisa menggeleng mendengar pertanyaan dari nenek renta yang masih memegangnya kuat. Tentu saja nenek itu tahu gelengannya merupakan jawaban tidak, ia langsung melepaskan tangan Irvin dengan kasar hingga ia kembali terjatuh. Sedangkan Irvin meringis kesakitan tak menyangka seorang nenek renta sangat kuat seperti itu di tambah lagi tangan yang telah tersentuh dengan kulit nenek itu menjadi berlendir, entah nenek itu habis memegang apa yang jelas tangan Irvin terasa sangat lengket dan membuat Irvin sendiri menjauhkan tangannya dari dirinya.
“Cucuku Irvin, di mana kau?” teriak nenek tersebut membuat Irvin terkaget lalu menghentikan nenek tersebut.
“Maaf nek, perkenalkan sebelumnya namaku juga Irvin sama seperti nama cucu nenek itu, kalau boleh tahu nama panjangnya siapa?” tutur Irvin mencoba bertanya sopan pada nenek aneh itu.
Nenek renta itu menjawab. “Namanya Irvin Forke.”
Jawaban dari nenek itu membuat Irvin bergidik. Dengan sedikit terbata-bata Irvin bergumam kecil namun tetap terdengar di telinga nenek itu. “A~aku Irvin For~ke.”
Nenek itu bergerak tiba-tiba hampir berhasil memeluk Irvin jika saja Irvin tidak menyadari pergerakan nenek itu yang terbilang cepat. Nenek renta itu memasang ekspresi lesu di wajahnya setelah Irvin menolak pelukan itu secara nyata.
Irvin sedikit kasihan pada nenek itu. “Maaf nek, tapi aku bukan cucu nenek. Lihatlah aku sudah besar, bukan bayi yang seperti nenek cari.” Sanggahnya.
Irvin memejamkan matanya sambil meronta. “Tidaaaaak...”
Ayato berbalik ke arah pintu ruangan, ia seperti mendengar sesuatu tetapi suara air bergemericik terdengar telah menyamarkan pendengarannya. Entah di mana ia sekarang, Ayato masih berjalan dengan penuh kepercayaan diri meskipun air yang turun semakin menenggelamkan kakinya. Setelah melewati kabut keraguan di awal, Ayato telah sampai ke sebuah rumah besar nan luas tetapi kumuh, kotor di penuhi debu dan sarang laba-laba meskipun begitu desain yang unik menjadikan kekurangan-kekurangan itu sebagai penambah suasana dark pada rumah tersebut.
Tak cukup beberapa menit, air yang turun mulai menderas dan kini tersisa setengah dadanya saja dan itu semakin sulit baginya untuk berjalan dan akhirnya memutuskan untuk berenang saja. Tak perlu ada yang ia khawatirkan sebab ia pikir Irvin pun tahu caranya berenang dengan baik.
Kursi-kursi dan barang-barang lain yang ada dalam ruangan pun turut mengapung, hal itu membuat Ayato sedikit kesulitan untuk bergerak namun tekadnya yang kuat tetap bertindak maju pantang mundur sedangkan ruang semakin menyempit.
Akhirnya tanpa menunggu waktu lama, Ayato pun tak memiliki cukup ruang karena air ini telah mencapai atap rumah sehingga tak ada cara lain selain menyelami ruangan penuh air ini. Ia langsung menenggelamkan dirinya sendiri yang kala itu matanya langsung menangkap 15 bayangan dirinya membuatnya keheranan.
“Ayato...” panggil mereka bersamaan.
__ADS_1
Sambil menahan nafas, Ayato menyaksikan sebuah drama kecil yang di lakukan oleh bayangannya sendiri.
Salah satunya berkata. “Ayato, suatu saat kau akan menjadi lebih kuat dari ayahmu, masuklah ke lini depan pejuang agar bisa membanggakan orang tuamu.”
Salah satunya tiba-tiba menyangkal. “Tidak, kau seharusnya membenci orang tuamu yang sangat jelas memperalatmu itu.”
Ayato lainnya bertekad. “Baiklah sesuai keinginan ibu, aku pasti bisa.”
“Tidak Ayato, Harina siapamu? Mengapa kau ingin melindunginya?”
Kemudian momen masa kecilnya terlihat. “Ibu, aku ingin menjadi orang besar suatu saat.”
“Ayah, lihatlah aku akan menjadi orang yang berbeda dari kalian, tentunya lebih hebat.”
Kembali kepada dirinya yang tengah emosi meninju-ninju sebuah batang kayu yang tak lagi kokoh.
“Ayato kau terlalu percaya diri, kau tak akan bisa menjadi pengawal Harina karena mereka di masa depan belum tentu Harina membutuhkanmu.”
“Ayato... Ayato... Orang-orang membencimu bahkan orang tuamu pun tak menginginkan kelahiranmu. Berhenti berharap seseorang bisa tahan di sampingmu. Irvin pun sekarang risih padamu.”
“Ayato, apa kau tak melihatku?”
Melihat dirinya sendiri yang selalu risau itu, ia bergerak menutup mata dan telinga tak sanggup mendengar ocehan yang pernah singgah di dalam hati kecilnya. Dan karena itu, ia semakin kebingungan akan jati dirinya sesungguhnya.
Ayato semakin tertekan oleh berbagai pertanyaan tentang jati dirinya, sedangkan Irvin semakin tertekan akan keraguannya dalam mengambil langkah sehingga sulit baginya melewati ilusi kabut.
Mereka berdua membuka mata. “Hei, apa itu menakutkan bagimu?”
__ADS_1