Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Großes Tor


__ADS_3

“Ayato... Setelah kita pernah di hukum dan kau yang di suruh ibumu untuk menjadi juara kelas periode ini, tak ku sangka bahwa kita tetap akan membolos untuk kedua kalinya,” ragu Irvin tetap mengikuti Ayato dari belakang.


“Husst... Diamlah nanti kita ketahuan oleh ayahku.” Irvin langsung mengunci bibirnya sendiri sebelum Sensei Tasiro menyadari jika ia sedari tadi terus di buntuti hingga keluar sekolah.


Ayato dan Irvin berjalan seperlahan mungkin agar tak menimbulkan suara yang mencurigakan di tengah pusat kota. Tak tahu Tasiro akan membawa langkah mereka kemana yang jelas mereka berdua hanya perlu membuntutinya setelah diam-diam mendengar percakapan Tasiro dengan guru lainnya dan ketika itu, Tasiro di perintahkan untuk pergi menemui seseorang yang mencurigakan.


Dengan jubah panjang berwarna army yang menutupi identitasnya, Tasiro mulai mempercepat langkahnya saat setelah melewati pusat kota yang ramai. Berjalan menyusuri gang-gang kecil di ikuti Ayato dan Irvin, adalah paduan sempurna untuk mendatangi tempat yang akan di kunjunginya.


Sampailah mereka di sebuah pintu gerbang yang sangat besar.


Mereka berdua memperhatikan apa yang di lakukan oleh Tasiro hanya untuk membuka gerbang tersebut. Tasiro terdiam di sana menghela nafasnya dalam bersiap kemudian mengeluarkan pedang yang sebelumnya berada di dalam punggung jubahnya.


“Irvin bersiaplah, kita tak tahu apa yang akan terjadi ketika ia melakukan aksi anehnya itu.” Irvin mengangguk kemudian mengambil semua peralatan yang di pegang Ayato agar memudahkan sahabatnya itu menangkap gerak-gerik ayahnya sendiri yang sulit terlihat dari posisi mereka saat ini.


“Arigatou,” ucap Ayato lalu menyiapkan mata tajamnya. Kemampuan inilah yang membuat Ayato cepat belajar dan semakin hari semakin lihai dalam mengayunkan pedangnya dan juga keterampilan bela dirinya. Kemampuan meniru.


Tasiro mulai menggerakkan pedang itu seperti sebuah tarian pedang yang mengayun-ayun di udara. Dapat terlihat pusaran angin mulai berubah membentuk sebuah tornado kecil yang bergerak seimbang ke arah gerbang besar itu.


Perlahan gerbang terbuka oleh pusaran angin yang mendorong gerbang tersebut. Ayato dan Irvin tak habis pikir jika Tasiro akan membuka gerbang menggunakan tenaga angin. Tasiro sedikit melirik ke belakang melihat sekelilingnya membuat Ayato dan Irvin reflek bersembunyi di sebuah tiang lebar yang cukup menutupi keberadaan mereka.


Tasiro yang tak melihat siapapun kembali berbalik dan akhirnya memasuki gerbang tersebut yang hanya terbuka sedikit saja hanya untuk memuat jalan Tasiro si pemilik rumah asing itu. Bahkan Renne pun tak tahu dan tak pernah mengunjungi karena hal inilah. Di samping suaminya yang melarang, diam-diam pun percuma karena gerbang itu tak akan terbuka jika tak tahu kuncinya.


Gerbang yang di buat beton dengan tambahan campuran bebatuan purba yang di gali dari ocean cave sebuah tempat tersembunyi yang jauh di dasar lautan yang dapat membantu gerbang tersebut buka tutup layaknya magnet alamiah yang terhubung dengan pusaran angin yang di ciptakan.


Gerbang pun kembali tertutup rapat. Bahkan tak ada celah bagi mereka pun untuk diam-diam ikut di belakang Tasiro saking cepatnya gerbang itu menutup. Ayato dan Irvin akhirnya memberanikan diri untuk mendekati gerbang itu. Mereka menyentuh gerbang beton itu mencoba mendorongnya kuat, namun sayang seribu sayang, sesenti pun tidak ada pergerakan saking berat dan besarnya gerbang itu.


Mereka berdua langsung terbatuk-batuk tatkala melepas kedua tangan mereka dari gerbang tersebut. “Ukhuk... Ukhuk ...”

__ADS_1


Mereka pun menepuk-nepuk kedua tangannya guna menghilangkan pertumpukan debu yang membuat gerbang itu menghitam, karatan dan lumutan.


“Ayato, apa kau sudah menangkap kunci rahasia yang tadi di lakukan ayahmu? Kupikir gerbang ini tak akan bisa terbuka jika tidak dengan kunci itu,” sahut Irvin yang kini sedang sibuk mengelap debu di tengah gerbang itu.


Ayato hanya menggeleng. “Entahlah, biasanya aku sangat gampang dalam meniru seseorang, tapi kali ini kemampuanku seperti tersegel.


“Ayato lihatlah, di sini tertulis angka 259 kemudian,”


Sebelum kembali melanjutkan perkataannya, Irvin lagi-lagi mengelap 2 digit angka yang terlihat samar dan sulit untuk di tebak. “Aduh, kenapa sih dengan gerbang ini,” racaunya karena gagal melihat 2 angka sisanya.


Ayato ikut memperhatikan angka-angka aneh tersebut. “Sepertinya angka-angka ini juga adalah kunci utama gerbang ini.”


Irvin menepuk bahu Ayato memperlihatkan sebuah tulisan Yunani kuno yang tertera jelas di ujung gerbang. “Benar, lihatlah ini teman, ini adalah peraturan yang tertulis ketika memasuki gerbang. Satu, tidak ada keraguan. Kedua, jati diri,” Irvin terdiam.


“Peraturan mecam ini, ini lebih mirip teka-teki,” tambahnya memprotes.


Ayato tampak berpikir keras mencoba menghubungkan semua hal ini. “Kita akan mengetahuinya setelah kita masuk Irvin, ini memang sebuah kesengajaan dan angka yang tersamarkan ini pun mungkinkah sebuah kunci namun bisa juga sebuah pengecoh agar si pendatang terlarut dalam emosinya. Tak ada cara lain selain mengikuti kunci pusaran angin.”


Ayato kemudian terduduk dan menutup mata mencoba fokus untuk memutar ulang memori yang ia tangkap ketika ayahnya membuka gerbang. Sedangkan Irvin yang mengerti hal itu tak mengganggunya dan memberi waktu untuk fokus pada kegiatan bersemedinya.


Selang beberapa menit, Ayato akhirnya berdiri, itu tandanya ia telah menguasai gerakan tarian pedang yang ayahnya ciptakan. Di mulai dari mengangkat sebuah pedang tajam ke atas udara. Ayato kemudian membentangkan tangannya menangkap semua pusaran angin yang mulai bergerak berkumpul mendekati panggilannya. Sementara Irvin menahan tawa, Ayato melambai-lambaikan pedang miliknya seolah menebas pusaran angin yang mulai terbentuk.


“Astaga, apa dia sudah gila? Bukankah pusaran angin itu yang akan membantu kita, kenapa di tebas?!” ucap Irvin mulai keheranan.


Tiba-tiba kemurkaan angin membuat Ayato terdorong menabrak Irvin yang tepat berada di belakangnya.


“Hum, sudah ku bilang kan.”

__ADS_1


Ayato kembali bangkit. “Irvin tetaplah di sana, sepertinya angin ini tahu jika kita adalah orang baru makanya ia pun tak langsung membukakan gerbang untuk kita.”


Irvin langsung memotong perkataan Ayato. “Yang benar itu dia murka karena kau menebasnya!” ucap Irvin menggurui.


Ayato mulai memasang ancang-ancang lagi. “Irvin, apa kau meragukan kemampuan meniruku? Mungkin kau sudah lupa, tapi memoriku ini masih merekam ayah dengan jelas.” Jelas Ayato kemudian bergumam kecil sehingga tak dapat di dengar sahabatnya itu. “walaupun aku butuh bersemedi dulu untuk membuka segelnya.”


Beberapa kali mencoba, beberapa kali pun Ayato tetap gagal dan berakhir dengan terhempas dengan keras ketanah. Irvin yang mulai bosan hanya bisa menatap Ayato malas karena sedari tadi tak kunjung menyerah. Ia mendongak ke atas memperkirakan waktu siang yang kini menjelang sore pertanda kelas pedang akan masuk sesuai jadwalnya Akame sebagai guru seni bela diri.


“Ayato, Sensei Akame akan segera masuk, kita bisa kembali lain kali.” Katanya mengingatkan. Melihat Ayato yang tak menghiraukannya, Irvin mendengus kesal. Baru saja membuka mulutnya, tubuh Ayato terhempas ke arahnya membuatnya ikut terjatuh.


“AYAATO... Lihatlah kau telah menjatuhkan popcornku, sebagai gantinya ayo kita pulang aku tak ingin di hukum lagi oleh sensei Akame!” Tegas Irvin memperingati.


Ayato menepis tangan Irvin yang ingin menariknya pulang. “Pulanglah duluan, aku masih belum menemui ayahku di sini.”


“Astaga, wajahmu sampai babak belur seperti itu. Tapi sepertinya pusaran angin itu membuatmu menebas dirimu sendiri. Sayatan-sayatan di lengan dan wajahmu itu~”


Irvin terhenti.


“Mengapa? Ada apa?” tanya Ayato penasaran melihat Irvin yang mulai memperlihatkan ekspresi gilanya.


“Ayato, angka itu 25998. Angin itu menuliskan kunci gerbang di tubuhmu.”


Bersamaan dengan sebutan kunci rahasia di mulut Irvin, gerbang pun terbuka perlahan.


Lega Ayato tersenyum lebar “Kita berhasil.”


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2