Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Examinations


__ADS_3

“Kunci ruanganku?” Tasiro sedikit kebingungan karena ruangan pribadinya ada banyak. Di rumah, di sekolah, di gubuk ini, dan di perusahaan D’Devils di mana istrinya yang sekarang menempati ruangan itu mengingat ia yang pernah di pecat dari tim lini depan pejuang dahulunya.


“Benar Sensei, ituloh yang isinya berisi senjata khas milikmu katanya.” Timpal Irvin blak-blakan.


Pernyataan Irvin sukses membuat Tasiro membulatkan mulutnya mengerti dengan tujuan yang ingin di capainya, ia tersenyum sumringah seketika memikirkan siapa dalang yang telah memberi tahu anak satu-satunya ini jika ia memiliki ruangan khusus, pribadi dan tersembunyi.


Tasiro tertawa lepas kemudian berkata. “Sebelum aku memberimu kunci itu, aku terlebih dahulu akan memberikan kalian ujian berikutnya.”


“Eh, kalian? Apa aku juga harus?” tanya Irvin memastikan sedangkan Tasiro hanya mengangguk.


“Tak apa, ujiannya mudah kok. Kalian hanya perlu menjawab dua pertanyaan dengan versi kalian sendiri jadi tidak ada contekan, karena ini adalah ujian lisan.”


“Ketika aku memberikan kuncinya, kalian bisa memilih pedang ada yang ingin kalian bawa sekaligus aku akan membantu kalian dalam memilih karena pedang milikku ada 7 macam. Mengerti!”


Mereka berdua terkesiap saat Tasiro mulai menatap mereka berdua secara bergantian dengan mimik wajah yang serius.


“Jelaskan keahlian teknik bertarung kalian? Ku pikir ujian keraguan jati diri telah kalian lalui. Seharusnya kalian sudah bisa mengerti diri kalian sendiri.”


Mereka berdua tampak berpikir sejenak memilih jawaban terbaik dari berbagai pikiran yang kini melayang telah buyar entah kemana. Sementara Tasiro setia menunggu satu orang untuk mengangkat tangannya sebagai jawaban pembuka.


“Aku akan menjawab Sensei.”


Tasiro menaikkan sebelah alisnya tak menyangka siapa yang angkat tangan terlebih dahulu. “Baiklah Irvin Forke silahkan.”


Irvin menarik nafasnya dalam. “Aku memiliki teknik bertarung menggunakan pedang, tetapi aku tahu keahlian bertarungku adalah kecepatan. Setiap kali aku melawan partner latihanku, mereka selalu berpendapat bahwa aku bergerak dengan sangat cepat menyerang mereka. Aku akui sih, lawanku sampai tak memiliki waktu untuk membalas, biasanya sebelum pedang mereka mengenaiku maka pedangku lebih dulu menangkisnya.”


Ayato berapresiasi kecil dengan bertepuk tangan walaupun ia sudah tahu hal itu melalui analisisnya yang entah mengapa ayahnya tak pernah menyandingkan Irvin versus Ayato di pelatihan sehingga ia hanya bisa menilai dari sudut pandangnya.

__ADS_1


Di lain sisi, Tasiro mengangguk mengerti dan tak berkomentar lagi. Sudah jelas, semua orang bisa melihatnya.


Kemudian giliran Ayato. Ayato kini tersenyum dengan bangga. Sebelumnya ia tak memiliki teknik yang baik untuk menyerang lawan secara khusus hanya saja memang ia lihai menggunakan pedang hingga di akui oleh semua murid-murid kelas pedang karena meniru latihan ayahnya di rumah, namun semenjak memasuki akademi di tambah hasratnya yang menggebu-gebu ingin menjadi juara setelah mengetahui ayahnya akan mengambil posisi wali kelas di kelasnya kemudian ibunya yang mendukungnya.


“Ayah... Maksudku Sensei, Aku juga tak memiliki teknik khusus dalam mengayunkan pedang tetapi aku mengenali bakat terpendamku dalam keterampilan meniru teknik lawan dan juga dalam teknik mematikan gerak lawan. Kedua kemampuan itu aku sudah kuasai.”


Tasiro yang mendengar hal menggelikan dari kepercayaan diri anaknya tersebut terkekeh tanpa merespon. “Baiklah kita lanjut ke pertanyaan kedua. Setelah aku memberikan pedangku pada kalian, jelaskan apa yang harus kalian lakukan dengan pedang itu?”


“Menyerang lawan?” timpa mereka bersamaan dengan nada ragu-ragu.


Tasiro tertawa melihat kekompakan keduanya kemudian berkata. “Haha, kalian ini yah. Pedang memang di gunakan untuk menyerang lawan dalam artian untuk membela kebenaran. Kalian berdua tahu jika aku di pecat dari lini depan pejuang bukan?” tanya Tasiro di balas anggukan kecil dari Ayato dan Irvin.


“Ada dua alasan di pecatnya aku. Pertama, lahirnya Ayato di dunia ini karena hubungan haramku bersama ibumu. Tapi sekarang sudah sah yah,” kekehnya kemudian melanjutkan ceritanya.


“Yang kedua, karena aku ketahuan membantu musuh saat bertarung. Aku di anggap pemimpin yang tidak kompeten dan ambigu dalam bertindak,” tambahnya.


“Sstt...” Tasiro memotong ucapan Irvin dan hanya membalasnya dengan mengangguk menandakan dugaannya benar yang sukses membulatkan mulut Ayato dan Irvin yang kaget setengah mati bersama pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala mereka.


Tasiro menepuk kedua tangannya keras guna menyadarikan pikiran kedua muridnya itu. “Oke... Kalau begitu ini dia kunci ruanganku,” cetusnya seraya menyodorkan dua buah kartu yang tak asing lagi di mata Ayato dan Irvin.


Mereka terdiam dengan menatap tangan mereka yang telah menggenggam kartu mereka masing-masing.


“Tidak asing? Heh lihatlah kartu kalian telah berubah lebih terang daripada sebelumnya benarkan?. Bawalah ini, ini adalah kartu jari diri. Dia akan memilih pedang yang cocok untuknya setelah menguji kalian, aku sengaja memunculkan kartu ini dalam ilusi agar kalian memahami fungsi kartu ini.”


Ayato menerangkan kartu merah miliknya. “Bagaimana caranya menggunakan kartu ajaib ini sebagai sebuah kunci?” tanyanya.


“Sederhana, tinggal satukan saja kartunya dengan tanda yang ada di punggung tangan kalian. Sesungguhnya kartu ini adalah kunci sebuah portal penghubung gubuk ini, dan di sinilah pedang-pedangku tersimpan. Jadi kalian tak perlu melewati gerbang jebakan ini. Lebih praktis dan aman. Silahkan masuklah ke dalam gubuk mumpung kalian sudah di sini.”

__ADS_1


Irvin menatap punggung tangan kirinya yang entah kapan tato hitam berbentuk X itu muncul, begitupun Ayato dengan sebuah tato hitam berbentuk bulan sabit di tangan kanannya.


Mereka bertiga akhirnya memasuki gubuk yang anehnya mewah ketika di masuki itu. Sebuah ruangan yang kecil dan elegan dengan pajangan-pajangan pedang langka dan keren buatan tangan sang legenda penakluk pedang.


“Sensei, kami pernah membaca sebuah berita koran dan aku telah melihat ke-tujuh pedang buatan tangan sang legenda penakluk pedang yang di cari-cari oleh para pekerja D'Devils karena sang legenda telah tiada dan pedangnya di yakini berada dalam markas rahasia sang legenda. Aku baru melihatnya secara nyata begini dan ternyata lebih keren dari gambarnya. Bagaimana kau bisa menemukan gubuk ini? Ini pasti markas rahasia sang legenda.” Yakin Irvin di balas anggukan dari Ayato setuju.


“Benar ayah, apa ayah mengenal sang legenda dengan baik?” timpa Ayato bertanya.


Tasiro terlihat sulit untuk mengatakannya, bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan mereka. “Kalian akan tahu jawabannya, sebentar lagi. Pertama-tama dekati ke-tujuh pedang itu.”


Ayato dan Irvin mendekati pedang itu, kemudian kartu itu dengan sendirinya memilih pedang terbaik sesuai jati diri mereka.


Ayato, sebuah samurai bernama Tenshizen yang di lengkapi dengan gerigi-gerigi kecil nan tajam di ujung bilahnya yang menambah goresan lebih banyak pada setiap sayatan. Tenshizen terbuat dari serpihan Sage Iron yang dapat menyerap tenaga lawan sehingga kekuatan samurai ini bisa berkembang.


Irvin, dengan sebuah samurai bernama Kazekuro. Kazekuro memiliki kemampuan yang untuk mengecoh lawan dengan sebuah bilah tajam samurai yang perlahan menjadi transparan bahkan bayangannya pun tak terlihat ketika di ayunkan dengan kelincahan dan kecepatan. Kazekuro terbuat dari Zen Iron yang di proses bersama kekuatan angin. Samurai ini pun dapat bergerak bagai bumerang sehingga lawan semakin terkecoh.


Kedua Mata Ayato dan Irvin berbinar saking kerennya dan tak menyangka pedang-pedang itu menjadi milik mereka tanpa menyadari jika satu pedang tajam telah mengarah tepat ke tengah belakang kepala mereka.


“Ayato, Irvin, berbaliklah.” Perintah Tasiro.


Ayato dan Irvin pun syok berat melihat satu lagi pedang yang tak asing di mata mereka. Yaitu pedang yang sering di bawa oleh Tasiro yang bernama samurai Tsuko yang kini tengah mengancam keberadaan mereka.


Tasiro tersenyum remeh. “Ujian terakhir kalian adalah lawan aku!”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2