
“Irvin!”
Ayato segera menahan peluru kedua dengan perisai yang ia genggam sedangkan Harina dari kejauhan dapat merasakan situasi yang sangat merugikan kedua pemuda itu.
Selagi Ayato sibuk dengan urusannya, Harina langsung berlari tepat ke tengah-tengah para pasukan yang juga sibuk menyerangnya, bahkan efek ilusi pada pemegang panah pun telah hilang, semua musuh kembali menargetkan dirinya. Entah apa rencana Harina tetapi ia tak lagi mengulur-ulur waktu dengan aksi bela dirinya yang masih menyisakan sebagian musuhnya.
Tak ada waktu untuk bermain-main lagi, langkahnya terhenti dan akhirnya mengepalkan tangannya erat meninju batu raksasa yang retak dan hancur berkeping-keping menyebar ke seluruh goa tersebut membuat semuanya terhempas akibat guncangan dan sebagian tewas akibat kepingan batu yang menghantam dirinya. Tentu saja itu hanya kepingan yang cukup besar untuk menindih perut mereka. Sebagian lagi hanya terluka karena masih di lindungi oleh perisai mereka.
Harina langsung menyebarkan pandangannya mencari keberadaan Ayato dan Irvin yang pastinya ikut terguncang.
Di antara tumpukan mayat dan orang terluka itu, akhirnya seseorang bangkit menyambut si pelaku yang membuat goa sekaligus markas miliknya berantakan. “Brengsek, aku terlalu meremehkanmu, dasar kau monster!”
Tak menghiraukan pria besar berkumis tebal itu, Harina dengan lantang memanggil kedua temannya itu.
Beberapa peluru meluncur ke arahnya. Sontak Harina yang tak siap syok akan hal itu. Meskipun sedikit kelelahan, gadis itu masih mampu untuk berlari menghindari tembakan peluru yang memburunya itu. Secepat kilat mendekat lalu menendang punggungnya dari belakang dengan sangat keras hingga luka-luka bekas anak panahnya lagi-lagi mengeluarkan darah yang mengalir deras begitu pula dirinya yang terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya.
Harina menginjak pria besar itu kemudian meraih kedua pistol yang terjatuh di bawah sana. “Maaf paman,” ucap Harina sebelum menembakkan peluru tepat di jidatnya.
Dor!
Para pasukan yang terluka tak ingin lagi memajui Harina, selain bos mereka yang telah tiada bersama pasukan yang telah tewas, di tambah lagi kondisi Harina yang juga sangat parah buat mereka. Mustahil seorang gadis bisa tahan hingga saat ini dengan tubuh banyak luka sayatan dan tembakan itu. Beruntung sebagian besar tembakan hanya meleset sehingga ia masih bisa untuk menahannya.
Mereka kini ketakutan dan memohon ampun pada Harina. Beberapa orang pun berpura-pura meninggal ketika Harina mengelilingi mereka mencari keberadaan Ayato dan Irvin.
__ADS_1
“Ayato...
Irvin...”
Panggilnya terus menerus seraya melempar beberapa mayat yang tertumpuk, siapa tahu saja Ayato dan Irvin tertumpuk di sana. Ia masih tak dapat menemukan mereka, ia mulai panik.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Ayato menyahutkan namanya. Gadis itu segera mencari sumber suara. “Ayato... Irvin...”
Melihat Harina yang masih kebingungan, seorang pasukan terluka dengan kaki yang telah terpotong tak segan-segan menyerang Ayato dan Irvin yang tak jauh dari tempatnya saat ini dengan keadaannya yang masih memegang pedangnya langsung melayangkan pedang itu kearah Ayato yang berjuang keras untuk menendang sebuah batu besar yang melindungi mereka. Sebuah batu yang sebelumnya merupakan kursi singgasana paman berkumis.
Beruntung batu singgasana itu sedikit bergesek sehingga pedang yang melayang itu tak bisa mengenai mereka. Mendengar itu, Harina segera mendekati suara pedang yang terjatuh dan akhirnya menemukan keberadaan mereka.
“Syukurlah kalian selamat.”
Terlihat jelas, Harina mengusap air matanya yang sempat turun karena telah mengira ia membunuh Ayato dan Irvin. Harina membantu mereka keluar dari sana dan langsung membaringkan Irvin dengan benar.
Sembari Ayato mengikat kain-kain itu ketubuh Irvin, Harina mendekati gerbang tatkala mendengar suara langkah kaki gerombolan bandit yang pasti ada yang tak beres di dalam goa. Maka dari itu, langkah mereka terasa begitu cepat mendekati goa yang seharusnya menjadi tempat ritual pemujaan dengan para gadis sebagai persembahan mereka.
Harina berjalan mendekati kursi batu singgasana milik paman berkumis, membereskannya kemudian duduk dengan manis bersama satu pistol yang ada di tangannya.
“Harina, apa yang kau lakukan?” tanya Ayato melihat ekspresi yang bersembunyi di balik kepalanya yang tertunduk itu. Sebuah ekspresi yang sama saat gadis itu di seret dengan paksa ke dalam goa ini.
Tanpa menjawab pertanyaan Ayato, Harina hanya tersenyum tipis bersamaan dengan gerbang goa yang kini terbuka menampakkan para bandit yang terkejut dengan suasana berantakan di sana, banyak pasukan dan penjaga yang tewas, hanya sebagian kecil yang masih hidup, itupun mereka tengah terluka parah.
__ADS_1
“Apa? Siapa yang melakukan ini?”
“Apa yang baru saja terjadi?”
Tepat di kursi singgasana yang seharusnya di tempati bos mereka, seorang gadis tengah tersenyum manis menyambut kedatangan mereka dengan sebuah pistol di tangannya dan juga tubuh besar sang bos yang dijadikan sebagai pijakan dan tangga agar gadis itu lebih mudah turun.
Di belakang sana, mata Ayato bertemu dengan Annie dan Aira dengan tangan terborgol bersama para gadis lainnya. Terlihat jelas kedua gadis itu juga terkejut dengan kondisi goa ini terlebih dengan tubuh Ayato yang penuh darah dan juga Irvin yang saat ini sudah tak sadarkan diri lagi, tubuhnya setengah telanjang dengan sebuah kain yang membelit perutnya sebagai perban.
Annie dan Aira reflek berlari ke arah Ayato sedangkan para bandit hanya terheran bagaimana mereka bisa meloloskan diri dari borgol yang mengikat tangan mereka. Tentu saja para gadis pun heboh ingin melarikan diri layaknya Annie dan Aira namun segera di tahan. Lagipula meski mereka memberontak, memang hanya Annie dan Aira lah yang bisa menghancurkan borgol itu dengan mudah dengan peralatan tersembunyi yang ada di saku mereka.
“Irvin, Ayato apa yang terjadi pada kalian?” tanya Annie khawatir.
“Bagaimana? Mengapa bisa kalian sampai separah ini?” timpa Aira.
Ayato menatap para gadis yang masih di kawal oleh para bandit kemudian berkata. “Kerja bagus, kalian tepat waktu.”
Aira mengangguk. “Sesuai perintahmu kami telah mengulur-ulur waktu dengan membiarkan diri kami tertangkap dan sedikit berakting agar mereka membawa kami ke tempat ritual mereka.”
Ayato terdiam sejenak lalu mendengus kelelahan. “Kita telah meremehkan mereka. Hampir mencapai 100 orang jika di hitung secara keseluruhan dan semuanya memiliki senjata tajam untuk memojokkan kami. Untung saja, aku membawa Harina. Dia telah membantu kami termasuk membunuh dan melukai semua musuh itu.”
Annie menunjuk Harina tak percaya. “Harina? Harina yang itu?”
Ayato mengangguk. Sangat jelas tampak mata yang terlihat serius itu membuat Annie dan Aira mau tak mau percaya akan hal tak masuk akal itu. Pantas saja keadaan kedua sahabatnya itu seperti ini. Tanpa bertanya lebih dalam lagi, tak ada yang bisa mereka lakukan.
__ADS_1
Perhatian mereka pun teralihkan oleh Harina yang akhirnya mengangkat bicara dengan nada meremehkan juga tawa kecil yang membuat para bandit tersudutkan hanya dengan cara bicara, mimik wajah yang terlihat mengintimidasi dan juga pose yang menunjukkan kekuasaannya. Jika di lihat saat ini, gadis itulah yang berperan sebagai si antagonis.
“Selamat datang, aku sudah lama menunggu kalian.”