Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Interrogation


__ADS_3

Jari telunjuk yang besar itu mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan tempo yang pelan namun tetap seimbang seraya menatap kedua muridnya secara bergantian. Terlihat begitu nyata saat Tasiro mengusap wajahnya kasar bahwa saat ini ia sangat kebingungan harus memulai darimana.


Pandangannya beralih ke arah Irvin yang berdiri tepat di belakang Ayato dan Janggun. “Irvin, keluarlah beristirahat dan awasi yang lainnya.”


Perintah dari Sensei Tasiro langsung di tangkap oleh Irvin. Setelah membungkuk hormat, Irvin akhirnya meninggalkan ruangan dan tak lupa menutup pintu dengan rapat.


Kini tersisa Tasiro, Ayato dan Janggun. Ruangan dengan dinding kayu ala rumah khas Jepang di sertai hiasan dinding yang bertemakan berbagai pedang, katana, maupun samurai menjadi salah satu daya tarik mereka berdua sehingga mengabaikan guru yang sedang terlihat menimbangkan sesuatu untuk mereka.


“Duduklah.” Mereka berdua pun duduk berhadapan langsung dengan meja Tasiro.


Tanpa basa-basi lagi, Tasiro langsung mengintrogasi keduanya. “Park Janggun, ini kali pertamanya kau membuat masalah. Mengajak Ayato berkelahi selagi jam latihan masih berlangsung, tentu saja semua murid jadi terpaku pada ulah yang kau timbulkan.”


“Sensei, aku tak mungkin memulai jika tanpa sebab.” Sela Janggun membela diri.


“Makanya aku tanya apa yang mendorongmu memulai perkelahian serius?!” timpa balik Tasiro dengan suara lantang.


Janggun mengepalkan tangannya erat menahan segala emosi ketika mengingat perbuatan Ayato padanya. Walaupun sedikit takut karena yang bertanya adalah gurunya sekaligus ayah Ayato, ia tetap harus membela dirinya yang merasa tertindas ini.


“Maaf sebelumnya sensei, tadi awalnya biasa saja tapi semakin lama Ayato semakin memperkuat ayunan pedangnya bahkan tak segan-segan mengenai tubuhku. Meskipun aku yang merasa tertantang bergerak menghindari serangannya namun tak ada celah sedikitpun untukku menyerang balik karena dia pun tak memberiku kesempatan itu. Dia menyerangku tanpa ampun, sangat keras dan begitu menyakitkan sensei, Jadi wajarkan kalau aku marah? Dia seperti sungguhan menganggapku musuh.”


Janggun tatkala itu langsung menyilangkan kedua tangannya didadanya dengan cuek tak ingin melihat maupun berdekatan dengan Ayato. Tasiro hanya bisa mendengus kesal. Sudah ia duga ada yang salah dari anak satu-satunya itu. Memang belakangan ini ia sangat terheran dengan gerak-geriknya yang mencurigakan dan emosian.


“Begitu yah. Kalau begitu~”

__ADS_1


Belum sempat Tasiro menyelesaikan perkataannya, Janggun tiba-tiba memotongnya. “Sensei, bukannya ingin mengadu, tapi saat sesudah aku marah padanya, sangat jelas tatapan dia saja ingin cari gara-gara. Tatapan marah, tatapan ingin melampiaskan uhh benar-benar. Apalagi saat aku mulai memukulnya dengan pedang kayu milikku. Sensei, dia benar-benar menghabisiku dengan tangan kosong, dan entah mengapa rasa sakitnya terasa sampai saat ini,” jelas Janggun sambil memijit-mijit bahunya yang kaku.


Tasiro tersenyum paksa. “Terima kasih atas informasinya Janggun.”


Janggun membalas senyuman itu dengan jawaban penuh semangat setelah itu langsung melirik Ayato dengan senyuman liciknya dan juga kemenangan.


Tasiro kini berpindah target, mata mereka berdua bertemu dan Ayato tahu pasti ayahnya telah memikirkan sesuatu yang akan membuatnya kesulitan.


“Bagaimana denganmu Ayato De Ryuu. Ini sudah kali keduanya kau melanggar peraturan. Pertama, kau membolos 2 kelas, yang kedua kau mengasari lawan latihanmu dengan mengambil kesempatan latihan ini kan. Apa masalahmu? Atau lebih tepatnya apa rencanamu? Belakangan ini kau mencurigakan.”


Ayato membulatkan matanya. Bagaimana bisa ia menjelaskan hal ini, ia adalah orang yang tak pandai beralasan apalagi soal tindakan anehnya belakangan ini, dan lagi-lagi di ruangan ini bukan hanya mereka berdua saja tetapi Janggun pun akan ikut mendengar jikalau ia jujur.


Kala itu, Ayato kembali mengingat bahwa ibunya Rennesa Mahiro berbisik padanya. 'Ayato, ini adalah rahasia kita berdua. Tak boleh ada yang tahu sekalipun itu ayahmu. Lakukan semua tugasmu sesuai langkah-langkah yang telah kita sepakati dan yang terpenting adalah tepatilah janjimu, aku menunggu kesuksesan anakku.’


Seketika momen ketika Irvin datang menengahi mereka berdua terlintas di pikirannya. Kemudian ikrar pedang yang pernah mereka lafalkan ketika di hukum setelah membolos 2 kelas, lalu janji dan pencapaian yang ingin ia dan ibunya wujudkan.


Ayato terdiam sejenak menenangkan pikiran seraya menutup matanya dan menghela nafas. Intinya ia harus sealami mungkin dalam berbohong sedangkan Tasiro dan Janggun setia menunggu jawabannya.


“Sensei, Janggun... Maafkan kesalahanku sebelumnya dan sebagai penerus ahli pedang aku tak akan berbohong bahwa aku sesungguhnya memang sedang fokus mengejar target.”


Perkataan Ayato membuat Tasiro dan Janggun kebingungan.


“Menjadi terkuat di kelas ini, bukankah itu adalah target semua murid yang masuk ke kelas ini? Begitu pun denganku.”

__ADS_1


Janggun langsung menyela Ayato. “Yah, tapi tidak perlu seperti itu juga kali, kau bertindak seperti biasa pun kau sudah terkuat di kelas ini. Aku pun mengaku kalah padamu. Berhentilah berlebihan dan berlaku seperti biasa saja, kasihan murid-murid lainnya. Aku disini mewakili semua lawan latihanmu yang tak berani mengadu pada sensei. Lama-lama tak ada yang mau berlatih bersamamu Ayato!”


Tasiro memukul mejanya penuh tekanan membuat Janggun terkaget. “Diamlah Janggun, biarkan dia menyelesaikan perkataannya dan aku sedang tak butuh responku jadi berhentilah ikut-ikut menghakimi!”


Janggun menunduk maaf karena telah lancang berbicara.


Ayato yang melihat drama sekilas itu hanya tersenyum tipis. “Ayah, aku ingin terlihat ganas di mata ayah, ingin di takuti seperti ayah dulu dan aku ingin menjadi sukses sebagai penerus ahli pedang. Sebab itulah aku berlaku kasar. Bukankah kelas pedang memang di desain agar para murid menjadi kuat secara fisik dan mental?. Mengadu adalah tindakan pengecut, maka dari itu saat Janggun memukuliku balik, aku begitu antusias melawannya. Ya benar, aku ingin bertarung dengan serius.”


Tasiro yang menatap wajah anaknya itu sempat terpaku akan mata dengan iris berwarna merah jingga itu terlihat mendalam dan membara. Sebuah tatapan yang penuh kegelapan di dalamnya di tambah dengan senyuman tipis dan nada bicara yang mengintimidasi. Melihatnya saja membuat Tasiro bergidik dan ia pun semakin penasaran terhadap niat anaknya sendiri.


Karena merasakan hawa gelap itu, Tasiro tertawa lepas. “Jadi karena itu kau menghabisi semua lawan latihanmu dengan serius?”


Tasiro berhenti sejenak kemudian mengambil 2 surat yang akan di kirimkan langsung ke orang tua Janggun dan ibu Ayato sebagai laporan jika anaknya telah membuat masalah. “Baiklah baiklah, tapi lain kali jika ingin bertarung dengan serius, beritahu lawan latihanmu agar dia pun mengumpulkan energinya melawanmu. Satu hal yang kau lupakan dari pertarungan sejati Ayato, kau juga Janggun dengarkan ini.”


Ayato dan Janggun pun dengan serius memasang telinga mereka baik-baik mendengarkan informasi penting langsung dari gurunya terkhusus buat mereka berdua.


“Pertarungan seimbang adalah ketika kedua pihak saling fokus terhadap setiap pukulan dan sayatan yang mereka layangkan pada lawan. Bukan menggunakan emosi dan menyerang tanpa teknik. Semua harus di sesuaikan. Jika kalian berhasil menguasai diri kalian sendiri, percayalah, kalian bisa membaca gerak lawan. Bukan, lebih tepatnya kalian mengendalikan lawan.”


Perkataan Tasiro benar-benar merasuk ke dalam pikiran kedua muridnya dan saat itu pula persaingan mereka berdua pun di mulai.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2