
“hosh... Seharusnya aku membuat terowongan yang cukup jauh dari sini agar aku tak tiba di tempat orang.” Omel Harina sembari terus membuat terowongan sejauh mungkin.
Gadis itu menegok benda berbentuk seperti tombak di tangannya yang berlumuran darah dari kedua sapi tadi. “Duh, seharusnya aku tak memegangnya tadi, tombak rumput ini sampai ikut terbawa.”
Tiba-tiba sebuah batu yang sangat besar menghalangi jalannya membuatnya terhenti. Ia menjalan mendekati batu itu kemudian menyentuhnya, dapat ia rasakan kalau batu besar ini adalah jalan yang menandakan bahwa di daratan sana pasti telah sepi karena batu itu sangat jelas adalah bagian dari sebuah goa besar.
Akhirnya Harina memutuskan untuk langsung membuat jalan keluar, dan benar saja. Sampailah ia di dalam goa besar yang di penuhi oleh batu-batu kristal dengan ukuran yang bermacam. Goa yang sangat indah dengan kristal biru yang mengkilap, bebatuan kecil yang berwarna keunguan, serta pijakan batu Mineral Ore yang rata melapisi tanah di dalamnya. Begitu mewah, namun tatapan tidak tertarik sangat jelas di mata bosannya.
“Lihatlah, aku malah datang ke tambang kristal biru. Biar kutebak nyonya Renne membuat kalung pelacak itu dari goa ini. Bahkan aku bisa merasakan jejaknya di tempat ini, tapi masih ada 2 jejak lain di sini.” Gumam Harina berpikir keras mencoba menerka kedua jejak asing itu.
“Ah, mungkin anggota timnya.”
Malas pusing, Harina kembali menutup lubang yang telah ia buat agar tak mencurigakan. Ia pikir, meski goa ini milik nyonya Renne, tetapi ini adalah tempat yang nyaman agar ia tak ketahuan melarikan diri, seseorang tak akan menemukannya dan juga ia bebas bergerak tanpa dicurigai. Lagipula, Renne pasti jarang kesana.
Harina berjalan mencari jalan keluar dari goa itu dan siapa sangka ia harus melewati air terjun yang menutupi jalan keluarnya, dia pun tak memiliki pakaian anti air. Harina sekali lagi memperlihatkan wajah konyolnya. Entah mengapa malam ini ia merasa hal sial terus mendatanginya.
Tapi karena sudah terlanjur, Harina tetap nekad untuk menembus air terjun itu. Dengan tombak garu rumput yang ia genggam erat, ia membalikkan alat itu untuk memperkirakan kedalaman air kemudian berjalan menembus air terjun itu.
“WHOAAA...”
Teriakan seorang pemuda yang baru saja akan berendam di air terjun itu di ikuti tiga orang di belakangnya membuat Harina ikut terkejut setengah mati dan akhirnya melayangkan tombak berdarah itu ke atas langit hingga mengeluarkan petir yang menyambar pohon-pohon sekitar.
“Sial, aku kelepasan,” racau Harina langsung berlari melewati pemuda bertelanjang dada itu.
Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. “Jangan lari!”
Harina dengan sekuat tenaga mencoba memberontak dan sekuat tenaga pula mencoba mengendalikan kekuatannya agar tak kebablasan keluar tanpa perintah.
“Sial... Lepaskan aku,” berontak Harina seraya menendang-nendangkan kakinya.
“Ayato jangan lepaskan, kita harus menangkap gadis berbahaya itu.”
__ADS_1
Dengan gerakan cepat, pemuda itu berlari ke arah Ayato dan langsung bergerak mengikat tubuh Harina agar tak dapat bergerak.
Pada akhirnya, Harina terduduk manis dengan tubuh yang terikat di batang pohon yang telah pendek itu dalam keadaan yang sangat tidak nyaman. Tentu saja Harina merasa terganggu karena bertemu oleh 4 orang yang aneh.
Harina membalas tatapan ke-empat manusia yang memperlihatkan ekspresi-ekspresi yang berbeda itu.
Pertama, pemuda bertelanjang dada itu memperlihatkan wajah terkejut ditambah penasaran dan juga seperti sedang berpikir.
Kedua, pemuda gondrong hijau itu mempelototinya dengan mata yang tajam nan serius mencurigai Harina, dan juga saat ini dia yang paling menyudutkan gadis itu dengan ekspresi mengesalkannya.
Ketiga, gadis berambut panjang hitam pekat yang memperlihatkan ekspresi ketakutan tetapi terlihat jelas jika ia sangat waspada dibuktikan dari jaraknya yang sedikit lebih mundur kebelakang dari ketiga temannya.
Dan yang terakhir, Harina sampai bergidik di buatnya.
Seorang gadis berambut kuning dengan mata berbinar dan mulut tersenyum lebar menatapnya dengan antusias. Kedua tangannya dikepal di depan dadanya seperti mendamba.
Pemuda gondrong itu tiba-tiba memecahkan keheningan.
“Sembarangan kau... Maaf nona perkenalkan sekali lagi saya Ayato De Ryuu.”
“Kalau begitu, aku adalah Aira Mariko, gadis paling cerdas di kota ini. Dan yang di sampingku ini adalah Annie Adalrich, dia adalah primadona kota ini,” jelas Aira dengan penuh semangat dan sedikit melebih-lebihkan kedudukan mereka sedangkan Annie masih enggan untuk ikut berbicara.
Irvin kembali mengangkat suara. “Baiklah nona berbahaya sekarang giliranmu.”
Harina menunduk bingung dengan apa yang harus ia katakan. Ia bahkan belum menyiapkan identitas palsunya. Malam ini ia hanya berniat membuat jalan dan melihat alam sekitar. Tetapi ia malah bertemu dengan orang-orang aneh dan parahnya mereka telah melihat kekuatan yang ia tunjukkan tanpa sengaja. Sungguh sial.
Untuk saat ini, Harina hanya bisa memikirkan kewaspadaannya ketika merasakan jejak yang kedua pria itu ciptakan sama dengan jejak samar yang berada di goa itu. Dalam artian mereka adalah anggota tim nyonya Renne. Tentu saja mereka seharusnya mengenalinya jadi untuk apa mereka bertanya siapa Harina sebenarnya apalagi setelah menyaksikan kekuatannya.
Harina menggeleng membuyarkan prasangka dan waspadanya agar bisa mencoba sesantai mungkin untuk tetap berakting sebaik mungkin. Lagipula mereka hanya menanyakan nama. “Aku Harina Aretha.”
Aira pun mendekatinya dan langsung menggenggam tangannya. “Baiklah nona Harina sekarang kau resmi menjadi bagian dari kami. Orang-orang sekitar menyebut kami sebagai The Tyrannys.”
__ADS_1
Annie hanya bisa menepuk jidatnya mendengar bualan baru temannya itu. “Aira, jangan memutuskan secara sepihak, bagaimana orang yang baru kita temui langsung menjadi bagian dari kita,” protesnya.
Aira memperlihatkan wajah kesalnya terhadap Annie. “Annie, lihatlah penampilan berantakannya. Dia butuh kita. Kita butuh dia.”
Annie menaikkan sebelah alisnya heran. “Hah, apa yang kita butuhkan dari dia?”
“Tentu saja wajahnya yang cantik ini. Bukankah dia terlihat seperti bidadari? Lalu apa kau tak mengagumi kekuatannya? Daripada menjadikan orang sehebat ini sebagai musuh, bukankah mengajaknya menjadi sekutu lebih baik?” jelas Aira agar semua temannya dapat menerima gadis yang dikaguminya dalam pandangan pertama.
Annie hanya terdiam dengan wajah juteknya tatkala Ayato dan Irvin menyetujui saran bodoh Aira.
“Benar Annie. Harina harus bersama kita.”
Pandangan semuanya tertuju pada Ayato yang tengah menatap Harina lembut nan tulus. Aira dan Annie menatapnya dengan tatapan curiga. Kini, sangat jelas pria itu tersenyum tipis penuh arti seperti seseorang yang telah menemukan tujuannya.
Aira langsung memeluk Annie. “Astaga Annie, lihatlah tatapan jatuh cinta pada pandangan pertama itu, sungguh manis, aku seperti ingin terbang menyaksikan kegemesan ini. Ayato aku penumpang kapal pertamamu,” sahutnya keras membuat Irvin langsung meluruskan perkataannya.
“Bukannya pandangan pertama, tetapi Ayato telah mengenalnya. Aku pun begitu, pantas saja wajahnya tak asing. Sejak di sekolah pedang kami memang pernah ke sini dan kami melihatnya di kristal besar di sebuah goa di balik air terjun itu. Aku tak menyangka aku akan melihat gadis hebat ini secara langsung.” Kini giliran Irvin yang matanya berbinar ketika menyadari hal tersebut.
Akhirnya Ayato mendekati impiannya yang telah terkubur. Ia tak sangka akan bertemu lagi. Ini adalah sebuah takdir yang sangat membahagiakan untuknya.
“Kalian semua. Mulai sekarang nona Harina akan menjadi bagian dari kita, aku tak ingin dengar ada penolakan dari kalian terutama kau Annie. Jika ada yang menolak, maka kalian yang keluar!” tegas Ayato membuat Annie dan Aira sampai menutup mulutnya kaget.
“Apa gadis ini begitu berarti di mata kalian?” tanya Annie.
Tanpa ragu Ayato mengiyakannya dan Irvin pun demikian, sedangkan Aira telah girang melompat sani-sini saking senangnya. Tak ada yang bisa Annie lakukan selain menerima keputusan teman-temannya.
Sementara itu, Harina menunduk dengan aura gelap di sekitarannya.
‘Aku takut, mereka akhirnya mengingat siapa diriku sebenarnya. Seharusnya aku memalsukan nama juga. Aku... Aku harus kabur dari mereka, aku harus menolak mereka. Aku tak ingin di kendalikan lagi oleh orang-orang perusahaan lagi. Mereka berbahaya. Aku harus tegas,' racaunya dalam hati.
Harina akhirnya berdiri bangkit dan dengan sedikit sihir, tali yang mengikat terputus membebaskannya. “Maaf tapi aku menolak,” tolaknya dan langsung kabur secepat mungkin meninggalkan mereka.
__ADS_1
“Harinaaaa...”