Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Circumstance


__ADS_3

“Dorong... Dorong.. Dorong...”


Bergotong royong beberapa para peneliti, beberapa pasukan dan beberapa anggota keamanan pulau D’Devils bekerja sama untuk memasukkan para monster yang di buat terdahulu yang berada dalam kurungan rahasia bawah tanah saat ini sedang susah payah di pindahkan ke dimensi penjara neraka.


Sekitar 2 monster terakhir yang akan di masukkan ke tingkatan terakhir sekaligus sebagai tantangan terakhir buat Harina. Telah di tentukan tingkatan teratas adalah tingkatan ke-99 di mana berisi ribuan monster semut yang akan dengan lahap menggigiti kulit dan daging tanpa kepuasan sedikit pun, di tambah dengan roh-roh mengerikan yang akan bersiap menghabisi Harina dengan cara mereka yang unik.


Sementara mereka bekerja keras atas rencana matang yang telah di tetapkan oleh penguasa Vasilio dan peneliti Hiro, mereka yakin sebentar lagi dunia akan tertunduk atas kuasa mereka. Keserakahan yang di lakukan oleh penghuni pulau D'Devils semata-mata hanya untuk meluluh lantakkan manusia yang tak pernah mempercayai mereka. Kedamaian yang manusia dapatkan sekarang ini tak akan bertahan lama.


Rencana Hiro dan Vasilio kelihatannya sangat berjalan dengan sempurna. Hanya satu kejanggalan yang mereka dapatkan sekali lagi karena kelalaian mereka saat memproses tubuh Harina dengan eksperimen yang di lakukan. Bahkan mereka pun baru saja mendapatkan fakta bahwa kekuatan Harina tak dapat aktif dan akan terus tersegel hingga usianya genap 25 tahun, dan itu masih membutuhkan waktu sekitar 13 tahun.


Saat mengetahui hal itu, Vasilio pun tak tahu harus berkata apa, kali ini eksperimen mereka yang seharusnya berhasil tak seperti para monster buangan yang ada di kurungan itu di mana kelemahan mereka semua hanya satu dan tak pernah berubah. Yaitu mereka hanya akan bertahan hingga sehari setelah itu mereka hangus dengan sendirinya.


Bagaimana bisa eksperimen yang mereka lakukan untuk Harina malah sebaliknya? 13 tahun lagi bukanlah waktu yang singkat. Bisa-bisa Hiro dan Vasilio yang memang telah menginjak usia tuanya lebih dahulu tiada hanya karena menunggu kekuatan Harina aktif.


Vasilio hanya bisa mengusap wajahnya kasar. “Hiro aku tak sangka kau akan melakukan kesalahan, tapi karena kau sudah telat, aku ingin kau untuk merebut setidaknya satu saja Sage stone yang ada di pertambangan Yokohama.”


Hiro terperangah kaget ketika mendengat titah dari penguasa Vasilio. “Maaf menyela tuan Vasilio tetapi seperti yang anda tahu, Yokohama itu adalah musuh terkuat kita. Bukankah akan berbahaya jika kita sampai mengganggunya lagi dan pada akhirnya kita di serang lagi seperti di tahun 2006 beberapa waktu yang lalu yang bahkan urusan mereka pada kami telah selesai tetapi mereka tetap membantu kota Fuzhou dan Jinan dengan menyumbangkan alat tempur mereka. Aku telah mencaritahu semuanya tuan. Kupikir kita hanya akan membalikkan kenangan dahulu.”


Vasilio berdiri dari kursinya mengambil sebuah dokumen yang di perlihatkan oleh Hiro yang telah melakukan penelitian tentang informasi-informasi penting di berbagai kota yang mereka targetkan.


Pria tua itu mendengus kesal. Tak ia duga bahwa Yokohama telah memata-matai mereka hingga sedalam itu. Sepanjang perjalanan, kota-kota yang lain hanya menyebut dan menjuluki pulau mereka dengan sebutan D'Devils atau pulau iblis tanpa tahu maksud sebenarnya hanya karena mereka membuat monster untuk menyerang kota.


“Begini saja Hiro, sebaiknya kita mengubah strategi kita yang selalu terang-terangan ini menjadi strategi diam-diam,” ungkap Vasilio yang sama sekali tidak di mengerti oleh Hiro.


Hiro menaikkan sebelah alisnya bingung. “Maksudnya tuan?”

__ADS_1


“Aku tetap ingin mendapatkan Sage stone karena tak ada jalan lain bagi kita selain itu. Bagaimana pun caranya kita harus memilikinya setidaknya satu, aku tak ingin mati sebelum melihat segel Harina terbuka dengan sendirinya dan menghabisi dunia di depan mataku. Ku yakin kau pun berpikir seperti itu. Jadi menyamarlah atau kalau menyamarkan tidak mempan, kita terang-terangan saja seperti jati diri kita sesungguhnya.”


Hiro melihat begitu besar keinginan tuan penguasa Vasilio dalam hal ini. Tentu saja ia pun tak ingin mati dulu sebelum melihat hasil eksperimennya bangkit menyelamatkan wajah pulau mereka di dunia luar. Meskipun terdengar jahat, menurut mereka rencana mereka merupakan rencana mulia yang akan membantu semua manusia yang telah terlanjur lahir di bumi laknat ini.


“Baiklah tuan, semampu kami akan berusaha untuk mendapatkan Sage stone itu dan mengerahkan segala tenaga yang ada untuk melawan Yokohama.”


...~~~


...


Di siang hari pada jam istirahat di kelas pedang. Irvin mengunyah rotinya yang terasa hambar di lidahnya apalagi suasana hatinya pun sama hambarnya dengan rasa roti miliknya. Ia melirik Ayato yang terlihat serius pada kerjaannya sendiri tanpa berniat memberitahunya.


“Ayato... Ayato aku tahu telingamu masih berfungsi jadi berhenti mencuekiku,” protesnya.


Tiba-tiba Janggun yang datang dari belakang mereka pun ikut bersuara. “Sudahlah Irvin, ia tak akan memberitahumu tentang rencananya. Daripada bersamanya, apa kau tak bosan berteman dengan orang seperti dia?” ujarnya memanas-manasi.


Ia pun langsung berdiri dan memanggil Irvin untuk mengikutinya. Tak ada penolakan dari Irvin karena satu gerakan dari Ayato pun membuatnya merasa itu adalah sebuah lampu hijau untuknya berkat Janggun.


“Hmm... Dasar sok sibuk.” Lirihnya meremehkan. Janggun akhirnya sampai ke tempat tongkrongannya dan ikut bergabung bersama anggota gengnya Zayan.


“Hei kalian, aku ada kabar.”


Semuanya kini merapat penasaran dengan kabar apa yang telah di temukan ketua gengnya.


“Kudengar Ayato ingin mendapatkan pengakuan dari ayahnya, jadi mengapa ia begitu serius saat latihan karena itu dia. Dia pasti memiliki rencana lain, aku yakin sensei Tasiro juga merasakan hal yang sama. Apalagi sekarang dia sedang mengabaikan Irvin, tidak biasanya dia seperti itu pada Irvin bukan? Pasti ada yang lebih penting dari itu. Jadi mari kita bekerja sama untuk mengganggunya saat latihan agar fokusnya buyar agar semua misi rahasianya gagal.”

__ADS_1


“Ide bagus Janggun-ah. Biar kita kasih kapok dia. Jujur saja seminggu yang lalu saat aku jadi lawan latihannya pun masih membekas di tubuhku saking kuatnya dia menebasku.” Keluh Zayan.


“Baiklah kalau begitu kita semua sepakat.” Zayan dan ketiga teman lainnya pun mengangguk mengerti.


Di saat yang bersamaan, Ayato menarik Irvin diam-diam pergi menemui goa rahasia mereka yang telah lama tak di kunjungi itu. Namun sebelum tiba, tanpa aba-aba Ayato menyumpal mulut Irvin dengan tangannya sendiri ketika sahabatnya itu baru ingin mengeluarkan suaranya.


“Maaf Irvin.”


Tanpa memprotes, Irvin menepis tangan Ayato dengan kasar, sedikit marah dan kesal namun tetap terdiam sesuai keinginan sahabatnya itu.


Ayato menutupi sebuah kalung yang ada di lehernya dengan tangannya sendiri agar penglihatan ibunya terbatas dan hanya bisa mendengarkan suara anaknya sahaja. Ayato melihat tajam ke arah Irvin berniat menjelaskan apa yang sedang ia rencanakan tanpa di ketahui ibunya yang dapat melihat gerak-geriknya lewat kalung pelacak sama seperti milik Harina.


“Di sini sudah aman bu.” Ucap Ayato membuat Irvin kebingungan.


Akhirnya suara Renne terdengar jelas di telinga Irvin. “Kerja bagus nak, dengarkan perkataan ayahmu itu adalah informasi yang bagus untuk terus melatihmu menjadi lebih baik. Bagaimana dengan murid-murid yang telah kau habisi? Apa mereka sakit parah? Lumpuh?”


“Tidak ada yang lumpuh Bu, aku hanya menghabisi mereka dengan mematikan titik-titik energi mereka, jika sampai lumpuh, bisa saja aku yang di keluarkan dari kelas.” Jelas Ayato.


“Benar juga, kalau begitu teruskanlah Ayato, habisi mereka perlahan agar yang akan menjadi juara hanya kau seorang. Jangan lupakan untuk membawakanku kunci ruangan ayahmu di rumah. Ingat samurai itu harus menjadi milikmu. Lalu tak usah menutupi kalungmu, ibu tahu kalau Irvin juga di sana mendengarku kan!”


Ayato dan Irvin terkaget mengetahui bahwa Renne mengetahui situasi mereka yang sangat kentara itu. Dengan nada terbata-bata Ayato menjawab. “Ba~baik ibu.”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2