
2 hari telah berlalu saat terakhir Ayato dan Irvin di di bawa ke ruang kesehatan untuk di periksa secara berkala dan juga di beri beberapa nutrisi yang cukup, menu makanan sehat, obat penambah tenaga dan juga sedikit istirahat yang cukup untuk mereka pulih kembali dari segara kelelahan yang melanda.
Waktu istirahat dari mereka tersisa 1 hari lagi. Tentu saja 2 hari sudah cukup untuk beristirahat di rumah, bahkan setengah hari saja sudah cukup namun libur yang di berikan adalah 3 hari.
Di hari terakhir ini, mereka telah di izinkan keluar rumah oleh pelayan suruhan Akame karena merasa kondisi tubuh mereka telah bugar.
“Bibi, kami berangkat yah,” izin Ayato kemudian berlalu menyusul Irvin yang mendahuluinya karena terlalu lama bersiap.
Ayato segera menyamai langkahnya dengan Irvin yang bersikap aneh sejak pagi tadi. Siang ini ekspresinya menjadi sangat serius bahkan cenderung jutek jika di lihat sekilas. Dirinya yang menjadi tak banyak bicara membuat Ayato pun menjadi aneh dan risih dengan sikap yang tak biasa itu.
“Irvin,” panggil Ayato yang hanya di balas dengan deheman kecil tanpa menoleh sedikit pun dan hanya berjalan lurus dengan cepat.
Ayato yang hampir di dahului lagi-lagi menyamakan posisinya. “Hei, aku di sini. Ada apa denganmu? Kurasa kemarin tak ada masalah sama sekali.”
Irvin terlihat memalingkan wajahnya sebentar dan cukup membuat kecurigaan yang mendalam di pikiran Ayato. “Apa kau bertemu seseorang tanpa aku?”
Irvin menggembungkan pipinya yang hampir saja keceplosan untuk menjawab pertanyaan itu. Ayato menyipitkan kedua matanya curiga.
“Siapa?” tanya Ayato memastikan dugaannya benar.
Sama sekali tak ingin menjawab, Ayato menghentikan langkah Irvin dengan mencengangkan kedua bahunya keras membuat Irvin pun tersentak.
Sementara Ayato menggoyang-goyangkan paksa kedua bahu Irvin agar segera berbicara sedangkan Irvin pun dengan sekuat tenaga menahan tekanan dari sahabatnya itu dengan menggembungkan pipinya lalu menggeleng-geleng menolak untuk berkata sepatah katapun membiarkan tubuhnya terguncang-guncang.
Tiba-tiba suara tak asing menyapa membuyarkan kegiatan freak mereka yang telah menjadi pusat perhatian di antara orang-orang yang berjalan kaki. “Hai, kalian di sini rupanya.”
“Hei, Annie kami baru saja mau ke tempatmu,” pungkas Irvin yang akhirnya mengeluarkan suaranya untuk pertama kalinya di depan Ayato hari ini. Ayato hanya terdiam menonton perbincangan keduanya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
__ADS_1
Kapan mereka menjadi dekat?
Apa dia yang di temui Irvin kemarin?
Apa Irvin keluar untuk menemuinya?
Apa Irvin berubah karena dirinya?
Ayato melepaskan genggamannya di bahu Irvin dan sedikit menjauh untuk memberi ruang pada mereka.
“Annie, terima kasih saranmu beberapa waktu yang lalu. Ternyata itu sangat berguna untuk menilainya haha.”
Mata Irvin melirik jahil ke arah Ayato yang masih tidak dapat menangkap maksudnya. “Kalian bicara apa sih?”
“Maaf nona, apa kau bertemu Irvin kemarin? Dia bertindak aneh hari ini. Ku pikir nona tahu sesuatu?” timpanya lagi.
Ayato menghela nafas berat. Padahal sudah jelas jika mereka saling mengkode satu sama lain, namun masih saja mengelak. Ia kini tak merespon panjang dan hanya mengangguk membuat Irvin merasa tak cukup akan jawaban cuek dari Ayato.
Irvin menepuk pundak Ayato untuk menjelaskannya, ia sangat tahu Ayato jika mulai geram. “Baiklah, kemarin aku tak bertemu Annie tapi aku itu hanya melakukan aksiku di pagi hari ini sesuai sarannya saat kau dipanggil ke perusahaan D’Devils oleh ibumu. Saat itu aku disuruh membayar ganti rugi jadi dompetku menipis dan saat itulah aku mengoceh sana-sini secara random dan salah satunya adalah tentangmu. Tentu saja Annie dan Aira mendengar ocehanku,” jelasnya terhenti seketika dipotong oleh Ayato yang sedikit keberatan.
“Jadi apa isi ocehanmu tentangku itu?” Ayato kini mempelototinya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Irvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “I~itu, aku bilang jika kau tidak menganggap keberadaanku selama ini karena kau sedikit pendiam jadi tak cukup memahamimu. Tapi aku tak berniat menjelekkanmu kok. Mereka pun memberiku saran untuk mengabaikanmu layaknya kau mengabaikanku. Dan itu berhasil. Buktinya kau sekarang lebih banyak mengejarku.”
Pernyataan Irvin membuat Ayato memijit pelipisnya pusing. Ternyata hal yang tidak penting dia sampai harus terus mengikuti Irvin. Ia tertunduk melihat kakinya lalu melihat suasana sekitar di mana mereka berada di sebuah taman pusat dengan lapangan hijau yang menyejukkan.
“Baiklah, jadi apa tujuan kita ke sini?” tanyanya tak mau memperpanjang.
__ADS_1
Irvin langsung menepuk tangannya bersemangat dan mengambil sebuah barang yang telah di bungkus rapat dari tangan Annie. “Ini dia, aku sekaligus memesan jubah khusus untuk kita berdua. Lihatlah, ini aku yang bayar loh. Nanti sebagai gantinya traktir aku makanan,” ujarnya cengengesan.
Ayato menarik jubah panjang hitam berbahan kulit dengan model yang terlihat sungguh bergaya dan keren bersama dengan tali panjang di bagian pinggang, kancing-kancing yang menambah kesan layaknya petugas berseragam dan Hoodie dengan warna senada yang semakin membuatnya terlihat sebagai pemuda tampan yang berkelas.
“Itu milikku.” Ucap Irvin tak ingin Ayato sampai tertarik oleh jubah miliknya.
Selanjutnya sebuah jubah berwarna hitam dengan warna merah di baliknya kemudian set kalung berwarna gold berbentuk rantai yang senada dengan motif pin yang ada di depan dadanya bahkan tali pinggang yang membuatnya pun terlihat berkelas. Di sertai kerah jubah, lapisan tali pinggang dari kain yang sama seperti ikat kimono dan yang terakhir adalah pita merah yang melambangkan sebuah kekuatan yang kuat di kedua ujung kerahnya yang dapat mengaitkan jubah tersebut agar lebih erat atau ia dapat membukanya sehingga bisa membuat dada bidangnya terlihat mengintip menambah kesan hot pada penggunanya.
Ayato melirik Irvin dengan mata malasnya. “Kulihat jubahmu sangat simpel yah, kenapa milikku lebih cocok berada di atas pameran daripada di pakai sehari-hari.”
Annie memanyunkan bibirnya sembari berkata. “Apakah itu bukan tipemu?”
Ayato yang memang masih tak begitu mengenal Annie mencoba sekalem mungkin untuk tak terlalu jujur. Ia tersenyum canggung. “Maaf nona, aku menyukai jubah ini, karyamu bagus tapi ini terlalu berlebihan untuk seorang murid sepertiku. Mungkin aku akan menggunakannya di tempat-tempat yang memungkinkan saja.”
Irvin menepuk punggung Ayato yang sekarang menunduk maaf. “Tak apa, lagipula aku yang menyuruhnya seperti itu, jadi marahi aku jika memang tak puas.”
Annie kini pergi meninggalkan mereka berdua.
“Setahun lagi kita lulus kelas pedang. Saat itu adalah kesempatan kita menggunakan jubah ini. Janji.”
Mereka menyatukan jari kelingking mereka.
“Aku setuju.”
.
.
__ADS_1
.