Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
At That Time


__ADS_3

19 tahun yang lalu. Kota Frando.


'Berita pagi ini kita awali dengan munculnya fenomena alam yang terjadi di wilayah Frando, perkiraan sekitar 20 menit yang lalu sebuah lubang besar tercipta di tengah-tengah kota sebesar 20 meter dengan kedalaman 100 meter kebawah. Entah apa yang menyebabkan, tetapi para polisi telah mengamankan tempat kejadian sekaligus mencaritahu penyebab dari fenomena aneh ini'


Demikian kabar berita terbaru.


Tak ada yang tahu pasti bagaimana lubang ini tercipta, tak ada yang melihat ketika matahari sebentar lagi akan terbit bahkan tak ada tanda-tanda yang mencurigakan menurut kesaksian warga.


“Bagaimana apa ada sesuatu yang kau dapatkan?” Tanya seorang polisi keamanan kepada seorang petugas yang baru saja naik setelah turun ke bawah tanah untuk mencaritahu.


Petugas itu menggeleng “Tidak ada apa-apa di dalam sana hanya saja hawanya begitu panas dan lagi aku hanya bisa turun hingga kedalaman 25 meter karena sangat sesak di sana”


Seorang petugas lainnya datang dan memukul bahu temannya “Kurasa kau harus menggunakan pakaian khusus untuk menahan hawanya. 5 menit lagi biar aku yang turun memastikan”


PPetugas itu kini memakai berbagai macam pengaman kemudian ia mempersiapkan diri dengan tali yang merekat di tubuhnya agar dapat turun lebih dalam.


Semua telah siap, ia turun hingga kedalaman 48 meter hingga tiba-tiba para petugas yang menahan tali tersebut merasa tak ada beban di penghujung tali tersebut. Beberapa petugas berteriak memanggilnya selagi yang lain terus menarik tali ke atas.


Betapa terkejutnya mereka tatkala tali itu telah putus dengan ujungnya yang telah terbakar. Mereka kembali meneriaki nama sang petugas yang hilang tersebut.


“TUAN KEDDEEE...”


“Tuan Kedde apa kau masih disana?”


“Kedde, kau dimana?”


Para petugas keamanan mulai mencari-cari tuan Kedde yang tak menjawab sedari tadi.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah getaran hebat dari bawah terasa hingga kepermukaan yang membuat semuanya heboh.


“Ada apa ini? Tuan Kedde apa yang terjadi?”


Polisi segera mengamankan para warga yang masih berkeliaran di sekitaran lubang ketika getaran semakin terasa mendekati mereka.


“SEMUANYA LARIIIIII...”


Teriak para petugas bersamaan setelah melihat sesuatu keluar dari lubang besar itu dengan kecepatan yang kencang dan juga sangat besar.


Bersamaan dengan teriakan mereka, di saat itu pula seekor buaya keluar dari lubang tersebut dengan ukuran raksasa menginjak perumahan dengan kaki-kaki besarnya dan kuku yang dapat membuat tanah retak. Kulit yang keras layaknya besi dengan tubuh yang di penuhi api yang membara. Sebagian kota telah terbakar hanya karena kemunculannya beberapa detik yang lalu.


Buaya raksasa itu berjalan dengan gerakan kaki yang lamban namun mampu membuat banyak korban yang tewas karena di injak bahkan terbakar. Semua warga berbondong-bondong lari tak menentu untuk menghindari monster tersebut. Teriakan, isakan dan tangisan histeris dari warga yang ketakutan. Termasuk seorang gadis kecil yang kini terdiam membeku melihat buaya raksasa itu mendekatinya perlahan.


Segera ibu dari si gadis berusia 5 tahun itu menggendong putrinya dan lari sejauh mungkin. Buaya itu berbelok mengikuti arah larinya ibu dan anak itu. Hingga sang buaya raksasa itu berbalik setelah mendapatkan serangan dari arah belakangnya.


Selagi buaya raksasa tersebut sibuk, polisi lain datang menembakkan meriam tembak yang tajam yang diperkirakan dapat menembus kulit kerasnya namun semuanya gagal.


Sang gadis kecil itu tiba-tiba menangis ketakutan melihat seorang pria berjenggot tebal yang lebih menakutkan daripada si monster buaya. Tentu saja ibunya yang juga kaget kini berusaha merebut anaknya satu-satunya hingga dua orang muncul menahannya atas suruhan si penculik itu.


“IBUUUUUUU...” Teriak sang gadis malang yang telah di bawa oleh segerombol orang asing dengan pakaian serba hitam merah bertuliskan 'The Devils' di punggung mereka.


Perjuangan sang ibu tak berhenti sampai di situ, sang ibu ikut terseret setelah ia berpegangan di mobil para penculik tersebut.


“Ha~harina”


Baru saja sang ibu memanggil anaknya, seorang wanita tiba-tiba menginjak-injak jari-jari sang ibu yang masih setia berpegang di belakang mobil hingga ia kesakitan dan tak mampu untuk bertahan lagi.

__ADS_1


Anak yang di sebut Harina itu semakin menangis melihat sang ibu terjatuh bersama darah-darah yang terus mengalir akibat si anggota penculik wanita itu. Harina masih terus memberontak namun ia tak sanggup melawan kuatnya manusia dewasa yang tetap memeganginya seperti tak ada yang perlawanan, terasa ringan dan tak ada apa-apanya baginya.


“Apa dia yang bernama Corrine ?” Tanya Yuqi wanita kasar tadi.


“Benar, dia istrinya Loen..” Jawab singkat bos mereka yang bernama Vasilio.


Tyler, salah satu anggota pasukan yang ikut menyergap Harina tersenyum remeh “Dia cantik juga, aku yakin anak ini juga akan secantik ibunya” Katanya sedikit menjambak rambut Harina agar gadis kecil itu berbalik ke arah.


Kota Frando masih di serang oleh monster buaya raksasa namun kali ini keadaan cukup berbeda. Setelah 10 menit berlalu, keadaannya yang terus di serang lagi dan lagi membuatnya masih sibuk meladeni para petugas yang menyerang dan entah apa yang membuat tubuh buaya raksasa tersebut perlahan mengecil saat serangan demi serangan di luncurkan.


Sang ibu kini mulai bangkit kembali, ia berdiri mencari sang suami yang entah di mana dirinya saat ini. Ia terus menangis telah kehilangan anak perempuannya, ia memaksakan dirinya berjalan hendak memberitahu sang suami dan masih berharap akan menemukan Harina kembali.


Selang beberapa menit, ukuran dari si monster buaya raksasa menjadi seperti biasa dengan sendirinya. Iya kini menjadi buaya pada umumnya dan akhirnya tubuhnya berubah menjadi abu karena terbakar oleh apinya sendiri.


Penyerangan telah selesai, sang ibu akhirnya menemukan sang suami yang sedang memegang sebuah meriam tembak setelah menyerang monster tadi.


“Ada apa sayang?” Sang suami langsung memeluk istrinya ketika ia melihat istrinya Corrine berlari dengan tubuh yang terluka, terburu-buru dan terisak tangis.


“Harina hiks... Dia~dia di culik oleh orang-orang tidak di kenal, aku tak tau mereka siapa ta~tapi hiks... Mereka sampai menginjakku agar tak mendekati anak kita, sayang hikss...” Isak tangis Corrine tak sanggup menahan air matanya.


“Maafkan aku, aku tak ada di saat Harina di culik” Peluk sang suami yang bernama Loen Armagan.


Seraya menenangkan sang istri, Loen melihat ke tempat di mana mobil itu membawa Harina, walau ia tak lihat persis di mana arah tempat itu namun ia tahu bahwa Harina sebentar lagi akan sampai ke tempat tujuan para kriminal itu.


Ia terlihat berpikir dengan tangan yang mengepal dengan keras.


“Vasilio...”

__ADS_1


__ADS_2