
Uap panas dari 10 bungkus makanan kesukaan Harian sejak kecil yang tak pernah lagi ia rasakan hingga saat ini adalah kesempatannya untuk kembali mencicipi makanan lezat itu yang bernama Moussaka.
Nazeem menengok ke kanan dan ke kiri di mana makanan yang mereka sebut Moussaka itu di susun rapi di atas meja dengan panas yang menguap menggelitik penciumannya begitupun dengan yang lainnya.
Keju yang lumer memenuhi lapisan atas dari perpaduan bawah antara potongan daging sapi, tomat dan terong tersebut. Belum lagi baluran saus tomat yang membuatnya terlihat sangat menggugah selera.
Harina mengendus makanan favoritnya yang selalu di rindukannya itu.
“Nona, bukankah ini kebanyakan?” Tanya Nazeem tak menyangka bahwa Harina membeli hingga 10 bungkus makanan yang sama.
Harina menggeleng “Tak apa, kita akan menyimpannya hingga waktu makan sore. Oh ya, ini jika kalian ingin makan makanan lain, aku membawa satu menu lagi”
Harina kini mengeluarkan 2 bungkus sate ayam yang sangat jumbo. Aira tampak bersemangat ketika melihat itu. “Oh, itu Souvlaki...”
“Sudah jelas, Souvlaki bahkan sudah sangat populer di pulau D'Devils,” Timpa Annie.
Ayato kini mendekati mereka dengan membawa 6 minuman segar yang baru saja ia beli di sebuah toko dekat rumah mereka.
“Wow, siapa nih yang datang, kayaknya artis deh” Jahil Irvin seraya bersiul pendek setelah melihat penampilan baru Ayato yang terkesan sangat santai dan keren.
Perpaduan kemeja putih panjang dengan bagian dada yang tidak terkancing sempurna, lengan panjang yang di gulung hingga ke siku tangan, beserta celana kain hitam polos memberi kesan cool di tubuhnya yang tinggi itu.
Ayato menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian berkata sesekali melirik Harina yang mencuekinya bahkan sampai membelakangiinya “Tadi itu aku...”
“Yuk... Yuk mari makan,” potong Harina menyela perkataan Ayato yang belum sempat menjelaskan apapun. Bukannya keberatan, Ayato malah merasa lega karena ia tak tahu bagaimana menjelaskannya dan bahkan tidak mengerti apa yang di pikirkan Harina padanya.
Mereka mulai mencicipi dua menu makanan di hadapan mereka dengan wajah yang puas.
Selagi masih sibuk menyantap hidangan Moussaka, Irvin tiba-tiba memulai pembicaraan lagi. “Tapi, ada apa dengan kalian berdua? Kurasa ada hawa-hawa gelap di antara kalian... Grr aku ikut merinding merasakan kejanggalan kalian.”
__ADS_1
Harina yang mendengar perkataan Irvin dengan kesal langsung menggigit Souvlaki yang ada di tangannya dan mengunyahnya dengan kasar.
“Nona Harina, apa Ayato macam-macam padamu?” Tanya Irvin lagi yang langsung mendapatkan cubitan dari Aira yang berada di sampingnya sedangkan Nazeem hanya menonton tingkah mereka dan Annie yang sibuk dengan dirinya sendiri memotret makanan sana sini.
Harina kini memanyunkan bibirnya kesal karena Irvin yang notabenenya sangat tak mau melewatkan kisah Ayato itu terus bertanya dan ia tak punya pilihan lain selain langsung menyumpal bibir Irvin dengan Souvlaki-nya.
“Aaaa... No...”
Semua orang menertawakan Irvin yang mulutnya kini sudah sangat penuh dan sulit untuk di kunyah lagi. “Owong” Irvin meminta tolong dengan mulut yang penuh itu sehingga suaranya tak terdengar jelas. Akibatnya, Harina yang tadinya kesal ikut tertawa bersama mereka.
“Haha... Maafkan aku, aku tadi reflek menyumpalmu,” Ujar Harina masih sedikit tertawa.
“Tak apa nona, apapun yang kau lakukan padaku, aku tak mungkin marah kan,” balas Irvin setengah hati.
“Jangan sungkan, kalau kau marah aku tak akan mengusirmu kok,” tambah Harina mencoba membuat Irvin jujur akan perasaannya.
Irvin menutup matanya, mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terbuka kemudian menyilangkan tangannya. “Baiklah, aku marah. Tapi agar aku tak kesal terus, kalian harus menjawab pertanyaanku tadi.”
Ayato dengan sigap menjawab keinginan Irvin. “Maafkan aku nona, tetapi aku harus menjawabnya. Sebenarnya saat di pasar aku menjadi pusat perhatian banyak orang dan nona Harina tak nyaman dengan segala perhatian yang kudapatkan makanya nona membelikanku pakaian tipis ini dan terus menyuruhku tetap berada di belakangnya dan jangan menoleh maupun melirik pada mereka.” Jelasnya panjang lebar dan nada yang cepat.
Irvin mengangguk mengerti kemudian tersenyum cengengesan.
“Wajar, karena Ayato selalu menebar racun ketampanan. Benarkan nona Harina?”
Harina tak menjawab dan hanya cuek terus melanjutkan acara mengunyah makanannya.
“Oh ya, nona Harina aku ingin mengajukan sebuah permintaan,” Ujar Annie tiba-tiba.
“Kita kan sebentar lagi akan tinggal di sini dalam waktu tak menentu, bagaimana kalau kita membuka usaha saja. Lumayan, untuk menambah uang jajan.” Lanjutnya memberi saran.
__ADS_1
Ayato mengangguk setuju. “Benar nona, sebaiknya kita membuka sebuah kedai saja untuk permulaan karena kita memiliki Aira yang ahli berotak-atik di bagian dapur. Nazeem dan Irvin yang mengurus periklanan kemudian Annie yang mendekor ruang dan aku yang mengatur perlengkapan.”
Harina menatap Ayato dengan wajah keberatan. “Terus aku menjadi bos yang menyuruh-nyuruh?”
Ayato terdiam tak bisa menjelaskan kata apa yang baik di dengar tapi memang benar dalam pikirannya Harina hanya sebagai bos pemilik kedai yang mempekerjakan dan menggaji mereka.
Annie segera menyelamatkan nyawa Ayato “Tentu saja nona adalah pemilik kedai dengan foto yang akan ada di iklan kita. Dengan begitu semua orang akan datang karena kecantikan alami nona.”
Harina tak puas dengan apa yang di dengarnya. Ia tersenyum menyeramkan kepada Annie dan Ayato yang rupanya gagal membuatnya tenang. “Hanya foto yah? Hnn... Kupikir Ayato lebih cocok dengan tugas itu agar para gadis rajin mendatangi kedai kita.”
“Apa? Tentu saja para gadis akan berdatangan karena aku.” Timpa Irvin tak membaca suasana menyeramkan ketiganya karena sibuk menikmati makanannya.
Mereka berdua bergidik ngeri tak menyangka mereka tambah memperburuk suasana hati Harina saat ini dan seperti biasa, semakin kesal dirinya, semakin banyak makanan yang ia lahap.
“Tak apa, itu untuk tugas awal saja ketika kita membuat kedai itu. Jadi karena nona Harina yang menjadi pemilik, berarti ia mendapatkan semua tugas dari kita. Nona Harina ikut mengiklan, nona juga bisa ikut mendekor sesuai keinginannya, apa kalian tidak ingat taman yang berada di samping perkebunan menjadi sedap di pandang ketika nona Harina campur tangan mengurus taman itu. Kemudian nona juga mengecek perlengkapan apa saja yang di butuhkan dan yang terakhir kita semua bisa bekerja bersama di bagian dapur dan juga di bagian meja pemesanan.” Senyum Aira dengan bangga setelah menjelaskan panjang lebar untuk tugas-tugas mereka di bantu dengan berbagai pengalaman yang telah di laluinya.
Nazeem bertepuk tangan “Woah, kurasa kak Aira sudah sangat berpengalaman.”
“Tentu saja, aku kan ahlinya di bidang pelayanan terbaik,” tambah Aira percaya diri sementara Harina sedang memikirkan penawaran teman-temannya dengan baik.
Seketika semangat Harina kembali “Baiklah, kalau begitu aku terima nikahnya, eh maksudku aku terima gagasan kalian dan mohon kerjasamanya.”
“SAH!” Teriak Irvin setuju.
Nazeem hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan kakak-kakaknya yang tidak cukup waras darinya. “Apa ini pernikahan? Mereka bisa saja membuat kesalahpahaman.”
Mereka kini saling sepakat satu sama lain dan dengan antusias yang menggebu-gebu membuat mereka tak sabar untuk segera membuka usaha kedai mereka.
.
__ADS_1
.
.