
Harina Aretha adalah seorang gadis dari kota Frando yang sangat polos, ia di sayangi dan juga sangat di manjakan, walaupun hidup di keluarga sederhana namun Harina tetap berbahagia sebagai anak satu-satunya dari keluarga Armagan. Ayahnya dari pasukan tentara yang bernama Loen Armagan dan sang ibu yang bernama Corrine.
Saat berusia 5 tahun, ia di culik oleh segerombol pasukan lini depan dari pulau D’Devils yaitu pulau asing yang di kenal sebagai markas para pengkhianat negara, pulau keji dan di dalamnya berisi orang-orang yang bekerja keras untuk menciptakan sebuah senjata pemusnah manusia. Termasuk dirinya sebagai kelinci percobaan dari eksperimen untuk menciptakan senjata terkuat mereka.
Sayang sekali tak ada yang dapat di lakukannya, perjanjian penguasa dari D'Devils dan seseorang yang telah bertugas menjadi mata-mata telah mengharuskan Harina sebagai anak terpilih untuk menjadi senjata dari para kriminal itu. Sebelum ia di lahirkan bahkan masih dalam kandungan, sebuah racun telah di masukkan ke dalam kandungan Corinne, ia tak bisa lagi mengelak.
Saat itulah penderitaannya di mulai. Seorang gadis berumur 5 tahun harus berpisah dari orang tuanya, terkurung di dalam tabung selama 7 tahun hanya untuk melancarkan penelitian, dan sekarang adalah waktunya ia di latih untuk menjadi pribadi yang tak terkalahkan.
Tetes demi tetes air matanya mengalir ke pipinya, tak ada yang bisa menolongnya ketika sekarang ia berada di dunia lain, hanyalah dirinya seorang manusia bernyawa yang pertama kali menginjakkan kakinya di perangkap neraka ini.
“Ayah.... Ibu.... Hiks” Tangisan dengan tubuh gemetaran akan ketakutan.
“Di sini panas sekali aakh hiks...” Jeritnya setelah melihat kedua telapak kakinya melepuh akibat alas kaki yang ia gunakan telah lenyap di telan oleh pijakan panas dari tanah neraka.
Ia mulai melangkahkan kakinya sesuai arahan yang hanya dirinya yang bisa mendengarkannya meski tanpa bantuan apapun. Yah, itulah salah satu dari kemampuan Harina. Kepekaan terhadap targetnya.
Di sisi lain.
Cindy memperhatikan gerak gerik Harina yang berasal dari kalung pelacak di lehernya. “Bocah itu kebal juga, bisa-bisanya ia dapat menahan panas api neraka di dalam sana. Meskipun ini adalah neraka tingkat satu tapi tetap saja hawa panasnya bisa membuat kita mundur sangat jauh hanya dengan membuka portalnya saja”.
Selagi terus mengawasi, Cindy tiba-tiba melihat tumpukan batu berwarna hitam pekat yang tingginya menjulang hingga butuh untuk mendaki agar sampai ke tempat lain.
“Cek cek... Renne-san, Harina tidak bisa bergerak lebih jauh karena tumpukan batu menghalangi langkahnya. Apa yang harus kita perintahkan?” Tanya Cindy agar tempat tersebut bisa menjadi misi pertama Harina.
Selagi masih berbicara pada penanggung jawab pelatihan, tiba-tiba Leo menepuk bahu Cindy.
“Baik .. baik...,”
__ADS_1
“Aaakhh sebentar Leo,” Lanjut Cindy tak menghiraukan Leo.
“Cindy, ini gawat... Cindy...” Panik Leo.
Melihat sang ketua yang sedang di abaikan, salah satu anggota tim Leo ikut membantu untuk memberitahukan keadaan yang tak lagi sama.
“Nona Cindy, Harina dalam bahaya,”
Dengan tangan yang masih mengenggam telepon seluler, Cindy berbalik melihat apa sebenarnya yang terjadi. Bola matanya bergetar, ini pertama kalinya ia melihat ribuan roh gentayangan berkeliaran tanpa tujuan dengan mata yang hilang. Dengan tubuh yang penuh luka dan tanpa kulit itu, roh-roh gentayangan tersebut terdengar terus menangis layaknya suara jeritan keras ketika seseorang di kuliti hidup-hidup.
Semua tim kini sangat panik, karena ini jga pertama kalinya mereka melihat makhluk dengan tampang yang sangat membuat mata bergetar ketakutan. Dengan suara dan nada yang ketakutan, Cindy segera melapor kejadian tanpa dugaan tersebut.
“Apa ini, aku sama sekali tak melihatnya tadi mengapa mereka tiba-tiba berkeliaran di samping Harina?”
“Sebaiknya kita segera memerintahkan Harina untuk secepatnya bersembunyi dan jangan mengeluarkan suara sedikitpun”
“Benar bos, lihatlah roh-roh itu tak memiliki mata, ini kesempatan bagus untuk Harina”.
Cindy telah selesai melaporkan keadaan pada Renne yang saat ini masih dalam perjalanan menuju perusahaan. Dengan sigap ia mendekati Leo dan anggota lainnya yang tampak sedikit lega.
“Ada apa?” Tanyanya.
Leo menunjukkan posisi Harina yang sekarang lebih aman dari yang tadi. “Kupikir dia cukup pintar dalam memanfaatkan situasi di sana”.
Melihatnya membuat Cindy ikut lega, namun hal itu bukanlah alasan Harina untuk dapat naik ke misi keduanya.
Tiba-tiba Cindy memukul lonceng pertama pertanda misi pertama telah resmi di keluarkan.
__ADS_1
“Perhatian, perhatian semuanya. Misi pertama adalah membuat seluruh roh-roh gentayangan itu bekerja di bawah kendali Harina. Dalam misi ini kemampuan dalam berpikir cerdas akan di nilai sebagai nilai awal. Misi ini adalah pembentukan strategi awal yang bisa kita lakukan saat ini. Segera laksanakan”.
Lonceng akhirnya berbunyi dua kali di mana aba-aba untuk pelaksanaan misi pertama akan di lakukan. Mereka kini bergerak. Leo segera menyampaikan misi pertama tersebut kepada Harina.
“Cek... Harina apa kau mendengarku?”
Harina tersentak ketika mendengar suara Leo memanggilnya.
“Misi pertamamu akan di lakukan di tempat ini juga. Sekarang silahkan membuat sebuah strategi untuk memanfaatkan roh-roh buta itu, gunakan kemampuan dan pikiranmu untuk membuat mereka bergerak membuka jalan agar kau bisa melewati tempat tersebut. Kau harus menyelamatkan dirimu sendiri agar dapat keluar dari penjara tersebut. Sekian”.
Harina menghapus air matanya ketika menyimak misi pertamanya saat ini. Harina menyebarkan pandangannya mencari jalan keluar tanpa harus mengusik roh-roh tersebut namun tetap saja nihil. Ia tidak mendapatkan jalan keluar yang bisa di lewatinya diam-diam.
Ia sungguh tak bisa melakukan ini seorang diri. Ia terus menghapus air matanya yang keluar tanpa henti itu. Masih terdiam berpikir keras dengan kepala kecilnya yang saat ini hanya ingin merengek memeluk sang ibunda yang di rindukannya. Ia menggigit jarinya sendiri tatkala ia secara tak sadar mengeluarkan suara Isak tangis walaupun hanya terdengar samar.
Leo dan Cindy mendecak kesal.
“Apa-apaan anak tidak berguna itu...”
“Kenapa sih mereka memilih bocah cengeng itu, padahal di sini sangat banyak orang-orang bertalenta dan kuat yang ingin menjadi senjata kita”
“Benar sekali, mengapa di antara semua orang yang mengajukan diri, anak ini adalah pilihan terkuat”.
Mereka sama sekali tak mengerti, apa lagi bocah ini adalah gadis yang berasal dari luar pulau mereka. Semuanya sangat aneh dan mencurigakan.
Harina sekali lagi mendengar suara Leo yang terdengar sangat panik.
“Harina... Harina... Sadarlah... Berhenti menangis cengeng, roh-roh itu menyadarinya”
__ADS_1
Harina membulatkan matanya tatkala apa yang baru saja Leo katakan itu benar. Roh-roh itu mulai berdatangan, ada yang berjalan, ada yang berlari kecil dan ada yang merangkak dengan tubuh terbalik datang dengan cepat mendekatinya.
“AAAAKKHH”