Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Epiphany


__ADS_3

Cucuran air mengalir deras jatuh dari helai-helai rambut panjang selutut berwarna coklat gelap gadis bertubuh ideal itu. Dress putih selutut menyamai panjang rambutnya, pita putih yang mengikat pinggang rampingnya dan sebuah tombak besar penuh darah yang digenggamnya membuat air yang mengalirinya menjadi kemerah-merahan.


Wajah gadis itu terlihat kaget sebelum tombak itu melayang menyebarkan petir yang membelah pohon-pohon di sekitaran hingga terjatuh dan hangus menghitam.


'Bagaimana aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku ini?’


...


“Tidak di rumah, tidak pula di halaman apalagi di kepadatan luar. Tanganku tak bisa terkontrol. Kakiku lumpuh sehingga harus memakai kursi roda.”


Di kamar miliknya, Harina tertawa kecil seraya menatap tangannya yang terasa dingin, kemudian matanya bergerak menatap kakinya dengan tatapan malas.


“Kursi roda hah? Aku tak membutuhkan ini.”


Harina berdiri dan berjalan dengan santai menuju jendela kamarnya yang berada di lantai dua memandangi pemandangan malam yang sejuk dan indah jika di lihat dari posisinya sekarang ini. Suasana luar yang sangat di impikannya sejak ia masuk ke dalam tabung eksperimen lalu ke penjara neraka.


Tapi apa yang dia lakukan sekarang?


Gadis itu mengerai rambut panjangnya dengan model yang tak seimbang akibat kunyahan monster buaya kesayangannya dan cakaran dari monster singa tercintanya. Harina pasti sangat merindukan mereka sampai-sampai melarang semua pelayan untuk merapikan rambutnya.


Tok... Tok... Tok...


“Nona Harina, makan malam sudah siap,” panggil Ginni dari luar kamar, lantas Harina langsung berlari ke arah kursi rodanya untuk tetap berakting sakit.


Tangan Harina dengan ringan menggerakkan kedua roda itu menuju pintu kemudian dengan segala kehati-hatian yang percuma, pada akhirnya tangannya lagi-lagi merusak ganggang pintu yang ke-389 kalinya.


Pintu terbuka memperlihatkan senyum paksa Ginni dengan sebuah kunci cadangan di tangannya. “Nona, lain kali biar aku membuka kuncinya yah, kan kita sudah sepakat.”

__ADS_1


Harina tak berkutik dan hanya membiarkan Ginni melakukan tugasnya mendorongnya hingga ke ruang makan. Tak perlu khawatir. Karena hal ini sudah biasa, maka cadangan ganggang pintu di gudang ada ribuan yang akan langsung di perbaiki oleh sang servis istana.


Beruntung banyak petugas yang gerak cepat jika sesuatu rusak akibat tangan mengesalkan itu, di pakaikan sarung tangan pun percuma. Tak ada yang bisa mengontrol tangan itu bahkan pemiliknya.


Semuanya terasa seperti biasanya, tak ada hal baru yang terjadi. Tetapi di samping diamnya Harina, hati dan pikirannya sangat bertolak belakang.


Tingkah dan tindakannya seolah-olah tak memperdulikan apapun di sekitarannya dengan alasan-alasan yang nyambung sehingga semua orang tak dapat mengelak.


Tetapi di hatinya.


“Huft, Harina kau berjuang begitu keras hingga ke titik ini. Selanjutnya hatiku menginginkan sebuah kebebasan itu sesungguhnya. Setelah bertahun-tahun penderitaan yang telah berakhir ini, aku menjadi seseorang yang tak tahu caranya berteman. Bahkan bersama para pelayanku pun aku tegang dan hanya bisa memperlihatkan wajah datarku.


Sejujurnya aku tak nyaman dengan keterpaksaan mereka. Bukankah itu sangat jelas dari cibiran dan julitan mereka di belakangku. Aku pun enggan untuk mendekati mereka bahkan Ginni sekalipun. Aku mencoba mengenalnya, tak ada keikhlasan di hatinya. Mereka sama saja.”


Pikiran Harina terus terbayang-bayang akan dunia luar.


Usiaku telah beranjak 18 tahun. Tahun-tahun remaja yang ku tunggu. Kisah sekolah, perjuangan dan percintaan. Sungguh bayang-bayang yang manis di dunia jahat ini. Aku selalu melihat anak-anak yang bahagia, sedih dan marah. Tetapi di samping berbagai ekspresi itu, tersirat sebuah kebahagiaan yang lengkap. Setidaknya itu menurutku orang yang tak pernah merasakan hal biasa seperti itu.


Tapi meskipun begitu, aku tetap akan berjuang, aku harus memiliki teman, seseorang yang dapat di ajak kerjasama, seseorang yang harus membimbingku hidup di pulau biadab ini. Yang pastinya bukan utusan dari tuan Vasilio maupun orang perusahaan lainnya. Aku ingin seseorang yang tulus, maka dari itu masyarakat penduduk adalah jalannya.


Aku akan menyelinap keluar dari rumah ini dan menjalin hubungan dengan orang lain diam-diam hingga saatnya tiba, aku akan memberanikan diri untuk mengatakan aku siap dinobatkan sebagai penerus penguasa.’


Tekad menggebu-gebunya kini sangat terlihat oleh wajah penuh keyakinan. Ia mengunyah makanan itu dengan cepat. Tak ada lagi yang namanya sendok, kini ia makan dengan satu genggam tangan guna mempercepat ritual terakhir ini sebelum semua pelayan dan petugas beristirahat.


Semua sesuai dugaannya, dan beruntungnya malam ini penjaga malam yang bertugas tak begitu banyak. Namun, Harina tetap waspada untuk hari-hari berikutnya karena bisa dijamin seterusnya ia akan seperti ini baik pagi, siang, sore maupun malam.


Tepat pada pukul 02.00am Harina membuat sebuah ruang bawah tanah tepat di bawah kasurnya. Sebuah ruang bawah tanah yang luas dengan kobaran api sebagai penerang jalannya. Mudah saja baginya, apapun akan mudah baginya di dunia ini. Tinggal menggunakan kekuatan sihir ciptaannya, dengan sekali hentakan kaki, tanah menciut dan memadat membentuk sebuah ruang. Segel bunyi di aktifkan jadi tidak akan menimbulkan kericuhan di malam damai ini.

__ADS_1


Seraya terus membuat sebuah terowongan khusus untuk keluar gerbang, Harina melompat-lompat kecil tak sabar dan begitu bersemangat karena sebentar lagi dia akan menginjakkan kaki seorang diri, bebas tanpa orang-orang membosankan di rumah istananya.


“Harina... Aku pikir beruntung juga kekuatanku ini. Everything is easy guys. Aku jadi teringat di saat-saat pelatihan di penjara neraka. Kira-kira sudah berapa sihir yang aku ciptakan dengan tanganku sendiri yah? Kupikir sihir-sihir itu takkan berguna di dunia damai ini kecuali ada perang. Setidaknya, mereka punya sisi lain dalam membantuku melarikan diri.” gumamnya seorang diri.


Sedikit lagi, ia akan mencapai dunia luar. Tinggal lubang rahasia saja yang harus ia amankan. Tak butuh waktu lama, akhirnya selesai.


Harina mengeluarkan kepalanya menatap dunia luar. Ketika itu, suara pertama yang didengarnya adalah...


“Mooo...”


Harina berbalik dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.


“Apa? Apa yang aku lakukan di kandang sapi? Sebaiknya aku kembali.”


Tiba-tiba sebuah garu rumput melayang ke arahnya, beruntung Harina dengan cepat menggenggam garu rumput yang cukup tajam itu walaupun ia tak dapat menyelamatkan 2 sapi yang terluka karena menghalangi alat berbahaya itu mengenainya.


Sang bapak tua pemilik kandang berlari mencoba memburu jejak Harina yang menghilang bersama garu rumputnya tanpa jejak sedikitpun bahkan lubang di tengah kandang pun telah menghilang dan terlihat bersih dan rapi lagi seperti semula.


Meski begitu, bapak tua itu yakin bahwa seseorang telah memasuki areanya. “Kurang ajar, di mana pencuri itu? Sudah mencuri tombakku, dia juga melukai kedua sapiku.”


Bapak tua itu bergerak memeluk dan mengelus kedua penghasil uangnya itu. “Sabarlah nak, bapak akan menemukan kriminal itu.”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2