
Keberangkatan di pagi hari yang cerah dan menyejukkan membuat ke-enam orang itu tampak semangat dan kini tengah melambai ria ke penduduk nelayan yang sangat baik telah bersedia membantu mereka bahkan mengantarkan barang-barang mereka dengan mobil pick up milik mereka.
Meskipun mereka hanya berlindung di antara barang-barang mereka, namun itu tidak menghalangi kegiatan mereka yang terbilang selalu aktif itu. Selama perjalanan mereka melakukan permainan secara acak di sana sedangkan Ayato duduk di depan di samping supir guna menunjukkan jalan yang akan mereka tuju.
Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah kosong, berdebu dan penuh sarang laba-laba. Rumah yang terlihat abu menandakan bahwa rumah itu telah lama di tinggalkan oleh sang pemilik tanpa pemilik baru dan akhirnya menjadi rumah tanpa penghuni bertahun-tahun.
Mereka memandangi rumah dengan dua lantai itu. Harina tampak kebingungan harus menjelaskan apa pada yang lainnya. Matanya terus berkedip cepat, sesekali menunduk kemudian kembali melihat rumah lalu menatap teman-temannya.
Ia yakin bahwa rumah itu benar tempat yang dahulu ia tempati bersama sekeluarga. Meski ia tahu bahwa waktu telah mengubah semuanya, namun ini jauh dari perkiraannya.
Ayato mendorong pintu dengan mudah karena pintu rumah yang terbuat dari kayu itu sangat lapuk.
Matanya kini berkaca-kaca mencoba menahan tangis. Pintu itu telah terbuka dan barang-barang lama mereka masih ada. Ia masih terdiam hampa. Di mana ayah? Di mana ibu?
Aira yang melihat ekspresi menyedihkan Harina langsung memeluknya dengan tubuh pendeknya kemudian mengelus punggung Harina yang akhirnya tak bisa menahan air matanya lagi.
Tak hanya Aira, Annie, Irvin, Ayato dan Nazeem juga hanya terdiam tanpa bertanya dan menagih janji Harina yang pernah berkata bahwa ketika mereka sampai di rumah lamanya, ibu dan ayahnya pasti akan memeluknya penuh rindu dan akan memberikan mereka tumpangan di rumah besar mereka mengingat bahwa prajurit Loen dan istrinya Corrine selalu berbaik hati pada setiap tamu mereka, apalagi anak dan teman-temannya. Saat itu, Harina terlihat sangat merindukan kedua orang tuanya dan sangat bersemangat agar misi mereka cepat terlaksanakan.
Tak ada alasan lain lagi. Semua pikiran mereka menyatu dan semua petunjuk ini memberitahukan mereka satu berita menyakitkan bagi Harina bahwa kedua orang tuanya telah tiada.
Selagi Aira menenangkan Harina, mereka ber-empat memasukkan barang-barang mereka.
“Ngomong-ngomong rumah Nona Harina besar juga yah,” Puji Nazeem seraya terus menyebarkan pandangannya dan mengecek tiap pintu-pintu yang ada di lantai dua.
“Kau benar, kupikir kita bisa membuat suatu usaha di sini,” Ujar Annie melihat lantai bawah yang sangat luas hanya untuk sebuah ruang untuk tamu semata.
“Ah benar juga, aku akan merekomendasikan hal itu pada nona Harina dan Ayato agar membuat usaha di sini, lumayan membangun usaha sendiri di tempat asing, aku yakin pasti sulit mencari pekerjaan di sini,” lanjutnya penuh keyakinan.
Irvin yang mendengar perkataan Annie yang berada di lantai atas, tersenyum remeh “Kalau soal uang pasti kau juaranya yah, bayaranmu pasti mahal saat menjadi penata busana nona Harina."
Annie menuruni tangga dengan wajah datarnya mendekati Irvin kemudian berhenti tepat di hadapannya. Tubuh tinggi layaknya model Paris mendukungnya untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Irvin dengan wajahnya yang semula datar menjadi ceria.
__ADS_1
“Coba tebak” bidiknya di telinga Irvin membuat wajah pria itu terlihat memerah.
Irvin hanya menggeleng tak tahu.
“Umm, rahasia” bisiknya lagi kemudian berlari menjauhi Irvin. Irvin langsung memegang dadanya mencoba mengatur detak jantungnya yang serasa berdegup sangat kencang.
Nazeem ikut menuruni tangga melewati Irvin yang terlihat tidak karuan akibat ulah Annie.
Mata mereka berdua bertemu dan saat itulah Irvin merasakan tatapan menjijikkan sekaligus tatapan meremehkan khas Nazeem, belum lagi sebuah senyum miring yang di tunjukkan nya.
“Apa aku terlihat jelas?” Tanya Irvin berbicara pada dirinya sendiri seraya memegang kedua pipinya. “Aish, jelas atau tidak dia tidak perlu sejijik itu kali. Dasar anak kecil.”
...~~~
...
Mereka bekerja sangat keras untuk menghidupkan kembali rumah yang telah mati ini. Segala sisi kini terlihat bersih, barang-barang lama keluarga Harina yang sudah sangat lapuk dan tak bisa digunakan di kumpulkan di gudang sedangkan yang masih bisa terpakai, telah tertata rapi dengan letak baru yang lebih segar ketika di pandang.
Aira sontak berdiri karena terbiasa melayani Harina ia seperti tak bisa membiarkan Harina menangani hal yang selalu ia kerjakan untuknya. “Nona Harina biar aku yang membelinya, nona istirahat saja di sini”
Harina menggeleng “Kau bisa saja tersesat, biar aku dan Ayato”
Aira mengangguk pasrah, pertanyaan apakah Harina tahu mengenai ciri-ciri dari bahan-bahan berkualitas atau tidak, itu membuatnya khawatir tidak mendapatkan khasiat dan manfaat dari makanan pasar yang tidak sesegar di perkebunan besar milik pulau D'Devils.
Sebelum melangkahkan kakinya, Harina kembali berbalik dan berkata “Tak usah khawatir, aku hanya akan membeli makanan instan atau makanan cepat saji, karena mau memasak pun, kami belum memiliki setidaknya air dan gas”
Perkataan Harina membuat mereka menyadari satu hal yang terlewatkan.
Irvin langsung menepuk jidatnya “Benar juga, bagaimana caranya kita mandi?”
...~~~
__ADS_1
...
Harina dan Ayato kini menyusuri pasar yang sangat ramai sehingga mereka hanya bisa melangkah kecil. Ayato yang semula berada di samping Harina reflek memposisikan dirinya tepat di belakangnya guna melindungi miliknya ketika orang-orang saling bergesekan di sana.
Mereka akhirnya menemukan beberapa makanan instan yang di salah satu toko.
“Ayato, ayo kita kesana,” tunjuk Harina kemudian mereka akhirnya sampai di sebuah rumah makan dengan jumlah pengunjung yang banyak membuat semua meja telah di tempati.
“Permisi, kami pesan 10 porsi di bungkus yah,” kata Harina kepada sang pemilik rumah makan dengan logat yang sangat berbeda walaupun bahasa mereka tetap sama. Selagi pesanannya dalam proses, Harina merasakan tatapan-tatapan aneh dari para pengunjung seperti mengarah kepadanya.
Ia sedikit ketakutan dan berbalik menghadap Ayato yang sedari tadi juga menghindari tatapan mereka menunduk sehingga tatapan mereka kini bertemu.
“Ada apa?” tanya mereka bersamaan.
Ayato hanya menggeleng sebagai jawaban ambigunya kemudian Harina kembali melihat tatapan aneh dari para pengunjung itu yang baru ia sadari bahwa tatapan para wanita terlihat begitu mendamba dan para laki-laki terlihat serius sambil sesekali membisikkan sesuatu. Ia akhirnya menyadari bahwa tatapan itu bukan ditujukan untuknya yang memang memiliki tipe wajah biasa saja di kampungnya.
Kini perasaannya berubah menjadi kesal.
'Ayato kan orang Jepang, dan lagi dia memiliki paras yang menawan dan proporsi tubuh yang sempurna, di dukung dengan penampilan mencolok yang sekarang menggunakan jubah merah favoritnya.' risihnya dalam hati.
Harina langsung merangkul bahu Ayato dengan sedikit menjinjit. “Setelah ini kita akan membelikan mu baju baru.”
Ayato hanya mengangguk lucu membuat hati para wanita itu meleleh.
Tiba-tiba dua orang gadis mendekati mereka. “Permisi, boleh minta nomor telepon mu?” tanya kedua gadis itu malu-malu.
“Aku tidak memiliki telepon genggam,” jawaban Ayato seketika membuat para gadis itu semakin meleleh mendengar suaranya yang berat.
Entah kenapa Harina kini sangat kesal membuatnya reflek meneriaki Ayato.
“AYATO...”
__ADS_1