Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Lodging


__ADS_3

Pasir putih halus yang sangat nyaman dipijak-pijak. Sangat lembut hingga butiran-butiran pasirnya membentuk jejak-jejak kaki orang-orang yang kini baru saja melabuhkan kapalnya.


Aira berlari begitu senang karena telah sampai tempat tujuan mereka.


“Sebentar, kak Aira ini bukan tujuan kita. Di sini dikatakan kita harus menaiki mobil selama 2 jam perjalanan agar sampai di kota Frando,” Sela Nazeem membuat Aira langsung bermuka datar.


Gadis itu tampaknya sangat kelelahan dan segera ingin beristirahat, ia memutar bola matanya malas “Dan di manakah kita akan mendapatkan mobil?”


“Aku pun tak tahu. Kurasa sebelum kita pergi persiapan kita sangatlah lengkap, bahkan kita sampai membeli kapal untuk pelarian diri kita. Tetapi kita melupakan mobil,” Ayato hanya bisa menghela nafas panjang.


“Baiklah kalau begitu ayo kita cari penginapan terlebih dahulu setelah itu kita pikirkan lagi,” Timpa Harina segera melangkahkan kakinya mencari sebuah penginapan yang pas untuk mereka. Bersama Annie dan Aira.


Ketiga lelaki di sana hanya menatap punggung gadis-gadis itu menjauh dari mereka dengan ceria seraya bercerita seru dan tertawa.


Irvin tersenyum manis menatap salah satu gadis pujaannya disana sambil berkata “Malam ini dan malam-malam berikutnya kita akan tinggal bersama mereka, bukankah ini kesempatan yang baik?”


Irvin menoleh ke arah Ayato yang juga sebenarnya berpikir demikian. Ayato membalas tatapannya. “Tidak, kita harus terus fokus dan waspada,” Katanya singkat lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu sibuk menurunkan barang-barang ringan yang mereka punya.


“Benarkah? Tidakkah kau berpikir untuk berdua-duaan dengan nona Harina hahaha, tidak usah terlalu tegang aku tahu kok” Irvin tertawa jahil.


Ayato berbalik melihat Irvin yang sudah biasa menjahilinya. “Tidak tinggal bersama dia pun, aku sudah sering berdua-duaan dengan HARINA-KU”


Perkataan Ayato berhasil membuat mulut Irvin menganga sedangkan Ayato tersenyum penuh kemenangan.


“Oo... Jadi sekarang kau berani men-cap bahwa nona Harina adalah milikmu, baiklah... Nona HARINA... NONA HARINAA...”


Irvin yang langsung meninggikan suaranya memanggil Harina membuat Ayato sukses membulatkan matanya kemudian berlari memburu sahabat seperjuangannya yang super jahil itu. Sedangkan Nazeem hanya melihat aneh kedua pria gila itu kemudian menggelengkan kepalanya.


“Orang dewasa... Orang dewasa... Untung aku masih kecil” Dengan songongnya ia menyilangkan kedua tangannya didada dan tersenyum bangga merasa dirinya yang paling waras.


Di sisi lain, ketiga gadis itu terhenti ketika melihat beberapa rumah kumuh yang dapat di tempati untuk semalam.


“Tak kusangka tidak ada penginapan di sekitaran sini,” Kecewa Aira hanya mendapati rumah kumuh tak berpenghuni.


Aira dan Harina berjalan mendekati rumah kumuh itu, sedangkan Annie pergi mengecek tempat lain yang tak jauh dari sana setelah meminta izin pada Harina.


Setelah mengecek, Annie berlari dengan langkah kecil segera memberitahukan apa yang ia temukan “Nona Harina, Aira, Kurasa itu bukan rumah, tapi tempat istirahat para nelayan, lihatlah di sebelah sana banyak perahu-perahu kecil dan juga di belakang sana aku menemukan perumahan kecil yang berpenghuni.”

__ADS_1


“Apa ada orang disana?” Tanya Harina.


Annie berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya “Di sana banyak lampu yang hidup jadi aku pastikan bahwa perumahan itu berpenghuni”


Harina dan Annie kini mendatangi perumahan itu yang tampak kosong berharap seseorang membuka pintu untuk mereka. Sementara Aira pergi memberitahu Ayato, Irvin dan Nazeem secepat mungkin bergerak mengemasi barang-barang mereka yang dapat di amankan.


Tak butuh waktu lama, seorang wanita tua membukakan pintu untuk mereka.


“Maaf Bu, apa boleh kami menginap semalam saja di perumahan ini?” Tanya Annie seraya memperlihatkan senyum paksanya pada wanita tua yang juga menyambut mereka dengan wajah datar cenderung murung miliknya.


Harina ikut tersenyum paksa karena pertanyaan Annie tadi tidak di jawab sama sekali. “Bu, kalau anda keberatan, kami tidak apa-apa kok”


Mereka berdua segera membungkuk sebagai ucapan permisi karena telah mengganggu. Baru saja berbalik, mereka tiba-tiba terkaget ketika sang wanita itu memegang masing-masing bahu mereka.


“Sebutkan kalian berasal dari mana?”


Harina segera memutar kepalanya mencoba mengarang nama kota.


“Kami dari...” Ucapan Harina terpotong tatkala Nazeem yang baru-baru saja sampai disana langsung menyambung kalimat Harina.


Wanita tua itu tersenyum melihat kemanisan Nazeem yang menjawabnya dengan penuh percaya diri. Tidak salah lagi, pasti orang-orang ini bukan dari pulau D’Devils jadi ia tak perlu lagi mewaspadai.


“Baiklah kalau begitu simpan barang-barang kalian di pojok sana kemudian istirahat lah sejenak, lalu keluarlah makan malam bersama kami disini untuk memulai malam yang indah ini.”


Mereka akhirnya lega karena orang itu dapat menerima mereka dengan cara yang hangat.


Irvin dan Ayato mengangkat kedua karung berisi buku itu kemudian menggendongnya menuju tempat yang telah di arahkan oleh para penghuni lainnya.


“Ayato... Kau yakin kita akan tinggal disini semalaman?” Tanya Irvin ragu setelah melihat ekspresi-ekspresi mereka yang tadinya sangat tak ramah berubah seratus persen menjadi pribadi yang hangat kepada mereka.


“Hm, mereka terlihat mencurigakan. Tapi yakin atau tidak, kita tetap harus melakukannya,” balas Ayato.


Irvin mengangguk membenarkan perkataan Ayato kemudian mendekatkan wajahnya ketelinga Ayato “Mereka pasti menyembunyikan sesuatu”


“Menyembunyikan apa?”


Kaget, Irvin dan Ayato menoleh kasar ke arah bapak tua yang ikut membantu mengangkat barang-barang mereka tanpa disuruh.

__ADS_1


Irvin tertawa garing “Ahaha, menyembunyikan buku...”


Ayato ikut tertawa garing kemudian memperjelas kebohongan mereka agar tak ketahuan. “Haha iya benar, para gadis itu menyembunyikan satu buku kita”


Bapak tua itu tertawa “Haha, pasangan muda memang selalu menjahili satu sama lain yah... Bapak juga dulu seperti itu, wanita yang membuka pintu untuk kalian itu adalah istriku, walaupun setelah menikah hidup kami susah namun dia tetap ceria terus menjahili dan menggoda bapak, ia tidak pernah meminta hal lebih dariku”


Ayato dan Irvin saling menatap sebentar kemudian langsung merespon bapak tua itu “Haha tetap romantis yah pak, ngomong-ngomong itu terlihat koper kami?” Kata Ayato memastikan.


“Ah benar ini milik kalian” Jawab bapak tua itu membuat mereka langsung menengok kebelakang mereka yang tanpa sadar ternyata para penghuni pria datang membantu mereka mengangkut barang-barang mereka bahkan semua yang ada di kapal mereka.


“Waduh, mereka menurunkan barang tanpa bertanya terlebih dahulu. Ini bisa di bilang baik atau kurang ajar yah”. Perkataan Irvin terhenti ketika mendapatkan senggolan dari Ayato.


“Sst, jangan bicara seperti itu”.


Mereka segera berterima kasih kemudian mereka kini beristirahat sejenak guna membersihkan diri dari kepenatan setelah seharian melakukan perjalanan dan juga membersihan racun yang ada di tubuh mereka ketika racun udara dari temuan Harina di aktifkan dengan sengaja.


Jam menunjukkan pukul 21.00 malam.


Mereka ber-enam keluar mengikuti perkataan wanita tua tadi dan ikut bergabung makan malam bersama mereka.


Hidangan yang terlihat tidak berkelas, hanya beralaskan daun pisang dan sebuah api unggun yang membakar tiap hidangan laut yang begitu khas dengan rempah-rempah yang memaduinya.


Para penghuni itu sungguh terlihat kelaparan di mata mereka. Tangan yang bercampur baur terlihat begitu menjijikkan untuk mereka ikut dalam acara makan bersama itu.


Seseorang tiba-tiba menegur mereka yang sampai sekarang tidak memakan sesuap nasi pun. “Hei, mengapa kalian tidak makan?”


Mereka ber-enam kini menjadi pusat perhatian sementara bapak tua itu tersenyum. “Makanlah, tak usah takut kami disini selalu menghormati pengunjung jadi anggaplah seperti rumah sendiri”.


Tak mampu menjelaskan keadaan mereka, akhirnya mereka juga mencoba memakan hidangan laut itu dengan ragu-ragu.


“Bagaimana?” Tanya si wanita tua itu ingin mengetahui penilaian mereka.


Aira mengangguk setelah mencicipi sebuah sate udang. “Enak”


Wanita itu lega mendengar kepuasan mereka kemudian berkata. “Maafkan aku sempat menakuti kalian karena kami sama sekali tidak ingin menerima tamu dari pulau D’Devils jadi aku harus memastikannya dahulu. Meskipun di berita pulau D'Devils telah musnah, namun kita tidak tahu siapa saja yang berhasil selamat kan.”


Perkataan wanita tua tersebut membuat mereka ber-enam tegang dan tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2