
Membuka kedua matanya tiba-tiba sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Sebuah kenangan yang membuatnya sangat trauma. Mengapa ia mengingat semua perasaan itu lagi ketika ia memasuki ruang laboratorium yang telah sepi penghuni itu.
Setetes air mata jatuh mengenai pipinya.
Ayato yang melihat itu langsung mendekati Harina dan mengusap air mata Harina dengan kedua ibu jarinya. “Nona Harina kau tidak apa-apa? istirahat lah jika kau lelah,” Khawatirnya.
Harina melihat Ayato dengan wajah memelas. “Jangan khawatirkan aku, oh ya aku sudah mengingat sebuah tempat rahasia yang hanya di ketahui oleh Hiro dan Vasilio”.
Ayato mengangkat kedua alisnya seolah bertanya di manakah tempat itu.
Harina menurunkan kedua tangan Ayato yang sedari tadi masih memegang kedua pipinya. “Hanya saja, kita membutuhkan kedua telapak tangan Hiro atau Vasilio, hanya mereka yang bisa membuka pintu rahasia itu dan menemukan tempat itu”.
Ayato membalikkan badannya menjauh dari tubuh Harina kemudian mengeluarkan pedang kesayangan miliknya. “Jika itu harus, aku akan segera membawakan kedua tangan salah satu dari mereka”. Yakinnya tanpa ragu-ragu.
Harina terus memandangi punggung Ayato yang kini semakin menjauh darinya kemudian tertawa receh, ia memang tak bisa meragukan Ayato akan kesetiaannya. Tanpa sadar ia terus tersenyum lebar hingga Ayato kembali dan menyadarkannya dari segala bayangan indah yang ada di pikirannya.
“Nona, ini kedua tangan dari tuan Vasilio”
Harina tersentak kaget kemudian hanya meng-iyakan perkataan Ayato sebagai balasan.
Ayato yang bingung kedua tangan ini mau di apakan terus menunggu Harina yang saat ini sedang sibuk sendiri mengipasi dirinya dan beberapa kali menyentuh kedua pipinya yang terlihat memerah.
“Umm Nona” Panggilnya dengan nada pelan dan sedikit ragu.
Mereka saling menatap satu sama lain.
“Apa?” Tanya Harina sudah lupa dengan misi awalnya. Baru saja Ayato ingin menjawab, Harina langsung menjentikkan jarinya.
__ADS_1
“Oh, maaf maaf aku tadi hanya~ ah sudahlah sini tangan-tangan itu” Ia merampas tangan Vasilio dari genggaman pria berjubah biru tua itu dan mulai menempelkan kedua tangan yang telah terpotong itu mencari pintu masuk dari perpustakaan rahasia yang di ingatnya ada di balik dinding polos ini.
Sayangnya ia membutuhkan waktu untuk mencari pintu rahasia yang tersembunyi itu. Mengapa ia sampai lupa letaknya yah? Ia terus berpikir, padahal tempat ini tidak berubah sama sekali tetapi ia lupa di sisi mana yang harus ia temukan.
Sementara Ayato di balik sana pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Harina dan langsung mencari mayat dari tuan Hiro. Ia tidak bisa berdiam diri melihat Harina kesulitan. Tidak lama ia mencari dan akhirnya mayatnya ditemukan di antara tumpukan mayat para pemain musik saat acara ulang tahun Harina yang ke-24 malam kemarin.
Ia berlari kecil menyusul Harina dan ikut meraba-raba dinding polos itu menggunakan kedua tangan Hiro yang telah di tebasnya. Harina menoleh ke arah Ayato yang juga melakukan yang sama dengannya. Namun, bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya saat ini.
Sebuah perpanjangan kabel yang tidak terputus namun juga tidak memiliki ujung kabel. Sangat mencurigakan, sambungan kabel tersebut terlihat masuk ke dalam dinding.
“Ayato...”
“Apa Nona?”
Harina mendekatinya. “Kabel ini, tersambung ke mana?”
Ayato memegang kabel itu mencoba menarik perpanjangan itu namun benar saja dugaan mereka tak salah. Pasti kabel ini terhubung ke sebuah ruangan rahasia. Mereka saling menatap kemudian mengangguk pertanda mereka memiliki pikiran yang sama.
Tanpa basa-basi lagi, mereka kembali mencari pintu rahasia itu menggunakan kedua tangan Hiro dan Vasilio di sekitar kabel tersebut. Tak butuh waktu lama, Ayato akhirnya mendengar bunyi di dalam dinding ketika sebuah sisi mendapatkan sentuhan dari tangan Hiro.
“Harina, aku mendapatkan”
Dengan cepat Harina melihat dinding polos itu yang perlahan terbuka persis seperti ingatannya di masa lalu.
“Dahulu pintu itu terlihat besar, namun sekarang cukup kecil yah untuk membuat kita membungkuk seperti sekarang ini” Tawa Harina ketika mereka memasuki perpustakaan rahasia itu.
Ayato juga ikut tersenyum setelah melihat senyum ceria Harina yang terlihat sedang bernostalgia dengan kisah mengerikannya yang sekarang telah menjadi hal remeh baginya. “Yang namanya ruang rahasia yah harus begini”
__ADS_1
Mereka mulai menuruni tangga dan mendekati berbagai macam buku-buku penelitian, sejarah pulau dan rahasia-rahasia alam dimana mereka mendapatkan berbagai macam sampel penelitian, bahkan buku-buku mengenai metode apa saja yang cocok untuk setiap penelitian berdasarkan sasaran dan sebab akibatnya.
Harina berputar mencoba mencari buku dengan sampul yang sangat di kenalnya itu. Sedangkan Ayato segera menghidupkan lampu agar memudahkan pergerakan mereka.
“Ayato, kita akan membawa beberapa buku dari perpustakaan ini jadi nanti panggil Aira, Annie, Irvin dan Nazeem kemari tetapi kau dan aku akan fokus mencari buku dengan sampul merah yang bergambar simbol-simbol aneh yang di penuhi asap tebal di di segala sisi buku”.
Ayato hanya mengangguk dan memanggil ke-empat orang yang telah di sebutkan Harina tadi. Setelah menunggu, mereka semua akhirnya langsung bergerak mencari buku-buku penting dan memasukkan buku-buku itu kedalam sebuah karung besar. Mereka terlihat sangat serius dan itu membuat Harina sekali lagi lalai dalam misinya karena di anggapnya misi itu sudah bisa sedikit bersantai. Ia menatap teman-temannya satu persatu yang sedang sibuk melaksanakan perintahnya.
Aira Mariko, seorang pelayan setia Harina berasal dari jepang yang selama ini bergerak sebagai penanggung jawab apapun yang di perlukan Harina dari pertama kali Harina di nyatakan sebagai penerus Tuan Vasilio hingga saat ini.
Annie Adalrich, bertugas sebagai seorang pelayan yang juga melayani Harina dimana posisinya sebagai penata rias dan penata busana pribadi Harina. Dialah kunci kecantikan Harina selama ini yang selalu tampil elegan dan mewah, selalu ingin tampil cantik dan berkelas berkat Annie si gadis Jerman.
Irvin Forke, dia adalah sahabat seperjuangan Ayato semasa mengikuti kelas pedang selama 3 tahun. Seorang petarung lini depan yang masih jarang bertugas akibat selalu di remehkan dan di jadikan cadangan saja oleh para pasukan yang lebih tua disana terutama ayah Ayato yang sangat songong terhadapnya. Ia juga dekat pada Harina berkat Ayato.
Nazeem Shafi, Seorang anak tampan berusia 13 tahun berkebangsaan Arab yang tanpa sengaja terjebak dalam pulau Devils oleh rasa penasarannya. Ia anak pemberani yang membuat semua orang di perusahaan ingin mendapatkannya, terutama oleh para gadis dan wanita. Namun di balik kemanisannya terhadap para gadis dan wanita, ia juga memiliki tugas tersendiri untuk menggali informasi lebih dalam tentang pulau itu.
Dan yang terakhir adalah Ayato De Ryuu.
Dia adalah penjaga setia dan wakil Harina. Apapun yang Harina perintahkan akan langsung dilaksanakannya. Ia telah mencintai Harina sejak lama. Dan didukung oleh dirinya yang mengakui bahwa ia telah dihipnotis oleh pesona Harina meski Harina sendiri tak sadar akan hal itu. Ia adalah seorang anak tunggal dari Tasiro De Ryuu seorang panglima lini depan dan Rennesa Mahiro yaitu tangan kanan dari Hiro Orfias si peneliti gila. Bukannya durhaka, namun Ayato memiliki perspektifnya sendiri untuk memerangi keluarganya sendiri.
Harina tersenyum bahagia dengan perasaan yang sangat bersyukur ketika semuanya mulai berbaris melihatnya menunggu perintah berikutnya darinya setelah mendapat semua yang mereka cari. Ia pikir, ia sangat beruntung mendapatkan tim setia padanya sampai mengorbankan kampung mereka demi egonya yang tak pernah redup pada pulau yang telah menculik dan menyiksanya.
"Ayato apa kau sudah menemukan buku itu?" Tanyanya memastikan.
Ayato segera memperlihatkan buku dengan sampul yang cocok dengan penjelasannya tadi. Harina mengangguk puas.
“Baiklah, selanjutnya kita akan berangkat ke kampung halamanku kota Frando, dan untuk sementara, kita akan terus bersembunyi disana hingga berita tragedi ini tidak begitu ramai di perbincangkan lagi”.
__ADS_1