Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
All Four Young


__ADS_3

“Aku mulai bosan,” Harina terdiam sejenak kemudian kembali berkata “tinggal berapa bulan lagi sih?”


Raurr...


Raungan dari singa raksasa itu membuat Harina tertawa geli.


“Kau lucu yah, tak sama dengan Kuroko, kau itu selalu menjawab ketika aku berbicara walaupun kita sama-sama tidak saling mengerti,” jelasnya seraya mengelus-elus kepala singa itu.


“baiklah kalau begitu mari kita memberimu nama, tapi karena kau adalah anggota ke-tiga, jadi Kuroko juga ikut serta mengambil keputusan,” lanjutnya.


Selang beberapa menit Harina memikirkan nama yang cocok untuk seekor singa raksasa, akhirnya ia turun ke punggung Kuroko lalu berjalan mendekati telinganya kemudian membisikkan sesuatu yang panjang. Entah apa itu yang jelas Kuroko hanya terdiam dan berkedip lucu sebagai tanda setuju setidaknya menurut Harina.


“Oke mulai sekarang aku dan Kuroko akan memanggilmu Rayon, hehhe kurasa aku cukup pintar untuk memberi kalian nama yang lucu,” ucap Harina dengan seringaiannya.


Singa itu langsung meraung besar seraya berguling-guling manja pertanda kegembiraan menghampirinya. Harina pun turut bergembira melihat respon singa itu yang bertingkah sangat lucu, persis layaknya peliharaan rumahan.


Setelah itu, mereka kembali meneruskan perjalanan mereka yang semakin dekat menuju finish jika saja pihak tim peneliti tak memberinya berbagai tingkatan lanjutan dan penghuni-penghuni yang akan mengancam nyawanya setiap langkah.


...~~~


...


7 hari telah berlalu dan sejak saat itu pun Ayato dan Irvin sangat waspada apalagi keamanan pun semakin mengetat sampai-sampai mereka berdua sama sekali tak bisa mengunjungi goa rahasia mereka selama seminggu.


Memasuki minggu ke-dua hari ke-tiga, sekolah pedang akhirnya meliburkan setiap muridnya dan di perbolehkan untuk kembali ke rumah orang tua masing-masing. Namun, seperti yang kita ketahui, orang tua Ayato sama sekali tak memiliki waktu untuknya. Ibunya yang sibuk melakukan penelitian di atas perintah tuan Vasilio dan Hiro kemudian ayahnya yang sekarang ini menjadi wali kelasnya. Meskipun meliburkan murid-muridnya tetapi Tasiro harus mengikuti rapat selama di liburkannya murid-murid.


16.00pm.


“Irvin, mengapa kau terus mengikutiku?” tanya Ayato tidak nyaman dengan tingkah aneh sahabatnya itu yang seharusnya pergi ke rumah orang tuanya.


Dengan wajah datarnya, Irvin langsung menyamai langkah Ayato lalu tersenyum pahit. “Sebenarnya aku tak memiliki orang tua maupun saudara.”

__ADS_1


Mendengar perkataan Irvin, Ayato jelas kebingungan pasalnya semenjak mereka berkenalan memang Irvin yang berwatak selalu gembira dan jahil itu tak pernah berkata tentang latar belakangnya sama sekali.


Selagi bercerita, langkah mereka tanpa sadar telah memasuki pasar pusat yang tidak begitu ramai tampaknya. Mereka terus melewati toko-toko pasar yang telah berbenah bersiap untuk pulang.


“Bisa di bilang apa yah,” Irvin terdiam sejenak.


“Aku adalah anak buangan. Ibu dan ayahku bahkan tidak ku kenal, aku pun tak bisa mengklaim bahwa mereka sudah tiada. Tidak ada penjelasan keberadaan atau nasib mereka. Aku benar-benar anak yang tak di inginkan,” tambahnya, dan perkataannya sendiri membuat dirinya semakin merasa hampa.


“Menurutmu begitu? Kurasa sesuatu menjadikanmu begitu kesepian, padahal kau sesungguhnya kaya.”


Irvin terhenti dan menatapnya bingung. “Apa maksudmu?”


Ayato yang tadinya juga ikut terhenti, kembali berjalan sambil tersenyum membuat Irvin berlari mengikutinya untuk mendapat jawabannya.


“Irvin, kau tak memiliki keluarga saja sudah bisa membuat orang-orang sekitaranmu seperti keluarga. Aku keluargamu, anak-anak lain juga pada menyukaimu. Kau ceria dan ramah, membuat semua orang semua nyaman dan percaya padamu.” Panjang lebar Ayato.


Irvin tertawa receh. “Haha, anak-anak lainnya itu siapa? Bilang saja hanya kau yang nyaman di sampingku. Itupun karena aku terus yang mulai mengikutimu, kalau tidak, kau pasti tidak akan berada di dekatku, benarkan?!”


Memang benar, murid-murid yang berbicara kepadanya itu pasti tersenyum ceria hingga selesai, suasana hati pasti berubah menjadi hangat ketika Irvin datang berbicara kepada mereka. Hanya saja, Ayato tak bisa menyebutnya satu-satu karena ia tak tahu kata yang pas untuk menjelaskannya. Yang jelas setiap orang yang pernah bertemu dengan mereka. Semuanya.


“Terserah kau mau berpikir seperti apa,” jutek Ayato mempercepat jalannya membuat Irvin merasakan hawa gelap yang menyelimuti temannya itu.


Reflek Irvin menyenggol tubuh Ayato. “Hey, aku hanya bercanda, tentu saja kau ad~ auuch.”


Langkah mereka terhenti seketika tatkala menabrak seorang nenek renta yang tengah duduk di kursi rodanya di depan salah satu toko buah.


“Aduh maaf yah nek, Aku tak sengaja~”


Permintaan maaf Irvin langsung di potong oleh suara lantang dari seorang gadis berpakaian tertutup dengan rambut panjang yang di ikat ponytail itu. “Enak aja, lihatlah kursi roda nenek jadi rapuh gara-gara kamu, tanggung jawab yah aku tidak mau tahu!”


Irvin yang tersentak kaget langsung melihat ke arah kursi roda yang terlihat baik-baik saja itu. Ia kemudian menjongkok dan membuktikan bahwa tak ada yang salah akibat kecelakaan tadi. Irvin bergerak menggoyang-goyangkan kursi roda itu pelan. “Maaf nona, tapi ini masih kokoh dan kuat.”

__ADS_1


Gadis itu pun ikut menjongkok mengetes kebenarannya. “Sebelumnya lebih kuat dari ini, aku tak mau tahu pokoknya kau harus menggantinya.”


“Tak apa nak, tak usah menghiraukan Annie dia tak biasanya seperti ini mungkin dia hanya sedikit kesal hari ini,” ungkap nenek tersebut tak ingin memberatkan Irvin.


“Nek jangan seperti itu,”


Gadis yang di sebut Annie itu menghela nafasnya berat, ia tetap ingin mendapatkan tanggung jawab dari Irvin karena sesungguhnya ini adalah kesempatan yang baik untuk mengambil keuntungan darinya.


“Nona Annie, maafkan teman saya hanya tak sengaja menabrak nenek anda, jika kami harus bertanggungjawab, silahkan apa yang bisa kami lakukan untuk bisa menebus kesalahan,” kata Ayato.


Annie menatap Ayato dengan seksama. “Kurasa kita pernah bertemu, emm di mana yah?”


Lantas Ayato menunduk sebentar untuk memperkenalkan diri. “Perkenalkan saya Ayato De Ryuu dan teman saya adalah Irvin Forke.”


Annie mengangguk kemudian memanggil sang pemilik toko buah yang adalah kenalannya. Satu lagi seorang gadis berambut pendek sebahu dengan seragam pelayan keluar dan memastikan siapa yang di maksud oleh Annie.


“Akhirnya kita bertemu denganmu, perkenalkan aku Aira Mariko dan temanku ini adalah Annie Adalrich, kami adalah calon pelayan dari rumah besar milik tuan Vasilio. Kami di bimbing untuk menjadi pelayan profesional dan kami di suruh untuk mencarimu karena sesuatu. Ikutlah dengan kami, saat kelas pedang kembali berproses, kembalilah ke sana,” jelas Aira panjang lebar.


“Tapi buat apa?” tanya Irvin.


Annie mulai mendorong kursi roda nenek itu kemudian berkata. “Mau atau tidak, kamu harus ikut bersama kami karena ini adalah perintah dari nona Renne. Sementara kau ikut denganku. Kau masih berutang padaku, kau tak boleh lari selagi temanmu itu menghadap.”


Irvin menaikkan alisnya kebingungan. “A-aku?”


Annie langsung menggenggam tangannya. “Benar, KAMU”


Mereka ber-lima akhirnya langsung menuju gedung yang paling besar dan tinggi di pulau itu. Perusahaan D'Devils.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2