
“Aku tahu sekolah di liburkan dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengunjungi keluarga, bukankah begitu?” tanya Renne sedikit membuat anak satu-satunya itu merasa tertekan.
Ayato menekukkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna meregangkan kepalanya yang tegang. Ia tersenyum. “Aku ingin mengunjungi ibu, tapi aku tahu ibu tak pernah memerlukan ku. Apa lagi ibu sibuk, bukankah kepulangan ku akan membuang waktu ibu saja?”
Renne ikut membalas dengan senyuman pahitnya. “Kau memang titisan ayahmu.”
Wanita berdarah Jepang Amerika serikat itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati jendela yang terbuka lebar di sebelah sana kemudian memandang indahnya suasana pusat kota yang ramai dan damai.
“Ayato dengarkan baik-baik. Ibu ingin kau tumbuh menjadi kuat seperti ayahmu, di takuti dan di segani semua orang sehingga tak ada yang bisa menganggu keluarga kita. Tapi, kudengar kau habis membolos 2 kelas. Apa yang kau pikirkan? Apa kau ingin membuat ibu dan ayahmu malu?!”
Ayato langsung tersentak kaget setelah mendengar perkataan ibunya yang awalnya halus menjadi tegas dan lantang. Sangat jelas ibunya sedang menahan emosinya yang tiba-tiba melonjak sehingga tak ingin menatap anaknya dan terus membelakanginya.
Renne langsung bergerak menutup pintu ruangan lalu menurunkan gorden jendela kaca dalam agar tak terlihat oleh orang-orang yang melewati ruangannya.
Ia mulai bercerita. “Saat aku mengandung mu, semua orang mencibirku karena aku mengandung mu di luar nikah dan ayahmu sampai di keluarkan dari tim lini depan pejuang. Hingga kau lahir, cibiran mereka terhadap ibu dan ayah berubah.”
Ayahmu tak bisa mendapatkan pekerjaan tetap dan hanya berjualan saja, bahkan orang-orang pun enggan mengunjungi toko kami dan akhirnya dia menjadi bahan gunjingan, rasa hormat orang-orang terhadap ayahmu pun sirna, sedangkan aku pun seperti itu.
Aku menjadi beban di tim peneliti, aku di anggap selalu tak becus karena pikiranku ini tak sampai ke pikiran mereka, hingga beberapa waktu yang lalu aku resmi menjadi tangan kanan tuan Hiro,” ucap Renne seraya menatap fotonya sendiri di meja miliknya yang resmi memakai baju biru persatuan dari tim utama tuan Hiro.
“Tuan Hiro adalah orang sibuk yang datang ke laboratorium sesekali saja semenjak aku di terima sebagai bawahan di tim peneliti, ideku selalu tak berguna bagi mereka, hingga tuan Hiro akhirnya datang kembali setelah 6 bulan lamanya, ideku yang selama ini tertolak ternyata sangat bernilai di mata tuan Hiro dan saat itulah aku mendapatkan pangkat ini, apalagi setelah rapat dan hasil penelitianku lah yang di terima kemudian nama ayahmu pun perlahan membaik karena ia pun tak pantang menyerah.”
Renne akhirnya mendekat pada Ayato dan membisikkan sesuatu. “Kau tahu mengapa?” bisiknya, Ayato hanya menggeleng sambil menundukkan pandangannya ke lantai.
Renne tersenyum puas, sungguh anak yang patuh. Anak yang hanya pasrah dan menunduk sopan tanpa menyela dan terus mendengarkan cerita ibunya.
__ADS_1
Renne kembali memposisikan dirinya menghadap jendela “seperti yang kau tahu, sulit mendapatkan pengakuan dari banyak orang, dan kami berjuang sekeras ini ketika kau hadir di hidup kami. Itu artinya kau, selama ini kau yang membuat kami mendapatkan cibiran yang tak pantas dari banyak orang. Itu semua salahmu, kau harus menjadi anak yang patuh, jangan malu-maluin lagi!” tegasnya.
Dengan setengah hati Ayato menjawab. “Baik bu, aku mengerti.”
Wanita itu mendekat lalu mengelap seragam anaknya. Ia sadar bahwa anaknya ini begitu polos dan patuh, sedangkan dirinya yang haus akan pujian dan pengakuan dari orang banyak harus menggunakan keuntungan ini sebaik mungkin.
Ia mengajak Ayato mendekati sebuah kristal sebesar bantal yang tergeletak di dalam box kaca transparan. Ia mengusap kaca itu dengan pelan kemudian melihat tatapan Ayato yang sepertinya tertarik dengan kristal itu.
“Ada apa? Sangat indah bukan?”
Renne membuka kaca itu perlahan dan secara otomatis kristal itu mulai menampakkan apa yang telah di duga oleh Ayato. Benar, tentu saja Ayato mengenal kristal ini dan akan tahu apa yang muncul di sana.
Terlihat jelas, Harina lagi-lagi ada di sana. Ini seperti ke-empat kalinya mereka bertemu tetapi bagi Ayato saja. Ia merasa lega bahwa firasatnya benar juga sangat senang bisa melihatnya lagi setelah ber-minggu-minggu, namun perasaan lega itu tertutupi oleh wajah datarnya yang juga mewakilkan perasaan was-was serta penasarannya mengapa kristal ini ada di tangan ibunya.
Meskipun ia ingat betul bahwa Harina memang di bawa oleh tim ibunya saat terakhir kali mereka bertemu, tetapi ia masih tak mengerti, apa rencana mereka? Di mana Harina? Mengapa ibunya bisa memiliki kristal itu? Mengapa Harina terlihat bisa dari kristal itu? dan apa yang sebenarnya di lakukan oleh ibunya terhadap Harina?
“Kau masih ingat gadis ini?” Renne memberi jeda sebentar kemudian melanjutkan perkataannya.
“Dia adalah gadis yang aku perlihatkan padamu saat dia masih dalam tabung eksperimen. Dan yah, aku yakin kau pasti mengingat gadis yang telah membuatmu harus memasuki kelas pedang. Benarkan?”
Ayato mengangguk pelan. “Namanya Harina Aretha kan.”
Renne bahkan tak menyangka bahwa anaknya bahkan telah mengenal nama lengkap Harina. “Yap, kau benar. Saat ini dia sedang berada di masa pelatihan, dan jika ia berhasil maka sesuai janji tuan Vasilio, Harina akan menjadi penerus penguasa pulau tuan Vasilio. Menakjubkan bukan?”
“Ibu, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa yang kau rencanakan?” tanya Ayato penasaran.
__ADS_1
Renne menjentikkan jarinya seketika mendengar pertanyaan anaknya yang terlihat sangat penasaran itu.
“Ayato aku memiliki permintaan yang cukup untuk mensejahterakan keluarga kita. Aku ingin kau fokus menjalankan kelas mu dan jadilah juara. Layaknya tuan Vasilio saat ini, ia memiliki bodyguard yang selalu mengikutinya dan aku dengar menjadi bodyguard sang penguasa pulau memiliki gaji yang tinggi dan plus keluarga kita akan di segani dan mendapat pengakuan, dengan begitu kita bisa menyumpal mulut busuk mereka dengan pembuktian.”
Ayato menghela nafas panjang. Sesungguhnya ia pun juga tertarik dengan penawaran itu apalagi ia memang ingin lebih dekat pada gadis yang telah membuatnya selalu penasaran itu. Tetapi membuat perjanjian itu tidak mudah. Ia adalah tipe orang yang tak akan menjanjikan apapun jika sulit untuk mewujudkannya. Ia sangat tak suka ingkar janji oleh karena itu Ayato dengan tegas menolak penawaran itu.
“Tidak Bu, dia harus mendapatkan bodyguard yang lebih tua dariku, lebih ahli dan berpengalaman di bandingkan aku yang masih belajar ini.” Tolaknya beralasan.
Renne langsung menghentikan langkah Ayato yang telah berjalan menuju pintu keluar. “Nak dengarkan ibu, jika kau dapat mengambil kesempatan ini maka setelah lulus dari kelas pedang kau ingin ke mana? Beritahu ibu apapun itu asalkan jangan di lini depan pejuang, itu adalah kenangan pahit ayahmu nak. Kita tak akan tahu bagaimana pandangan orang-orang di lini depan terhadap keluarga kita. Jangankan masuk, mendaftar saja sulit. Aku yakin mereka tak akan menerimamu,” yakinnya.
Ayato sedikit kasihan terhadap ibunya itu, jika saja ia tak dendam dan haus akan pangkat maka apapun yang mereka akan bebas tanpa memandang komentar orang lain. Ia kembali menatap Harina di sana yang sedang sibuk memanjati bulu-bulu singa raksasa di ikuti beberapa makhluk mengerikan di bawahnya yang juga ingin menyusulnya namun sulit.
“Bu, aku akan menerima tawaranmu jika kau menjawab pertanyaanku.” Satu pertanyaan kemudian ia lontarkan kepada ibunya.
“Harina ada di mana?”
“Dia di penjara neraka.”
Jawaban Renne membuat Ayato membulatkan matanya kaget. “Tenanglah, itu adalah dimensi rekayasa yang ku buat jadi tak akan berpengaruh banyak padanya ketika kembali ke dunia nyata.”
Ayato berdehem sebentar kemudian menatap mata ibunya dengan tatapan tajamnya. “Baiklah aku setuju dengan penawaran mu ibu.”
.
.
__ADS_1
.