Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
A Storytime


__ADS_3

Nazeem membuka matanya perlahan menengok jam menunjukkan pukul 04.10 itu pertanda bahwa sebentar lagi waktu sholat subuh akan tiba. Ia bangkit melihat Ayato dan Irvin yang masih tertidur pulas di sisi kanan dan kirinya.


“Apa aku harus menjauh saja yah dari sini?” Pikirnya karena tak ingin menganggu tidur kakak-kakaknya.


Tiba-tiba Ayato terbangun dari tidurnya. “Oh Nazeem, ada apa bangun sepagi ini?” Tanyanya sambil mengucek mata.


“Aku... Harus melaksanakan sesuatu,” Singkatnya.


Ayato hanya mengangguk ikut bangkit dari tidurnya.


“Kau sendiri mau apa?” Tanya Nazeem dengan suara lantang karena mengira Ayato berniat ikut dengannya.


Ayato sedikit tersentak mendengar pertanyaan Nazeem yang terdengar lantang. “Tentu saja aku ingin ke toilet.”


Nazeem hanya mengangguk mengerti dan mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena pikiran bodohnya tadi.


Setelah Ayato selesai, dan Nazeem pun telah selesai dengan kewajibannya, mereka kini hanya duduk berdua memandang laut seraya menunggu matahari terbit dengan sedikit bercerita.


“Kak Ayato, aku merindukan keluargaku di luar sana.” Ucap Nazeem memulai pembicaraan.


Ayato mengelus pundak Nazeem guna menenangkan perasaannya yang sangat polos itu sambil berkata. “Bersabarlah, kami akan mengantarkanmu pulang. Dan setelah ini kau akan segera bertemu mereka kembali.”


“Bersyukurlah kau masih memiliki keluarga, sedangkan aku, aku membunuh keluargaku sendiri dan kabur seorang diri. Bukankah itu terdengar jahat?” lanjutnya tersenyum dengan wajah tanpa penyesalan.


“Ah benar juga, aku kan anak baru di sini, aku dari dulu selalu ingin bertanya tentang hal ini.”


Ayato menatapnya penuh penasaran.


“Mengapa sih kakak lebih memilih Nona Harina daripada keluarga kak Ayato sendiri bahkan seluruh orang-orang yang pernah menjadi dekat denganmu pastilah memiliki perasaan pertemanan yang kuat. Tapi kau malah memilih untuk bersama menghancurkan mereka dengan Nona Harina”.

__ADS_1


Ayato menatap langit-langit yang mulai menampakkan cerahnya. Wajahnya menjadi serius dan tangannya kini bersilang di depan dadanya.


“Aku memang lahir di pulau itu, ibu dan ayahku bertemu dan menikah disana. Meskipun begitu, mereka sibuk di pekerjaan mereka masing-masing dan akhirnya aku berkeliaran tak jelas dan akhirnya aku bertemu dengan Harina yang baru saja di keluarkan dari tabung eksperimen tuan Hiro. Dan aku telah mengenalnya sejak ia menjadi kelinci percobaan.


Aku mulai dekat dengannya sampai suatu ketika aku ketahuan ibuku dan akhirnya aku di buang di kelas pedang dan disanalah aku bertemu Irvin. Di sana aku merenungi diriku, aku sama sekali tak ada niatan untuk belajar bertarung. Aku membenci ibuku, ayahku dan seluruh orang di perusahaan D'Devils. Aku tak pernah tau tujuan mereka adalah baik atau buruk tetapi ketika melihat Harinya, aku seperti menemukan jawaban bahwa perusahaan itu bergerak untuk mengacaukan dunia.


Aku mulai serius belajar bertarung semuanya untuk mendekati Harina, aku menawarkan diri menjadi penjaga pribadi Harina dan akhirnya itu terwujud. Dan aku menjauh dari keluarga ku dan semakin mengenal Harina. Ia selalu hangat, keren, dan berwibawa di depan orang lain, dan itu membuatku semakin penasaran dengannya.”


Tiba-tiba ia terdiam ketika Nazeem memotong ceritanya.


“Kurasa kak Ayato berniat menceritakan Nona Harina yang telah mengubah sudut pandang kakak, padahal pertanyaanku hanya alasannya saja mengapa kak Ayato lebih mendukung Nona Harina daripada keluarga sendiri,” Selanya dengan tatapan jahil.


Ayato berdehem sebentar kemudian mencoba meluruskan maksudnya. “Kurasa kau terlalu dekat dengan Irvin, jahilnya sampai ketularan. Yah, pokoknya aku tak bisa memberi suatu alasan jika kau tak tahu kisah singkat ku.”


Nazeem tertawa. “Baiklah, baiklah lanjutkan.”


“Jadi intinya aku mempercayai Harina karena aku telah berada di dekatnya, aku tahu tujuannya dan aku tahu alasannya. Dia tak pernah berbohong padaku dan aku pun ikut mencoba mencari tahu kebenaran dari perusahaan dan asal usul pulau D'Devils dan akhirnya aku menetapkan keputusanku bahwa aku akan bekerja sama dengan Harina.


Sama seperti aku, Annie, Aira, dan Irvin juga merasakan suatu kejanggalan dalam pulau kami dan kami tidak ingin itu terjadi. Walaupun di antara orang-orang itu ada yang hanya mengikut saja demi kelangsungan hidup mereka karena ketakutan namun jika orang-orang itu terus hidup, bisa-bisa generasi ke generasi kita tak akan pernah menang.


Itulah sebabnya, aku sangat menghargai niatan Harina meski menggunakan cara ini. Karena kami memang tidak memiliki pilihan lain.”


Cerita panjang lebar Ayato telah selesai, Nazeem mengangguk mengerti dan berkata “Sulit yah, tidak sama denganku yang memang hanya ingin kembali ke kampungku karena kecerobohanku sendiri, tidak sengaja memasuki kendaraan mereka dan akhirnya aku ikut bersama mereka tanpa sepengetahuan mereka. Oh yah, aku ingat saat mereka menyerang kampungku dengan monster-monster gila yang mereka keluarkan. Itulah sebabnya aku melarikan diri bersembunyi dalam kendaraan mereka.”


Kemudian kepala Irvin tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka dan membuat mereka tersentak kaget.


“Apakah pulau kita seburuk itu?” Tanya Irvin.


“Menurutku tidak, aku bergabung dengan Nona Harina karena selama ini aku tak pernah keluar pulau meski aku di tempatkan di lini depan pejuang. Yah tanda kutip – cadangan yah haha” canda Irvin membuat Ayato memutar bola matanya bosan.

__ADS_1


“Beneran cuma itu?” Tanya Nazeem yang menganggapnya serius.


Irvin tak menyangka bahwa anak kecil itu menganggap candaan ini serius. Ia bermain mata dengan Ayato berharap Ayato membantunya. Akhirnya Ayato menggeleng padanya sebagai tanda penolakan agar tak berkata jujur pada Nazeem.


Irvin tersenyum paksa “Haha yah... Mereka tidak begitu buruk kok, hanya tujuan mereka sedikit biadab saja hahah”


“Memang tujuan mereka sebenarnya apa? Mengapa mereka membuat monster dan menyerang kita?” Pertanyaan Nazeem kembali membuat mereka menarik nafas antara ingin jujur tapi mengingat umurnya masih kecil, mereka tak yakin harus mengatakan tujuan asli para penghuni pulau.


“Yah, seperti masalah pada umumnya... Mereka ingin merebut wilayah di luar pulau. Kau sadarkan bahwa pulau kami itu terpencil dan tidak seluas mereka jadi dengan keserakahan dan ego mereka yang tak kenal kata berbagi, mereka akhirnya memutuskan untuk menyerang banyak kota.” Bohong Irvin.


Setelah mendengar jawaban jelas dari Irvin dan Ayato, Nazeem menepuk tangannya untuk kembali menyemangati kedua kakaknya itu. “Baiklah, karena kalian sudah rela mau menceritakan ini padaku, aku akan membuatkan kalian jus yang segar. Tunggu yah, sekalian sarapannya nanti bersama para ibu-ibu dan bapak-bapak haha”


Nazeem akhirnya meninggalkan mereka berdua di sana. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 dan yang lainnya juga sudah terbangun dan melakukan aktivitas pagi mereka.


“Untung yah, Nazeem percaya pada kita” Ujar Irvin lega.


“Biarkanlah dia mengira seperti itu, karena kita tak bisa terus menghindari pertanyaannya selama ini. Setidaknya dia tidak penasaran lagi walau itu adalah sebuah kebohongan-MU”


Seketika suara teriakan dari Nazeem memanggil mereka dari kejauhan dan menyela pembicaraan mereka. “Kak Ayato, kak Irvin, nona Harina memanggil kalian”


Ayato tersenyum tipis kemudian berdiri dari duduknya di ikuti Irvin yang dengan wajah kesalnya menyipitkan matanya setelah mendengar kata ‘kebohongan’ dengan penegasan 'MU' di akhir. “Kau yang menyuruhku berbohong, kau juga yang menyudutkanku” lirihnya tak suka dengan sikap Ayato yang sudah biasa menyalahkan di atas kesalahannya sendiri.


“Akan ku adukan kau pada nona Harina.” Tambahnya kemudian berlari menuju ruangan Harina.


Ayato hanya bisa tertawa di belakang karena kelakuan bodoh teman seperjuangannya itu. Sambil terus berjalan santai menyusul Irvin, Ayato bersiul kecil menatapi indahnya berjalan di luar pulau yang memang selalu memenjarakan mereka. Masih terus bersiul dengan hati yang tenang, ia akhirnya sampai. Namun, sebelum ia membuka pintu di hadapannya, ia mendengar perkataan tak terduga dari Irvin.


“Nona Harina, terimalah cinta Ayato, dia tak mau kesini jika kau belum menerimanya”


Reflek Ayato membuka pintu itu keras dan kemunculan Ayato kini menjadi perhatian semua orang.

__ADS_1


“DASAR KAU IRVIIIIN” Teriaknya marah sekaligus malu. Ia tak akan menduga bahwa pengaduan yang dikatakan Irvin itu bukan tentang pembicaraan mereka pagi ini, namun hanya keisengan Irvin yang terus berlanjut. Dengan emosinya yang menguap, sebuah tinjuan melayang ke pipi Irvin.


Buaaagh...


__ADS_2