
Pupil merah itu membesar menandakan sang empunya sedang syok berat mendengar pernyataan yang sangat membuatnya harus berakting layaknya seseorang yang baru mendengar kabar ini.
“Apa? Sensei Tasiro adalah sang legenda penakluk pedang?” pekik Akame sembari menyemburkan air minumnya ke wajah Irvin dan Ayato.
Ayato mengelap wajahnya kasar kemudian mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi yang hampir memuncak sedangkan Irvin pun telah mengambil ancang-ancang untuk memukul dengan keras meja di hadapan mereka.
“Eumm... Kalian benar, selamat kalian dapat nilai seratus.” Akame tersenyum cengengesan untuk meredakan emosi mereka akibat ulahnya.
“Sensei Akame, apa kau sudah tahu sejak lama?” tanya Irvin penasaran.
Akame terlihat berpikir sejenak. “Tentu saja, aku kan adik kandungnya. Mana mungkin aku tak tahu kakakku sendiri,” yakinnya.
Irvin menaikkan alisnya sebelah. “Tuh Ayato. Bapak kandungnya sendiri tapi tidak tahu apa-apa.”
Ayato bergerak mencubit pinggangnya. “Diamlah, itu karena sejak lahir dia sudah merahasiakan identitasnya. Bahkan mungkin sebelum bertemu ibuku dia sudah memalsukan kematiannya dan merubah sedikit penampilannya.”
“Aah masa sih? Atau kau pun sesungguhnya tahu, apa aku salah?” goda Irvin sengaja membuat agar Ayato naik darah namun itu tak berhasil. Ayato tetap bersikap kalem lalu meletakkan tangannya sebagai sadaran dagunya.
“Irvin, aku kepikiran sesuatu.” Ayato menatap dalam-dalam mata Irvin.
......
...
“Jadikanlah kami muridmu.”
Ayato dan Irvin membungkuk memohon di hadapan Tasiro yang sedang membelakangi mereka. Tasiro berbalik menatap kedua pemuda yang memiliki tekad yang kuat sejak awal menurutnya.
“Kalian kan memang muridku.” Jawabnya singkat.
Masih dalam keadaan membungkuk, Ayato berkata. “Sensei, kami ingin lebih giat lagi. Kami ingin materi dan latihan tambahan di luar kelas. Maka dari itu, tolong terima kami sebagai murid pribadimu.”
Tasiro tertawa remeh. “Apa yang akan kudapatkan dari kalian?”
Mereka berdua terdiam berpikir keras. Mereka sama sekali tak berpikir jika Tasiro akan meminta imbalan.
“Di dunia ini tak ada yang gratis kau tahu itukan?” timpa Tasiro lagi membuat mereka semakin terdesak untuk segera memberi imbalan.
“Kami akan menjadi asistenmu.” Saran Ayato.
__ADS_1
Tasiro menggeleng. “Akame, Lusi. Mereka berdua adalah asistenku dan aku tak butuh lebih.”
“Sensei, kau boleh menyuruh kami apapun. Apapun itu. Jadilah pesuruh kami, dan anggap kami sebagai babumu.” Usul Irvin yang tak memiliki pikiran lain selain hal itu karena mereka berdua pun tak memiliki harta yang cukup.
Tasiro terdiam sejenak mengabaikan keduanya yang masih setia membungkuk di hadapannya. 5 menit kemudian pun Tasiro masih belum menanggapi keduanya hingga ia menghela nafasnya mengalah setelah melihat kedua muridnya itu masih tahan terhadap posisi mereka dan hal itu menyatakan bahwa tekad mereka bukan hanya sekedar bualan semata.
“Baiklah, kalian ku terima. Mulai besok, pada jam 21.00 kalian masuklah keruanganku kita akan memulai pelajaran pertama di markas Großes Tor. Jangan lupa bawa kartu kunci kalian masing-masing.”
Ayato dan Irvin reflek berdiri tegak kemudian memberi hormat dengan sebuah kepalan di depan dada. “Siap Sensei.”
......
...
Roda sepeda itu berhenti berputar, tibalah ia di sebuah pintu belakang pagar sekolah kepelayanan. Sepedanya ia rantai, kemudian perlahan ia diam-diam memanjati pagar yang tergembok yang sangat tinggi itu, sementara seseorang menunggunya di bawah.
Hap.
“Bagaimana? Apa kau berhasil bertemu mereka?” tanya si rambut bob kuning, Aira Mariko.
Dengan nada tersengal-sengal, Annie mencoba menjawab dengan susah payah. “Iya, Irvin menyukainya tetapi cowok yang satu itu sedikit protes.”
Sambil berjalan menuju kelas masing-masing, langkah mereka terhenti di sebuah kantin untuk membeli minuman dingin kemudian mereka sedikit berbincang tentang Ayato dan Irvin, kedua pemuda yang baru di temui mereka.
Annie memiringkan bibirnya mencoba mengingat kejadian ketika ia bersama Irvin. Kalau di pikir-pikir, semenjak kecil mereka telah di latih untuk menjadi seorang pelayan agar saat dewasa mereka bisa menjadi pilihan tuan Vasilio dan itu membuat mereka merasa terkurung dan terus terpaku pada sekolah kepelayanan mereka walaupun memang sekarang mereka telah bekerja dan di gaji tetapi tujuan mereka masih belum tercapai. Ia hanya lelah, tak ada hiburan hingga kedua pemuda itu datang, terutama si rambut hijau Irvin.
“Eh Aira, apakah kau tak merasa bersemangat jika mereka di depanmu?” tanya Annie ingin memulai pembicaraan lebih dalam.
Aira mengangguk. “Sedikit sih, mereka seperti memberi warna baru, kebetulan kita tak pernah dekat dengan lelaki manapun, mereka pun belum termasuk dekat wihihhih,” tawanya membuat Annie bergidik mendengar suara tawa yang tak jauh beda dengan hantu itu.
“Iish, aku sudah pernah menegurmu jangan sengaja tertawa seperti itu. Kalau ada yang mendengar satu kelas bisa bubar,” ketus Annie memberi peringatan.
Aira hanya cengengesan. “Jadi maksudmu menanyakan itu mengapa?” tanya Aira pada intinya.
Annie terlihat ragu untuk mengatakannya, dengan pipi memerah dan ekspresi yang terlihat jelas bahwa dia sedang dilanda cinta. “A~aku...,” ucapnya menggantung.
“Aku?”
Aira terkekeh geli. Ia sangat tahu apa yang ada di pikiran sahabat kecilnya ini. Siapakah yang telah merebut hati si feminim ini?
__ADS_1
Ayato, ataukah Irvin?
Si gradasi putih, ataukah si hijau?
Si kalem, ataukah si periang?
Annie meneguk ludahnya gugup. “Aku suka... Aku ingin...” sekali lagi Annie menggantung kata-katanya membuat Aira harus bersabar.
“Ingin...”
Aira ikut bersuara. “Kamu ingin?”
Tak kunjung melanjutkan kata-katanya yang kelihatannya sangat sulit di ungkapkan itu membuat Aira ingin meneruskan perkataannya. Lagipula tentu saja tak ada hal lain yang perlu di pikirkan oleh seorang gadis labil dengan ekspresi wajah malu-malu begitu mengenai seorang pria.
“Ingin berpacaran dengan mereka – menjadi modelku.” Sahut mereka bersamaan.
Aira memiringkan kepalanya bingung. Sedangkan Annie memutar bola matanya bosan kemudian memperjelas keinginannya.
“Aku suka gaya mereka, aku ingin menjadikan mereka berdua sebagai model di toko bajuku. Lumayankan, mungkin jika ada mereka penjualan pakaianku akan lebih meningkat di banding yang lalu. Agar Nyonya Frey terkesan padaku. Bagaimana?”
Dengan mata yang berbinar-binar, Aira tak dapat berkata tidak pada Annie. Dugaannya ternyata salah. Jika karena itu mengapa ekspresinya seperti seseorang yang di mabuk cinta.
“Baiklah, kita akan memanfaatkan mereka. Kau bisa menjadikan mereka sebagai model iklan kemudian aku akan menjadikan mereka juri masakanku, dengan begitu nyonya Gretta pun akan melihatku sebagai murid terbaiknya.”
Setelah sepakat, mereka ber-empat akhirnya lebih sering bertemu baik secara terang-terangan, maupun diam-diam membolos agar dapat bertemu. Selain mendapat privilege memakai pakaian gratis dan mencicipi makanan gratis, Ayato dan Irvin pun mendapat keuntungan lain yaitu bayaran kecil oleh mereka berdua. Tentu saja mereka menerima tawaran menguntungkan itu.
Dan melalui hubungan simbiosis mutualisme inilah, mereka ber-empat mulai dekat secara perlahan.
......
...
“Jadi rasa masakanku bagaimana?” tanya Aira setelah mendapat ekspresi wajah kedua pemuda itu yang terkesan seperti menahan sesuatu yang tak sedap.
“Ummm... Rasanya eummm mantap.” Tutur Irvin memberikan kedua jempolnya yang gemetaran itu.
Lalu Ayato tersenyum sedetik melihat malaikat maut datang menjemputnya dan akhirnya pingsan di tempat.
.
__ADS_1
.
.