Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Anxiety Road


__ADS_3

Roh-roh itu mendekat mendekati sumber suara tangisan yang terdengar tertahankan di salah satu sudut. Harina yang masih belum sadar langsung tersentak kaget tatkala mendengar suara Leo yang terdengar sangat panik dalam menyadarkannya.


“Harina... Harina... Sadarlah... Berhenti menangis cengeng, roh-roh itu menyadarinya.. Harina mereka mendekatimu”


Harina terbelalak kaget setelah melihat tiga roh yang menyadari keberadaannya mendekatinya dengan berbagai pose yang membuat bulu kuduk berdiri dan salah satu roh itu dengan tubuh terbalik merangkak dengan sangat cepat mendekatinya. Ia bergerak cepat menghindari roh itu membuat roh tersebut menabrak beberapa batu yang menghalangi jalannya sedari tadi.


Roh itu akhirnya tertindih bebatuan itu dan membuat keributan besar sehingga para roh yang tadinya masih berjalan tanpa arah kini berbalik mendekati si roh merangkak tersebut dan dengan emosi yang menggebu-gebu, mereka mulai mengangkat batu-batu yang tersebut hingga semua batu-batu itu terhempas ke sembarang arah. Ya, akibat suara bebatuan yang terjatuh, batu-batu tersebut langsung menjadi alat pelampiasan amarah dari para roh-roh gentayangan buta tersebut.


Selagi mereka sibuk, Harina mencoba menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara, matanya bergerak kesana kemari mencari sebuah perlindungan dari batu-batu yang terbang dan jatuh berserakan. Akhirnya matanya menangkap sebuah tanah yang tinggi dengan ujung yang sangat tajam. Ia bergerak mengambil baru besar yang bisa ia angkat dan perlahan menuju tanah yang menyerupai batang itu dan mencoba mendaki ke puncaknya.


“Hei, bocah apa yang kau lakukan. Diam saja disitu dan tunggu mereka menghancurkan tumpukan batu itu untukmu,” Cegah Leo setelah melihat aksi membingungkan dari Harina.


Harina yang hanya bisa mendengar tanpa menjawab tetap tidak menghiraukan ucapan Leo. Ia kini mencapai puncak dari tanah itu dan terus bergerak puncak demi puncak membuat Leo dan tim mengusap wajah mereka emosi.


“Hei bocah sialan, mau mu apa sih, kau mau mati hah?” Bentak Leo.


Tiba-tiba Cindy memberitahu suatu hal penting yang membuat Leo semakin panik. “Leo, tuan Vasilio akan datang untuk melihat-lihat”


Leo memukul meja dengan sangat keras. “Apa!”


Matanya mulai berurat saking emosinya di campur dengan kepanikan yang membuatnya hampir hilang akal.

__ADS_1


“Tes, tes... Harina apa kau mendengar ku?” Tanya Cindy setelah merebut alat komunikasi dari telinga Leo.


Harina berhenti dan mengangguk pertanda ia mendengar suaranya.


“Aku tidak tahu apa yang akan kau perbuat tapi kalau kau ingin selamat kau harus mendengarkan perintah kami, okay... Tidak ada yang bisa kau perbuat di dalam sana, Renne telah mengatakan bahwa kau akan selalu di incar oleh para penghuni neraka jadi tolong dengarkan kami,” Jelas Cindy mencoba memberi sedikit pengertian untuk Harina agar tidak bertindak ceroboh.


Harina memegang kalungnya menutupi sumber penglihatan dari tim pelatih. Bukannya tak mau mendengar, ia hanya ingin menjelaskan bahwa ia mempunyai rencana seorang diri namun karena ia sama sekali tak boleh bersuara, ia hanya bisa bertindak seperti bocah keras kepala di mata para pelatih.


Ia kini di atas puncak dari tanah yang paling tinggi di antara yang lainnya dan itu memberinya ruang untuk sedikit beristirahat untuk mengambil nafas sejenak. Ia mengalihkan pandangannya ke sebuah tempat yang akan ia tuju selanjutnya, dan itu adalah tingkatan kedua dari penjara neraka.


Memang benar, batu-batu itu yang menghalangi jalannya, karena itu ia harus segera menghentikan roh-roh itu sebelum mereka mencapai ke tingkat kedua dan ikut menyerangnya bersamaan dengan penghuni tingkatan kedua.


Ia meraih batu besar yang dia bawa tadi dan melemparnya ke satu roh yang paling belakang dan sedari tadi tak dapat menyentuh satu batu pun untuk melampiaskan amarahnya.L layaknya roh-roh lainnya.


Batu itu terjatuh tepat di atas kepala roh tersebut membuat roh-roh lainnya ikut berbalik mengikuti sumber suara dan mulai menyerang roh tersebut tanpa ampun.


'Bagus' Lirihnya seraya tersenyum tipis karena berhasil mengelabui roh-roh tersebut.


Leo dan Cindy masih panik dan terus memanggil nama Harina dan terus berdecak kesal karena tak tahu lagi apa yang terjadi pada anak itu. Tiba-tiba salah satu anggota tim Cindy memanggil kembali Cindy yang di sana sedang jalan bolak balik menggigit kukunya sendiri karena khawatirnya ia tak dapat mengambil kepercayaan dari Harina.


“Nona Cindy, kita terhubung kembali dengan nona Harina” Lapornya.

__ADS_1


Leo yang juga tadinya terus mengawasi pintu karena takut kehadiran Vasilio secara tiba-tiba membuat mereka di pecat.


Leo dan Cindy mendekat dan melihat pemandangan baru. Masih banyak bebatuan hitam yang bertumpuk di sana, namun roh-roh gentayangan tadi sudah tidak kelihatan lagi. Dengan tubuh yang masih gemetaran, Harina menyusuri sebuah lorong yang sangat panjang pada neraka tingkatan kedua ini. Tidak ada apa-apa di dalam sana. Pencahayaan dari terangnya cahaya api neraka yang saat ini juga lebih panas dari sebelumnya.


Langkahnya terhenti dan menarik nafasnya dalam-dalam kemudian berbalik melihat seberapa jauh ia berjalan saat ini. Ah, rupanya ini masih awalan. Sambil mengipasi dirinya sendiri dengan tangan yang ia tahu bahwa itu sama sekali tidak berguna membuat gelisah setengah mati.


Seandainya air keringatnya keluar, ia pasti akan menjilatinya tanpa perasaan jijik dan meminumnya dengan tergesa-gesa jika memang ada air di sini walaupun setetes, hanya saja keringatnya pun bahkan tidak keluar. Kulitnya di penuhi luka bakar, telapak kakinya melepuh dan ia masih bisa menahan rasa sakit dengan tubuh yang seperti itu akibat lokasinya saat ini yang memang lebih menyiksa batinnya.


“Sial, eksperimen itu benar-benar membuat tubuh Harina lebih tahan banting daripada manusia biasa, kurasa eksperimen selama 7 tahun lamanya cukup terbukti jika di lihat dari pertahanannya, jika itu kita pasti sudah terbakar layaknya ular malam kemarin,” Kagum Leo memuji hasil eksperimen yang mereka perjuangkan selama 7 tahun lamanya hanya demi menuntaskan salah satu impian sekaligus rencana rahasia dari tuan penguasa Vasilio.


Cindy mengangguk “Benar, tak ada alasan lagi bagi kita untuk meragukan tuan Hiro dan tuan penguasa Vasilio. Mereka adalah orang-orang berjasa yang membuat pulau ini tak kalah hebat dari negara-negara di luar sana. Tapi keunggulan dari hasil eksperimen Harina bukan hanya itu saja, kita harus menunggu kejutan apa lagi yang akan kita dapatkan selanjutnya”.


Leo terkekeh pelan “Baiklah dia telah berhasil ke tingkatan kedua tanpa bantuan kita. Dan kurasa tingkatan kedua ini lebih mudah dari yang pertama”


Cindy kembali terhubung pada Harina. “Harina, teruslah bergerak kau harus menuju tingkatan berikutnya, di sana tidak ada roh-roh gentayangan lagi kau harus secepatnya mencari jalan keluar” Perintahnya yang tidak mendapatkan respon.


“Harina... Harina kau baik-baik saja?”


Harina akhirnya berdehem sebentar mengetes apakah ia dapat bersuara apa tidak. Selang beberapa detik, tak ada pertanda serangan mendekatinya. Ia akhirnya berbicara.


“Ekhemm... Maaf~maafkan aku ta~tapi di sini sangat sesak uhuk... uhuk... Aku tak bisa bangkit lagi” Dengan sekuat tenaga Harina berusaha memberitahu keadaannya pada mereka dengan tenggorokan yang super kering membuatnya sulit untuk mengeluarkan suara.

__ADS_1


Cindy dan Leo terkaget tatkala melihat Harina yang langsung menjatuhkan tubuhnya tak sadarkan diri.


“HARINAA... Sadarlaaah”


__ADS_2