
Sebuah baleho besar tergulung turun sehingga menampilkan kata-kata dengan tulisan besar yang bertuliskan ‘Mesmeric Cafe’ dan juga berbagai gambar-gambar menarik yang super mengajak menghiasi di sekitarnya.
“Grand Opening Cafe Mesmeric di buka untuk berbisnis.” Sambutan meriah yang di berikan ke-enam orang itu terhadap sebuah cafe yang tadinya hanyalah kedai yang terus di upgrade sebelum pembukaan resmi usaha yang mereka dirikan bersama.
Spesial hari ini, cafe Mesmeric merayakan pembukaan cafe dengan menggratiskan semua orang yang datang berkunjung sekaligus bebas mencicipi menu apa saja yang ada di cafe. Mau bagaimanapun ini awalan yang cukup menjanjikan untuk mereka dengan harapan kedepannya para pengunjung yang saat ini mencicipi makanan atau minuman mereka akan terus datang bahkan merekomendasikan cafe ini sehingga hari makin hari, orang-orang akan berdatangan dan cafe akan semakin dikenal masyarakat luas.
3 pelanggan pertama mereka datang yaitu tetangga mereka sendiri.
“Selamat datang Bu, adek-adek” Sapa Aira memperlihatkan senyum lebarnya hingga matanya erlihat seperti tertutup saking semangatnya.
Seorang ibu dan 2 anaknya itu memesan sebuah minuman red velvet dan blueberry di tambah makanan berat khas pulau D’Devils yang bernama Pinneta Marzoy yaitu sebuah hidangan yang resmi menjadi makanan wajib dan memiliki sejarah tersembunyi di pulau D’Devils, sehingga hidangan ini adalah hidangan yang sangat umum di temukan di acara-acara penting penduduk D'Devils.
Memang tak ada yang mengetahui jenis hidangan yang satu ini karena hidangan ini adalah karya dari salah satu koki di sana dan hanya kepada rekan-rekan kokinya lah ia memberitahu resep dari makanan ini, termasuk Aira yang telah di percayakan sebagai pelayan pribadi Harina sang penerus Tuan Vasilio. Sang penerus penguasa pulau D’Devils.
Ibu itu mencicipi hidangan yang berbahan dasar telur dan daging sapi itu. “Emm... Aku tak pernah merasakan rasa seperti ini. Rasanya gurih, pedes, manis, yah rempah-rempahnya pas di lidah belum lagi perasan jeruk nipis yang di balurkan di atasnya. Ibu itu tampak sangat menikmati makanannya sambil sesekali menyuapi anak-anaknya.
Tamu berikutnya datang. Kali ini 5 anak muda datang ikut memeriahkan pembukaan cafe. Kemudian sepasang kekasih juga tertarik mengunjungi cafe terus berikutnya orang-orang mulai berdatangan dan tercatat hari ini sekitar 33 porsi makanan beserta minumannya yang laku.
Harina memperhatikan Annie yang masih sibuk membuat minuman dingin dari pesanan pelanggan yang terakhir. Aira juga sedang beristirahat dan tersisa Annie, Nazeem dan Irvin lah yang menyambut, melayani dan menanyakan setiap pendapat pelanggan dalam pandangan pertama mereka mengenai cafe Mesmeric.
Jam menunjukkan pukul 16.00. dan seseorang nenek mendatangi cafe dengan tongkat rentanya. Nazeem segera berlari membantu nenek itu duduk di sofa.
“Ada yang bisa saya bantu nek?” tanya Nazeem memperlakukan nenek itu seperti pelanggan VIP karena duduknya di sofa yang empuk.
Nenek itu bergeleng, ia tak ingin memesan apapun, pandangannya sibuk menetap Harina yang saat ini sedang melamun sehingga ia tak menyadari keberadaan nenek itu.
__ADS_1
“Tolong pertemukan aku dengan pemilik cafe ini,” ujar nenek itu dengan nada rendah sehingga sulit bagi Nazeem untuk mendengar dengan jelas.
Annie kini ikut mendekati posisi nenek itu dan Nazeem yang terlihat sibuk mencoba berbicara pada nenek itu.
“Nazeem, panggilkan Harina dan Ayato secepatnya, nenek itu ingin bertemu mereka,” perintah Annie yang seperti di ketahui bahwa ia memiliki kepekaan terhadap Indra pendengarannya yang jauh lebih baik dari siapapun.
Setelah Nazeem memanggil, Harina dan Ayato kini berada di hadapan nenek itu.
“Perkenalkan ini nona Harina pemilik dari cafe ini dan saya Ayato sebagai pekerja sama dengan yang lainnya.” Perkenalan Ayato sama sekali tidak di gubris oleh nenek itu. Nenek itu hanya berfokus pada wajah Harina begitu pula Harina.
Entah apa yang terjadi namun Harina tanpa banyak berkata langsung berlutut dan memegang kedua tangan nenek itu. Wajahnya terlihat sangat bersyukur telah di pertemukan oleh nenek renta ini.
Harina mengusap setetes air matanya yang turun hingga ke pipinya. “Nenek, apa kau masih mengingatku?”
Nenek itu mengelus rambut Harina dengan halus. “Kau mirip dengan ayahmu, darimana saja kau selama ini?”
“Dan bersama mereka semualah aku berhasil,” tambahnya bersyukur.
Irvin yang baru saja selesai melayani pelanggan, juga ikut berkumpul dan bertanya dengan nada pelan “Dia siapa?”
Ayato menggeleng tak tahu.
Aira kini datang membawakan segelas air putih ke hadapan nenek tersebut.
“Nek, jadi nenek masih tinggal di samping rumah?” tanya Harina.
__ADS_1
Nenek itu mengangguk “Aku masih tinggal di sana, cucuku yang saat ini masih menempuh bangku SMA yang merawatku karena aku sudah sakit-sakitan dan jarang keluar rumah tapi aku sudah baikan dari penyakitku.”
Harina kini berdiri kemudian memperkenalkan nenek itu. “Perkenalkan nenek ini adalah tetangga aku yang dahulu sangat akrab dengan ibuku bahkan sebelum aku lahir, nenek ini sudah seperti nenek aku sendiri. Dan aku tak menyangka akan bertemu ia lagi di sini.”
Mereka semua menunduk hormat pada nenek itu.
“Harina... Harina...” panggil nenek itu.
“Iya nek?”
“Aku ingin memberitahukanmu sesuatu,” ucap nenek.
Harina kembali terduduk di hadapannya. Sungguh gadis yang sangat hormat pada orang tua dan melihat itu, Irvin, Ayato, Aira, Nazeem dan Annie juga ikut terduduk rapi di sana.
Nenek itu tersenyum ramah kemudian mulai bercerita. “Sebenarnya aku datang kemari untuk mengusir kalian semua. Sebelum menginjakkan kakiku di cafe ini, cucuku mengatakan bahwa para orang asing datang mengambil rumah milik Corrine tanpa permisi dan kini telah membuka cafe. Saat itulah aku berinisiatif untuk mendatangi kalian dan siapa sangka bahwa orang asing yang di maksudkan cucuku itu ada Harina.
Aku langsung mengenalinya walaupun terakhir aku melihatnya saat berusia 5 tahun. Wajahnya yang tegas mirip dengan ayahnya, dan sikap lembut yang mirip dengan ibunya. Harina sudah tumbuh dengan cantik. Corrine dan Loen pasti bahagia melihatmu seperti sekarang ini seandainya mereka dapat melihatmu,” sekali lagi nenek itu mengelus lembut kepala Harina tatkala Harina tak dapat menahan air matanya ketika mengingat kasih sayang kedua orang tuannya sehingga ia tumbuh menjadi anak yang manja.
“Sabarlah nak, karena pada akhirnya kita dipertemukan seperti ini, aku ingin memberimu sesuatu yang pernah ibumu beri padaku. Saat kabar berita bahwa kamu di culik oleh para kriminal itu, kami para tetangga sangat heboh dan membuatnya semakin down setiap harinya. Ia terus mengingatmu, entah apa yang dipikirannya ataukah dia menyembunyikan sesuatu tetapi pikirannya sangat kacau. Saat itulah ia memberi liontin ini padaku dan mengatakan bahwa aku harus memberimu jika suatu saat kita bertemu.” Nenek itu memberi sebuah liontin biru silver berbentuk kristal es yang indah.
Harina meraih liontin itu dan menatapnya. Dalam diam, perasaannya terus berkata bahwa bentuk dari liontin ini sangat sering ia saksikan. Dari kecil hingga saat ini, kristal es masih terus menghantuinya. Tapi apa ini? Ia merasakan sesuatu yang mengganjal.
Harina mulai memasang liontin itu di lehernya di saksikan oleh teman-temannya dan nenek itu.
Tiba-tiba sebuah cahaya biru terlihat mengelilingi perputaran liontin itu. Mereka semua terkaget termasuk Harina yang tak pernah melihat cahaya biru itu sebelumnya. Cahaya itu langsung terhubung oleh cahaya lain yang tersembunyi di dalam diri Harina.
__ADS_1
Kristal itu bereaksi hebat dan Harina akhirnya terjatuh pingsan. Reflek Ayato menangkap tubuh mungil Harina dari belakang dan semuanya langsung bergerak panik terus mencoba menyadarkan Harina.
“HARINA... HARINA BANGUN!”