
Seorang wanita cantik menatap dirinya didepan cermin, ia ingat betul di saat dia di jadikan sebuah percobaan beberapa tahun yang lalu. Ia mengeluarkan air matanya, untungnya saat itu cairan yang telah di berikan pria yang hampir membunuhnya namun juga penyelamat yang membuatnya dapat mendengar kejadian di sekitarnya dengan demikian dia dapat mencapai semua ini. Ia dapat mengendalikan dan memanfaatkan kekuatan yang telah diberinya.
“Harina, aku yakin di sinilah tempat mereka menyimpan berbagai kekuatan rahasia itu. Tapi sedari tadi aku hanya bisa berputar-putar”
Ayato De Ryuu, sang penjaga setia Harina membuka sebuah pintu laboratorium perusahaan.
Ketika pintu terbuka, Harina menyebarkan pandangannya. Tempat itu sama sekali tidak ada perubahan sejak saat itu. Bagaimana bisa bahkan menata ulang tempat ini saja mereka sangat tak pandai. Ingatannya tiba-tiba kembali pada saat hari di mana ia pertama kali menginjakkan kakinya dalam keadaan tak sadarkan diri di ruang kesehatan dan juga di laboratorium dimana ia di kurung selama 7 tahun lamanya.
Saat itu...
Tetes demi tetes air turun mengalir sepanjang selang yang menghubungkan cairan infus dengan telapak tangan kecil itu. Harina kini tengah terbaring lemah di sebuah ruang kesehatan.
Tyler menghela nafasnya menghembuskan asap rokoknya.
“Jessica, bagaimana keadaan anak biadab itu?” Tanyanya.
Dokter yang bernama Jessica itu menarik kerah Tyler untuk segera keluar dari ruangan. “Pertama-tama, sudah aku peringatkan kau, kau tidak boleh merokok di tempat ruang kesehatan”
Mereka berdua kini berada di halaman bebas. Tyler membuang batang rokoknya di lantai halaman “Sayang, maafkan aku” rajuknya memeluk dokter Jessica yang telah berstatus sebagai kekasihnya.
Jessica melepas pelukan itu dan memegang kedua bahu Tyler “Kau sangat keterlaluan, bagaimana bisa kau menjatuhkan anak 5 tahun di laut setelah memukulnya?” Tanyanya dengan nada kesal.
Tyler menggaruk kepalanya “Kalau kau mau tahu, anak itu memberontak saat kita di dalam kapal perjalanan ke sini dan ia sendiri yang cari masalah. Masa sih dia menggigit tanganku kemudian memukul kakiku menggunakan kayu besar, pasti aku juga emosilah jadi aku ceburin saja di laut, toh aku juga mengambilnya kembali. Salah sendiri cari gara-gara duluan, lagipula dia pikir dia bisa lolos dengan tangan yang di rantai seperti itu” Remehnya panjang lebar.
Jessica memegang kedua tangan Tyler “Benarkah? Maafkan aku langsung menyalahkanmu sayang, aku hanya sempat kasihan sama anak itu”
Tyler meliriknya nakal “Kau tidak marah? Dia tetaplah anak kecil dan aku sudah dewasa”
__ADS_1
Jessica pun ikut bermain mata “Mengapa harus marah”
Senyum keduanya kini merekah. Pria dengan kemeja putih itu tertawa “Kau memang seorang wanita keji walau profesimu sangat jauh”
“Anak itu bernama Harina kan?” tanya Jessica yang hanya di balas anggukan oleh sang kekasih.
“Keadaannya baik-baik saja, dia hanya syok sedikit, dia pasti akan siuman segera. Tapi aku menemukan sesuatu yang menarik. Kurasa sebelum dia lahir ayahnya telah memberikan sebuah racun didalamnya” Jelas Jessica membuat Tyler merasa terpancing untuk menggalinya lebih dalam.
...~~~
...
Harina membuka matanya perlahan dengan sayup-sayup ia menyebarkan matanya keseluruh ruangan. Terdengar langkah seseorang memasuki ruangannya mendatangi Harina dengan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah dan dimasukkannya cairan itu di botol infus si gadis malang tersebut dengan suntik.
Harina kembali pingsan, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya merayap keseluruh saraf-saraf dan titik-titik tertentu di dalam tubuhnya. Orang itu mendudukkan Harina ke kursi roda dan mendorongnya terus ke sebuah laboratorium besar di dalam sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan yang paling besar, 'D’Devils Group'.
Seorang pria berusia 57 dengan rambut putih dan pakaian serba putihnya mendatangi pria tersebut “Jadi anak ini adalah anak yang kalian pilih?”
“Kupikir dia dari berada di ruang kesehatan, mengapa dia belum sadar juga”
“Dia baru saja dari ruang kesehatan, tapi dia belum juga sadar karena dokter Jessica baru saja menyelesaikan tugasnya” Jelas orang itu kemudian memberi sebuah surat kepada pria berusia 57 tahun tersebut.
Pria tua itu yang merupakan peneliti keji yang telah bekerja dipulau itu selama 25 tahun dan membuat monster gila yang baru-baru ini menyerang Frando beberapa waktu yang lalu. Peneliti itu bernama Hiro Orfias. Ia tersenyum di selingi tawa puas “Dia lebih dari dugaan kita”.
Setelah orang itu pergi, pria tua itu berputar mengelilingi Harina yang masih tak sadarkan diri.
“Harina... Harina... Harina.. hahaha, tuan Vasilio memang benar-benar memperhatikan apapun yang di kerjakannya. Walaupun setelah rapat orang-orang sangat tak setuju untuk memilihmu, namun ternyata tuan Vasilio memiliki alasannya tersendiri”.
__ADS_1
Hiro mendekat ketelinga Harina dan berbisik “Kau bukan manusia biasa”
Ia berjalan mendekati sebuah dinding polos dan menaruh kedua telapak tangannya sebagai kode pembuka pintu rahasia di mana hanya ia dan Vasilio yang bisa membukanya. Ia kemudian berjalan memasuki ruang rahasia tersebut di mana jika di lihat seluruh sisi ruangan hanyalah berisi buku-buku yang telah berdebu.
“Baiklah Harina, aku akan mencari penelitian yang cocok untukmu dan kekuatan apa yang cocok berada di dalam tubuhmu yang sangat lemah itu”
1 jam bahkan 4 jam tak kunjung ia temukan, Harina telah sadar dan sekarang ini para pelayan sedang sibuk memberinya asupan setelah tak sadarkan diri hampir seharian.
“Nyonya Indy, gadis itu rewel sekali aku telah memberinya ice cream, roti, dan buah-buahan dia tetap saja tak ingin memakannya” Lapor seorang kepala pelayan yang bernama Gretta.
Wanita itu menghela nafas setelah melihat Harina yang sama sekali tak ingin memakan makanan di hadapannya. “Perintahkan semua orang untuk langsung melakukan eksperimen saja, dia tak butuh makan”
Gretta membulatkan matanya kaget “Tapi nyonya dia belum makan seharian, dia sama sekali tidak punya tenaga”
Wanita yang di panggil nyonya Indy itu menatap mata sang kepala pelayan dan dengan tegas ia berkata “Dia tidak mau makan, dan dia akan makan saat eksperimen berakhir. Mengerti?”
Dengan nada yang ketakutan, Gretta mengangguk menandakan ia telah mengerti walaupun ia sedikit khawatir dengan keadaan Harina saat ini.
Di sisi lain, Hiro si peneliti itu terus mengetuk pintu dengan sangat keras “TUAN VASILIO”
Tok... Tok... Tok...
“Tuan Vasilio, kau bisa juga menyibukkanku hanya karena seorang anak perempuan yang kau pilih itu” Geramnya karena pintu itu tak kunjung di buka.
Tiba-tiba seseorang mendekati Hiro dan menunduk patuh “Tuan Hiro, Tuan besar Vasilio menyuruhku untuk memberikan buku ini pada tuan”
Hiro mengambil buku itu dengan kasar “Jadi dia menolak bertemu denganku yah, jika itu keputusanmu, aku akan mencaritahu sendiri... Haha kau selalu membuatku tertantang Vasilio”
__ADS_1
Hiro kini mengerahkan semua anggotanya untuk segera melaksanakan tugas mereka. Para anggota tim penelitian mulai memakai seragam serba putih mereka, Harina segera di bawa ke ruang laboratorium dan saat itu juga sebuah tabung dengan ukuran besar di bawa ke tengah-tengah mereka.
Semua orang bertepuk tangan, penggunaan tabung ini adalah tanda bahwa penelitian besar sebentar lagi akan di lakukan. Hiro menutup buku itu dan ikut melihat tabung itu. “Akhirnya kau di pakai juga”