Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Summonner


__ADS_3

Lorong bawah tanah di mana para gadis di sekap itu menghubungkan ke satu Goa besar di mana saat ini beberapa pria berjubah putih tengah menyusun beberapa kayu untuk di bakar di atas sebagai perlengkapan ritual persembahan mereka.


“Irvin, jangan gegabah. Hari ini adalah hari ritual mereka, aku yakin pasti banyak penjaga di sekitaran sana,” lirih Ayato waspada.


Irvin mengurungkan niatnya untuk segera maju terang-terangan. Keadaan mereka saat ini memang sangat tidak menguntungkan bagi mereka karena sepertinya para penjaga di sana sangat ketat. Posisi mereka yang sedang mengintip di atas goa yang terdapat lubang seluas 2 meter sebagai penerangan itu membuat posisi mereka cukup jelas terlihat. Para gadis pun tidak tahu kini berada di mana, yang pastinya mereka berharap Annie dan Aira menemukan posisi para gadis dan memberikan mereka kesempatan untuk menyerang para kriminal itu.


“Ayato. Baru saja aku mendapatkan kabar bahwa Annie dan Aira juga menuju ke tempat ini. Apa tidak kita segera menghabisi mereka sebelum mereka sampai?” tanya Irvin setelah mendapat kode dari Aira menggunakan sebuah alat komunikasi yang masing-masing terhubung di telinga Aira dan Irvin.


Ayato tampak berpikir sejenak. Jika para gadis akan kesitu, itu artinya akan memudahkan mereka untuk langsung menyerang saja. “Baiklah, beritahu mereka untuk sedikit memperlambat pergerakan para bandit itu agar kita memiliki waktu yang pas untuk menghabisi semuanya sebelum mereka tiba.”


Selagi Irvin menghubungi Aira, Ayato menatap Harina yang berada tepat di samping kirinya juga telentang memperhatikan kegiatan para kriminal itu.


Menyadari sebuah tatapan yang mengarah kepadanya, Harina langsung terduduk bersedia menerima segala perintah oleh Ayato demi membantu menyelamatkan para gadis yang terkurung itu.


“Harina, bersembunyilah di semak-semak itu. Kami akan turun sebentar kemudian akan menyusulmu nanti. Mengerti!”


Harina hanya mengangguk mengerti agar tak menjadi penghalang, bagaimanapun dia yang merajuk untuk terus ikut padanya meski berperang sekalipun.


Ayato dan Irvin akhirnya langsung turun dan menggunakan kedua samurai andalan mereka. Satu persatu pria berjubah putih itu di tebas sehingga menyebabkan keributan yang mengundang para penjaga di sekitaran menyadari ketidakberesan yang ada di dalam goa.


Para penjaga pun sigap mengeluarkan senjata mereka yang pastinya menang dalam jumlah itu. Posisi Ayato dan Irvin semakin terpojok oleh kehadiran penjaga yang menggunakan panah dan juga perisai sehingga sulit untuk mendekati mereka.

__ADS_1


“Kalian berdua, ayo semangat!” teriak Harina dari atas sana membuat dirinya menjadi pusat perhatian saat ini. Meskipun Ayato dan Irvin semakin gugup karena posisi Harina sekarang ketahuan, tetapi ini adalah saatnya untuk menyerang balik.


Ayato langsung berbaring dan meluncurkan tubuhnya sendiri kemudian menabrak beberapa penjaga yang perhatiannya sedang teralihkan oleh Harina dan akhirnya terjatuh. Sedangkan Irvin melancarkan aksinya dan berlari mendekati beberapa penjaga itu.


Seperti yang di ketahui, kecepatan yang di miliki Irvin tak main-main begitupun dengan samurainya Kazekuro yang kini dengan lincah menyayat banyak korban dengan angin yang ikut menari membuat energinya semakin menajam. Tentu saja, tak kalah dengan kekuatan samurai milik Ayato. Tenshizen yang langsung melumpuhkan korbannya dalam satu tebasan, sekaligus menyerap energi kehidupan yang ada, musuhpun melemah seiring mengalirnya racun dari bekas sayatan bergerigi dari pedang legenda itu.


Tidak semudah itu, banyaknya jumlah mereka dan juga penjaga pemegang pedang ikut bertarung dengan sekuat tenaga dengan jarak dekat sehingga tetap membuat tubuh Ayato dan Irvin terluka meski tak separah mereka.


Sementara itu Harina yang masih berada di atas sana meneteskan keringatnya menyaksikan langsung pertadingan yang seimbang itu. Pihak satu memiliki pedang legenda sedangkan pihak satunya lagi menang jumlah dan beragam peralatan bahkan perisai. Itu sungguh-sungguh membuatnya tersenyum dengan lebar.


Jiwa menggilanya kini menggoyah. Semenjak tinggal di penjara neraka hingga bertahun-tahun, ia terus terlatih di sana. Gerakan lincah, kemampuan bertarung yang profesional, bahkan menciptakan sihir berkat kerjasamanya bersama roh-roh yang dikendalikannya. Seandainya dunia ini berisi roh, pasti ia akan terus mengembangkan kemampuannya tanpa terbatas. Sayang sekali ia pun tak dapat membuka penjara neraka yang telah musnah itu. Jiwanya sangat merindukan pertarungan bersama dengan monster yang lebih kuat darinya, terkadang hingga sulit mengendalikan kekuatannya sendiri.


Harina mencoba memukul-mukul dirinya sendiri menahan gelora jiwa yang membara. “Sial, dasar kau maniak. Ayolah tahan Harina,” racaunya mencoba mengendalikan diri sekeras mungkin.


Sebuah perisai mendorong tubuh Ayato dengan kuat sehingga posisi Ayato kini tepat berada di pojokan di mana ia tak bisa bergerak karena terhimpit.


“Ayato bertahanlah!”


Setelah memenggal kepala salah satu musuh, Irvin segera berlari ke Ayato. Selagi ia berlari dan sesekali menghindari beberapa tebasan, satu panah sukses meluncur tepat ke bahu Irvin sehingga Irvin kini terjatuh merasakan rasa sakit yang mengontaknya.


“IRVIN!”

__ADS_1


Sekuat tenaga Ayato mempertahankan posisinya ketika musuh bergerak merampas samurai miliknya. “Dasar payah, jangan berharap samurai ini akan menjadi milikmu!”


Tangan Ayato melepaskan Samurai miliknya dan membiarkan musuhnya itu merasakan bagaimana senjata memiliki pikiran. Wajah salah satu pria berotot itu terlihat sangat puas setelah menggenggam salah satu pedang legenda milik penakluk pedang Tasiro. “Kemarilah anakku.”


Ssing... Sreek...


Tangan kanannya bergerak menebas jari-jari tangan kirinya sedangkan samurai itu pun terasa semakin berat hingga ia tak mampu menahannya. Sungguh samurai ini memiliki pikiran yang nyata ketika merasakan dirinya sedang berada di tangan yang salah.


“Siap, 1... 2... 3... Terjunkan!”


Perintah dari pemimpin pasukan penjaga panah mengaba-aba anggotanya segera menerjunkan anak panah ke arah Ayato yang saat ini berada dalam keadaan tangan kosong tanpa samurainya. Itu adalah kesempatan kemenangan yang bagus.


3 anak panah akhirnya sukses meluncur tepat di depan mata Harina yang kini pun sedang dalam bahaya.


Berkat kebodohan dirinya berteriak memberi Ayato dan Irvin semangat, akhirnya ia membuka jalan bagi petugas untuk menyusulnya dan saat ini tengah menarik paksa Harina agar mengikuti langkahnya.


Harina masih terdiam membatu tatkala dirinya yang telah tertangkap juga ikut turun ke tempat kejadian dan langsung di tunjukkan sebagai ancaman nyata bagi Ayato dan Irvin yang saat ini dalam keadaan tak mampu.


Ayato dan Irvin di tendang paksa oleh para penjaga untuk segera berlutut. Tepat di hadapan mereka, Harina kini tengah berdiri menunduk gelap memperlihatkan ia sedang ketakutan. Bukan, lebih tepatnya jiwa yang bergelora itu akhirnya bangkit dengan terpaksa.


Harina menundukkan kepalanya dan tersenyum simpul. “Bersiaplah!”

__ADS_1


__ADS_2