
2014, 27 May.
Amukan raja Gorudon telah menciut. Tubuhnya telah lumpuh, nafasnya tersengal-sengal, ia sekarat. Di kandangnya sendiri dia di pojokkan oleh seorang gadis yang pun tubuhnya juga di penuhi luka yang tak di anggap oleh sang empunya.
Sementara itu, wujud sesungguhnya pun telah ia tampakkan, ia sudah mengeluarkan seluruh kekuatan terbesarnya. Namun siapa sangka, gadis itu mampu memperbudak semua roh dan monster terkecuali dirinya seorang. Sang raja Gorudon, yaitu penguasa neraka.
Di samping memperbudak para roh dan monster, dengan kemampuan tak terbatasnya, hanya sekali jentikkan setiap batas tingkatan langsung runtuh dan pecah berkeping-keping hingga menjadi debu yang tak bernilai.
Wujudnya yang selama ini menjadi simbol ketakutan semua roh dan monster membuatnya menjadi makhluk paling kejam di penjara neraka. Sisik-sisik tajam yang di milikinya di sekujur tubuh yang berbentuk melata tetapi bisa terbang itu tak ada lagi harganya.
Sang ular naga, itulah julukannya sesuai wujudnya yang bermulut besar dapat menelan satu gedung besar dan terpanjang di sertai dengan gigi-gigi taringnya untuk menggigiti apa saja yang di makannya. Ia menjadi tak tertandingi. Ia tak di ciptakan oleh tangan Hiro maupun Vasilio, tetapi ia adalah penghuni asli neraka yang di teleportasi ke neraka rakayasa untuk menjadi ujian terakhir bagi si senjata mematikan.
Raja Gorudon tak pernah memikirkan hal ini akan terjadi padanya. Tak ada yang bisa melakukannya selain gadis iblis ini.
Gadis itu terbuat dari baja.
Dia merupakan monster di atas monster.
Dia merupakan iblis di atas iblis.
Tidak, tapi dia merupakan seorang gadis polos dari kota kecil.
"Harina Aretha."
.........
Penjara neraka akhirnya terbuka. Tepat di hadapan Harina, Hiro berdiri sembari menyipitkan matanya tajam menatap keberhasilan Harina. Meski ketika portal itu terbuka, Harina berjalan dengan tegak kemudian terjatuh pingsan tak mampu menahan beban berat yang akhirnya berakhir itu.
Di luar dugaan, sepanjang pelatihan selama ini mereka terus mengirimkan berbagai jenis tantangan dan tingkatan hingga mencapai tingkatan ke-500. Memang, itu bukanlah rencana yang mereka bentuk sebelumnya, bahkan jauh dari prediksi setahun karena nafsu para tim peneliti untuk menyiksanya lebih dan lebih hingga 4 tahun telah berlalu.
Portal penjara neraka itupun musnah dan meledak di kala Harina telah jauh di bawa kembali ke laboratorium untuk di pulihkan. Bukan hanya para penghuni yang sukses di habisinya, namun neraka rekayasa ini pun tertunduk patuh dan hancur.
__ADS_1
Ledakan besar dari musnahnya penjara neraka mengakibatkan satu ruangan hangus terbakar akibat api neraka yang turut keluar dari tempatnya. Hiro bahkan tim peneliti lainnya tak dapat menghindari ledakan tiba-tiba itu. Beruntung tak begitu parah, mereka hanya mengalami luka bakar hingga beberapa anggota tubuh mereka meleleh terbakar, luka ringan itu dapat di atasi dengan cepat bagi mereka.
“Tuan Vasilio, ini laporan perkembangan Harina.”
Hiro memberikan dokumen tebal pada Vasilio yang sedang melatih tim lini depannya bersiap untuk merebut harta Karun dari kota Piramida.
Vasilio terkekeh melihat penampilan baru Hiro dengan setengah tubuhnya yang berbalut perban, di wajahnya pun terlihat luka besar yang membelah pipi kanannya.
“Heh, apa yang terjadi denganmu?” tanya Vasilio.
Hiro hanya menunduk malu. “Hanya kecelakaan kecil tuan.”
Vasilio tertawa lepas lalu menepuk bahu Hiro dan berbisik. “Berhati-hatilah, kau telah menciptakan seorang Lord. Berikutnya kita semua akan patuh padanya, jadi kirimkan dia orang-orang terbaik terutama seseorang yang dapat mengubah pikirannya, karena saat ini dia pasti kan memusuhi kita. Jadi berhati-hatilah.”
Hiro meneguk ludahnya gugup, meskipun gadis itu adalah hasil eksperimennya tetapi ia tetap tak mengerti mengapa gadis itu yang terpilih oleh alam. Penguasa Vasilio pun mengakui keberadaannya, pastinya gadis itu bukan gadis figuran biasa.
.........
“Nona Harina, apa hari ini kau ingin berjalan-jalan di pusat pulau?’ tanya seorang pelayan bernama Ginni seraya mendorong kursi roda milik Harina.
Harina hanya menggeleng sebagai jawaban membuat Ginni menunduk mencoba memberi segala kelembutan pada gadis yang pikirannya penuh dengan luka dan rasa muak itu.
“Nona, tuan Vasilio adalah penguasa kita yang paling bijaksana. Anda telah di berikan sebuah tahta dan istana yang dapat mengubur semua kesakitan yang pernah nona lalui. Ingat, setelah perjuangan ada kemenangan dan anda telah memenanginya. Bangkitlah, layaknya Harina si penakluk neraka.
Aku tak mengenal Harina yang pendiam dan lesu itu, yang aku kenal adalah Harina yang ramah, periang dan kuat itu. Kau pasti masih ingat kenanganmu bersama Kuroko dan Rayon kan? Seandainya mereka melihatmu seperti ini, mereka pasti akan bersedih.”
Perkataan Ginni membuat Harina menampakkan wajah sedihnya tatkala ia menyebutkan nama kedua monster yang telah di anggap sahabat sejatinya itu. Detik-detik mereka di telan oleh raja Gorudon membuat ia terpaksa mengerahkan seluruh kemampuannya dan menghabisi penjara terkutuk itu. Sungguh kenangan terakhir yang menyakitkan.
Air mata kesedihan Harina turun mengalir di pipi kurusnya. Sudah setahun setelah ia pulih total, ia kehilangan ingatannya selama sebulan dan kini ia tak pernah menginjakkan kakinya sedikitpun keluar istana pribadinya. Hal itu membuat Vasilio terpaksa menunda acara penobatannya sebagai penguasa pulau D’Devils menggantikannya.
“Nona Harina, lihatlah istana pribadimu yang penuh dengan pelayan dan juga penjaga yang ramah dan setia. Lihatlah mereka, jangan putus asa, kami semua di sini menginginkan kebangkitan jiwamu, jangan membunuh mentalmu sendiri. Ayo, bergabung dengan kami.”
__ADS_1
Ajakan Ginni yang penuh kelembutan dan keyakinan membuat ekspresi wajah Harina yang tadinya terus murung kini memperlihatkan senyum tipisnya.
“Kak Ginni, aku tidak putus asa. Ketika aku keluar nanti, orang-orang akan memanggilku monster. Jika aku keluar dan tuan Vasilio mengadakan acara penobatanku, orang-orang akan bertanya siapakah diriku? Aku monster. Aku ingin menyembunyikan identitasku untuk sementara sampai aku bisa mengendalikan kekuatanku ini.”
Harina menghadapkan jari telunjuknya pada sebuah patung pendekar di samping mereka kemudian tanpa aba-aba patung itu langsung meleleh. Selanjutnya Harina menjentikkan jarinya, atap dari ruang tengah istananya terbongkar hingga menyebabkan kerusakan parah sedangkan Ginni hanya menunduk melindungi dirinya dari serpihan crystal chandelier yang dapat melukai tubuh.
“Lihat? Aku yang sekarang tak terbiasa dengan kehidupan normal dan damai. Jangan membahayakan orang lain karena keberadaanku,” ancam Harina sedangkan Ginni tertunduk mengerti.
.........
Malam yang indah dengan bintang-bintang yang menghiasi langit. Entah mengapa malam ini adalah pemandangan termanis yang ke-empat pemuda pemudi itu saksikan. Belum lagi kunang-kunang yang berterbangan di sekitaran tenda perkemahan mereka.
Ayato, Irvin, Annie dan Aira telah menjalin persahabatan selama empat tahun lamanya dan sampai sekarang pun, mereka masih sangat akrab bahkan sukses bersama. Bisa di bilang, mereka yang sekarang sangat mata duitan.
Karakter mereka telah berubah seiring berjalannya waktu. Langkah mereka telah bebas setelah lulus dari sekolah pedang dan kepelayanan. Bahkan berkat usaha butik yang di ketuai oleh Annie itu mereka yang tak memiliki apapun dapat membeli mobil mewah dan juga selalu menghabiskan uang mereka dengan bersenang-senang apalagi pesona Irvin dan Ayato yang selalu menjatuhkan hati para wanita. Penampilan mereka terkadang menjadi gangster namun terkadang juga menjadi rich boy and rich girl. Padahal di pulau D’Devils, kekayaan mereka masih tak sebanding dengan kekayaan Harina.
Biasanya, selagi meminum minuman keras mereka dan menonton pedancer yang menggoda, Annie dan Aira yang juga telah menjadi ratu di tempat nakal itu meraup uang dari menghibur para lelaki bugar dengan candaan dan sikap tomboy mereka.
Di usia 21 tahun mereka, sungguh mereka telah di butakan oleh uang dan kesenangan akan kegilaan mereka. Tak ada yang berani menegur mereka, tak ada. Sebab jika seseorang bertekad, maka pedang kedua pemuda itu yang akan menebas leher mereka.
Tapi malam ini, mereka memutuskan sedikit menenangkan diri dari keramaian. Berkemah adalah jalan ketenangan mereka. Walaupun menikmati namun setitik kejanggalan di hati mereka masih tersisa dan malam ini adalah malam yang indah.
Ayato melepaskan jaket kulitnya ingin merasakan angin berhembus langsung ke kulitnya. Lebih tepatnya seluruh pakaian atasnya, hingga sekarang ia bertelanjang dada kemudian menuju ke sebuah air terjun di sana.
“Ayato, kau mandinya kelamaan, seharusnya tadi kau berendam saat sore seperti kami. Dingin-dingin begini mau berendam,” tegur Aira sedangkan Annie dan Irvin yang sibuk menata makanan resto di hadapan mereka hanya menggeleng melihat kelakuan Ayato.
Belum saja ia merendamkan tubuhnya, tiba-tiba seorang gadis berambut panjang muncul di balik air terjun mengagetkan mereka berempat yang melongo terkaget.
.
.
__ADS_1
.