
Ayato dan Irvin membuka kedua mata mereka dan dengan samar melihat sesosok wajah yang tak asing di mata mereka.
“Hei. Apa itu menakutkan bagimu?”
Satu pertanyaan terlontarkan untuk mereka.
“Sensei Tasiro.”
“Ayah.”
Panggil mereka bersamaan meskipun di tempat yang berbeda. Benar sekali, Tasiro kini telah berdiri tegak di hadapan mereka masing-masing dengan mata tajamnya dan senyum miringnya yang terkesan jelas memperlihatkan kelicikan di bibir dan sorot matanya itu.
Tasiro terduduk di hadapan mereka dan memposisikan dirinya sebaik mungkin kemudian memperlihatkan sebuah kartu berwarna maroon pada Ayato yang ada di tangan kanannya sedangkan kartu berwarna abu gelap pada Irvin yang ada di tangan kirinya.
“Ayato lihat ini. Keberanian, kepercayaanmu pada dirimu sendiri dan kefokusanmu yang ada di dalam dirimu telah meredup, jika kau membiarkan warna merah yang seharusnya terang benderang itu menggelap dan akhirnya mati menghitam. Sungguh kau tak akan bisa mencapai keinginanmu di masa depan. Jangankan begitu, bahkan keluar dari Großes Tor ini pun tak bisa.”
Baru saja Ayato ingin bergerak lebih, tetapi pergerakannya seperti terkunci sesuatu yang tak bisa terlihat. Tubuhnya kaku dan pernafasan pun tidak begitu selancar biasanya, ia merasa sedikit sesak dan itu membuatnya semakin tertekan di dukung dengan suasana serba putih yang entah sebenarnya ada di mana dirinya.
Ia menarik nafasnya dalam lalu merilekskan tubuhnya sebisa mungkin. “Großes Tor? Apa itu ayah?”
Tasiro melebarkan tangannya. “Tempat ini adalah Großes Tor atau kau bisa menyebutnya dengan gerbang besar. Kau tahu kan, kau telah berhasil mengetahui kunci gerbang,” jawabnya.
Tasiro kembali berdiri dari tempatnya. “Kau mengerti maksudku bukan? Jawabannya ada pada jati dirimu. Siapa kau?”
Mata Ayato terlihat menggelap. “Aku Ayato De Ryuu.”
Tasiro menjauhi Ayato perlahan sembari berkata. “Benar, Ayato De Ryuu anakku. Temukan jalanmu!”
__ADS_1
Sosok Tasiro akhirnya menghilang dari pandangannya dan ruangan yang di penuhi air itu kembali dengan posisinya yang kini berbaring sehabis tak sadarkan diri. Ia membuka matanya. Ia kini telah menjawab pertanyaan ayahnya dan anehnya pun ia yang sedari tadi menahan nafas kini tanpa sadar langsung menyelam ke atas dengan nafas yang lancar.
Bayangan-bayangan palsu dirinya pun menghilang satu persatu ketika segala pertanyaan yang tertumpuk dalam dirinya pun di jawab satu persatu dengan penuh keyakinan yang menggebu sehingga mampu mengalahkan pertanyaan yang menjebaknya dalam perjalanan menemukan jati diri.
Tanpa perlu beraksi lagi, semuanya menghilang, ujian ilusi telah berakhir. Semua keraguan dan jati diri pun telah ia temukan. Ia kembali ke tempatnya semula.
Di sisi lain.
“Irvin Forke, sampai kapan kau bertahan dengan sikap anakku? Mengapa kau selalu mengikutinya, berbagai pertanyaan dan kejanggalan di hatimu itu telah menghantuimu dan itu telah membuatmu ragu. Lihatlah kartu abu gelap ini, kartu ini adalah dirimu. Bukankah seharusnya ia berwarna putih? Apakah kau akan membiarkannya menghitam?
Dengar! Ayato yang telah menghitamkan warna kartu ini, orang seperti dirimu tak pantas berteman dengan dia dengan sikap kaku dan sombongnya. Sangat banyak yang bersedia menjadi teman setiamu, bukankah bagus jika kau yang menjadi bos di antara mereka? Daripada harus di lihat sebagai babu Ayato!”
Irvin berdesis menahan emosi yang ada pada perasaannya yang kini terasa panas dingin. Keraguannya memang sangat besar dan selalu ingin menggeser rasa kepercayaan dan yakinnya pada keputusan awalnya yang telah berjanji untuk tetap di samping Ayato bagaimanapun kondisinya.
Ia mengerutkan alisnya kemudian menggeleng setegar mungkin untuk menepi segala bisikan dari senseinya. Bukan, lebih tepatnya Irvin tahu pasti kedatangan senseinya ini hanyalah sebuah ilusi belaka. Maka dari itu, Irvin menetapkan segala keraguannya yang menggantung nyata itu ke dalam sebuah peti dan menutupnya rapat-rapat. Tak boleh ada lagi keraguan. Ia hanya tak cukup beradaptasi, kali ini keraguan itu takkan terdengar lagi.
Kau tahu, dia menolongku, merawatku luka-lukaku. Saat itu dia bertanya mana orang tuaku, aku hanya tak ingin menjawabnya dan mengatakan bahwa yang mengasariku adalah orang jahat. Dari pernyataanku dulu, sampai sekarang dia tak tahu bahwa orang tuaku sebenarnya adalah mereka.
Namun ketika Ayato mengatakan bahwa besok dia akan masuk kelas pedang, di situlah aku berniat kabur dari kedua orang tuaku kemudian bergabung dengan para sebayaku di kelas pedang dan itulah sebabnya aku bisa menjadi 'Orang' saat ini,” panjang lebar Irvin menceritakan kisahnya.
Irvin menghela nafas panjang lalu dengan wajah yakinnya mengangguk mengerti dan tersenyum simpul. “Aku menolak tawaranmu, tak peduli kata orang apakah aku terlihat layaknya babu Ayato, yang jelas mereka tak akan tahu nilai dari persahabatan kami adalah lebih dari yang mereka kira. Maafkan aku dan terima kasih telah meyakinkanku pada keputusanku sendiri. Dia yang membangkitkanku, aku tak pernah berpikir bahwa aku akan mahir mangayunkan sebuah pedang. Tidak sampai aku bertemu dia,” tukasnya.
Tanpa berbicara lagi, Tasiro pun menghilang dari pandangannya, ia kembali ke kabut tebal yang dimana semua yang bayangan-bayangan palsu itu telah tiada dan kabut pun meredup.
Irvin tersenyum sumringah. “Ilusinya menghilang, yah bagaimana pun terima kasih kabut. I love you hahaha,” candanya pada dirinya sendiri yang tanpa ia sadari ternyata seseorang yang berada tepat di sampingnya kini menatapnya konyol.
“Hei.”
__ADS_1
Irvin berbalik ke arah kirinya di mana sumber suara terdengar. Ia terkaget hingga hampir melompat tatkala mengira salah satu bayangan palsu Ayato masih tersisa di sampingnya.
“Kau masih di sini? Menjauhlah dariku Ayato palsu.”
Sementara itu Ayato asli hanya menggeleng kecil, ia tahu pasti sesuatu terjadi pada sahabatnya itu ketika terperangkap ilusi dan itu melibatkan sosoknya. Ayato menjentikkan jarinya di depan wajah Irvin guna manyadarkannya jika mereka telah kembali ke dunia nyata.
“Sadarlah, aku itu asli. Lihat sekelilingmu, kita sudah bisa masuk ke gubuk kecil di depan sana itu. Tapi sedari tadi aku tak melihat ayah keluar atau gerak-gerik yang mencurigakan dari gubuk di sana itu.”
Irvin menepuk pipinya sendiri. “Ah, maafkan aku Ayato. Aku pikir tadi...”
Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar di telinga mereka dan akhirnya seseorang muncul dari sebuah tembok besar yang tak terlihat di belakang mereka sehingga membuat fisiknya pun tak terlihat.
“Sensei...” seru mereka bersamaan ketika melihat Tasiro yang asli.
Tasiro tertawa. “Luar biasa, aku sengaja ke sini karena tahu jika kalian mengikutiku. Dan gubuk inilah tujuanku. Jadi karena kalian telah lulus ujian dan sampai ke tahap ini, sekarang apa yang kalian inginkan?”
“Kami ingin... Eumm,” Ayato menggantung perkataannya karena ragu untuk menyatakan langsung ketika rencana mereka telah ketahuan dan menurutnya tindakan nekatnya ini sangat memalukan di depan guru sekaligus ayahnya.
Irvin hanya bermain mata dengan Ayato membuat Tasiro sangat yakin bahwa mereka berniat melakukan suatu tindakan kriminal sehingga sulit untuk mengatakannya.
“Tak perlu ragu, bukankah kalian telah percaya pada diri kalian sendiri? Katakanlah, kalian tak ketahuan, karena aku mengetahui niat kalian sejak awal.”
Ayato menghela nafasnya dalam. “Kami ingin mengambil kunci dari ruangan ayah.”
.
.
__ADS_1
.