
“Seorang legenda penakluk pedang adalah seseorang yang memiliki teknik yang sulit di baca oleh lawan, dia memfokuskan titik terkuatnya untuk mematahkan pedang lawan, menemukan kelemahan dan juga mengendalikan gerak lawan dengan membuat ia melakukan hal yang dipikirkan oleh dirinya.”
Ayato dan Irvin saling menatap ketika seorang penjaga pustakawan membacakan buku mengenai sang legenda penakluk pedang.
“Apa kau pikirkan apa yang kupikirkan?” Tanya Ayato setelah menyambungkan semua adegan pertarungannya melawan Tasiro.
Irvin mengangguk yakin. “Itu benar dia Ayato.”
Penjaga pustakawan itu hanya menatap heran kedua murid yang menghalanginya untuk membungkus buku itu dan memintanya untuk membacanya di bab pertama pengenalan sang legenda.
“Kalian berdua, katakanlah jika urusan kalian sudah selesai,” kata penjaga pustakawan.
Ayato memegang erat buku itu seolah-olah akan menariknya dari tangan pustakawan itu. “Maaf tuan, bisakah kami meminjam buku ini sehari saja,” mohonnya.
Pustakawan itu kembali menariknya kemudian mengangkatnya ke atas hingga tak dapat di jangkau oleh Ayato dan Irvin. “Maaf nak, aku bukannya tak ingin meminjamkan kalian, tapi seperti yang kalian tahu. Perpustakaan ini memiliki akses langsung dengan perusahaan dan karena buku ini tinggal satu-satunya di pulau kita dan tak memiliki cetak yang banyak lagi jadi tuan Vasilio mengatakan buku ini lebih baik di kirim ke museum D'Devils.”
Kedua murid kelas pedang itu menatap lesu buku yang berharga itu. “Baiklah tuan, maafkan kami. Kalau begitu kami permisi.”
.........
Suasana kantin sekolah pedang yang ramai dengan berbagai karakter murid yang bermacam-macam itu menjadikan seluruh sisi kantin terlihat berantakan hanya dengan keberadaan mereka, belum di barengi dengan segala tindakan kebanyakan dari mereka bobrok menambah kericuhan kantin yang membuat para pemasak jadi kelabakan dalam menerima pesanan.
Di sudut kantin, Ayato dan Irvin yang baru ingin memasuki kantin hanya terdiam bengong tatkala melihat kericuhan di sana. Tentu saja, mereka sulit hanya untuk memesan makanan ataupun minuman saja.
“Aduh, kebiasaan mereka memang sulit di hindari. Semakin hari, kantin semakin padat saja. Ku pikir ada menu baru lagi kayaknya,” pikir Ayato.
Irvin memanyunkan bibirnya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Menu baru? Aku tak pernah mendengar ada menu baru di kantin.”
“Kau benar, menu baru kali ini bernama Souvlaki. Katanya resep baru dari sekolah pelayan yang di sebarkan agar menjadi santapan kapanpun dan di manapun kau berada.”
Kedua pemuda berambut gradasi itu menoleh ke sumber suara. “Sensei Akame.”
Wanita itu mengambil posisi tepat di tengah mereka. “Mau aku traktir?”
Irvin reflek mengangguk semangat. “Tentu sensei. Tapi bagaimana caranya?”
__ADS_1
Akame melontarkan pertanyaan dengan nada menggoda yang semua orang tahu itu adalah pertanyaan yang tak perlu di jawab. “Eumm... Bagaimana yah?”
Ayato memutar bola matanya bosan melihat kelakuan Irvin dan Akame yang terlihat sefrekuensi itu.
Tangan wanita itu langsung mendorong Ayato dan Irvin ke depan bersamanya dan berkata penuh antusias sembari melewati kepadatan di hadapan mereka.
“Ayo kita terobos.”
Berakhirlah mereka kembali sisi sudut kantin tanpa membawa apapun. Mereka bertiga duduk termenung dengan wajah kecewa.
“Aku pikir mereka akan tergerak untuk memberiku jalan karena aku guru bela diri mereka. Apa mereka tak takut aku menghabisi mereka? Apa aku kurang menakutkan? Apa karena aku tetaplah seorang perempuan? Apa mereka meremehkanku?”
Berbagai pertanyaan yang keluar di bibir Akame yang tak menyangka bahwa dirinya tak cukup berpangkat di depan para murid.
Irvin pun tertunduk dengan bibir yang memucat. “Sensei, aku lapar. Kita akan kehabisan waktu istirahat. Aku tak yakin bahwa aku akan mampu berlatih dengan perutku yang kerongkongan ini.”
Tiba-tiba suara bunyi perut terdengar tetapi bukan hanya Irvin, Ayato pun demikian, apalagi sehabis berada di tengah kerumunan itu yang pada akhirnya gagal membuat tenaga mereka semakin habis dan tubuh penuh keringatan.
“Astaga... Kau juga Ayato? Kalian habis dari mana saja, mengapa belum ada yang makan?” tanya Akame khawatir.
Akame menyebarkan pandangannya mengawasi keadaan kini tak terlalu padat itu namun masih bisa di bilang ramai. “Tenanglah, aku tak akan membiarkan kalian mati konyol.”
Tanpa basa-basi, mereka langsung menghindari dan memberi jalan pada guru wanita yang terkenal killer itu.
3 bungkus sate Sauvlaki telah di bawa oleh Akame yang sekarang tersenyum bahagia mendapatkan keinginannya dan mengabaikan tatapan para murid yang tertuju padanya.
Melihat kedua muridnya kini menyandarkan kepala mereka di atas meja, Akame dengan cepat menyeret kedua pemuda tak berdaya itu keluar kantin.
Dalam perjalanan menuju rooftop sekolah, Akame bertemu seorang guru lain yang menghalangi jalannya yang sedang terburu-buru itu.
“Sensei Akame, ada apa dengan mereka? kau mau bawa kemana kedua murid itu?” tanya Liu te, sensei muda dari Tiongkok itu.
Akame mendengus kesal hingga bicara asal. “Maaf sensei Liu te, mereka harus mendapatkan angin yang berhembus. Nafas mereka hampir tak terasa, dan aku tak ingin mencium mereka.”
Liu te ikut kaget mendengar pernyataan hiper itu dari Akame dan akhirnya mengambil kunci rooftop dan membukakan pintu untuk mereka ber-empat.
__ADS_1
Angin berhembus kencang di atas sana, dapat terlihat jelas dari pakaian mereka yang tak henti-hentinya bergoyang.
“Jadi bagaimana caramu menyadarikan mereka Akame?”
Pikiran Akame tak sampai ke situ, yang ia pikirkan sedari tadi hanya mencari angin berhembus. “Eumm...”
Bersamaan dengan itu, sensei Tasiro dan sensei Lusi juga menghampiri mereka di atas rooftop. Kedatangan mereka membuat Liu te dan Akame bisa bernafas lega.
Guru sekaligus anggota medis, sensei Lusi dan wali kelas Ayato dan Irvin.
“Lusi, kami butuh bantuanmu. Kedua murid ini sedang sekarat tolong periksa dia.”
Lusi terduduk mencoba memeriksa denyut nadi mereka yang terbilang normal. Selang beberapa menit, dengan wajah kebingungan Lusi mengembalikan stetoskop ke dalam tasnya.
“Eumm... Mereka sepertinya kehilangan energi, mereka terlalu kelelahan dan juga nutrisi yang masuk kurang.” Ujar Lusi.
Akame menaikkan sebelah alisnya. “Aku sampai susah-susah membelikan mereka makanan ini tapi mereka keduluan pingsan bahkan aku sudah menyeret mereka kesini. Seharusnya sedari tadi mereka bangun.”
Lusi tertawa kecil. “Lebih baik bawa mereka keruanganku, aku akan menginfus mereka.”
Tak mendengar penjelasan Lusi, Liu te yang sedang meneguk air mineral itu tiba-tiba menyirami wajah Ayato dan Irvin secara kasar. Sementara Tasiro yang mengetahui penyebab kedua muridnya itu sampai pingsan hanya berdiri menunggu di dekat pintu dan malas mencampuri kekhawatiran mereka yang konyol itu.
Mereka berdua terbangun.
Liu te menjentikkan jarinya di depan Ayato dan Irvin guna menyadarkan pandangan mereka yang masih buram-buram.
Ayato dan Irvin akhirnya memakan sate bungkus mereka dengan rakus dan sesekali meneguk air es.
Ke-empat guru itu hanya memandang aneh mereka berdua. Liu te menggaruk kepalanya yang kebingungan kemudian melontarkan pertanyaan iseng yang tak sangka akan di jawab serius oleh Ayato dan Irvin. “Sudah berada lama kalian tidak makan dan minum?”
Irvin menepuk jidatnya. “Astaga kita sampai lupa makan. Ayato sudah berapa lama? Aku lupa.”
Ayato mencoba berpikir keras. “Eumm hari ini tanggal 22, kayaknya sudah 4 hari yang lalu deh.”
Akame, Liu te dan Lusi syok berat mendengar pernyataan Ayato dan Irvin.
__ADS_1
Lusi berbalik menatap Tasiro seolah meminta izin untuk merawat mereka. Tasiro mengangguk mengerti kemudian meninggalkan mereka.
“Setelah ini kalian berdua keruanganku!”