Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Crystal Stone


__ADS_3

Jari-jari yang telah menampakkan keriputnya. Jari-jari besar itu tengah memainkan pulpen terus membuatnya berputar di atas tangannya.


Ia tersenyum miring. “Di luar dugaan, kedua makhluk itu reunian di penjara neraka. Apakah buaya itu masih memiliki ikatan dengan bocah itu?”


Pertanyaan dari ketua peneliti Hiro Orfias membuat Renne tertegun. Ia segera menundukkan kepalanya. “Maafkan aku tuan, seharusnya aku tidak membuangnya begitu awal.”


“Maaf tuan Hiro, apa yang harus kita lakukan pada bocah itu untuk menyadarkannya agar tak memasuki tenggorokan monster buaya raksasa itu? Dia bisa-bisa saja tertelan,” Ujar Cindy yang kini khawatir karena sedari Harina tersadar, mereka belum pernah memerintahkan misi yang harus ia lakukan dan membiarkan Harina berjalan tanpa arah.


Hiro menggeleng sebagai jawaban. “Jangan lakukan itu, kalian tak akan pernah tahu yang terjadi selanjutnya padanya jika terus memerintah setiap langkahnya. Tetapi, aku ingin kalian menghubungkanku padanya. Aku harus memberitahu dia sesuatu yang penting dan sekaligus menjadi petunjuk terakhirnya dari kami.”


Leo mengangguk dan segera memproses keinginan dari Hiro.


...~~~


...


Harina menengadah ke atas mencari suara yang memanggil namanya namun langkahnya tetap melangkah melewati kerongkongan monster itu.


Tiba-tiba suara itu kembali hilang saat Harina sampai ke tengah perut sang monster dan sesuatu memanggilnya. Inilah yang Harina cari, bukannya terhipnotis untuk masuk ke dalam perut, namun memang sesuatu memanggilnya secara diam-diam. Hanya dia yang tahu, bahkan alat yang menghubungkannya dengan para peneliti itu hilang untuk sementara waktu selama ia masih berada di dalam perut. Baik dari kalung pelacak, alat komunikasi dan pengintai mereka.


Harina terhenti tatkala sesuatu membuatnya tersandung. Itu adalah daging buaya yang terlihat bengkak. Ia terkaget ketika daging itu mulai mengeluarkan isinya. Matanya menangkap sebuah batu kristal yang sangat sulit keluar dari daging perut si monster buaya raksasa itu.


Harina bergerak membantu batu kristal itu keluar. Tangannya memaksa untuk masuk meskipun sangat sulit hingga ia menahan nafasnya dan dalam satu kali tarikan, batu kristal itu akhirnya keluar dari tubuh sang monster.


Satu titik dari batu kristal itu mengeluarkan cahayanya membuat Harina menutup matanya sebentar. Bayangan-bayangan ketika ia di culik muncul dalam pantulan batu kristal itu. Ia sungguh tak mengerti, tapi bayang-bayang itu sukses membuat air matanya terjatuh ke pipinya yang tak mulus lagi. Pipi yang sedikit melepuh dan penuh dengan luka.

__ADS_1


Ia melihat ayahnya yang sedang berjuang menyerang monster buaya raksasa itu dan ibunya yang menangis memeluk dirinya sendiri seraya berlari mencari sang ayah. Adegan pelukan sang ayah dan ibu membuatnya semakin tersedu-sedu.


Ayahnya hanya menatap lurus ke depan ketika memeluk sang ibu dan bergumam kecil. ‘Vasilio’


Adegan terhenti sampai di situ dan Harina bingung tak mengerti. Ia menghapus air matanya. “Ayahku mengenal tuan Vasilio?”


Adegan kembali berlanjut yang memperlihatkan sang ayah dengan terburu-buru membawa sang ibu ke tempat yang aman. “Benar, lindungi ibu ayah,”


Ia bersyukur mendapat kesempatan untuk melihat keadaan ayah dan ibunya yang ternyata baik-baik saja di sana. Mungkin ayahnya memang mengenal Vasilio dan itu membuatnya harus semakin berhati-hati dan terus melindungi sang istri.


Harina merasa lega. Ia tak perlu mengkhawatirkan orang tuanya di sana. Dengan rasa penasaran ia menyentuh titik kristal yang tadi mengeluarkan cahaya. Ia tiba-tiba merasakan getaran kecil yang timbul akibatnya. Namun ia masih mengabaikannya.


Getaran demi getaran yang semakin lama semakin kencang, Harina sangat panik dan berlari kembali menyusuri kerongkongan di monster buaya raksasa itu. Ia akhirnya sampai ke gigi buaya itu dan berpegangan kuat. Namun Harina terkaget ketika buaya itu membuka mulutnya membuatnya salah sasaran dan malah berpegang kuat pada gigi atas monster buaya raksasa kemudian langsung memuntahkan batu kristal itu yang memiliki besar seperti bola sepak.


Buaya itu masih tal menghiraukan Harina dan terus tenggelam dengan emosinya pada bola kristal itu. Namun, seiring berjalannya waktu, tanpa Harina sadari, buaya itu perlahan memadamkan bara api di kulit kerasnya dan suasana hati si buaya pun mulai mereda seiring padamnya api miliknya.


Tak hanya Harina yang terkaget dengan perubahan si monster buaya raksasa itu namun Hiro, Renne, Cindy dan Leo pun yang kembali terhubung sejak Harina keluar dari perut buaya itu juga terkaget. Seperti kata Hiro. Tak ada yang tahu apa yang akan Harina temukan dengan tangannya sendiri.


Harina hampir saja terjatuh kemudian monster itu mulai menenangkan dirinya sendiri dan itu membantu kembali memperbaiki posisinya terus berpegangan di moncong sang monster buaya raksasa itu.


Buaya itu tiba-tiba bersuara untuk pertama kalinya seperti sedang ingin menyampaikan sesuatu dan suara miliknya jelas membuat gelombang kasar yang cukup sulit untuk di tahan oleh kekuatan Harina.


Ia akhirnya terhempas.


“Harina... Harina Aretha”

__ADS_1


Harina langsung menyebarkan pandangannya mencari sumber suara.


“Harina, ini aku Leo, ini adalah terakhir kali kami akan membimbingmu jadi dengarkan dengan seksama dan saat ini lebih baik kau diam di sana bersama buaya itu karena jika kau pergi maka kau akan sampai ke tingkatan berikutnya dan tentu saja tantangan lain menunggumu. Jadi kau tak boleh pergi sebelum kami selesai menjelaskan semua hal yang ingin kami sampaikan.” Jelas Leo memperingati.


Hiro akhirnya terhubung dengan Harina.


“Harina aku hanya memberimu petunjuk bahwa buaya raksasa itu takkan membahayakanmu. Kalian memiliki ikatan yang kuat sebagai hasil eksperimen yang berhasil dari kami. Batu kristal yang baru saja keluar dari perutnya itu adalah serpihan batu kristal yang kamu miliki juga dalam tubuhmu, dan selain buaya raksasa itu kau bisa menemukannya di monster lain yang telah kami buat lainnya. Jika tidak salah, masih ada 2 lagi yang belum kau temui.


Batu kristal yang mereka milik hanyalah serpihan dari kristalmu. Oleh karena itu, mereka akan patuh pada pemiliknya. Jadi tugasmu adalah temui mereka berdua dan jangan melepaskan buaya itu.


Sayangnya aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi padamu karena batu kristal penghubung ikatan kalian telah di hancurkan oleh buaya raksasa itu sendiri. Jika di menyerangmu, buatlah ia jinak kembali. Ingatlah, dia telah menyelamatkanmu dari roh-roh cacat itu. Kau bisa terus berlindung padanya sepanjang perjalanan tingkatan demi tingkatan.


Baiklah di situ saja, kami akan terus mengawasimu namun tak lagi membantumu jadi mandirilah mulai sekarang.”


Sambungan terputus. Tak sempat Harina membalas maupun bertanya. Ia menghela nafas mendongak ke atas menatap monster buaya raksasa itu yang hanya terdiam sambil melihat sekitarannya.


Harina berdiri mengelus kulit kasar buaya itu dan memanjat ke atasnya dengan tenang agar tak mengagetkan monster buaya raksasa itu.


“Raksasa... Apa yang harus aku perbuat selanjutnya? Kumohon bantulah aku”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2