
Ayato dan Irvin sedang duduk santai di atas kristal yang bisa di duduki. Mereka masih tak mengerti tempat apa ini, terutama Ayato. Bagaimana bisa gadis yang pernah ia temui 3 bulan yang lalu berada di dalam kristal besar?
Ayato menggaruk kepalanya pusing. “Aku yakin gadis itu adalah Harina bahkan baju putih yang terakhir aku lihat dia gunakan adalah baju itu.”
“Apa kau benar-benar yakin? Kalau memang benar, bagaimana dia bisa ke tempat aneh itu dan berbicara akrab dengan seekor monster buaya?” Tanya Irvin memastikan.
Mereka berdua kembali berdiri dan melihat apa yang terjadi pada gadis itu. Terlihat Harina turun dari tubuh buaya raksasa dan meraih sebuah perpanjangan rantai tipis lalu mengikat rambutnya menggunakan rantai itu.
“Untung ada yang bisa di gunakan untuk mengikat rambut super panjangku ini.” Harina berbalik menatap buaya raksasa itu.
“Kuroko, apa aku tidak seperti hantu lagi?” tanyanya kemudian kembali mengambil beberapa rantai tipis itu, mengumpulkannya berniat untuk menjadikannya senjata jika sesuatu terjadi pada mereka.
Harina kembali menaiki monster buaya raksasa itu dengan rantai-rantai yang tergulung di kaki dan pergelangan tangannya. “Wah, kupikir aku terlihat keren menggunakan ini. Benarkan Kuroko?” serunya sudah sangat terbiasa dan mulai menikmati waktunya dalam penjara neraka.
Buaya raksasa itu kembali berjalan, sedangkan Harina yang menyukai penampilan barunya terus bergerak kesana kemari di atas buaya itu.
“Kuroko, mari kita memberantas dunia ini hahaha,” candanya lalu memainkan rantai-rantai itu bergerak bebas untuk melatih dirinya menggunakan rantai sebagai senjata.
Beberapa tingkatan telah mereka lewati tanpa ada gangguan sama sekali. Entah memang tak ada gangguan atau si monster buaya raksasalah yang mengalahkan dan juga hanya terus berjalan mengabaikan roh-roh yang menyerangnya, Harina tak tahu hal itu dan hanya bersantai di atas sana dan sibuk dengan pikirannya yang random itu.
Harina kini berjalan menuju ekor buaya itu, dengan kata lain kali ini ia bisa melihat roh-roh sedang mengejar mereka tetapi buaya itu hanya menginjak mereka tanpa peduli.
__ADS_1
Ia mundur perlahan karena syok melihat berbagai macam jelmaan yang mengincarnya. Tentu saja, jika tak ada buaya itu pasti ia tak tahu lagi bagaimana nasibnya saat ini. Ia kini kembali berada di atas kepala Kuroko dan berbaring tengkurap guna memeluk buaya itu.
Harina menutup matanya nyaman. Mungkin ini saatnya untuk tertidur puas tanpa ada gangguan.
Rraurrrr...
Harina membuka kedua matanya, tubuhnya reflek berdiri melihat sumber suara yang berada di hadapan mereka. Terlihat seekor singa raksasa mengaum dengan keras tatkala berpapasan dengan buaya raksasa. Tentu saja tubuh tinggi singa itu sangat menonjol sehingga tubuh buaya yang melata membuat posisi Harina semakin terlihat.
Harina berlari ke belakang dengan sekuat tenaga sebelum kaki depan singa itu menghantam dirinya namun, itu terlambat. Harina akhirnya terbanting ke samping dan menabrak batu besar di sana.
Ia terjatuh dengan kasar ke tanah dengan tubuh yang melemas akibat serangan tiba-tiba itu. Para roh yang berada di tingkatan itu pun mengambil kesempatan ini untuk langsung menyerbu Harina.
Para pendosa-pendosa itu masih gentayangan mencari santapan mereka bahkan roh-roh mereka terus menggali tanah neraka, berpikir bahwa semakin mereka menggali, semakin besar peluang mendapatkan mayat manusia yang masih memiliki daging utuh.
Dan saat ini lah peluang terbaik bagi mereka. Tangan kanan Harina langsung tertarik oleh roh yang tiba pertama dan langsung mengigit jari-jari Harina dengan rakus. Reflek Harina histeris dan berteriak sekencang mungkin membuat para roh-roh itu sedikit mundur ke belakang. Tetapi tidak dengan roh yang telah melahap dirinya.
Sangat keras kepala, meskipun roh itu tersentak namun ia tetap pada posisinya. Ia akan mengambil kesempatan langka ini demi memenuhi hasrat kanibalnya.
Harina yang menyaksikan tangannya di lahap oleh roh keras kepala itu tak bisa bergerak sama sekali. Rasa takut bercampur dengan rasa sakit yang tiada tara membuat pandangannya menggelap. Suaranya bergetar histeris. Semua anggota tubuhnya lemas seperti mati.
Tangan kanan yang Harina langsung terputus dari tubuhnya tatkala terjadi pertarungan saling menarik antara roh kanibal yang mempertahankan gigi-giginya di tangan gadis malang itu dan raksasa singa yang juga melahap seluruh tubuh Harina kecuali tangan kanannya.
__ADS_1
Mata Harina membulat syok tak dapat lagi merasakan tangan kanannya yang telah terputus itu. Dengan kekuatan yang ada ia berdiri melihat sekitarannya yang tanpa sadar telah berada di mulut si monster singa tadi.
Tiba-tiba lidah singa itu membawanya ke tengah-tengah gigi atas dan bawah berniat mengunyahnya. Harina berpikir cepat dan langsung menghindari gigi-gigi taring itu. Ia reflek berlari menuju tenggorokan singa itu berniat mencari kristal yang ada seperti saat ia di mulut buaya.
Tubuh Harina langsung terjatuh dan meluncur dengan cepat melewati kerongkongan singa itu yang memang berbeda dari bentukan tubuh buaya raksasa. Sementara di luar sana, sang buaya raksasa datang menabrakan ekornya ke arah singa itu untuk menamparnya. Kembali bangkit dan menggigiti kaki belakang singa itu karena berani menyerang Harina. Tidak hanya buaya itu, tetapi singa itu juga ikut membalasnya dengan berbagai terkaman yang menyakitkan.
Pertarungan antara singa versus buaya itu membuat Harina yang berada di dalam tubuh singa terus terpental kesana kemari dengan keadaan yang sulit sehingga membuat tenaganya kembali melemah karena perasaan mual antara bau usus di badannya sendiri akibat terus tertabrak olehnya dan juga rasa pusing akibat kejadian beruntun yang membuatnya sulit tuk memahami keadaannya sendiri.
Dengan susah payah Harina mempertahankan posisinya untuk mencari keberadaan kristal itu. Walaupun sampai saat ini mata tak dapat menangkap sesuatu dengan jelas, namun ja tetap memberanikan dirinya untuk berjalan perlahan hingga mendapatkan daging yang membengkak dan itu adalah pertanda yang cukup nyata atas keberadaan kristal di dalam sana, sama halnya dengan buaya itu.
Hanya satu hal yang membuatnya tertahan untuk segera membebaskan kristal itu. Yaitu ia tak tahu bagaimana caranya dengan tangan kiri yang sibuk mempertahankan posisinya dan tangan kanan yang sudah tak ada lagi.
Jika mereka tak bertarung, pasti ia akan baik-baik saja di dalam sana. Jika Kuroko tak menyerang singa raksasa itu, pasti semuanya akan lancar. Namun, bagaimana caranya ia menghentikan pertarungan mereka.
Dengan segala perasaan yang tercampur aduk, Harina mulai menyalahkan monster buaya raksasa itu. Pikirannya kacau dan tak bisa berpikir jernih hingga suara buaya itu terdengar menggema memanggilnya.
.
.
.
__ADS_1