Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
First Step


__ADS_3

Suhu ruangan seketika memanas, orang-orang disana segera menjauh tatkala portal penjara neraka telah terbuka. Sebuah portal yang menghubungkan dunia mereka dengan neraka para roh gentayangan.


“Suatu saat nanti, kita akan ada disini” Kata Justin memecahkan keheningan.


Leo tertawa mendengar kata-kata tak terduga dari sahabat sejatinya itu. “Ternyata kita masih sadar kalau kita punya banyak dosa”


Justin menepuk bahu Leo “Dari sinilah kita harus belajar, ternyata penampakan neraka dari sini sudah sangat mengerikan, apa lagi kalau kita berada di dalamnya”


Leo menyipitkan matanya “Jadi tujuanmu ke pulau D'Devils karena apa?”


Justin tertawa “Untuk ikut menguasai dunia haha, aku tahu aku tak akan sehebat mereka, tapi setidaknya aku menjadi sekutu mereka jadi namaku tidak ada dalam daftar pembunuhan”


Hiro mendekati portal itu dengan seekor ular di tangannya.


“Aku akan memasukkan ular ini ke dalam neraka, setelah kita menutup portal, silahkan membukanya kembali setelah satu jam dan panggil ular itu kemari” Semua anggota tim mengerti dan akhirnya menutup portal itu setelah ular itu telah masuk.


“Maaf tuan Hiro, bagaimana jika ular itu berhasil hidup. Apa tujuan tuan sesungguhnya?” Tanya seorang anggota tim.


“Akan baik jika kita menguji kemampuan Harina di portal ini, kita akan mengurungnya hingga ia menemukan jalannya sendiri untuk kembali” Jawab Hiro membuat semuanya tersentak.


“Maaf tuan Hiro, itu artinya Harina harus cerdas, harus menjadi penemu bersama semua penyiksaan di neraka? Menemukan portal ini saja aku kesulitan, bagaimana dengan anak berusia 12 tahun bisa menemukan jalan keluar sambil kesakitan di dalam sana” Sela Renne setelah mendengar jawaban tidak masuk akal dari Hiro.


“Benar tuan Hiro, jika tujuannya ingin melatih Harina, ada baiknya kita jauhkan dari portal ini karena ini sungguh berbahaya, hanyalah monster-monster dan roh-roh jahat yang ada di dalam ditambah mereka akan menyerang apapun yang tidak di kenalinya. Harina bisa saja tewas dengan tragis” Timpa Cindy membuat Hiro berpikir panjang setelah mendengar penjelasan mereka yang sama sekali tak terpikirkan di otak kejinya.


“Begini, aku telah berbicara pada tuan Vasilio dan dia menyetujui pelatihan ini. Kupikir tuan Vasilio hanya ingin menyiksa Harina agar menjadi senjata yang ampuh jadi kita harus tetap melaksanakan pelatihan ini sesuai perintahnya. Aku butuh saran asal tidak keluar dari pelatihan penjara neraka ini” Tegas Hiro pada mereka.


Justin mengangkat tangannya “Boleh aku memberi saran?”


Hiro melihat Justin menunggu sarannya.

__ADS_1


“Ini adalah sebuah pelatihan, maka sebelum pelatihan pasti ada misi yang harus di capai. Jadi kita harus memberinya sebuah misi dan terus mengawasinya hingga ia berhasil melakukan misi itu dengan baik” Sarannya.


Renne, Leo, Cindy, Justin dan anggota lainnya mengangguk mengerti.


“Kita akan mengawasinya lewat kaca dimensi, kupikir semua dimensi akan terhubung termasuk neraka dan juga berikan dia kalung pelacak lokasi agar memudahkan kita menemukan keberadaannya” Tambah Leo.


Hiro tertawa remeh “Hahaha Hiro, Justin, apa kalian ingin masuk kedalam penjara neraka agar kalian bisa memberi misi di setiap tempat untuk Harina?”


Leo dan Justin saling menatap satu sama lain.


“Bukan, bukan, maksudku setelah dia masuk baru kita menyuruhnya apapun yang dapat di lakukan di tempat itu. Biar dia yang berkeliling dan kita kasih misi langsung setelah melihat keadaan dengan kalung pelacak itu hehehhe” Tawa garing Justin setelah meluruskan kembali perkataannya.


Hiro tersenyum pada kedua pria paling banyak bercanda ketika di laboratorium. “Kupikir di otak kalian hanya ada lawakan, ternyata masih ada isinya haha... Baiklah ide kalian sangat bagus. Sekarang silahkan buka kembali portalnya dan panggil ular itu”.


Renne, sebagai penanggung jawab penelitian langsung bergerak membuka portal itu sesuai suruhan dari tuan Hiro. Ular itu berhasil selamat, namun setengah ekornya telah terbakar dan sebentar lagi akan meregang nyawa. Mereka kini menyaksikan kematian ular itu yang sempat berbahagia setelah di keluarkan dari panasnya api neraka.


Leo seketika meloncat tatkala mencoba memegang tubuh ular itu.


“Dasar payah, sudah tau ular itu terbakar” Cela Cindy melihat kebodohan pria yang langsung bertindak tanpa berpikir itu.


Hiro berdehem sebentar kemudian berkata “Sudah, sudah... Sekarang masukkan ular itu kembali ke dalam, tidak ada gunanya menguburnya di tanah kita. Jika bisa, masukkan saja mayat-mayat yang telah di kubur itu ke sini”


Semuanya terdiam setelah mendengar nada bicara tuan Hiro yang jelas sedang emosi itu. Tanpa berbicara lagi, Hiro melangkahkan kakinya segera keluar dari ruangan. Namun sebelum itu ia terhenti sejenak melihat para ketua anggota setiap divisi itu yang juga menunggu sesuatu darinya.


“Setelah membereskan semuanya, kalian harus segera mencari anak itu kemudian bawa dia ke ruangan tuan Vasilio. Dan kuharap kalian sudah membagi tugas kalian dalam program pelatihan Harina” Jelasnya di balas dengan anggukan dari mereka.


Bersamaan dengan perginya Hiro Orfias, seseorang berjubah hitam bersembunyi di antara kegelapan bergerak mengikuti ketua dari tim penelitian di bagian laboratorium itu.


...~~~

__ADS_1


...


Di malam hari yang sangat tenang, sunyi hanya suara hembusan angin yang menerpa kulit mulus Harina. Ia kembali berjalan menuju taman perusahaan yang menjadi tempat dirinya menyendiri dalam ketenangan.


“Aku tidak suka keramaian dengan orang-orang berhati busuk itu” Gumamnya seorang diri sebelum ia melihat dua gadis asing yang sedang duduk di kursi favoritnya.


Langkahnya terhenti. Entah kenapa ia ingin kesana tapi siapa mereka?


Harina masih enggan mengambil langkah ke depan dan ia malah berbelok bersembunyi di antara himpitan pagar taman dan pohon yang cukup besar untuk menutupi tubuhnya. Ia mendengar samar percakapan dari kedua gadis sebayanya.


“... Ibuku selalu saja memarahiku jika aku bercita-cita ingin menjadi seorang pejuang yang bertugas di luar pulau padahal ayahku pun adalah seorang pejuang, wajarlah aku juga ingin setangguh ayahku yang selalu terlihat keren” Lontar salah satu gadis berambut kuning pendek sebahu itu.


Gadis berambut hitam pekat tertawa “Kamu itu perempuan, seharusnya kamu ingin menjadi perempuan yang modis, di sukai banyak pria, berpenampilan menarik dan bertindak anggun”


Aira, gadis berambut kuning itu memanyunkan bibirnya “Aku ingin menjadi keren, seperti dokter Jessica, nyonya Renne dan nyonya Cindy. Apalagi nyonya Indy, dia perempuan cerdas yang menjadi kepercayaan tuan Vasilio”


Seseorang tiba-tiba mengagetkan Harina dari belakang membuat kedua gadis itu menyadari keberadaan Harina.


“Malam Harina” Sapa orang itu tersenyum ramah pada Harina, sedangkan Harina yang masih sedikit kaget hanya bisa menyebut namanya.


“A~Ayato, AYATO” Suara lembut Harina bertabrakan dengan panggilan geram dari sang ibu yang baru saja ingin menjemput Harina untuk menemui tuan Vasilio. Namun keberadaan anaknya yang datang menyapa Harina membuatnya geram.


Sementara kedua gadis itu hanya terdiam menyaksikan kejadian dibelakang mereka.


“Ayato, masuk ke dalam rumah dan besok kau harus mengikuti kelas pedang hingga kau lulus” Perintah Renne yang tidak bisa di tolak oleh anak penurut itu. Hanya melirik Harina sebentar kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan kecewa karena mengetahui ia takkan melihat Harina lagi ketika ia memasuki kelas itu yang mengharuskan ia tinggal jauh dari daerah perusahaan dan dengan aturan yang sangat ketat.


Renne dan kedua anggotanya langsung menarik Harina dengan kasar menuju ruangan Vasilio.


Sesampainya di ruangan, Harina terlihat ketakutan melihat seorang kakek tua yang melihatnya dengan senyum licik itu. Renne, Leo dan Cindy adalah ketua divisi yang akan mengerahkan anggotanya untuk pelatihan ini dan mereka telah siap atas perintah dari sang penguasa pulau D'Devils.

__ADS_1


“Kalian semua, silahkan mengerjakan tugas kalian...


SEKARANG”


__ADS_2