Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Red Lie


__ADS_3

“Itu tak seperti yang kau pikirkan, jadi berhentilah menatapku seperti itu.” Ayato memalingkan wajahnya ke samping berniat menyembunyikan wajahnya yang sedari tadi memerah dan tentu saja Irvin melihatnya sejak tadi.


“Baiklah, aku mengerti kok. Pasti sulit untuk menghilangkannya dari pikiran jadi aku takkan membahasnya lagi,” godanya seraya menaik turunkan alisnya.


Ayato tak menjawab, ia sudah sangat terbiasa oleh kegilaan temannya ini dan jika ia ingin jujur, bukannya ia sulit menghilangkan bayang-bayang dari pikiran, tetapi ia sangat malu karena ketahuan dan pastinya itu akan membuat karakter cool dan cueknya menjadi berkurang.


Mau bagaimanapun jika ia membela diri itu akan membuat semuanya semakin jelas. Makanya ia hanya memilih untuk diam dan tetap berjalan berdampingan bersama Irvin dengan mempertahankan wajah datarnya.


Sehabis Harina menjahit bajunya menggunakan rantai, Ayato dan Irvin masih stay di sana terus menontonnya hingga pada akhirnya Harina memutuskan untuk beristirahat di neraka beku sebagai jaminan untuk tempat peristirahatan serta minum mereka.


Setidaknya itu membuat Kuroko mendingan dari yang kemarin karena sedikit mendapatkan perawatan berkat bantuan dari singa raksasa itu sendiri dengan menyedekahkan bulu-bulunya untuk menutupi pendarahan itu dan juga kehadirannya sebagai anggota baru tim Harina.


Ayato dan Irvin yang telah menonton film laga itu sangat antusias dan terus membicarakan pada apa yang terjadi pada Harina. Meskipun bingung tetapi keseruan yang di alaminya membuat mereka sampai tak sadar waktu dan akhirnya...


Sebuah kayu panjang yang di pegang oleh ayah Ayato melambai dengan indah di hadapan mereka. Seraya mendengarkan ceramah panjang dari wali kelas pedang Tasiro De Ryuu, lalu dengan lantang mereka melontarkan janji waris sebagai penerus anggota ahli pedang.


Sebagai hukuman telah membolos kelas siang dan sore, Ayato dan Irvin terus di introgasi dan di beri pelajaran atas tingkah mereka. Selain itu, Ayato dan Irvin sangatlah enggan untuk mengatakan bahwa mereka mendapatkan goa rahasia dan bersikeras untuk membuat sensei Tasiro mempercayai kebohongan mereka.


“Ayah, tadi kami hanya tersesat hutan sana, kami juga ingin keluar tetapi membutuhkan 6 jam untuk mendapatkan jalannya,” jelas Ayato mencoba mengecoh ayahnya.


“Peraturan pertama, di sini adalah sekolah, kau harus memanggilku sensei bukannya ayah. Peraturan kedua, seorang ahli pedang tidak boleh BOHONG!” tegas Tasiro, ia sangat tahu saat anaknya itu berbohong, apalagi jika di lihat dari bukti yang ada.


"Hutan, tapi basah kuyup heh," lirihnya.


"Maaf sensei?" tanya mereka berdua bersamaan.

__ADS_1


Tasiro kini mondar mandir kemudian menghela nafasnya dalam. “Jadi mengapa seragam kalian basah?”


“Oh ini, emm... Kami~”


Karena kesulitan mendapatkan alasan yang jelas, Irvin langsung memotong perkataan Ayato untuk membantu nasib mereka.


“Maaf Sensei tadi aku kecebur karena tidak memperhatikan sekitar jadi Ayato membantuku tetapi dia ikut kecebur hehhe, makanya kami berdua basah kuyup,” jelas Irvin seraya menggaruk kepalanya mencoba terlihat sekonyol-konyolnya agar sensei Tasiro tertipu.


“Oh, jadi kalian tersesat di hutan mana? Kami akan segera menutup jalan agar tak ada korban yang merugikan lagi.”


Perkataan Tasiro membuat mereka tak tahu harus berkata apa. Selagi Tasiro terus menekan Ayato dan Irvin menanyakan lokasi hutan itu, mereka hanya bisa ber-emm ria membuat mereka berdua terlihat semakin mencurigakan.


“Ano, sebenarnya sensei kami bukannya kejebak di hutan, tetapi kami berkeliaran di kota pusat dan basah kuyup akibat ketahuan mengintip seseorang sedang mandi,” dusta Irvin semakin membuat mulut Tasiro menganga kaget karena tindakan lancang mereka. Tidak hanya Tasiro, Ayato pun menganga di buatnya.


Ayato hanya bisa terbungkam, hancur sudah bakti dan patuhnya yang telah lama ia bangun dengan tangannya sendiri untuk mendapatkan perhatian orang tuanya selama ini. Ia bahkan telah di akui karena keterampilan dan kecerdasannya saat memasuki kelas tetapi saat ini, ah sudahlah ia hanya bisa berpasrah.


...~~~


...


Jari-jari itu terus bergelut di atas kertas mencatat setiap hal penting yang di temukannya. Bukan hanya jarinya yang sibuk, tetapi kepalanya lebih pusing lagi akibat tanggung jawabnya di pelatihan khusus yang sedang di lalui oleh bocah perempuan yang menjadi pilihan penguasa pulau, Vasilio.


Matanya sangat berat, ia sudah tidak tidur dua hari karena pekerjaan ini. Semenjak Cindy dan Leo tak lagi membantunya banyak karena keinginan penguasa Vasilio, ia mulai mengerjakan tugasnya seorang diri dan hanya akan meminta bantuan kepada anggota timnya ketika ia harus melakukan mengambilan sampel dari tempat-tempat tertentu.


Sisanya, ia di biarkan tuan Vasilio untuk bekerja sendirian karena Vasilio sendiri memiliki tugas lain untuk mereka.

__ADS_1


Seorang diri ia melakukan eksperimen, seorang diri pula ia melakukan penelitian terhadap pelenturan, kekuatan, ketahanan dan energi bara yang ada di tubuh Harina.


Tentu saja salah satu alasan mutlak mengapa ia tak di bantu karena ia sendiri tak mempercayai hasil temuannya di lakukan dengan orang lain. Pikirnya hanya dialah yang dapat mengontrol semuanya. Oleh sebab itu, Vasilio yang mendapat komentar dari tim Renne yang komplen karena Renne selalu menganggap mereka salah dan pada akhirnya dia sendiri yang melakukannya.


Tim Cindy dan tim Leo pun di beri tugas lain, dan Renne selaku penanggungjawab yang harus memperbaiki semuanya, dengan syarat, tuan Hiro dan tuan Vasilio yang akan terus mengawasinya. Karena pelatihan ini merupakan eksperimen rahasia yang tak boleh masyarakat ketahui. Oleh karena itu, satu orang cukup untuk melakukan semuanya.


“Renne-san, bagaimana perkembangan Harina?” tanya Hiro baru saja memasuki ruang khusus untuk pelatihan Harina.


Renne tersentak kaget dan langsung berdiri menjawab pertanyaan Hiro. “Maaf tuan, karena neraka ini adalah dimensi rekayasa, jadinya perkembangan Harina cukup pesat apalagi dia bisa menjinakkan dua monster raksasa yang kami masukkan ke dalam sana. Hanya saja, ia kehilangan tangan kanannya ketika ingin melewati tingkatan ke-46 karena roh-roh kanibal itu.”


Hiro hanya mengangguk kemudian berkata. “Biarlah tak usah membantunya, Teruslah rekayasa roh-roh itu dan buatlah berbagai rintangan yang lainnya. Walaupun tinggal kepalanya saja yang bertahan jangan membantunya, lagipula jika ia berhasil maka semua tubuhnya akan kembali karena telah berada di dunia nyata.”


“Baik tuan,” patuh Renne kemudian kembali mengerjakan tugasnya selepas Hiro keluar dari ruangan itu.


Sementara itu.


Hiro menuruni tangga bawah tanah, tempat semua monster ciptaannya di kurung. Dahulu semua penemuannya ini akan ia lepaskan ke seluruh kota di dunia ini, namun ia telah mengurungkan niatnya.


Ia telah melihat potensi dari segala laporan yang telah di dengarnya oleh Renne dan itu membuatnya semakin menggebu-gebu.


Raungan para monster semakin menggema di kurungan, satu persatu mereka di keluarkan dari kurungan itu dan memasukkannya ke dimensi neraka dan langsung menetapkan monster-monster itu di setiap tingkatan-tingkatann yang Renne telah buka untuk mereka.


“Yah sedikit lagi, KERAHKAN SEMUA MONSTER ITU!”


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2