
Gadis berkuncir kuda itu dengan elegan berjalan mendekati para bandit mengabsen mereka satu persatu yang kini tengah bersujud ampun pada Harina dan mengakui kesalahan komunitas kecil mereka. Tentu saja, jika semua pasukan penjaga dan bosnya telah kalah, otomatis mereka tak bisa apa-apa lagi.
Pistol di tangannya langsung dijatuhkan dan di injak hingga patah agar tak dapat digunakan lagi kemudian mencari seseorang yang cocok yang dapat mengatur dan memerintah para bandit.
Mata Aira dan Harina bertemu.
Benar sekali, Aira merupakan karakter yang cocok dengan sikap tomboynya untuk memimpin para bandit. Entah apa keputusan Aira selanjutnya, semuanya ia serahkan pada gadis berambut kuning itu. Setelah sedikit berdiskusi, Aira akhirnya maju dan mulai mengeluarkan suaranya.
“Dengar kalian! Mulai sekarang para gadis ini akan kami kembalikan ke tempat masing-masing dan untuk kalian aku harap jangan berulah lagi, apa yang kalian sebut tuhan Freya itu tak ada. Jadi hentikan segala ritual penyembahan kalian dengan mengorbankan para gadis dan mulailah hidup dengan normal. Mengerti?”
“Siap.” Serentak para bandit menjawab.
Meski masih belum bisa menerima, tetapi para bandit hanya bisa berserah karena mereka pun kecewa pada seseorang yang mereka anggap sebagai tuhan itu yang tak menolong nyawa bos yang telah membentuk kelompok kecil ini. Selain merasa terkhianati, ada juga yang berpikir mereka benar-benar dibodohi oleh aliran sang bos yang notabenenya memanglah tukang wanita itu.
Berakhir dengan kemenangan yang membuat nama The Tyranny kian terkenal di pulau D'Devils tepatnya di penghujung pusat pulau yang terdapat sebuah desa kecil yang bernama desa Fathy, sebuah desa dengan penduduk mayoritas laki-laki sebab adanya pencurian gadis dan wanita perawan yang terjadi secara turun temurun.
Walaupun misi ini termasuk misi kecil-kecilan, namun dampaknya sangat besar terhadap nama The Tyranny karena berjasa telah membawa pulang para gadis dengan tubuh mereka yang terluka parah hingga mereka kini berada di sebuah rumah sakit yang ada di desa Fathy.
Sementara itu, Harina kembali ke rumah istananya.
Harina saat ini tengah tertunduk lesu di sebuah ruangan yang luas dengan seseorang di hadapannya tengah berdiri memegang tongkat dengan sebuah papan tulis di samping kanannya. Sebagai hukuman yang setara karena telah kabur dari pengawasan.
__ADS_1
“Ini adalah peta pulau D’Devils yang terbagi menjadi 5 wilayah. Wilayah kita merupakan wilayah terbesar sekaligus pusat dari pulau kita. Wilayah yang ada di atas kita adalah wilayah terbesar kedua sesuai peta ini, namanya adalah desa Mander. Kemudian di sampingnya bernama desa Byront, sebuah desa pemegang kekuasaan terhadap hewan. Itulah mengapa desa ini di sebut sebagai desa Histoguard. Sampai di sini ada pertanyaan?” tanya wanita yang baru saja di tugaskan sebagai guru private Harina, Akame De Ryuu.
Dengan malas Harina menghela nafasnya berat. Ia bukanlah penduduk asli pulau D'Devils, jadi dirinya sangat enggan untuk mengetahui peta maupun sejarah pulau D'Devils.
Harina akhirnya mengangguk bosan kemudian melontarkan pertanyaan sederhananya. “Guru, Histoguard itu apa?”
Akame menjentikkan jarinya hampir saja lupa menjelaskan tentang hal itu. Ia lupa jika Harina tak sama dengan para murid di kelas pedang, pekerjaan tetap yang telah ia abdikan selama 4 tahun itu.
“Baiklah, Histoguard itu adalah penjaga sejarah dalam artian orang-orang yang tinggal di sana lebih banyak berinteraksi dengan hewan. Sesuai sejarah, pulau ini sebelum kita tempati adalah sebuah pulau berbahaya yang tak dapat di sentuh oleh manusia di luaran sana. Siapapun yang berani maka mereka tak dapat kembali lagi.
Mengapa? Karena pulau kita ini dulunya merupakan sumber racun dan sarang para binatang buas. Itulah sebabnya tak ada yang bisa kesini hingga tuan Vasilio menaklukkan pulau ini bersama timnya dan akhirnya terciptalah pulau ini. Nah tuan Vasilio pun memisahkan desa Byront sebagai tempat di jinakkannya para hewan, penduduknya semua sudah seperti pawang.
Oh ya kalau kau mau tahu, pulau kita juga disebut sebagai pulau para kriminal, tapi itu kata manusia-manusia di luaran sana, hanya opini semata padahal mereka tak tahu kedamaian kita di pulau ini sangat tak layak disebut sebagai kriminal.” Jelasnya panjang lebar mengenai sejarah pulau.
Harina mengangguk mengerti. ‘Seperti itu rupanya, tapi apa mereka tak tahu diri ataukah sekolah mereka memanipulasi? Sangat jelas bukan jika pulau ini memang markas kriminal.’ Ujarnya dalam hati. Sungguh ia tak mengerti rahasia apa lagi yang di sembunyikan tuan Vasilio pada seluruh penduduknya.
Sepertinya Harina sudah paham, Akame pun melanjutkan penjelasannya mengenai peta pulau yang masih tersisa 2 di antaranya.
“Desa ini bernama desa Awhan, merupakan desa jembatan. Kalian harus melewati ke desa ini jika ingin keluar pulau tetapi jangan sampai itu terjadi, karena tuan Vasilio telah susah payah membuat benteng pulau kita agar dapat melindungi dari pulau luar karena mereka sering datang untuk menghancurkan pulau kita.
Kemudian yang terakhir adalah desa Fathy, desa yang paling sempit di pulau ini, selain itu merekapun di kenal sebagai desa para lelaki. Para perempuan hanya sebagian kecil karena mereka memiliki sebuah pemujaan tersendiri. Menurut buku, putri dari tuan Vasilio satu-satunya itu di anggap sebagai tuhan disana untuk menghormati kecantikan agung darinya. Ketika ia masih hidup, putri Freya menjadi dambaan para lelaki makanya sampai saat ini kecantikannya masih terus dijaga dengan menyumbangkan para gadis.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan itu membuat mata Harina membulat, ia sangat syok mendengar tuhan Freya yang menjadi pemujaan kelompok kecil yang kemarin di atasinya merupakan putri dari tuan Vasilio.
Harina kembali mengangkat suara. “Jika desa Fathy memiliki pemujaan tersendiri, itu artinya mereka sengaja menculik para gadis?”
Akame berpikir sejenak. Benar juga yang dikatakan Harina, ia segera membuka buku sejarahnya lagi mencari jawaban yang ia pun tak tahu akan hal itu.
“Oh, di sini tertulis hanya pemimpin desa Fathy yang mengetahui hal itu dan menggerakkan kelompok kecil untuk melakukan tugas-tugas yang diperintahkannya. Yah, agak sadis sih tetapi itulah kepercayaan mereka,” ungkapnya lagi.
“Bu Akame, kalau ini sampai tertulis di buku, mengapa desa Fathy di biarkan melakukan hal seperti itu? Apa tidak di anggap sebagai kejahatan?” timpa Harina lagi.
“Harina... Buku ini hanya diperuntukkan untuk kamu si calon penguasa menggantikan tuan Vasilio jadi rahasia semua desa ada disini, jika nanti kau telah dinobatkan maka kau dapat memerintah layaknya tuan Vasilio saat ini. Jadi semua yang berjalan di pulau ini adalah perintah tuan, termasuk hal ini.”
Harina sedikit terkekeh mendengar pengakuan tanpa sadar itu. “Berarti tuan Vasilio jahat.”
Akame hanya terdiam berkedip cepat. Bukan seperti itu yang dia maksud, tetapi perkataan Harina selalu ada benarnya juga. “Entahlah, aku tak berani berpendapat tentang tuan jadi berhati-hatilah jika berbicara oke.”
Akhirnya pelajaran telah selesai, namun pertanyaan gadis itu masih banyak.
Jika Freya telah tiada, maka berapa usia sebenarnya pulau ini? Apa pula yang menyebabkan Freya tewas?
Itu semua menjadi pertanyaan yang menggantung dikepalanya.
__ADS_1