
Shin menghembuskan nafas lega sembari memperhatikan punggung Han yang sedang berjalan meninggalkan kamarnya setelah dia mengusir paksa. Han sendiri enggan pergi karena rasa penasaran terhadap istri temannya yang dia sembunyikan selama ini darinya.
Shin berpikir bagaimana bisa dia melupakan pendirian teguh sang istri selama ini bahwa dia tidak ingin di sentuh oleh pria lain selain dirinya sendiri meskipun itu seorang dokter. Senyum mengembang di bibirnya, dia merasa bangga memiliki seorang istri yang menjaga kehormatannya.
Shin kembali menghampiri Norin setelah menutup pintu dan menguncinya. Kemudian dia mendaratkan pinggulnya di tepi ranjang lalu meraih tangan sang istri yang tengah berdiam diri dan menatapnya.
"Maaf kan aku sayang, sungguh aku lupa akan hal itu, aku benar benar lupa karena aku panik tadi." Shin berkata dengan nada menyesal, dia menyesali atas tindakan cerobohnya membawa seorang laki laki masuk ke dalam kamar mereka meskipun itu temannya sendiri.
Norin tersenyum dan menenangkan Shin dari rasa bersalahnya."Sudah lah sayang, tidak usah di bahas lagi, aku mengerti dan tidak marah padamu. Apa...apa teman mu itu sudah pergi?"ekor matanya melirik ke arah pintu.
Shin mengangguk dan tersenyum tipis, kemudian membelai pipinya lalu berkata,"aku bangga sekali memiliki istri sepertimu, kamu menjaga kehormatan mu sebagai seorang wanita sekaligus sebagai seorang istri demi menghargai aku sebagai suamimu." Norin ikut tersenyum, meraih tangan Shin yang berada di pipinya dan menciuminya. Setelah itu, dia menyenderkan kepalanya di dada Shin dan memainkan jarinya di dada bidang itu.
Shin tersenyum geli lalu bertanya dengan nada menggoda," apa kamu sedang menginginkan nya sayang?"
Norin menegak kan duduknya kemudian mengangguk tanpa ada rasa malu.
Shin melebarkan senyumnya melihat norin mengangguk."Tapi kaki mu sedang sakit sayang, kita juga belum makan malam dan juga belum melaksanakan sholat isya."Shin mengingatkan norin dengan lembut.
Norin menundukkan wajah malunya.
"Bagaimana kalau kita makan malam terlebih dahulu, terus sholat isya dulu dan setelah itu kita bermain main di atas ranjang?" tawar Shin, senyuman menggoda terukir di bibirnya.
Sambil menunduk malu Norin mengangguk pelan.
"Kenapa istri ku jadi pemalu seperti ini, hem!"goda Shin lagi, sembari menjewel hidung mancungnya. Norin semakin tersipu malu.
"Emm sayang, aku akan meminta bibi Liu untuk menyiapkan makan malam dulu untuk kita," ucap Shin, Norin menegakkan duduknya, Shin bangkit lalu mengelus serta mencium pucuk kepalanya sebelum dia beranjak keluar kamar.
Shin menghampiri meja makan dimana terdapat tuan besar dan nyonya Hoon sedang menikmati makan malam serta bibi Liu yang sedang melayaninya. Mereka menyadari kedatangan Shin dan melirik padanya secara bersamaan. Nyonya Hoon mengalihkan kembali pandangannya sementara tuan besar Hoon mengernyitkan dahinya melihat Shin datang tanpa di dampingi oleh menantunya Norin.
"Kemana istrimu?"tanya tuan Hoon, di sela sela makan.
__ADS_1
Shin yang baru duduk di atas kursi melirik ke arah tuan besar Hoon lalu menjawabnya," istriku sedang sakit, kakinya terluka."
Tuan Hoon menghentikan gerakan tangannya lalu melirik ke arah nyonya Hoon yang sedang santai menyantap makanan seolah olah dia tidak mendengar pembicaraan suami serta anaknya.
Kemudian Shin melirik ke arah bibi Liu yang sedang berdiri tegak di samping nyonya Hoon.
"Bibi, tolong siapkan makan malam untuk ku dan istri ku dan tolong bawakan ke ruangan kami," titah Shin.
"Baik tuan muda," sembari membungkuk kan sedikit punggungnya kemudian bibi Liu beranjak pergi.
"Apa istrimu tidak bisa berjalan?" tanya tuan besar Hoon, dia penasaran separah apa sakit sang menantu.
Shin mengangguk tanpa bersuara sembari jari telunjuknya di ketukan-ketukan di atas meja kaca dengan raut wajah datar.
"Daddy melihat ada Han datang kemari, apakah sudah di obati?"
Shin menggelengkan kepalanya, menghentikan gerakan telunjuk nya lalu berkata," istri ku tidak ingin di obati oleh dokter laki laki.
Kening tuan besar Hoon mengernyit, dia merasa tidak paham atas apa yang Shin katakan.
Shin menghela nafas."Aku bingung bagaimana menjelaskan nya padamu dad."
Nyonya Hoon berdecak mengejek."Dasar wanita aneh dan pemahaman yang aneh." Senyum mengejek tersungging di bibir merahnya.
Shin mengalihkan pandanganya ke arah nyonya Hoon dan berkata,"Jangan sekali kali mengejek istriku mom, istriku bukan wanita aneh tapi wanita yang menjaga kehormatannya demi aku."Setelah berkata, Shin bangkit lalu beranjak pergi meninggalkan orang tuanya dengan perasaan kesal.
Tuan besar dan nyonya Hoon terdiam namun ekor mata mereka memperhatikan punggung putera satu satunya yang tengah dalam keadaan kesal dan setelah Shin menghilang dari pandangan mereka, nyonya Hoon mendengus kesal lalu berbicara pada suaminya." Lihat anak mu itu, semenjak menikah dengan wanita aneh itu sikap nya ikut berubah menjadi aneh. Dia lebih membela wanita itu dari pada aku yang melahirkannya."
"Apa kau yang mencelakai istri nya?" tanya tuan Hoon, dia mengalihkan pembahasan.
"Kau menuduhku?" tanya balik nyonya Hoon.
__ADS_1
Tuan Hoon memiringkan sebelah bibirnya kemudian berkata,"kau tau jika Hoon mengetahui kalau kamu yang mencelakai istrinya dia akan marah besar."
Nyonya Hoon menegak kan duduknya kemudian menatap kesal pada suaminya."Bukan aku yang mencelakainya kenapa kau menuduhku?"dia mengelak.
Tuan Hoon berdecak dan menyunggingkan senyum miring kembali." Jangan kau pikir aku tidak tahu, ingat Hyun Jung, jangan sekali kali kau mencelakainya jika kau tidak ingin Hoon meninggalkan mu."
"Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, dan aku pastikan Hoon yang akan meninggalkan wanita miskin itu,"kata nyonya Hoon dengan lantang.
"Treengg..."nyonya Hoon meletak kan garpu dan pisaunya dengan kasar kemudian bangkit dan beranjak pergi meninggalkan suaminya dalam keadaan kesal.
Tuan Hoon geleng-geleng kepala melihat kekesalan istrinya, dia tidak menyukai norin bukan berarti harus mencelakai fisiknya. Menurutnya cukup menekan bathin nya saja maka Norin akan menyerah dengan sendirinya.
Shin kembali ke kamarnya dan setelah tiba di kamar nya dia melihat norin sedang berusaha menggerakkan kakinya hendak turun dari ranjang.
"Sayang mau kemana?"Shin bertanya, dia berjalan cepat ke arah Norin.
Norin menoleh pada Shin yang baru datang lalu tersenyum."Aku ingin menggerakkan kaki ku saja rasanya pegal sekali terlalu lama duduk," kata Norin kemudian.
"Benar kah?" tanya Shin memastikan.
Norin mengangguk.
Tidak selang lama sebuah ketukan pintu terdengar Shin segera membukanya setelah melihat monitor terlebih dahulu. Nampak bibi Liu mendorong food trolley memasuki kamar mereka dan mendekat.
"Selamat malam tuan dan nyonya muda?" sapa bibi Liu sembari membungkuk kan sedikit punggungnya.
Norin tersenyum padanya dan berkata," maaf bibi Liu, kami sudah merepotkan Anda."
"Oh, tidak sama sekali nyonya."
"Bibi Liu, tolong letak saja di meja sofa," titah Shin.
__ADS_1
"Baik tuan," Kemudian bibi Liu mendorong food trolley mendekati sofa. Setelah itu, dia mulai menata beberapa menu di atas meja sebagai hidangan makan malam Shin dan Norin.
"Tuan dan nyonya, saya permisi dulu," pamit bibi Liu setelah selesai menata makanan di atas meja karena Shin dan Norin tidak ingin di tunggu oleh pelayan hingga mereka selesai makan. Berbeda dengan nyonya besar dan tuan besar Hoon, pelayan harus menunggu mereka makan hingga selesai. Salah satu sikap tuan serta nyonya muda yang Liu sukai karena mereka lebih memanusiakan pelayan.