Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Siapa penjebak itu?


__ADS_3

Suhe berjalan tergopoh gopoh setelah dia mendengar panggilan dari arah tangga.


"Iya, nyonya muda,"sahut Suhe, dan dia lebih dulu sampai kemudian di ekori Liam dari arah belakangnya. Namun ketika Suhe mendekati wanita berhijab yang sedang berdiri di undakan tangga dan belum sempat wanita itu mencegahnya untuk tidak terlalu dekat dengannya Suhe lebih dulu terpeleset lalu terjatuh.


Brugghh..


"Awww,"pekik Suhe menggema di rumah besar tersebut.


Norin membelalakkan pupil matanya melihat salah satu pelayan yang telah di panggilnya terpeleset lalu terjatuh di hadapannya. Dia benar benar tidak menyangka panggilannya menyebabkan pelayannya celaka.


"Suheee,"teriak Liam, dia yang baru saja datang terkejut sekali melihat rekan kerjanya sudah terlentang di atas marmer putih. Ketika Liam hendak membatunya, Liam ikut terpeleset namun dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga tidak sampai terjatuh.


"Astagaaa....ini kenapa lantainya sangat licin sekali," ucap Liam dengan raut wajah terkejut serta kesal.


"Suhe, bibi Liam kalian tidak apa apa?"tanya Norin, dia cemas melihat dua pelayannya terjatuh meskipun bibi Liam tidak sempat terjatuh.


"Pinggul saya sakit nyonya,"keluh Suhe, sembari berusaha mendudukkan pinggulnya di atas lantai dan meringis menahan sakit.


Norin merasa kasihan dan tidak enak hati pada mereka karena gara gara dirinya telah memanggil mereka untuk menanyakan masalah lantai licin itu mereka berdua malah menjadi korban lantai licin tersebut. Norin tidak ingin tinggal diam, dia menurunkan satu kakinya hendak membantu Suhe dan Liam namun sebelum dua kakinya menginjak lantai licin itu, Liam berteriak.


"Jangan turun nyonya, jangan turun,"cegah Liam. Dia sendiri tidak dapat bergerak dari tempat dimana dia berdiri karena lantai di sekelilingnya juga licin dan Liam takut terbanting.


Norin tercengang mendengar teriakan Liam yang mencegahnya untuk tidak turun dari tangga. Bersamaan dengan itu, Liu datang tergopoh gopoh kearah mereka dan mendapati posisi rekan rekan kerjanya yang terlihat aneh. Suhe dengan posisi duduk di lantai sembari memegang pinggulnya dan meringis, Liam berdiri dengan posisi mengangkang seperti menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh, sementara nyonya muda berdiri di anak tangga dengan wajah panik. Sembari berjalan ke arah mereka Liu bertanya dengan suara tinggi.


"Ada apa ini Suhe, Liam?" tanya Liu.


Norin melihat Liu sedang berjalan tergopoh gopoh mendekatinya berteriak." Stop di situ bibi, Jangan kemari,"cegah Norin.


Liu langsung mengerem kedua kakinya dan berdiri di tempat. Alisnya saling bertautan dan keningnya mengkerut. Dia bingung kenapa nyonya muda Hoon melarangnya untuk mendekati mereka. Di tengah kebingungannya dia pun bertanya.


"Nyonya, sebenarnya ada apa ini? kenapa saya tidak di perbolehkan mendekati kalian? saya mau membantu Suhe nyonya."

__ADS_1


"Lantainya licin sekali bi, saya takut bibi terjatuh jika mendekati kami," kata Norin dengan suara sedikit keras karena jaraknya dan bibi Liu cukup jauh.


"Apa? bagaimana bisa? siapa yang sudah ceroboh mengepel tanpa mengeringkan kembali?"kata Liu, dia terlihat kesal sekali.


"Aku rasa ini bukan ketidaksengajaan melainkan sebuah jebakan Liu. Seseorang dengan sengaja membasahi lantai ini dengan sabun, lihat saja banyak gelembung-gelembung sabun di lantai ini,"kata Liam, dia memiliki dugaan demikian karena itu terlihat aneh sekali. Jika seseorang mengepel tentu saja semua lantai akan basah. Namun ini hanya area bawah tangga saja yang basah. Selain itu yang menguatkan dugaan Liam adalah terdapat gelembung-gelembung sabun di area itu.


"Kurang ngajar sekali. Lantas siapa penjebak itu?"tanya Liu.


"Nanti kita cari siapa orangnya. Sekarang kau tolong kami dulu. Tolong bersihkan dan keringkan lantai ini,"kata Liam.


"Baik, baik. Aku akan mengambil alatnya terlebih dahulu."Liu bergegas pergi mencari alat pengering lantai ke sana kemari namun dia tidak menemukannya. Tidak hilang akal, Liu berlari ke arah kamarnya dan membuka lemari baju lalu mengeluarkan baju yang sudah tidak terpakai.


"Tidak ada alat pengering lantai, menggunakan baju bekas pun tidak apa apa," gumam Liu, kemudian melangkah cepat menuju lantai licin tadi.


Liam dan Norin memandang heran pada Liu karena wanita paruh baya itu tidak membawa pengering lantai melainkan pakaian bekas.


"Liu, kenapa kau tidak membawa alat pengering lantai? lantas apa yang kau bawa itu?"Tanya Liam.


"Aku tidak menemukannya."


"Tapi aku benar benar tidak menemukanya Suhe. Dari pada buang buang waktu mencarinya aku mau menggunakan pakaian bekas ini saja."


"Mencurigakan sekali. Aku yakin alat pengering itu pasti ada yang menyembunyikannya. Ya sudah Liu tolong keringkan sekarang, aku sudah tidak kuat berdiri seperti ini,"kata Liam, dia merasa tak kuat lagi menopang tubuhnya yang sedikit gemuk.


"Baik, baik." Kemudian Liu berjongkok lalu mulai mengeringkan area lantai yang basah dan licin itu perlahan menggunakan tangannya. Norin hanya melihat saja, dia sendiri tidak bisa berbuat apa apa.


Cukup lama dan butuh kesabaran Liu mengeringkannya karena bahan pakaian itu tidak cukup meresap cairan.


"Cepat Liu, aku sudah tidak kuat,"kata Liam.


"Sebentar lagi, ini tinggal di area kaki mu, Liam."

__ADS_1


Setelah lantainya terasa kering seperti sedia kala, Liam dapat menggerakkan kedua kakinya kembali tanpa takut jatuh, kemudian dia menghela nafas lega. Begitu pula dengan Norin, dia bisa turun ke lantai dasar dan Suhe bisa berdiri di bantu oleh Liu dan Liam.


"Saya minta maaf gara gara saya memanggil kalian, kalian jadi celaka,"sesal Norin.


"Nyonya kenapa harus minta maaf, ini bukan salah nyonya tapi si penjebak itu."kata Liam dengan kesal. Dia merasa ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai seseorang. Namun yang di heran kan oleh Liam adalah kenapa jebakan itu berada di bawah tangga? siapa yang ingin orang itu celakai? tuan besar Hoon, nyonya besar Hoon, tuan muda Hoon, atau nyonya muda.


Ditengah mereka membicarakan lantai yang licin, ekor mata Liam melihat dua orang yang sedang melintas tidak jauh dari mereka.


"Hei, kau Ji Eun, Yuan kemari,"panggil Liam. Norin, Liu dan Suhe mengikuti arah pandangan Liam. Nampak Ji Eun dan Yuan sedang berdiri dan melihat ke arah mereka.


"Kemari kalian!" panggil Liam lagi, karena mereka masih saja diam di tempat.


Yuan melirik Ji Eun, dia sedang menatap sinis ke arah orang yang telah memanggilnya.


"Ji Eun, mereka memanggil kita." Setelah berkata, Yuan lebih dulu beranjak dan menghampiri mereka. Sementara Ji Eun dengan malas dia mengekor di belakang Yuan sembari bersedekap dada."


"Ada apa Liam kau panggil kami?"tanya Yuan, setelah dia dan Ji Eun berdiri di hadapan mereka.


"Tumben sekali kau masuk kesini?"Liam balik bertanya dengan nada menyelidik.


"Oh, aku ada keperluan dengan Ji Eun tadi,"jawab Yuan.


"Keperluan apa?"


"Apa urusan mu perawan tua cerewet?"Ji Eun menimpali Liam dengan sinis.


Liam mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang menghinanya lalu menatap tajam dan berkata," dasar ular berbisa. Kau kan yang sengaja telah membuat basah dan licin lantai itu,"tuduh Liam.


Ji Eun balik menatap nyalang Liam." Kau menuduhku perawan tua? apa kau punya bukti?"Ji Eun membela diri.


"Tidak ada bukti pun aku tau kalau itu adalah perbuatan mu Ji Eun. Karena kau satu satu nya pelayan yang tidak tau diri di rumah ini."

__ADS_1


"Brengsek kau menuduhku."Ji Eun semakin marah, dia tidak terima di tuduh oleh Liam.


,


__ADS_2