Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Merajut cinta di musim semi


__ADS_3

Di pagi hari, wanita cantik memakai lingerie berwarna marun dan rambut yang di gulung asal di atas kepalanya menambah kesan ke se xi an nya berjalan gemulai mendekati sebuah tirai besar dan lebar lalu menarik tirai itu hingga terbuka dan menampilkan pemandangan yang dapat menyejukkan matanya. Wanita itu berdiri di balik kaca besar menatap pada hamparan bermacam macam tumbuhan yang bermunculan tunas baru serta bunga bunga bermekaran.


"Indah sekali musim semi ini."Senyum mengembang di bibirnya manakala melihat burung-burung saling berkejaran serta mendengar kicauan di dahan dahan pohon.


Shin meraba raba ruang kosong di sampingnya mencari sosok yang selalu menghangatkan ranjang tidurnya namun dia tidak menemukannya. Perlahan kelopak matanya terbuka, benar saja dia tidak melihat sosok itu di sampingnya. Namun beberapa detik kemudian netra matanya tertuju pada wanita se xi yang sedang berdiri menghadap kaca besar di kamarnya. Senyum mengembang di bibirnya melihat penampilan sang istri yang begitu se xi dan dapat membuat sesuatu dibawah perutnya mengeras kembali.


"Kau nakal sekali sayang,"gumam Shin.


Kemudian Shin duduk lalu meregangkan otot ototnya yang terasa kaku setelah bertempur berkali kali tadi malam hingga subuh. Setelah ototnya terasa mengendur, ekor matanya mencari keberadaan sebuah benda sebagai pelindung kejantanannya.


Shin mendengus kesal setelah menemukan keberadaan benda yang dia cari teronggok jauh dari ranjang tidurnya.


"Isss, kenapa letak nya jauh sekali, apa aku membuangnya tadi malam?"gumam Shin, dan berusaha mengingat. Namun kemudian dia menepis ingatan itu karena menurutnya bukan hal yang penting untuk di ingat.


Shin membiarkan saja benda itu teronggok di pojokan sana karena dia sendiri malas untuk mengambilnya. Kemudian dia menyibak kan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya lalu bangkit dan berjalan ke arah wanita se xi dengan penampilan polos.


Dua buah tangan melingkar di perut ratanya dan sebuah dagu tertumpu pada bahu polosnya. Wanita itu membiarkannya saja karena dia tau suaminya lah yang sedang memeluknya.


"Kau sedang melihat apa sayang?"bisik Shin. Hembusan nafas hangat terasa di telinganya.


"Melihat pemandangan di sana, indah sekali."


"Kau menyukainya?"


Norin mengangguk.


"Tapi...bagiku penampilan istri ku ini jauh lebih indah dari pada pemandangan di luar sana."


"Kau menggoda ku?"


"Bukan aku yang menggoda mu tapi penampilanmu ini yang menggodaku sehingga adik kecil ku ini bangun lagi."


Norin mengernyitkan dahi, kemudian mengubah posisi hingga menghadap pada pria tinggi tegap itu. Setelah itu, pandangannya di alihkan ke arah bawah dan seketika itu pula dia tercengang melihat sesuatu yang menegang di bawah sana. Norin segera mengangkat wajahnya dan mendongak tinggi menatap pada wajah pria yang sedang tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Kenap....."


Bibir Shin lebih dulu membungkam mulut Norin sehingga dia tidak bisa meneruskan pertanyaannya. Norin terhanyut lalu membalas ciuman panas sang suami. Sesaat Shin melepas pagutan nya memberi ruang udara agar memasuki rongga mulut sang istri yang sudah tersengal sengal di buatnya.


"Kau harus bertanggung jawab sayang." Setelah berucap, dia menciumnya kembali tanpa memberi celah untuk istrinya bicara.


Tanpa melepas pagutan, Shin mengangkat tubuh molek itu lalu membawanya dan di tidurkan kan di atas ranjang tidur mereka. Setelah itu mereka melakukan penyatuan kembali di pagi hari dan di musim semi dengan harapan usaha yang mereka lakukan pagi ini akan membuahkan hasil.


Shin merebahkan tubuh lemas nya di samping Norin. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya setelah selesai memberikan nafkah bathin untuk sang istri. Norin mengelap keringat yang mengucur di keningnya dengan telapak tangannya.


"Maaf sayang, sudah membuatmu lelah dan menguras tenaga mu sejak tadi malam dan hingga pagi,"ucap Norin.


"Kenapa harus meminta maaf, kita sama sama enak bukan,"jawab Shin sembari tersenyum menggoda. Sementara Norin memalingkan wajah malunya.


Setelah itu, Shin meletak kan pipi nya di perut rata dan polos Norin. Mengelus dan menciuminya hingga membuat Norin kegelian. Sebuah kebiasaannya setelah selesai melakukan penyatuan.


"Hai, baby...cepat lah tumbuh di rahim mama mu, kami sudah tidak sabar menanti kehadiran mu nak."


Setetes air mata lolos dari sudut matanya. Belum sempat Norin menghapusnya Shin lebih dulu melihatnya. Shin menjadi merasa bersalah telah mengingat istrinya tentang seorang anak.


Norin menggeleng pelan." Tidak apa apa, im okey," ucap nya. Shin menyeka air matanya dan mengecup keningnya.


"Sayang, sabar ya! yakin lah kita pasti bisa memiliki seorang baby, cepat atau lambat dan aku yakin itu." Setelah berkata Shin membawa wajah sang istri kedalam dekapan nya.


Di meja makan.


Tuan besar serta nyonya Hoon sedang menunggu Shin dan Norin untuk sarapan bersama seperti biasa. Terutama tuan besar Hoon yang nampak gelisah karena dua orang yang mereka tunggu belum saja menampakan batang hidungnya.


"Bisa kah kita sarapan lebih dulu? aku sudah lapar," kata nyonya besar Hoon, dia kesal melihat suaminya yang hanya duduk diam dan sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Tunggu sebentar lagi,"ucap tuan besar.


Nyonya besar berdecak."Jika mereka tidak ikut sarapan apa kita tidak akan sarapan juga?"

__ADS_1


Tuan besar menghela nafas berat lalu memanggil pelayan yang sudah puluhan tahun bekerja dengannya.


"Liu...!"


"Iya, tuan," sahut Liu yang sedang berdiri di belakangnya.


"Cepat kau panggil Hoon dan istrinya dan katakan padanya aku menunggunya?"titah tuan besar.


"Baik tuan."Liu menuruti perintah tuan besar untuk memanggil tuan serta nyonya muda yang masih saja belum turun. Liu senang, dia merasa tuan besar sudah mulai menunjukan perubahan sikap baik pada nyonya muda meskipun dikatakan masih sangat kecil. Namun Liu berkeyakinan bahwa lambat laun sang tuan pasti akan menerima nyonya muda sebagai seorang menantu seutuhnya.


Suara ketukan pintu terdengar saat Shin baru selesai mengeringkan rambut basah Norin. kemudian Shin memencet tombol pintu setelah dia melihat di layar monitor terlebih dahulu.


Norin segera menutupi rambutnya dengan hijab panjang dan hanya menampakkan wajah cantiknya saja.


Liu berjalan sedikit tergesa mendekati Shin dan Norin.


"Selamat pagi tuan dan nyonya muda!"sapa Liu dengan nafas tersengal sengal.


"Ada apa bibi?" tanya Shin, dia merasa heran tidak biasanya pelayan itu masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan nafas tersengal sengal.


Liu menetralisir nafas nya terlebih dahulu, setelah merasa normal dia mulai berkata.


"Tuan besar sudah menunggu tuan serta nyonya muda di meja makan sejak dari tadi."


Shin dan Norin saling pandang, setelah itu pandangan mereka di alihkan kembali pada Liu.


"Katakan pada Daddy, pagi ini kami tidak akan sarapan bersama mereka," kata Shin.


Norin memegang lengan Shin."Ehm, bibi, tolong katakan pada Daddy kami akan segera turun," ucap Norin, dia tidak sependapat dengan sang suami karena menurutnya ini kesempatannya untuk mendekatkan diri pada mertuanya.


Shin melirik."Apa kamu yakin? aku tidak ingin kamu merasa sakit hati lagi jika makan bersama mereka."


"Tidak sayang, justru ini kesempatan aku untuk mendekatkan diri pada mereka."

__ADS_1


"Kau yakin?"tanya Shin memastikan.


Norin mengangguk.


__ADS_2