
Norin memperhatikan wajah Shin yang dalam keadaan terpejam namun berucap. Semakin lama di perhatikan semakin tak ada lagi pergerakan bibirnya melainkan hanya terdengar dengkuran halus. Norin berfikir mungkin Shin sedang mengigau.
Perlahan Norin melepaskan tangan Shin dari atas perutnya agar Shin tidak terusik lalu ikut terbangun. Sungguh dia belum siap untuk berbicara dengannya.
Setelah terlepas dari perutnya, Norin menjauhkan tubuhnya sehingga diantara mereka menyisakan ruang satu meter di tengah-tengahnya.
Dalam keadaan mata terpejam Shin meraba ruang kosong di sampingnya. Dia tidak menemukan sosok tubuh yang menghangatkan tidurnya. Setelah itu, Shin mengejapkan matanya perlahan dan setelah terbuka lebar, benar saja tidak ada sosok tubuh itu disampingnya melainkan berada di tepi ranjang dalam keadaan posisi membelakanginya.
Shin menatap punggung yang masih terbungkus rapat itu dengan perasaan sedih. Biasanya Norin selalu tidur dibawah ketiaknya dengan penampilan se xi namun tidak dengan malam ini.
Norin bangun lalu meraih jam weker di atas nakas tepat di atas kepalanya, weker itu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Norin mengusap wajahnya, dia hampir saja melupakan kewajibannya setelah tertidur sehabis magrib. Setelah itu, dia segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Shin yang sedang pura pura tidur sudah paham apa yang akan di lakukan oleh Norin karena Shin sendiri tahu bahwa Norin adalah wanita yang taat beribadah. Shin ikut bangkit lalu menyusulnya ke kamar mandi.
Ketika Norin baru selesai mengambil air wudhu, dia di kejutkan oleh sosok suaminya yang sedang berdiri di belakangnya.
"Maaf, aku..aku juga belum melaksanakan sholat isya,"ucap Shin, merasa canggung.
Norin tidak menghiraukan Shin melainkan melangkah meninggalkan nya. Namun ketika sudah berada di ambang pintu Shin memangilnya.
"Sayang!"
Norin terdiam namun tidak menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Apa..kamu mau menunggu ku untuk sholat berjamaah?" Kalimat tanya itu membuat Norin tak bisa menolaknya karena ibadah berjamaah pahalanya lebih besar apalagi yang memintanya adalah suaminya sendiri.
Tanpa ragu Norin mengangguk kemudian berlalu.
Bak gayung bersambut, senyum mengembang di bibir Shin. Dia senang sekali karena Norin tidak menolak ajakannya. Shin pun bergegas mengambil air wudhu dengan khusuk.
Shin kembali dari kamar mandi, Nampak Norin sedang duduk menunggunya di atas sajadah. Dia menoleh ke arah ranjang tidur nampak baju Koko serta sarung tergeletak di atas ranjang itu. Semuanya sudah di siapkan oleh Norin sebelumya.
"Aku sudah siap sayang,"kata shin di samping nya dan sembari membenarkan lipatan sarung.
Norin hanya mengangguk saja tanpa melihat ke arah Shin. Setelah itu ibadah pun mulai di laksanakan dengan khusuk. Shin sebagai imam dan Norin sebagai makmum.
Setelah ibadah selesai di laksanakan Norin langsung membenahi peralatan sholatnya tanpa mencium tangan Shin terlebih dahulu, suatu kebiasaan ketika mereka selesai mengerjakan ibadah berjamaah. Shin memperhatikan gerak gerik Norin dengan perasaan sedih. Ini pertama kalinya dia di diamkan oleh sang istri setelah tujuh bulan usia pernikahan mereka.
Setelah itu, Norin merebahkan tubuhnya kembali di tepi ranjang dan memejamkan matanya meskipun sebenarnya tidak lagi mengantuk.
Shin duduk di tepi ranjang tepat di samping Norin yang sedang tidur miring.
"Kita melewatkan makan malam kita, apa kamu tidak lapar sayang?" Shin membuka pembicaraan, dia tau Norin belum tidur meskipun matanya terpejam. Oleh karena itu dia mengajaknya bicara.
Hening..
Norin tak merespon pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku..aku lapar sekali. Aku takut magh ku kembali kambuh jika tidak makan."Shin terpaksa berbohong, dia ingin sekali Norin meresponnya.
Meskipun matanya tertutup tapi telinganya mendengar apa yang sedang Shin ucapkan. Norin membuka kedua kelopak matanya. Walau bagaimana pun perasaannya saat ini pada Shin, dia tidak boleh mengabaikan kewajiban nya sebagai seorang istri, apalagi Shin mengaku memiliki penyakit magh dan Norin tidak ingin Shin sakit.
Norin bangun lalu menurunkan kedua kakinya di atas lantai dan memakai sepasang sandal.
"Biar aku mempersiapkan makanan untuk mu dulu." Setelah berucap, dia bergegas pergi tanpa menunggu sahutan dari Shin.
Senyum mengembang di bibir Shin melihat Norin bangkit dan berjalan keluar kamar, kemudian dia mengekor di belakangnya.
Setelah menginjak kan kedua kakinya di lantai dasar, rumah besar itu nampak sepi dan tidak ada satu pun pergerakan orang orang di rumah besar itu karena jam sudah menunjuk kan pukul setengah sebelas dan semua pelayan sudah istirahat di kamar mereka masing-masing. Norin melanjutkan langkah nya menuju dapur, di sana pun tak nampak bibi Liu.
Norin mulai menyibukkan diri memasak di kitchen set. Shin hanya memperhatikannya dari belakang. Ingin rasanya dia memeluk tubuh itu namun entah mengapa dia merasa segan.
Setengah jam kemudian masakannya selesai dan siap di hidangkan. Norin membawa makanan itu satu persatu dan meletak kan di atas meja, sementara Shin hanya memperhatikan nya saja.
Tangan Norin sibuk melayani, meletak kan makanan ke atas piring Shin namun bibirnya bungkam tak sepatah kata pun kalimat yang keluar dari bibirnya. Dan Shin hanya memperhatikan nya saja. Setelah meletak kan piring berisi makanan di hadapan Shin, Norin duduk di samping Shin tanpa ikut makan bersamanya.
"Kamu tidak mau makan?"tanya Shin membuka pembicaraan.
Norin menggeleng."Aku tidak lapar."
Shin menghela nafas."Aku tidak percaya jika kamu tidak lapar. sayang, aku mohon meskipun kamu marah padaku makan lah aku tidak ingin kamu sakit. Lagi pula kamu masak sebanyak ini siapa yang akan memakannya? kau tau, Aku pernah di beri tahu oleh teman pada saat di pesantren Abah dulu. Dia bilang kita tidak boleh membuang buang makanan karena itu sama saja hal nya dengan orang yang tidak memiliki rasa bersyukur padahal di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan."
__ADS_1
Norin mencerna kalimat panjang yang terlontar dari mulut Shin, dia memasak tiga menu itu hanya untuk menghormati suaminya bukan untuk membuang nya. Karena Norin tidak pernah membuang sisa makanan. Jika makanan tidak habis Norin akan menyimpan nya dan akan menghangat kan keesokan harinya lalu di makan olehnya. Shin tak pernah tau jika hampir tiap hari Norin hanya memakan makanan sisa makan malam yang tidak habis ketika dia sedang tidak ada di rumah. Meskipun sering kali Liu melarang nya untuk memakan makanan sisa namun Norin memberi pengertian padanya hingga Liu mengerti.
Tanpa banyak bicara Norin menuruti keinginan Shin untuk ikut makan bersamanya.