
Norin membawa sebuah nampan berisi satu gelas jus apel segar di atasnya dengan langkah yang lebar serta hati hati agar minuman itu tidak tumpah oleh gerakan jalanya yang cepat. Karena jika hal itu terjadi maka dia harus membuatnya kembali dan itu cukup akan menyita waktu sehingga dia tidak dapat mengerjakan ibadah sholat. Norin memilih menaiki lif sebagai akses menuju kamar nyonya Hoon, dia fikir selain agar lebih cepat dan mudah sampai di lantai dua, letak kamar nyonya besar Hoon tidak jauh dari lif tersebut.
Ketika Norin berjalan menuju pintu lif itu, dia berpapasan dengan tuan besar Hoon dan secara kebetulan akan menuju lif tersebut. Norin membungkuk kan punggungnya dan menyapa sang ayah mertua, namun pria paruh baya itu hanya memancarkan wajah dingin saja. Norin pikir setelah membuatkan sebuah sandwich untuknya tadi pagi hatinya akan melunak dan berubah sikap padanya, namun ternyata sandwich itu tidak berpengaruh sama sekali.
Norin diam mematung. Dia membiarkan tuan besar lebih dulu memasuki lif itu, dia akan menaikinya setelah lif itu mengantar kan tubuh tuan besar Hoon terlebih dahulu ke atas. Setelah tuan Hoon memasuki lif itu, pintu lif itu belum saja di tutup karena tuan besar Hoon sendiri telah menahannya. Dia menatap datar pada sang menantu yang berdiri mematung serta menunduk saja.
"Hei, kenapa kau diam dan berdiri saja di situ? cepat masuk," titah pria paruh baya itu dengan nada sedikit tegas.
Norin mendongak dan tercengang, dia tidak menyangka sang ayah mertua menyuruh nya untuk memasuki lif yang sama dengannya. Norin pun tidak ingin membuang waktu lagi karena dia sendiri di buru oleh waktu. kemudian dia melangkahkan kakinya memasuki lif itu sembari memberikan sebuah senyuman singkat pada sang mertua meskipun wajah tuan besar Hoon terlihat datar saja padanya.
Di dalam lif, Norin menundukkan pandangannya saja dan sedikitpun dia tidak menoleh bahkan mengajak ngobrol sang ayah mertua begitu pula dengan tuan besar Hoon yang diam dan memancarkan wajah datar saja.
Setelah pintu lif terbuka, Norin membiarkan sang ayah mertua keluar lebih dulu dan selanjutnya dia akan mengekor di belakangnya nanti, pikirnya. Tuan besar Hoon melangkah keluar dari lif lalu di ikuti oleh Norin dari belakang hingga sampai pada sebuah pintu yang di duga merupakan pintu kamar tuan serta nyonya besar Hoon.
Norin menghentikan langkahnya dan berdiri di depan pintu. Dia tidak berani ikut masuk kedalam kamar itu sebelum pemilik kamar tersebut mempersilahkannya masuk. Norin pikir tuan Hoon akan segera menutup pintu itu, namun di luar dugaannya pintu itu di biarkan terbuka lebar olehnya. Dia bingung antara ikut masuk atau tetap berdiri di luar hingga sang pemilik kamar mempersilahkannya masuk. Di tengah kebingungannya, tuan besar Hoon memunculkan tubuhnya di pintu itu kembali dan menatap datar ke Norin.
"Kenapa kau masih berdiri di situ? bukan kah kau membawakan minuman itu untuk istriku?"tanya tuan besar Hoon.
Norin mengangguk."Be..benar tuan," ucap norin dengan gugup.
"Masuk,"titah nya.
kemudian dengan perasaan gugup dan menunduk Norin melangkah memasuki kamar itu melewati tuan besar Hoon yang sedang berdiri di samping pintu dan memperhatikan nya.
__ADS_1
Setelah berada di dalam ruang pribadi milik tuan serta nyonya besar Hoon, ekor matanya mengitari ruangan besar dan mewah itu mencari sosok nyonya besar Hoon namun dia tidak menemukanya.
Tuan besar Hoon yang memperhatikan gerak gerik Norin mengerti bahwa sang menantu sedang mencari istrinya kemudian dia pun bertanya.
"Kau mencari istri ku?"
Norin yang merasa di tanyai oleh sang ayah mertua menoleh padanya dan setelah itu dia menundukkan pandangannya menghindari tatapan tuan besar Hoon."Iya dad," jawabnya kemudian.
"Sepertinya istriku sedang mandi, kau letakkan saja minuman itu di atas meja sana," kata tuan besar Hoon, menunjuk sebuah meja bundar yang terletak di tengah sofa panjang.
Norin mengikuti arah telunjuk tuan besar Hoon kemudian dia mengangguk menuruti perintahnya. Setelah meletak kan jus apel segar itu, dia berjalan ke arah tuan besar Hoon dan berdiri di hadapannya.
"Saya permisi dulu dad,"pamit Norin kemudian membungkukkan sedikit punggung nya lalu beranjak pergi dengan wajah tetap menunduk.
"Kenapa dia selalu menunduk ketika berbicara denganku? bahkan hingga saat ini saja aku tidak tau bagaimana warna matanya."Tuan besar Hoon bergumam. Dia merasa heran karena tidak pernah melihat sang menantu memasang wajah tegap ketika berbicara dengannya dan lebih cenderung menunduk. Menunduk dalam arti bukan karena merasa takut padanya melainkan ada sesuatu yang dia hindari dan itu cukup membuat tuan besar Hoon penasaran.
"Warna mata siapa yang ingin kau lihat, Yeun?" tanya nyonya besar, setelah dia kembali dari kamar mandi dan mendapati suaminya berbicara sendiri.Tuan besar melirik pada wanita yang baru saja terlihat olehnya. Nampak wanita itu memakai kimono pendek dan rambut yang di gulung dengan handuk menambah kesan se xi wanita berusia di atas lima puluh tahun itu. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah meja yang terdapat sebuah gelas berisi jus apel. Nyonya Hoon mengikuti arah pandangan suaminya yang tertuju pada sebuah meja. Dia mengernyitkan dahi nya setelah melihat apa yang ada di atas meja itu.
"Oh, jadi wanita itu....sudah membawakan apa yang aku minta,"ucapnya datar, kemudian berjalan ke arah meja itu dan mengambil gelas panjang tersebut. Dia menelisik sembari memutar mutar gelas itu di depan kedua matanya lalu menyunggingkan sebelah bibirnya.
Setelah itu, nyonya besar Hoon melangkah sembari membawa gelas itu ke arah kamar mandi.
"Mau dimana kemana minuman itu?"tanya tuan besar besar, dia merasa heran kenapa istrinya itu tidak langsung meminumnya melainkan hanya menatapnya saja dan hendak membawanya ke kamar mandi.
__ADS_1
Nyonya besar Hoon menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menjawab pertanyaan suaminya."Kau tau, aku tidak benar benar ingin meminum jus, apa lagi hasil buatan wanita itu."
"Lantas kenapa kau menyuruhnya?"
"Aku hanya ingin mengerjainya saja, ha ha."
"Terus mau kau apakan minuman itu?"
"Mau aku buang ke dalam toilet."
Tuan besar Hoon menggoyang pelan kepalanya lalu berjalan ke arah istrinya. Setelah itu, dia merebut gelas berisi jus apel itu dengan paksa kemudian meneguknya hingga tandas tanpa sisa. Perbuatanya sontak saja membuat nyonya besar Hoon membesarkan mata sipitnya, dia tidak menyangka suaminya sendiri telah meminum jus buatan wanita yang mereka benci selama ini.
"Kenapa kau meminumnya, Yeun?"tanya nyonya besar Hoon dengan kesal.
"Aku haus, dari pada kau buang lebih baik aku meminumnya,"kata tuan besar dengan santai.
"Apa kau tidak takut bagaimana jika dia menaruh racun di minuman itu?"
"Aku rasa dia tidak akan berani melakukan itu."
"Who knows!"
Tuan besar Hoon tidak membalas ucapan istrinya kembali melainkan dia pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Nyonya besar Hoon menatap punggung suaminya dengan kesal sekaligus heran. Dia merasa akhir-akhir ini sikap suaminya cenderung berubah ubah dan tidak konsisten serta pemikirannya tidak lagi selaras dengannya. Bahkan jika di perhatikan suaminya pernah beberapa kali membela wanita yang sangat di bencinya itu.