
Ji Eun mengepalkan kedua tangannya menatap kesal pada punggung pria yang sedang berjalan meninggalkan nya dengan keadaan basah kuyup dan lengket akibat perbuatannya. Dia benar-benar merasa kesal telah di rendah kan oleh pria yang selama ini mengisi pikiran nya. Bukan saja karena ketampanan Shin yang membuat Ji Eun tertarik padanya tapi juga Shin merupakan seorang pewaris tunggal kekayaan Hoon. Oleh karena itu, dia berambisi untuk mendapatkan nya.
"Lihat saja, aku tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan mu. Dan aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan bertekuk lutut di hadapan ku." Ucap Ji Eun dengan penuh percaya diri.
"Hua ha ha ha !" Suara tertawa menggema di rumah besar itu.
Ji Eun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara itu. Nampak Liu dan Liam berjalan ke arahnya sembari tertawa terbahak bahak.Tanpa Ji Eun sadari, cukup lama Liu dan Liam memperhatikan kemarahan Shin padanya hingga mendengar ucapan kasar nya dengan jelas. Seketika itu pula pupil mata Ji Eun membesar setelah melihat siapa yang menertawakan nya dengan amat puas. Bagaimana Ji Eun tidak terkejut, dia di tolak mentah-mentah bahkan di perlakukan dengan amat kasar oleh Shin di depan dua orang pelayan yang selama ini selalu berseteru dengan nya terlebih dengan Liam. Karena kejadian ini dia merasa wibawanya sebagai seorang pelayan dengan level tertinggi dari pada mereka jatuh seketika.
"Pelayan tetap lah pelayan dan tidak akan pernah berubah menjadi seorang cinderella karena cinderella hanya ada di cerita dongeng untuk orang yang sering kali berkhayal seperti mu...ha ha ha. Memalukan sekali bukan, Liu?" Liam dengan amat sangat puas melihat Ji Eun di perlakukan demikian oleh Shin. Dan dia pikir ini kesempatan nya untuk menguliti habis pelayan sombong dan arogan itu.
"Benar sekali. Jika aku berada di posisi seperti dia mungkin aku akan lebih memilih menghilang dari pada di tonton oleh orang orang yang kerap kali di hina dan di pandang rendah olehnya." Sindir Liu. Dia pun sama seperti Liam yang begitu senang melihat Ji Eun di perlakukan kasar oleh Shin. Liu kesal dia sama sekali tidak membenarkan atas perbuatan Ji Eun telah berani merayu sang tuan yang sudah memiliki seorang istri sebaik dan sesempurna nyonya muda. Liu berharap setelah kejadian ini Ji Eun berubah menjadi orang yang memiliki sikap lebih baik lagi.
Sementara itu, Ji Eun menelan saliva nya dengan susah payah. Tidak ada kata kata yang bisa di ucapkan untuk melawan atau menyangkal ejekan ke dua rekan kerjanya. Sebab, apa yang shin lakukan padanya sama hal nya seperti membuang kotoran ke wajahnya hingga dia merasa tidak memiliki muka untuk di tunjukan pada ke dua pelayan itu. Kedua tangannya mengepal, gigi nya bergemeletuk. Setelah itu, dia menghentak kan kaki nya di atas lantai lalu pergi begitu saja membawa amarah dan kebencian terhadap kedua orang yang sedang mengulitinya.
"Percaya diri sekali dia berani menggoda tuan muda. Masih beruntung hanya di siram dengan air wine. Bagaimana jika di siram dengan air keras." Liu menggerutu di saat Ji Eun sudah pergi dari hadapan mereka.
"Ha ha ha rasakan kau Ji Eun. Mimpi nya terlalu tinggi untuk mendapatkan tuan muda. Bukan nya mendapat kan hatinya justru mendapat siraman wine dan caci maki nya. Memalukan sekali." Ucap Liam. Dia merasa sangat puas atas apa yang terjadi pada Ji Eun.
Shin memasuki kamarnya dengan perasaan sangat kesal pada." Dasar pelayan sialan berani sekali menggoda ku. Andai saja dia bukan pelayan kesayangan mommy sudah ku tendang dari rumah ini." Umpat Shin dengan amat kesal.
"Tapi...apa itu cara tuhan menegurku agar aku tidak meminum wine lagi? astaghfiruallah hal adzim." Shin mengusap wajahnya, dia menyesali ke khilafah yang hampir saja terjadi.
__ADS_1
Shin berdiri di tempat favorit Norin ketika bangun di pagi hari, melihat burung beterbangan atau bunga bunga bermekaran ketika di musim semi. Kedua tangannya di tengger kan di atas pinggangnya lalu menatap jauh di kegelapan melalui kaca besar yang terdapat di kamarnya.
"Kenapa aku begitu rapuh tanpa mu sayang hingga minuman yang di larang oleh agama kita saja akan aku sentuh lagi. Ini baru satu hari dua malam aku kehilangan mu, bagaimana jika kamu benar benar pergi meninggalkan aku. Aku...aku mungkin tidak akan mampu menjalani hidup ini sendirian."
Di tengah menatap kegelapan malam tiba tiba Shin tersadar dan mengingat sesuatu yang belum dia kerjakan."Astaghfiruallah...aku..aku belum sholat isya." Kemudian bergegas beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dia hampir saja melupakan ibadah isya sebelum beranjak tidur. Shin pikir pantas saja pikirannya sangat kacau ternyata dia belum melaksanakan sholat isya.
Keesokan hari dan di pagi hari.
Liu menatap heran pada penampilan tuan besar Hoon yang sedang berjalan ke arahnya. Memakai celana pendek serta kaos putih padahal hari ini merupakan hari kerja bukan hari libur. Di tengah keheranan Liu, tuan besar memberikan senyuman yang tak biasa padanya, Liu pun membalas senyuman itu.
"Selamat pagi Liu!" sapa tuan besar sembari menggeser kursi untuk di duduki olehnya.
Tuan besar memperhatikan Liu yang sedang sibuk dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya. Sesekali Liu melirik nya. Liu benar benar di buat heran oleh sikap aneh tuan besar.
"Emm, tuan. Apa hari ini tuan tidak bekerja?" Liu memulai pembicaraan sekaligus menyadarkan nya agar dia tidak terus menerus menatap nya seperti itu.
"Oh, iya saya tidak bekerja. Hari ini akan ada relasi penting yang akan datang kemari untuk bermain golf."
Liu manggut-manggut kecil mendengar penjelasan tuan besar.
"Emm Liu, apa kamu melihat Hoon sudah turun dari kamarnya?"
__ADS_1
"Belum tuan, saya belum melihat tuan muda. Apa saya panggilkan sekarang agar bisa menemani tuan sarapan?"
"Em, tidak usah Liu. Aku tidak ingin membuat mu lelah harus naik turun tangga."
Kedua alis Liu saling bertautan. Tak biasanya dia mendapat respon demikian dari tuan besar selama bekerja puluhan tahun dengannya. Hal ini cukup membuat Liu heran atas sikap tuan besar yang tidak biasa.
"Kau..temani aku sarapan saja." Ucap tuan besar sembari menatap Liu dengan tatapan yang tidak dapat di artikan olehnya.
"Tapi....maaf tuan. Sebelum nya terima kasih atas penawaran tuan. Tapi...emm saya sudah sarapan di dapur tadi." Liu terpaksa berbohong karena dia tidak ingin di perlakukan berlebihan oleh sang majikan. Sebab, hal itu bisa saja mengundang rasa iri pelayan yang lain.
Tuan besar memajukan bibir bawahnya mendapat penolakan dari Liu. Biasanya seorang pelayan akan merasa terbang tinggi ketika di perlakukan istimewa oleh sang majikan tapi hal itu tidak berlaku untuk Liu. Bahkan dari dulu Liu tidak pernah menggodanya meskipun dia tau bagaimana sikap nyonya besar pada tuan besar.
Liu merupakan satu satu nya pelayan yang sangat setia melayani keluarga Hoon semenjak Liu masih seorang gadis remaja. Bahkan dia rela berpisah dengan mantan suaminya demi tidak ingin meninggalkan keluarga Hoon. Karena menurut Liu, dia berhutang nyawa pada mendiang kakek Hoon yang telah menyelamatkan nya serta keluarganya dari kebakaran yang menimpa rumah kecil milik keluarga pada saat itu. Meskipun nyawa sang adik tidak dapat tertolong serta luka parah pada kedua orang tuanya dan membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit dan kakek Hoon lah yang membiayai semua itu meskipun pada akhirnya orang tuanya ikut meninggal.
Liu menjadi hidup sebatang kara. Kakek Hoon membawa nya untuk tinggal bersama dengannya. Sebagai balas budinya pada kakek Hoon dia mengabdikan diri sebagai pelayan nya. Saat itu Liu sempat menikah namun itu tidak berlangsung lama. Karena saat itu mantan suami Liu menyuruhnya untuk tidak lagi bekerja pada kakek Hoon namun Liu tidak ingin meninggalkan kakek Hoon yang sudah tua dan hidup seorang diri.
Namun setelah kakek Hoon meninggal, tuan besar Hoon yang di tinggal terpisah dari kakek Hoon pun membawa Liu ke rumah besar nya dan tinggal bersama nyonya besar serta tuan muda yang saat itu masih sangat belia.
"Liu, aku, aku ingin...."
"Good morning dad, bibi Liu!" sapa Shin yang tiba tiba datang dan sekaligus memutus ucapan yang belum sempat di lontarkan oleh tuan besar pada Liu.
__ADS_1