
Di ruang kerja yang cukup besar, Shin beralih alih posisi duduk dan entah mengapa hari ini dia merasa tidak bisa fokus bekerja seperti ada hal yang mengganggu pikirannya.
Di tengah kegelisahannya Shin mencoba menghubungi Norin untuk memastikan jika dia baik baik saja namun sayangnya nomer yang di tuju sedang tidak aktif.
"Kenapa tidak aktif?" Gumam Shin. Dia heran tak biasanya Norin mematikan ponselnya. Dia mencoba menghubungi nya kembali namun tetap saja nomer itu dalam keadaan tidak aktif.
"Apa kau begitu marah padaku sampai ponsel mu saja tidak aktif?"Shin bermonolog.
Di tengah memijit kecil keningnya, seorang pria muda tiba tiba masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Shin menoleh pada pria yang sedang berjalan ke arahnya dan menatapnya datar." Mau apa kau kemari, Kim? sepertinya aku tidak menyuruhmu untuk menemui ku saat ini."Ucap Shin ketus.
"Maaf tuan, saya kemari hanya ingin mengingatkan anda bahwa sebentar lagi kita ada pertemuan penting dengan..." Tiba tiba Shin mengangkat telapak tangannya memberi aba aba agar pria itu berhenti bicara dan dia pun seketika terdiam.
"Sepertinya aku tidak bisa Kim, tolong kau saja yang bertemu dengan mereka."Ucap Shin, dia menolak menghadiri pertemuan penting itu. Dalam keadaan gelisah seperti saat ini rasanya percuma dia menghadiri acara pertemuan itu karena dirinya tidak akan bisa fokus.
"Tapi tuan, pertemuan kali ini tidak bisa di wakilkan oleh saya sendiri melainkan harus anda sendiri yang menemui nya tuan jika tidak mereka bisa membatalkan kerja sama dengan kita."
"Kau sudah berani membantahku? kenapa sekarang kau jadi pria cerewet, Kim."Ucap Shin, dengan suara di naik kan satu oktaf serta tatapan tajam.
Kim menelan saliva nya. Jika sudah seperti ini dia tidak berani lagi membantah kemauan bos nya itu.
"Maaf tuan, saya permisi." Kim memilih untuk undur diri daripada berdebat dengan pria yang selalu ingin di turuti kemauannya.
"Aku harap kau tidak kembali lagi ke ruangan ku, Kim."Ucap Shin dengan suara tinggi.
Sambil berjalan ke arah pintu keluar Kim geleng-geleng kepala saja melihat sikap bos nya yang sudah seperti bunglon selalu berubah ubah sikap.
Setelah kepergian asisten pribadinya dari ruangannya, Shin kembali mencoba menghubungi nomer norin namun tetap saja tidak bisa di hubungi olehnya.
"Semarah apa pun dia padaku, tidak biasanya dia mematikan ponselnya. Apa aku pulang sekarang saja."
Kemudian Shin bangkit dan bergegas meninggalkan ruangannya. Ketika Shin baru keluar Tuan besar sudah berdiri tegak tepat di depan pintu ruangannya dan di belakangnya sedang berdiri pula asisten nya Kim.
"Dad!" Shin sedikit terkejut tiba tiba di datangi oleh pemilik saham terbesar di nobland group itu. Kemudian mengalihkan pandangan nya dan menatap kesal pada pria yang baru saja di bentak olehnya. Kim terperangah di tatap demikian oleh bos arogan nya, dia menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Apa kau telah mengadu pada ayahku?"Tanya Shin pada Kim.
"Tidak perlu kau menyalahkan orang lain, Hoon. Dia tidak mengadu tapi aku sendiri yang bertanya padanya." Kata tuan besar hoon membela Kim. Seulas senyum tipis nyaris tak terlihat tersungging di bibir Kim.
Shin menghela nafas besar." I'm sorry dad, hari ini aku benar benar tidak bisa fokus. Aku hanya takut kehadiran ku nanti hanya akan membuat kekacauan. Please dad, untuk kali ini saja please."
Tuan besar Hoon terdiam, dia merasa saat ini sang putera sedang tidak nampak baik baik saja seperti ada sesuatu yang terjadi padanya.
"What happen?"
Shin menghela nafas."Tidak biasanya ponsel istriku tidak dapat di hubungi."Ucap nya lirih.
Tuan besar berdecak kesal."Ck, hanya karena wanita lemah itu sampai kau tidak ingin menghadiri pertemuan penting yang akan mendatangkan keuntungan besar untuk perusahaan ini?"ledek tuan besar.
"Istriku jauh lebih penting daripada keuntungan itu dad."Ucap Shin lantang dan tegas serta sorot mata yang sangat tajam hingga menusuk jantung yang di tatapnya.
"Istriku sangat penting dari pada apa pun di dunia ini dad. Bahkan istriku lebih menguntungkan ku dan masa depan ku." Shin mengulang kalimatnya dan setelah berkata dia bergegas pergi meninggalkan sang ayah yang hanya diam membisu.
"Tuan besar, bagaimana dengan meeting itu?" tanya Kim setelah kepergian Shin.
"Baik tuan."
Shin keluar dari gedung menjulang tinggi itu dengan ekspresi sedingin es. Dia kesal pada sang ayah, pada asisten nya dan juga pada istrinya yang sulit sekali di hubungi. Tak sedikit pekerja yang memperhatikan serta menyapa nya namun tak sedikit pula dari mereka yang merasa ketakutan dan memilih pura pura tidak melihat nya.
"Kita hendak kemana tuan?" tanya seorang sopir yang mengemudi.
"Home."
"Baik tuan."
Sang sopir pun melajukan mobilnya menuju rumah besar keluarga Hoon.
Tiba di depan rumah besar itu sang sopir segera membukakan pintu mobil untuk Shin dan setelah keluar Shin segera memasuki rumah itu tanpa melihat ke arah kanan kiri nya bahkan sapaan dari beberapa pelayannya tidak dia hiraukan.
Tiba di kamar dia tidak menemukan keberadaan Norin. Kamar itu nampak sepi dan lengan. Setelah tidak menemukan keberadaan sang istri, dia bergegas turun menuju lantai dasar.
__ADS_1
"Bibi Liu!" teriakan Shin menggema memanggil nama Liu di rumah besar itu.
"Bibi Liu!" Dia lebih mengeraskan lagi suaranya karena orang yang dia panggil tidak kunjung datang padanya.
Sementara di dapur.
"Liu, apa kau dengar suara tuan muda memanggilmu?" Samar samar Liam mendengar suara Shin tengah memanggil nama rekan kerjanya yang sedang sibuk mengiris bawang.
Liu menajamkan pendengarannya." Kau benar Liam, nampak nya tuan muda memanggil ku."Ucapnya setelah mendengar dengan jelas.
"Lebih baik kau datangi dia terlebih dahulu Liu." Liam menyarankan agar Liu cepat menemuinya.
"Aku, aku takut jika tuan muda akan mempertanyakan keberadaan nyonya muda Liam. Aku harus menjawab apa nanti."
"Apa kau yakin dia akan mempertanyakan keberadaan nyonya muda?"
"Aku yakin sekali karena setau ku nyonya muda memberitahu tuan muda akan pergi denganku."
"Kalau begitu kau berterus terang saja padanya apa yang terjadi sebenarnya. Dia pasti tidak akan marah jika kau tidak bersalah. Lagi pula dia tidak pernah marah padamu bukan?"
"Ah ya, kau benar. Kalau begitu aku pergi dulu Liam. Tolong kau bantu aku iris bawang ini." Liu meletak kan pisau.
"Baiklah aku akan membantumu. Kau pergilah."
Liu berjalan tergopoh gopoh menghampiri Shin yang sedang berkacak pinggang.
"Tu..tuan muda sudah pulang. Maaf saya...."
"Bibi, apa kau tau dimana keberadaan istriku?" Shin memotong ucapan Liu lalu mempertanyakan keberadaan Norin.
"Maaf tuan saya tidak tau dimana keberadaan nyonya besar."
"Bagaimana bibi tidak tau bukan kah dia pergi bersama bibi ke super market?"
Akhirnya Liu menceritakan bahwa dirinya tidak jadi ke market dan setelah kembali dari kamar nyonya besar Liu tidak menemukan dimana keberadaan nyonya muda lagi.
__ADS_1