
"Apa kau yakin Yoona ada kaitan nya dengan kehilangan istriku?" Tanya Shin serius.
Han menggaruk kecil keningnya." Aku hanya menduga saja. Tidak masalah bukan jika kita mencurigainya apalagi dia masih menginginkan mu. Aku sudah katakan tadi kalau dia akan melakukan apa saja demi mendapatkan mu kembali."
"Ternyata kau tau banyak tentangnya, dokter Han. Bahkan dia masih menginginkan aku saja kau tahu. Apa sedekat itu hubungan mu dengannya?"
"Hei, kau ini bicara apa? aku seorang dokter begitu pula dengannya. Kami juga bekerja di rumah sakit yang sama. Jadi wajar saja jika aku tau bagaimana dia padamu."
Shin tersenyum miring." Benar kah? well, Its not a problem.
Di saat Shin dan Han berbincang seketika itu pula suara ketukan pintu terdengar. Han menoleh ke arah pintu sementara Shin menyenderkan punggung nya dan menatap langit langit.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang masih banyak pasien yang sedang menunggu ku di rumah sakit." Setelah berucap Han berdiri dan mengambil tas yang di letak kan di atas meja." Semoga kau cepat menemukan keberadaan istrimu, tuan Hoon." Shin tidak menghiraukan ucapan Han, dia sibuk dengan pikirannya bahkan menoleh pun tidak.
Ketika Han membuka pintu, nampak Liu sedang berdiri dan memegang sebuah nampan di kedua tangannya.
"Selamat pagi, tuan Han!" Sapa Liu sembari memberikan senyuman pada pria itu. Namun Han hanya mengangguk kecil lalu beranjak pergi begitu saja dari hadapan Liu. Liu geleng-geleng kepala melihat punggung pria yang bersikap dingin padanya padahal dia sudah cukup lama mengenalnya.
Liu melangkah masuk. Namun pria yang dia temui tengah termenung. Liu tau apa yang sedang di pikirkan olehnya."Selamat pagi, tuan muda!" Liu memaksa kan diri untuk menyapanya. Shin tidak menjawab sapaan Liu melainkan hanya melirik selintas.
Setelah menyapa Liu meletak kan nampan itu di atas meja."Tuan besar menyuruh saya untuk membawakan sandwich kemari, tuan." Ucap Liu.
Shin melirik pada sandwich yang Liu letak kan di hadapannya. Sandwich yang bentuknya mirip sekali dengan buatan Norin. Spontan dia menegak kan duduknya.
"Apa, apa sandwich ini buatan istriku bibi Liu?"tanya Shin antusias, dia berharap sandwich itu buatan sang istri yang sudah kembali ke rumah besar itu.
Liu diam, tiba tiba tuan muda memberikan pertanyaan demikian padanya. Tapi, dia harus menjawabnya dengan jujur agar sang tuan tidak berhalusinasi. "Bu bukan tuan, ini buatan saya sendiri tapi meskipun buatan saya rasanya sama dengan buatan nyonya muda karena saos yang saya gunakan adalah saos buatan nyonya muda."
Shin mengacak acak rambutnya kemudian menakup kan kedua tangan di wajahnya dan bergumam lirih." Kemana aku harus mencari mu, istriku?"
Liu terpaku di tempat melihat sang tuan seperti sedang frustasi. Dia merasa sangat bersalah atas menghilangnya nyonya muda." Maaf kan saya tuan, andai kan saya tidak meninggalkan nyonya muda saat itu mungkin nyonya tidak akan menghilang."
Shin menggeleng."Bukan salah mu bibi Ini salahku karena aku yang bodoh. Sekarang aku baru merasakan bagaimana rasanya kehilangan nya."
"Tapi..."
"Tidak apa apa Bi, bibi boleh kembali bekerja."
"Ah ya tuan, kalau begitu saya keluar dulu." Setelah berucap Liu hendak beranjak namun Shin memanggil nya.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, tuan?"Tanya Liu.
__ADS_1
"Tidak perlu bi, aku hanya mau bertanya apa Daddy sudah pergi bekerja?"
"Sudah lima belas menit yang lalu."
"Apa dia berpesan sesuatu?"
"Tidak ada. Dia hanya meminta tuan agar tidak telat sarapan."
"Bagaimana dengan Mommy?"
"Tuan besar bilang nyonya besar pergi ke London tadi malam."
"Ke London!" Shin menautkan alisnya. Dia merasa heran kenapa nyonya besar pergi ke luar negeri secara mendadak. Meskipun sebenarnya pergi tanpa pamit padanya merupakan hal biasa tapi untuk kali ini dia merasa aneh dan tidak biasa.
"Iya Tuan."
"Baik Bi, terima kasih.
"Kalau begitu saya permisi tuan."
Setelah kepergian Liu, Shin berpikir apakah hilangnya Norin ada kaitannya dengan Yoona seperti yang Han katakan padanya Tapi..apakah mungkin? Shin segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tolong kau selidiki dokter Yoona sekarang juga."
Sakit yang Norin rasakan semakin menjadi jadi. Dari kemarin dia hanya mengisi perutnya dengan air kran tanpa sedikit pun makanan mengisi perutnya melainkan hanya air mentah.
"Ya Allah ya Rabb, aku tidak sanggup lagi menahan sakit yang aku derita. Ampuni hamba mu yang penuh dosa ini ya Rabb, Jika engkau sudah menghendaki ajal ku saat ini aku ikhlas, aku ikhlas."
Pandangan berkunang kunang lalu beberapa detik kemudian gelap gulita.
Brughh
Norin tak berdaya dan tergeletak di atas lantai nan dingin.
Malam hari.
"Apa kau melihat Hoon turun dari kamarnya, Liu?"Tanya tuan besar ketika dia baru saja sampai di rumah besar itu dan Liu menyambutnya.
"Tidak tuan, tapi saya membawakan makanan ke kamar nya."
"Apa malam ini dia sudah makan?"
__ADS_1
"Belum tuan. Haruskah saya memanggil tuan muda?"
"Tidak usah. Biar aku saja yang menemuinya."
Liu mengangguk lalu beranjak.
Tuan besar memasuki kamar Shin yang tidak terkunci. Namun setelah tiba di dalam dia terpaku melihat Shin yang tengah melakukan pergerakan serta berpenampilan aneh menurutnya. Suatu pemandangan yang baru pertama kali di lihatnya dan secuil menggetarkan jiwanya.
Setelah selesai melaksanakan ibadah, Shin menadahkan kedua telapak tangannya ke atas. Dia memanjatkan doa kebaikan untuk sang istri, memohon pertolongan pada Tuhan yang baru satu tahun ini di akui keberadaannya. Ketika manusia tidak dapat di andalkan untuk mencari keberadaan sang istri, Shin mengandalkan keajaiban dan memasrahkan nya pada Tuhan.
Setelah selesai melaksanakan rutinitas lima waktu dalam satu hari, Shin merapikan kembali perlengkapan ibadah nya.
Namun ketika dia berbalik hendak menyimpan sajadah yang sudah dia pakai."Dad!" Shin terkejut sekali tiba tiba mendapati tuan besar sudah berdiri di belakangnya sembari bersedekap dada.
"Kau kaget melihatku, Hoon?"
"Tentu saja, kau tau dad kalau kau itu seperti Jin yang tiba tiba ada di hadapan orang entah dari mana asalnya."
"Jin, siapa Jin."
Shin tidak menjawab melainkan melangkah untuk menyimpan sajadah sarung serta peci terlebih dahulu.
"Kau sedang melakukan apa tadi ?"
"Aku baru saja selesai menghadap dan berbicara dengan Tuhan ku."
"Tapi aku tidak melihat apa pun di depan mu lantas apa yang kau sembah?"
"Tuhan ku tidak berwujud atau berbentuk. Dia tidak bisa di samakan dengan yang lainnya, dad."
"Aneh sekali." Ucap tuan besar lalu tersenyum miring.
"Kau mau apa ke kamar ku, dad?" Shin mengalihkan pembicaraan karena Shin rasa butuh waktu menjelaskan tentang Tuhan pada orang yang benar benar tidak pernah mengenalnya seperti dirinya dahulu.
"Aku hanya ingin melihatmu dan memastikan kalau kamu baik baik saja."
"Seperti yang kamu lihat dad, aku baik baik saja."
"Bagus kalau begitu itu artinya besok kau bisa menemani ku serta relasi ku untuk bermain golf besok."
"Besok?"
__ADS_1
"Iya, mereka akan datang kemari untuk bermain golf. Dan kita sebagai tuan rumah harus menyambutnya dengan baik."