
Tuan besar Hoon tercengang mendengar apa yang Liu katakan bahwa beef rendang serta makanan-makanan lezat lainnya yang pernah dia makan itu merupakan hasil olahan tangan wanita lembut dan penurut serta wanita yang selama ini dia benci karena tidak kunjung memberikan keturunan.
Tiba tiba dada tuan besar terasa sakit seperti di tusuk tusuk ratusan jarum.
"Tuan besar!" Liu panik melihat tuan besar memegang dadanya seperti merasa kesakitan.
"Tuan!" Liu hendak mendekatinya namun tuan besar mencegahnya.
"Aku, aku tidak apa Liu. Tolong ambilkan air putih saja."
Liu segera menuang air putih ke dalam gelas lalu memberikan gelas itu padanya. Tuan besar langsung meneguk air itu hingga tandas. Liu mengambil gelas yang sudah kosong dan meletak kan nya di atas meja.
"Mari saya bantu duduk, tuan!" Liu memegang lengan atas tuan besar lalu membantu mendudukkan nya di atas kursi.
"Terima kasih Liu."
"Sama sama tuan. Sekarang tuan sarapan dulu saya buatkan sandwich kesukaan tuan. Meskipun saya yang buat tapi tuan tenang saja karena saos ini enak dan tuan pun pasti suka."
Tuan besar menatap sandwich yang sudah tersedia di hadapannya." Apa_saosnya hasil buatan nyonya muda?"
"Benar tuan, tapi tuan suka kan?"
Tuan besar tidak menjawab pertanyaan Liu melainkan tersenyum samar nyaris tak terlihat.
"Tolong kamu buatkan lagi dan antar kan ke kamar Hoon."Ucap tuan besar kemudian.
"Baik tuan."
Sementara di paviliun.
Norin merintih menahan perutnya yang terasa sakit sekali bagai di cabik cabik. Penyakit magh yang sudah lama hinggap di tubuhnya kembali kambuh karena dari kemarin perutnya dalam keadaan kosong sebab tidak ada makanan yang bisa di makan olehnya di paviliun itu. Kedua sudut matanya mengeluarkan air mata, tangan nya melingkar di perutnya menahan rasa sakit yang tiada tara.
"Ya Allah, hamba mohon, tolong hamba mu yang lemah ini. Hanya padamu hamba memohon pertolongan karena engkau maha kuasa dan maha penolong."
Tidak ada hal yang bisa Norin lakukan selain berdoa dan berdoa pada Tuhan nya dengan harapan sebuah keajaiban datang padanya melalui tangan Tuhan.
Tok tok
__ADS_1
Ketukan pintu berulang kali mengusik tidur Shin yang kembali tidur setelah getaran ponsel membangunkannya lebih dulu. Shin langsung membuka kelopak matanya dan duduk.
"Sayang!" Shin langsung meloncat dari ranjangnya lalu menghampiri pintu. Setelah pintu itu terbuka seketika raut wajah Shin berubah datar tanpa ekspresi.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Shin ketus.
"Aku kemari atas permintaan Daddy mu. Mestinya kemarin jadwal cek up tapi kenapa kau tak datang menemui ku? maka dari itu aku datang saja kemari." Han menjelas kan maksud kedatangannya.
"Aku baik baik saja. Tidak perlu di periksa." Shin menolak. Dia masih kesal pada dokter pribadinya itu dan dia pun masih menyalahkan kan atas kemarahan Norin padanya.
Han tersenyum miring." Bukan kah cek up tiap satu bulan sekali itu sudah menjadi kewajiban keluarga Hoon?"
"Kau memaksa ku?" Tanya Hoon disertai tatapan tajam.
"Come on Hoon, sebentar saja. Aku bisa di pecat Daddy mu jika tidak menjalankan tugas ku." Han masih memaksa. Sebenarnya tidak ada ancaman dari tuan besar. Dia hanya beralasan karena ingin mendekat kan diri kembali dengan Shin yang sudah beberapa waktu telah mendiaminya.
"I don't care." Shin hendak menutup pintunya namun Han menahannya.
"Kenapa kau memaksaku? aku sudah bilang tidak akan pernah mau lagi di periksa olehmu. Aku bisa mencari dokter yang lebih hebat darimu. Lepas kan tangan mu."
Shin mengendurkan tenaganya hingga pintu itu terdorong kuat oleh Han dan menyebabkan hampir saja Han tersungkur jika Shin tidak menahannya.
"Kau Hoon, menyebalkan!" Umpat Han sembari menatap kesal pada Shin.
"Kenapa kau salahkan aku! mestinya tadi ku biarkan saja agar kau terjatuh." Shin membalas umpatan nya dan tak kalah kesal.
Setelah itu Shin berjalan dan duduk di atas sofa. Begitu pula dengan Han mengekor di belakangnya.
Setelah berada di dalam kamar Shin, Han mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar besar itu seperti mencari sesuatu. Shin memperhatikan gerak gerik nya.
"Apa yang kau cari?"Tanya Shin menyelidik.
Han sedikit terkejut ternyata apa yang dia lakukan sedang di perhatikan oleh pemilik kamar itu.
"Ah, tidak. Aku_hanya tidak melihat keberadaan istrimu."
"Hal penting apa yang ingin kau katakan?" tanya Shin mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Emm, lebih baik kita melakukan cek up dulu dan setelah itu aku akan bercerita padamu."
"Bertele tele sekali." Shin mengumpat namun meskipun begitu dia menuruti keinginan Han.
Lima menit setelah melakukan serangkaian pemeriksan shin bertanya ulang."Hal penting apa yang ingin kau katakan?"
"Sebentar tuan muda aku sedang repot" Han memasuk kan bermacam macam peralatan medisnya ke dalam sebuah koper kecil. Shin tak menimpali nya hanya memajukan bibir bawahnya saja.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau Yoona..."
"Kau datang pagi pagi dan mengganggu tidurku hanya ingin membicarakan wanita itu?" Shin kembali kesal, dia berucap dengan suara keras dan hal itu cukup membuat Han terkejut.
Han menelan saliva nya melihat Shin yang kembali memakinya.
Shin berdiri tegak." Pergi, pergi kau dari kamarku. Pergi..."Shin mengusir Han sembari menunjuk nunjuk ke arah pintu.
"Be calm Hoon. Aku belum selesai bicara kenapa kau menyela. Aku hanya ingin bilang padamu kau hati hati pada Yoona karena dia akan melakukan berbagai cara untuk memisah kan mu dengan istrimu."
Shin diam. Wajahnya tak lagi menunjukan kemarahan melainkan datar tanpa ekspresi. Bukan tanpa alasan dia begitu marah jika membicarakan masalah wanita itu. Karena penyebab istrinya hilang hingga sekarang adalah atas kesalahannya telah membicarakan nama wanita itu.
Shin mengusap wajahnya lalu duduk kembali."Aku tau dan kau tidak perlu memberi tahu karena dia sudah berhasil memisahkan aku dan istriku."
Han menautkan kedua alisnya." Apa maksud mu?"
Shin menghela nafas berat." Istriku menghilang sejak kemarin." Shin terpaksa memberi tahu Han soal menghilang nya Norin.
"What!" are you serius?" Tanya Han di sertai wajah terkejut.
Shin mengangguk lemah.
"Apa kau sudah benar benar mencarinya?"
"Aku tidak tau kemana harus mencarinya lagi. Istriku tidak hapal kota ini. Dia hanya tau supermarket saja karena selama disini dia tidak pernah pergi kemana mana selain tempat itu. Aku juga sudah mengerahkan orang suruhan ku untuk mencari nya namun hingga sekarang belum ada kabar."
"Apa kehilangan istrimu ada kaitan nya dengan Yoona?" Han menerka.
Shin menatap Han dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1