
Sebuah ketukan pintu menghentikan aktifitas Norin yang tengah membaca buku. Kemudian dia menutup buku itu dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu, dia melihat ke arah layar monitor ternyata sosok pria yang dia rindukan sudah berdiri di depan kamarnya. Senyum mengembang pun terukir di wajahnya lalu bergegas berdiri hendak membuka kan pintu untuk suami tercintanya. Namun ketika dia hendak melangkah, kaki yang terluka terasa nyeri sekali. Dia merasa heran kenapa kakinya selalu sakit jika di gerak kan? padahal lukanya bukanlah luka yang serius. Dengan terpaksa Norin memaksakan kakinya melangkah mendekati pintu karena dia tidak ingin Shin menunggunya terlalu lama.
Setelah pintu terbuka.
"Assalamualaikum bidadari ku?"senyuman manis menyertai salam sapaan pria yang sangat dicintainya di balik pintu.
"Wa'alaikum salam suamiku!"Norin membalas salamnya dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
Kemudian Norin meraih tangan Shin dan menciumnya dengan tak'jim, sementara Shin mencium kening sang istri dengan lembut.
"Apa kamu baik baik saja hari ini sayang?" Shin bertanya sembari membelai pipi mulus Norin. Pertanyaan pertama yang selalu Shin tanyakan pada Norin ketika dia pulang bekerja.
Norin meraih tangan Shin yang sedang mengelus pipi nya lalu mengecupnya dan berkata," Alhamdulilah, aku baik baik saja."
Shin menghela nafas lega."Syukur lah, karena memang itu yang selalu aku harapkan kamu selalu baik baik saja sayang,"kata Shin. Norin tersenyum getir, suami nya tidak pernah mengetahui apa yang terjadi padanya ketika Shin tidak ada di sisinya.
"Masuk sayang!"ajak Norin. Shin mengangguk dan dengan tangan yang saling bertautan mereka memasuki kamar mereka yang berukuran sangat besar.
Setelah di dalam kamar, Norin segera melepaskan dasi serta jas yang menempel di tubuh Shin. Setelah itu, dia menyuruh Shin untuk duduk di atas sofa dan hendak melepas kan sepatu yang sedang di gunakan nya namun Shin menolaknya karena dia tidak ingin merendah kan Norin dengan cara membukakan sepatunya.
"Jangan mengurangi pahalaku sayang!"Norin protes atas penolakan Shin dengan posisi yang sudah berjongkok dan hendak memegang sepatunya.
"Tapi aku tidak ingin merendahkan mu, aku bisa membukanya sendiri."Shin menahan tangan Norin yang hendak melepaskan sepatunya.
"Aku tidak pernah merasa di rendah kan oleh mu, ini merupakan salah satu bakti ku pada suamiku."
__ADS_1
"Sayang...."
Sebelum Shin meneruskan kalimatnya, Norin membesarkan matanya agar Shin diam. Shin menghembuskan nafas besar dan menyerah."Baiklah kalau kamu memaksanya." Setelah berkata, dia melepaskan tangannya dari tangan Norin yang sedang di tahannya. Setelah itu, Norin melanjutkan lagi kegiatannya yang sempat tertunda.
Shin memperhatikan Norin yang tengah melepaskan sepatunya dengan posisi berjongkok di bawah kakinya. Dalam hati dia sangat bersyukur memiliki istri seorang Norin, seorang istri yang taat dan patuh padanya serta merawat serta melayaninya dengan sangat baik.
Setelah selesai membuka kedua sepatu Shin, Norin masih menyuruhnya untuk tetap duduk di tempat. Shin tidak dapat menolak dan dia membiarkan norin berlaku sesuka hati atas dirinya karena dia tidak ingin melihat wajah sang istri berubah cemberut jika keinginannya di tolak. Shin heran, biasanya wanita memiliki keinginan berbelanja pakaian atau perhiasan mewah tapi tidak dengan Norin, keinginan Norin sangat sederhana yaitu melayaninya dengan baik. Bagaimana Shin tidak sangat mencintainya karena menurut Shin wanita seperti norin hanya ada satu di dunia ini.
Norin kembali dengan membawa wadah besar berisi air hangat lalu meletakkan nya di bawah kaki Shin, sementara dia hanya geleng - geleng kepala saja melihat sang istri yang sedang sibuk merawatnya seperti merawat seorang bayi.
Setelah itu, Norin menggulung celana panjang yang tengah di gunakan oleh Shin lalu mengangkat satu persatu kakinya dan memasukkan nya ke dalam wadah berisi air hangat. Norin mulai membersihkan kedua kaki Shin serta memijit kecil kemudian bertanya," bagaimana enak tidak?" pandangannya tak lepas dari kedua kaki Shin yang sedang di rendam serta di pijit.
Shin tersenyum sambil mengusap pucuk kepalanya dia menjawab," enak sekali sayang, terima kasih ya?"
Norin mendongak tinggi dan tersenyum lalu bergumam."Surga ku berada di telapak kaki suamiku."
Lima belas menit berlalu. Norin mengangkat kedua kaki Shin dan memakaikan sandal santai di kedua kakinya.
"Sudah selesai," kata Norin dan hendak berdiri namun tiba tiba dia memekik kesakitan sembari memegang lututnya.
Shin terkejut, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas lantai dan memegang kaki Norin kemudian bertanya dengan panik." Kenapa sayang, kenapa dengan kakimu?"
Norin tidak menjawab pertanyaan Shin melainkan meringis menahan rasa sakit di lututnya. Shin tidak lagi bertanya dia segera mengangkat tubuh Norin dan membawanya ke ranjang tidur lalu merebahkannya.
Shin penasaran apa yang terjadi pada kaki Norin yang terlihat sangat kesakitan. Kemudian dia menyibak kan dress panjang yang sedang di pakainya dan seketika Shin terkejut mendapati luka di lutut sang istri, selain luka lecet yang cukup lebar area itu pun terlihat membiru.
__ADS_1
"Ya Allah sayang, apa yang sudah terjadi? kenapa kaki mu lecet dan membiru?"Shin bertanya dengan wajah panik.
"Aku..aku tadi terjatuh di kamar mandi." Norin berbohong karena dia tidak mungkin berterus terang bahwa luka di kakinya akibat dari ulah nyonya Hoon serta teman temannya. Norin tidak ingin Shin dan ibunya bertengkar gara gara pengaduannya. Norin sendiri tidak tau jika kakinya mulai membiru, sebab, tadi hanya terlihat lecet dan mengeluarkan sedikit darah saja.
"Apa kau serius hanya terjatuh di kamar mandi?" tanya Shin memastikan.
Norin mengangguk meskipun ragu.
Kemudian Shin memencet sebuah tombol dan beberapa menit kemudian dua kali ketukan terdengar dari arah luar pintu. Shin melihat layar monitor kemudian segera memakaikan hijab lebar pada kepala Norin karena seseorang akan masuk ke dalam kamar mereka. Setelah itu, Shin memencet tombol kembali dan pintu otomatis terbuka tampak seorang wanita muda berseragam di atas lutut memasuki kamarnya dan berjalan menghadap Shin lalu bertanya,"apa yang harus saya lakukan tuan?"
"Tolong bersihkan kamar mandi kami sebersih mungkin karena aku tidak ingin istri ku terjatuh lagi di sana." Shin meminta pelayan muda itu untuk membersihkan kamar mandi mereka karena Shin pikir kamar mandi itu kotor sehingga Norin terjatuh. Pelayan itu sedikit terkejut atas apa yang Shin perintahkan padanya. Kemudian dia melirik sinis ke arah Norin. Sementara Norin tercengang, dia tidak menyangka ternyata kebohongannya mengorbankan orang lain, dia menjadi merasa tidak enak hati pada pelayan muda itu karena gara gara dirinya berbohong wanita itu di minta untuk membersihkan kamar mandi mereka.
"Kenapa diam saja?"tanya Shin, karena wanita itu masih diam di tempat dengan wajah terlihat kesal.
"Baik tuan." Jawabnya kemudian. Setelah itu, dia berjalan gemulai menuju kamar mandi namun baru beberapa langkah Shin memanggilnya. Wanita itu menghentikan langkahnya lalu berbalik dan tersenyum pada Shin." Apa yang harus saya lakukan lagi tuan?"
"Siapa namamu?"tanya Shin. Wanita itu merasa melambung tinggi karena tuan muda hoon menanyakan namanya, dan hal itu merupakan suatu kehormatan baginya karena selama ini jangankan menanyakan namanya menyapa pun tidak pernah.
"Namanya saya Ji Eun tuan," sembari tersenyum malu malu.
"Okey, Ji Eun, mulai besok aku tidak ingin melihat kau memakai pakaian kurang bahan lagi di rumah ini. Jika aku masih melihatmu berpakaian seperti itu aku tidak akan segan segan untuk memecat mu."Shin memperingati serta mengancam Ji Eun, karena shin tidak suka melihat wanita berpakaian se xi selain istrinya sendiri dan itu pun hanya di dalam kamarnya saja.
Senyum malu malu di bibirnya pun memudar seiring dengan peringatan serta ancaman Shin padanya."Tapi nyonya besar Hoon yang telah memberikan pakaian ini pada saya tuan."Ji Eun membela diri, dia tidak ingin di salahkan apalagi oleh sosok pria yang diam diam telah dikaguminya.
Shin berdecak kesal pelayannya telah berani membantahnya kemudian dia berkata kembali."Oh ya, tapi kenapa hanya kau saja yang berpakaian tak layak seperti itu? sementara pelayan lainnya tidak. Dengar ya, ini rumah bukan club malam. Kalau kau tak suka dengan peraturan yang ku buat silahkan hengkang dari rumah ini."
__ADS_1
Ji Eun terkejut atas kalimat yang di lontarkan oleh Shin dan dengan gagap dia berkata," ba..baik..tu..tuan, besok saya..akan mengganti pakaian saya dengan yang lebih layak."Dia tidak ingin di pecat, dia harus tetap bekerja di rumah besar keluarga Hoon agar dia lebih leluasa mendekati tuan muda Hoon.