
Shin mendorong kursi roda Norin memasuki sebuah rumah sakit yang cukup besar di kota Seoul, salah satu rumah sakit milik tuan Hoon. Sepanjang jalan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dengan pikiran mereka masing masing dan tidak sedikit pula para staf rumah sakit yang mengetahui siapa dirinya memberi hormat padanya namun ada pula yang bergunjing membicarakannya.
"Wow, mimpi apa aku tadi malam, pagi ini bertemu dengan putera pemilik rumah sakit ini. Dia tampan sekali tapi siapa wanita cacat dan berpenampilan aneh itu?" seorang perawat muda berbicara dengan dua teman sepekerjanya ketika melihat kedatangan Shin dan Norin dari jarak sedikit jauh. Dua teman lainnya ikut menoleh ke arah kedatangan putera pemilik rumah sakit itu dengan raut muka yang tak kalah kagum dari perawat yang berbicara sebelumnya.
"Apa mungkin wanita itu pelayannya." Perawat lainnya menerka.
"Mana mungkin tuan muda Hoon mendorong pelayannya sendiri, kamu ada ada saja."
"Lantas siapa wanita aneh itu jika bukan pelayannya?"
Kedua perawat lainnya mengedik kan bahu mereka sebagai isyarat mereka pun tidak mengetahui siapa wanita yang sedang di dorong oleh putera pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.
Ketika Shin dan Norin berjalan dan hendak melintasi tiga perawat yang tengah membicarakannya dan menatap heran padanya dia menghentikan langkahnya lalu menoleh pada mereka. Tiga perawat itu menyadari Shin sedang melihat ke arah mereka langsung membungkuk kan punggung sebagai bentuk penghormatan.
"Kenapa kalian berkumpul di situ? apa sedang mengadakan sebuah arisan? apa kalian tidak memiliki pekerjaan?" Shin menegur sekaligus menyindir sebab dari kejauhan ekor matanya sudah memperhatikan tiga perawat itu yang terus saja mengobrol.
Tiga perawat itu tercengang, mereka tidak menyangka akan mendapat teguran dan sindiran dari putera pemilik rumah sakit itu.
"Maaf tuan, kami tidak sengaja bertemu." Salah satu dari mereka beralasan.
Dari kejauhan seorang pria paruh baya namun masih nampak gagah berjalan tergopoh gopoh mendekati mereka dan setelah mendekat dia menyapa.
"Selamat datang tuan muda Hoon dan...." pria tua itu menghentikan sapaannya, pandangannya mengarah pada wanita cantik berhijab dan terbalut pakaian sari' yang sedang duduk di kursi roda.
Norin menyadari sedang di perhatikan oleh pria paruh baya yang baru saja datang lalu mengangguk kan sedikit kepalanya dan memberikan senyum tipis sebagai bentuk hormat, kemudian dia menunduk kembali.
"Dia istriku paman," ucap Shin dengan wajah datar dan suara bariton. Dia tahu bahwa pria itu tengah kebingungan dengan keberadaan Norin bersamanya.
Pengakuan Shin atas siapa wanita yang sedang di dorong olehnya sontak saja membuat tiga perawat itu terkejut lalu mereka saling pandang satu sama lain. Mereka tidak menyangka wanita yang baru saja mereka anggap aneh merupakan istri dari tuan muda Hoon sendiri.
Pria paruh baya itu terkejut dan tak kalah terkejutnya dengan tiga perawat yang masih berdiri di tempat. Dia tidak menyangka putera pemilik rumah sakit tempat dimana dia bekerja telah memiliki seorang istri karena dia sendiri tak pernah tahu menahu tentang pernikahannya.
"Istri!" ucap ulang pria paruh baya itu.
Shin mengangguk.
__ADS_1
"Jadi, tuan muda sudah menikah? kenapa saya tidak pernah tau akan hal itu?"
"Maaf paman, saya menikah di Indonesia."
"Jadi istri tuan adalah wanita Indonesia?"
Shin mengangguk.Pria paruh baya itu pun tersenyum dan memberikan ucapan," selamat atas pernikahannya tuan muda Hoon."
"Terima kasih, oya Paman, tolong beritahu kami dimana letak ruangan dokter Han?" Shin tidak ingin berbasa basi karena kedatangan nya ke rumah sakit hanya untuk mengobati luka istrinya bukan untuk bertemu sapa melepas rindu.
"Oh, jadi tuan ingin bertemu dengan dokter Han?" tanya pria itu.
Shin mengangguk.
"Mari saya antar kan tuan."
"Tidak perlu paman, tolong beritahu saja kemana arahnya."
Pria tua itu terdiam, dia merasa ada yang berubah dari putera pemilik rumah sakit itu terutama perubahan sikapnya yang lebih halus tak seperti dulu yang terkesan dingin dan arogan.
Pria tua itu memberitahu kemana arah ruangan dokter Han dan Shin menyimaknya. Setelah itu, Shin pamit padanya namun di sela pamitnya dia berkata," tolong urus tiga perawat itu karena saya tidak ingin memiliki pekerja yang malas bekerja.
Shin mendorong kembali kursi roda sang istri menuju ruangan Han, teman sekaligus dokter keluarga menggantikan ayahnya yang sudah meninggal.
"Siapa pria tadi sayang?"tanya Norin di sela sela berjalan ke arah ruangan dokter Han.
"Itu salah satu teman Daddy dan sekaligus kepala rumah sakit ini,"jawab Shin.
"Apakah rumah sakit ini salah satu bisnis Daddy?"
"Dari mana kamu tau sayang?"
"Aku hanya menebak saja setelah mendengar percakapan kalian tadi aku menyimpulkannya sendiri."
"Kamu benar sayang, rumah sakit ini salah satu bisnis nya dan rumah sakit ini sendiri baru berdiri dua tahun."
__ADS_1
"Aku pikir Nobland group hanya bergerak di bidang garmen saja tapi ternyata banyak."
"Ya begitulah Daddy, dia gencar sekali memperluas usahanya. Entah untuk apa dia menumpuk banyak harta. Seperti ketika mati akan di bawa saja hartanya dan menolongnya di dalam kuburan nanti.
Norin tersenyum tipis mendengar curhatan sang suami, kemudian dia mengelus lengan Shin.
Setelah tiba di sebuah pintu ruangan, Norin mengernyitkan dahinya ketika dia membaca sebuah nama yang menempel di pintu itu.
"Apa teman mu itu yang akan memeriksaku?" tanya Norin sembari mendongak kan wajahnya ke belakang, Norin masih hapal nama teman Shin yang kemarin malam hendak memeriksanya.
Shin yang mengerti kecemasan norin langsung menjawabnya dengan cepat," tidak sayang, namun kita harus menemui dia terlebih dahulu karena dia yang akan merekomendasikan dokter wanita untuk memeriksa mu nanti."
Norin tersenyum tipis dan meluruskan kembali pandangannya.
Shin memasuki ruangan Han tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga Han terkejut mendapati Shin dan norin sudah berada di ruangannya. Han yang sedang duduk di mejanya melihat kearah Shin dan Norin dengan wajah bengong. Dia tidak menyangka Shin datang ke ruangannya sembari membawa istrinya yang sangat cantik dan unik serta dia kagumi.
"Hei, kenapa kau melihat kami seperti itu?" Shin protes karena Han tidak langsung menyambut kedatangan mereka melainkan hanya melihat dengan mulutnya yang sedikit menganga.
Norin segera memalingkan kan wajahnya setelah menyadari bahwa dokter itu sedang memperhatikannya.
"Jangan bilang kau terpesona pada istri ku,"ejek Shin kemudian.
"Ishh, kau ini bicara apa."Han menyangkalnya kemudian berdiri dan berjalan mendekati mereka.
Shin berdecak dan berkata," lantas kenapa kau melihat kami mulut mu terbuka seperti tadi?"Shin meledek Han kembali.
"Aku hanya terkejut saja melihat kedatangan kalian secara tiba tiba, karena kau tidak memberitahu ku terlebih dahulu jika kalian akan datang kemari." Han beralasan meskipun bisa dikatakan demikian walaupun tak sepenuhnya. Karena sebenarnya dia sangat mengagumi wajah Norin yang baru terlihat dengan jelas.
"Benarkah?"Shin menyelidik.
"Anyway, apa istrimu berubah pikiran?" Han mengalihkan pembicaraan dan berusaha bersikap tenang.
"Ya..."ucap Shin.
Han tersenyum senang.
__ADS_1
"Tapi tidak dengan kau, melainkan dokter wanita di rumah sakit ini, cepat kau carikan dokter itu sekarang," sambung Shin kemudian.
Senyum di bibir Han memudar setelah Shin melengkapi kalimatnya.