
Tengah malam Shin terjaga dan dalam keadaan mata terpejam dia meraba raba ruang kosong di samping nya mencari sosok tubuh yang sudah tujuh bulan ini menemani serta menghangatkan ranjangnya. Dia mengejapkan kelopak matanya perlahan setelah menyadari tidak ada sang istri di sampingnya.
Dengan rasa malas Shin duduk di atas king size nya. Ekor matanya melirik ke sekitar ruangan yang cukup besar mencari sosok tubuh yang diam diam meninggalkannya saat tengah tertidur. Seulas senyum mengembang di bibirnya ketika melihat sosok yang dia cari sedang bersujud di atas sajadah.
Setelah menemukan keberadaan Norin, dia melihat jam weker di atas nakas telah menunjukan pukul dua dini hari. Shin paham betul jika sang istri tengah melaksanakan ibadah sholat sunah, ibadah yang sering dia lakukan selama menikah dengan Shin. Hal itu membuat Shin semakin mengagumi sosok istrinya, karena selain Norin seorang istri yang berbakti padanya dia juga merupakan seorang hamba yang taat beribadah dan menjalankan syariat nya.
Shin kembali menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut dan memejamkan matanya setelah menyadari bahwa Norin sudah selesai melaksanakan ibadahnya.
Norin menyimpan kembali peralatan ibadah sholatnya kemudian mengganti kembali pakaiannya dengan sebuah lingerie merah muda, menambah kesan se xi penampilannya saat ini. Tentu saja hal itu hanya dia tunjuk kan pada sang suami semata.
Setelah itu, Norin berjalan gemulai ke arah king size dimana sang suami tengah tidur. Shin yang sedang pura pura tidur sedikit mengintip di balik mata sipit nya lalu melihat penampilan sang istri yang aduhai se xi sekali membuat sesuatu dibawah perutnya mengeras. Norin kerap kali menggodanya dengan penampilan super se xi dan yang membuat Shin bangga adalah dari semenjak sebelum menikah hingga saat ini, Norin memperlihatkan keindahan bentuk tubuhnya hanya padanya seorang.
Shin menutup rapat kelopak matanya ketika Norin mulai mendekat dan dia merasa ranjang bergerak menandakan tubuh yang membuat miliknya mengeras itu sudah berada di atas ranjang yang sama.
Norin menggeser tubuhnya mendekati Shin dan sebelum menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut tebal dia memandangi wajah suaminya yang sedang tidur. Mengecup keningnya, hidung serta bibirnya sekilas. namun ketika norin mengangkat bibir nya dari bibir suaminya, tanpa dia duga Shin mendorong tengkuknya dan me lu mat habis bibir itu dan membuatnya kesulitan untuk protes. Dan akhirnya Norin melayani hasrat suaminya yang membuncah hingga melakukan penyatuan di jam dini hari.
Wajah Norin di hujani kecupan bertubi tubi oleh Shin setelah mereka selesai melakukan penyatuan.
__ADS_1
"Terima kasih sayang,"ucap Shin, kemudian membawa kepala Norin ke dalam dekapannya.
"Sebentar lagi subuh, aku harus mandi besar dan berkeramas lagi. Padahal rambutku belum kering harus di basahi lagi." Norin menggerutu.
Shin tersenyum tipis."Suruh siapa menggodaku, kamu kan tau sayang kalau aku tidak akan tahan jika sudah melihat tubuh indah mu ini." Dia membela diri.
Dalam dekapan Shin Norin tersenyum, memang itu yang dia inginkan. Menggoda suaminya dengan dua alasan. Alasan pertama adalah Norin ingin Shin terus menerus membuahi rahimnya karena waktu yang di berikan oleh orang tuanya tidak lama lagi. Norin tidak ingin meninggalkan Shin juga tidak ingin melihat Shin menikah lagi dan memiliki madu dalam pernikahan mereka. Alasan yang kedua adalah Norin sadar bahwa Shin merupakan pria sempurna yang tampan dan kaya raya. Banyak sekali wanita di luar sana yang sedang berusaha mendekatinya termasuk mantan kekasihnya, Yoona. Norin tidak ingin Shin tergoda dengan wanita wanita itu. Oleh sebab itu, dia akan selalu berusaha menjadi istri yang terbaik, memenuhi kebutuhannya termasuk memuaskannya di atas ranjang. Norin ingin Shin merasa cukup terpuaskan oleh pelayanannya saja tanpa harus mencari wanita lain untuk mencukupinya.
Berbeda dengan cara pandang Shin terhadap istrinya, Norin. Dia sangat tulus mencintainya lahir dan batin tanpa memandang kelebihan atau kekurangannya. Bagi Shin, bersama Norin dia merasa hidupnya berarti dan sempurna karena Norin merupakan bukan wanita yang hanya men tuhan kan uang, tidak seperti kebanyakan wanita yang sering dia temui termasuk ibunya sendiri. Menurut Shin, Norin merupakan sebuah cahaya yang menerangi hidupnya dalam kegelapan. Tanpa Norin, hidup nya gelap gulita dan tak terarah.
Sang Surya menampakan sinarnya di musim semi hingga menembus tirai di balik kaca besar di sebuah kamar hingga menerpa sosok wajah yang masih terlelap. Shin mengejapkan kelopak matanya namun setelah terbuka dia tidak melihat keberadaan sang istri di sampingnya.
Shin duduk lalu meregangkan otot ototnya yang terasa kaku setelah empat kali bertempur di atas ranjang tadi malam. Setelah itu, mata sipitnya mencari keberadaan celana boxer miliknya. Nampak barang yang dia cari teronggok di atas lantai cukup jauh dari ranjang tidurnya. Shin mendengus kesal melihat barang itu berada jauh darinya. Namun meskipun begitu, dia harus mengambilnya dan dengan terpaksa dia turun dari ranjang dan berjalan ke arah barang yang tergeletak di atas lantai dalam keadaan polos. Bersamaan dengan itu, Norin keluar dari walk in closet setelah memakai baju ganti dalam keadaan rambut yang basah.
Norin tercengang melihat suaminya sedang berjalan dalam keadaan tanpa pakaian yang menempel di tubuhnya. Shin menyadari istrinya sedang melihatnya dia pun menyunggingkan senyum menggoda lalu bertanya," Kenapa kamu melihatku seperti itu sayang, apa kamu menginginkan lagi?"
Norin mengalihkan pandangannya kemudian berjalan ke arah meja rias dan mengabaikan godaan Shin. Dia merasa malu sekali melihat suaminya berdiri tanpa menggunakan pakaian.
__ADS_1
Shin tersenyum melihat Norin yang nampak malu malu melihat penampilan polosnya. Kemudian dia segera mengambil dan memakai boxer itu.
Norin menyisir rambut basah nya, rambut yang dia keramasi untuk keempat kalinya dalam satu malam.
Shin berjalan ke arah Norin yang sedang bercermin dan menyisir rambut basah, kemudian memeluknya dan mengecup pucuk kepalanya.
"Hemm, wangi sekali istriku ini,"kata Shin sembari mengendus rambut basah.
"Tentu saja wangi, aku kan sudah mandi. Sana kamu mandi dulu, bau keringat," ledek Norin kemudian menutup hidungnya.
"Bagaimana tidak bau keringat kita bertempur sampai empat kali sayang. Tapi meskipun bau, kamu suka kan tidur di ketiak ku semalam?" Shin balik meledek dan hal itu membuat Norin menunduk malu.
Shin tersenyum lebar melihat raut wajah sang istri yang merona.
"Ya sudah, aku mandi dulu ya? nanti setelah mandi aku akan membantu mengeringkan rambut mu ini," kata Shin, dia menguel rambut basah Norin hingga berantakan kembali kemudian bergegas ke kamar mandi.
Norin mendengus dan menatap kesal ke arah suaminya karena harus menata ulang rambutnya yang berantakan.
__ADS_1