Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Cantik untuk suami


__ADS_3

Norin melangkah tergesa gesa menuju kamarnya mengejar waktu untuk beribadah ashar. Sembari berjalan, sesekali dia melihat pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya dengan harapan waktu ashar masih tersisa.


Akhirnya Norin tiba di kamarnya dengan nafas tersengal sengal, namun meskipun demikian dia akan tetap melaksanakan ibadah dengan waktu yang tersisa.


Setelah melaksanakan ibadah dan baru saja membuka mukena dan melipatnya, tiba tiba dua buah tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya. Norin sempat terkejut namun setelah menyadari siapa yang sedang memeluknya itu dia tersenyum. Shin menumpukan dagunya di pundak Norin lalu berbisik,"I miss you so much honey."


Norin menyunggingkan senyum di bibirnya mendengar bisikan manis dari sosok pria yang amat di rindukannya sepanjang waktu.


"Kenapa tidak mengucapkan salam dulu sayang?"tanya Norin, mengelus lembut lengan sang suami yang melingkar.


"Kamu sedang sholat, jadi aku mengucapkan salam dalam hati saja. Tapi kenapa jam segini baru melaksanakan sholat ashar?"


"Ah ya, tadi aku sempat membantu bibi Liu memasak menu yang di inginkan oleh Daddy dan setelah itu aku....ketiduran sambil menunggu mu pulang."


"Benarkah?"


"He'em. Sayang, lebih baik kamu mandi dulu sebentar lagi Maghrib." Norin mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin suaminya terus menerus mengintrogasi nya karena hanya akan semakin menambah kebohongan yang dia ciptakan.


Shin menuruti perintah Norin, dia melepaskan tangannya dari pinggang rampingnya. Norin berbalik kemudian dia membantu membuka jas serta dasi yang menggantung di leher Shin. Setelah itu, dia berjongkok hendak membantu membuka sepatunya namun Shin ikut berjongkok dan menahan tangannya.


"Jangan sayang, biar aku saja okey!"tolak Shin. Kemudian shin buru buru membuka sepatunya sendiri lalu membawanya ke tempat khusus barang kotor. Norin menghela nafas pendek melihat sikap suaminya.


"Mau kemana sayang?"tanya Shin ketika melihat Norin hendak beranjak dari tempat dia berdiri.


Norin melirik."Mau mengambilkan handuk untuk mu,"ucap nya.


Shin berjalan mendekatinya."Tidak usah sayang, biar aku saja yang mengambilnya sekalian aku mau mandi. Kamu istirahat saja,


dan aku yakin kamu pasti lelah bukan?" tangan Shin terulur membelai pipi mulus wanita yang selalu membuat hari harinya berarti.


Norin mengernyitkan dahi dalam hati dia bertanya, darimana Shin tau jika dia sedang sedikit lelah? padahal dia sendiri tidak mengeluh apa apa padanya.

__ADS_1


Shin menarik gemas hidung mancung wanita cantik yang sedang bengong menatapnya dan membuat wanita itu sedikit terperanjat karena ulahnya.


"Kenapa bengong saja, hem?"tanya Shin.


"Tidak apa apa, maaf. Ya sudah mandilah dulu,"titah Norin.


"Siap ratu ku,"ucap Shin, lalu tersenyum dan melangkah pergi.


Sambil menunggu Shin selesai mandi, Norin berinisiatif mempersiapkan pakaian ganti untuknya terlebih dahulu. Namun ketika dia berjalan ke arah walk in closet, bertepatan dengan shin keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan boxer.


Norin mengernyitkan keningnya melihat penampilan se xi suaminya dan terlihat tubuh tinggi tegap itu dalam keadaan kering.


"Kamu..."


"Aku lupa bawa handuk sayang,"Shin memotong ucapan norin yang belum sempat terlontar. Senyum lebar tersungging di bibirnya hingga menampakan gigi putih dan rata.


Setelah berkata dengan langkah lebar Shin memasuki walk in closet. Sementara Norin hanya geleng-geleng kepala saja melihatnya. Padahal sebelum Shin ke kamar mandi, Norin sudah berniat untuk mengambilkan handuk tapi dia malah menolaknya dan sekarang Shin melupakan handuk nya dan harus mengambilnya terlebih dahulu.


"Cantik sekali istriku, mau pergi kemana itu?"tanya Shin dengan nada sedikit keras karena jaraknya sedikit jauh.


Norin menoleh pada sumber suara, nampak Shin terlihat sudah rapi."Tidak kemana mana, aku hanya ingin tampil cantik di depan suamiku saja,"jawab nya.


Shin tersenyum kemudian berjalan mendekati nya lalu dia berdiri di belakangnya dan ikut menatap cermin. Dari pantulan cermin Norin melihat Shin mencondongkan wajahnya lalu membisikinya."Justru aku ingin melihat istriku selalu tampil se xi di depanku." Setelah berbisik Shin mengecup pipinya, Norin menunduk malu.


Di ruang makan. Liu di sibuk kan menata makanan di atas meja karena sebentar lagi waktu makan malam keluarga Hoon akan tiba. Setelah Liu selesai menata, tuan serta nyonya Hoon datang menghampiri meja yang sudah di penuhi oleh hidangan lezat khas Indonesia namun mereka tidak mengetahui bahwa semua menu itu merupakan makanan Indonesia hasil masakan sang menantu yang tidak di sukai nya.


Tuan besar Hoon menatap hidangan di atas meja dengan mata berbinar binar dan rasanya dia tidak sabar untuk segera menikmatinya. Begitu pula dengan nyonya besar, dia tak kalah dengan suaminya yang ingin segera menikmatinya.


Setelah duduk tuan besar Hoon melirik pada dua kursi yang belum terisi oleh Shin dan Norin.


"Liu..!"panggil tuan besar.

__ADS_1


"Iya tuan besar!" Liu yang sedang berdiri di belakang mereka menyahuti.


"Cepat kau panggilkan dua orang yang belum datang," titah tuan besar.


"Ma..maaf tuan, maksud tuan siapa?"Liu sedikit kebingungan karena pria tua itu tidak menyebut siapa nama orang yang di maksud oleh nya.


"Siapa lagi kalau bukan putera ku. Kenapa kau tak paham apa yang aku maksud Liu? Cepat kau panggil mereka sekarang."


"Baik tuan."Liu bergegas pergi sebelum Tuan besar bertambah kesal karena dirinya yang tak langsung paham.


"Kita makan duluan saja Yeun, untuk apa harus menunggu mereka hanya buang buang waktu saja."nyonya Hoon menyarankan.


"Makan bersama sudah tradisi kita sejak dari nenek moyang, kenapa kau tidak sabar untuk menunggunya sebentar?"


Nyonya besar terdiam lalu memainkan jari jari kukunya. Dia tidak ingin lagi bicara rasanya percuma.


Di sebuah kamar yang cukup besar. Shin memencet tombol pintu setelah mendengar dan melihat di layar monitor siapa orang yang telah mengetuk pintu kamarnya.


Liu melangkah lebar memasuki kamar besar itu setelah pintu terbuka secara otomatis.


"Ada apa bibi?"tanya Norin.


"Maaf, nyonya dan tuan muda sudah ditunggu di meja makan oleh tuan dan nyonya besar," lapor Liu.


Norin dan Shin saling pandang. Mereka merasa heran karena tidak biasanya orang tuanya menyuruh pelayan untuk memanggilnya agar ikut makan bersama.


"Oh, ya sudah bi, nanti kami akan segera ke sana," kata Shin lalu menyuruh wanita itu untuk kembali.


"Baik tuan, nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu," ijin Liu, kemudian bergegas keluar kamar.


Setelah kepergian Liu, Shin menoleh pada Norin." Sayang, Daddy dan mommy sedang menunggu kita untuk makan malam bersama, apa kita turun sekarang?"

__ADS_1


Norin mengangguk menyetujui ajakan Shin.


__ADS_2