
Norin menuruni anak tangga dengan hati hati dan di tuntun oleh Shin di sampingnya. Mengingat kejadian kemarin yang mana dirinya hendak terjatuh di atas lantai yang licin atas perbuatan seseorang yang sengaja ingin mencelakai membuatnya semakin berhati hati jika akan melakukan sesuatu termasuk menaiki atau menuruni anak tangga.
Tiba di meja makan, nampak tuan serta nyonya besar sedang menunggu mereka.
"Good morning dad, mom,"sapa Shin lalu menarik kursi untuk di duduki oleh Norin.
Tuan besar tidak menghiraukan sapaan Shin melainkan menelisik penampilannya yang hanya memakai kaos biasa dan rambut yang basah.
"Kau tidak akan bekerja hari ini Hoon?"tanya tuan besar.
"Aku..."Shin menggaruk pelipisnya, berpikir untuk memberikan alasan apa yang tepat pada ayahnya karena hari ini Shin benar benar sedang tidak ingin pergi bekerja.
"Aku...sebenarnya tidak enak badan dad, Jadi aku ingin istirahat dan ijin tidak bekerja hari ini padamu," sambung nya.
"Kau sakit?"
"Bisa dikatakan demikian."
Tuan besar Hoon menyunggingkan senyum miring setelah itu dia berucap,"well, tak masalah."
Senyum mengembang di bibir shin karena sang ayah telah mengijinkannya." Thank you," ucapnya.
Nyonya besar melirik pada suaminya."Kau membiarkan putera mu menjadi orang pemalas?"tanya nya dengan kesal.a
"Dia sudah bekerja keras semalaman,"jawab tuan besar dengan santai.
Nyonya besar mengernyitkan dahi."Apa maksud mu bekerja keras semalam?tanya nya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang di maksud oleh suaminya.
Tiba tiba Norin terbatuk setelah mengerti apa maksud dari ucapan sang ayah mertua. Dia benar benar malu sekali dan dengan sigap Shin mengambilkan air putih yang sudah tersedia di atas meja.
"Minum sayang," titah Shin, mendekatkan gelas berisi air itu di depan bibirnya dan Norin segera memegang gelas itu lalu meneguk nya.
"Terima kasih,"ucap Norin setelahnya. Shin tersenyum lalu mengelap sisa air yang menempel di bibirnya.
Perlakuan manis Shin pada Norin membuat dada nyonya besar terasa sesak sehingga dia melupakan rasa penasaran itu pada suaminya.
"Kamu mau makan apa sayang?"tanya Norin.
"Aku mau makan roti selai madu saja,"jawab Shin.
__ADS_1
Norin mengangguk lalu mengambil dua lembar roti dan di olesi oleh madu murni kemudian dia meletakkannya di hadapan Shin.
"Terima kasih sayang," ucap nya, Norin mengangguk dan tersenyum.
Setelah selesai membuatkan sarapan untuk suaminya, Norin mulai mengolesi roti dengan selai nanas untuk nya sendiri. Namun ketika dia hendak menyuapkan roti itu ke dalam mulutnya, dia menurunkan roti itu kembali setelah melihat tuan besar hanya diam saja dan melihat ke arahnya serta Shin. Norin juga melihat piringnya masih dalam keadaan kosong. Sementara nyonya Hoon sedang fokus memakan roti panggang yang sudah di buatkan oleh bibi Liu sebelumnya tanpa menghiraukan suaminya.
"Daddy, kenapa tidak makan? apa....Daddy mau saya buatkan sesuatu?"tanya Norin dengan hati hati.
Tuan besar Hoon mengangguk pelan. Norin tersenyum senang. Shin menyunggingkan senyum tipis dan nyaris tak terlihat. Sementara nyonya besar menatap sinis ke arah pria paruh baya di sampingnya dan wanita berhijab yang sedang tersenyum senang.
"Daddy mau makan apa?"tanya Norin dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Sandwich,"jawab singkat tuan besar dan datar.
Norin mengangguk.
Kemudian Norin mulai membuat sandwich special untuk sang ayah mertua. Setelah selesai dia memberikan sandwich itu padanya.
Tuan besar Hoon menatap sandwich di hadapannya dengan jakun naik turun. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk menyantapnya.
"Silahkan di makan dad, semoga Daddy suka,"kata Norin dan di angguk kan oleh tuan besar.
"Kenapa rasanya berbeda dengan sandwich yang kau buat kemarin?"tanya tuan besar pada Norin.
Norin menghentikan kunyahan nya dan dia menatap balik tuan besar dengan kening mengkerut.
"Benar kah dad? apa, apa tidak enak?"
Tuan besar mengangguk pelan, lalu meletak kan sandwich itu di atas piringnya dan menggeser piring itu dari hadapan nya.
"Sama sekali tidak enak apalagi rasa saosnya, Aku tidak menyukainya," jawab tuan besar kemudian.
Nyonya besar tersenyum senang melihat suaminya menolak sandwich buatan menantu yang tak di anggap nya itu.
Norin menoleh pada Liu yang sedang berdiri di belakang tuan besar. Namun Liu mengerti dan sebelum Norin bertanya padanya dia lebih dulu berterus terang.
"Maaf nyonya muda, sebenarnya itu saos instan yang telah di beli di supermarket dan saos yang biasa di konsumsi oleh tuan muda Hoon sudah habis." Liu menjelaskan dengan sedikit gugup, dia sendiri lupa tentang stok saos yang telah habis.
"Kalau habis kenapa kau tidak membelinya lagi Liu?"tanya tuan besar dengan kesal.
__ADS_1
"Maaf tuan, tidak ada saos seperti itu di supermarket."
"Kalau tidak ada lantas dimana kau membelinya selama ini?"
"Saya, saya tidak membelinya tuan."
"Apa maksud mu?"
"Saos itu.....nyonya muda sendiri yang telah membuatnya."
"Apa!"
Tuan besar Hoon nampak terkejut lalu melirik pada wanita berhijab di hadapannya. Norin menundukkan wajahnya dia tidak berani menatap sorot mata ayah mertuanya.
Shin melirik pada Norin lalu meraih tangannya."Jadi saos yang terdapat pada sandwich dan selalu ku makan itu saos buatan mu sendiri sayang?"
Sambil menunduk Norin mengangguk pelan.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita jika saos yang rasanya lezat itu hasil buatan tangan manis mu ini sayang?"Setelah berujar Shin mengecupi punggung tangannya. Norin sedikit terkejut, dia merasa malu serta tak enak hati pada empat pasang mata yang sedang memperhatikan perlakuan Shin padanya.
"Berlebihan sekali padahal bukan lah hal yang istimewa dan patut di banggakan."
Treeng...
Setelah berkata sinis, nyonya besar Hoon
hendak meninggalkan meja makan setelah meletak kan garpu dan pisau di atas piringnya dengan kasar. Namun sebelum dia melangkah tuan besar Hoon bertanya.
"Mau kemana kau, Hyun Jung?"
"Aku sudah kenyang." Setelah menjawab pertanyaan suaminya nyonya besar Hoon beranjak pergi.
Hening...
"Sayang kau lanjutkan sarapan mu,"titah Shin, namun Norin tidak menghiraukan perintah Shin melainkan menatap pada tuan besar Hoon yang diam saja setelah sandwich buatannya tidak merasa cocok di lidahnya.
"Dad, aku mohon maaf jika sandwich buatan ku tidak enak. Kalau Daddy menyukai saos buatan ku...aku akan membuatnya nanti. Tapi untuk sarapan pagi ini bisakah Daddy meminta di buatkan sesuatu yang lain dulu?" Norin memberanikan diri memohon maaf sekaligus menawarkan diri untuk membuatkan sesuatu jika sang ayah mertua membutuhkannya.
Tuan besar tidak menghiraukan permohonan maaf Norin padanya melain kan dia beranjak pergi dari meja makan.
__ADS_1
"Aku heran, kenapa penghuni rumah besar ini isinya hanya orang orang yang memiliki sikap aneh,"sindir Shin dengan suara keras sehingga tuan besar yang sedang berjalan dapat mendengarnya dengan jelas, namun dia tidak menghiraukan sindiran Shin melainkan melangkah pergi.