Ikatan Cinta Suami Korea

Ikatan Cinta Suami Korea
Masuk jebakan Ji Eun


__ADS_3

"Hari ini aku ingin ijin pergi ke market dengan bibi Liu."


Norin Mengirim pesan pada Shin dan berharap dia mengijinkannya. Namun sudah beberapa menit menunggu tak kunjung ada balasan. Begitu lah Norin, selalu meminta ijin terlebih dahulu pada Shin ketika dia hendak pergi kemana pun dan tak jarang pula Shin melarangnya pergi jika tidak bersamanya. Namun meskipun begitu Norin akan selalu mematuhi apa pun perintah atau larangan suami posesifnya itu.


"Nyonya, bagaimana?"Tanya Liu yang sedang menunggu nya mengirim pesan dan sudah bersiap siap hendak pergi berbelanja.


Norin menoleh pada wanita paruh baya yang sedang duduk menyender."Tuan muda belum membalas pesan saya, Bibi Liu."


"Saya sangat kagum pada nyonya, nyonya selalu meminta ijin terlebih dahulu pada tuan muda."Puji Liu.


Norin menyunggingkan senyum tipis di bibirnya lalu berucap."Saya ini wanita yang sudah memiliki seorang suami jadi apa pun yang ingin saya lakukan saya harus meminta ijin padanya terlebih dahulu."


"Apakah seperti itu ajaran agama nyonya?"


"Saya rasa semua agama menganjurkan tiap tiap pasangan harus saling menghargai satu sama lain bi, seperti saya terhadap tuan muda begitu pula sebaliknya. Ketika saya meminta ijin pada nya sama halnya dengan saya menghargai nya karena dia suami saya."


"Heh, Liu kau di panggil nyonya besar."Ji Eun tiba tiba muncul di sela sela perbincangan mereka.


Norin dan Liu menoleh pada satu satunya pelayan yang kerap kali memakai pakaian se xi."Tidak biasanya nyonya besar mencari ku siang hari, ada apa?"Tanya Liu.


"Kau bertanya padaku, apa kau pikir aku tau alasannya mencari mu? Lagi pula bukan urusanku. Aku hanya menyampaikan nya saja." Setelah berkata, Ji Eun beranjak pergi tanpa pamit.


"Ish, dasar pelayan sombong." Umpat Liu, pandanganya mengarah pada Ji Eun yang sudah berjalan menjauhinya.


"Ya sudah bibi Liu, lebih baik datangi dulu nyonya besar dan siapa tau ada hal penting yang ingin beliau katakan. Lagi pula saya masih menunggu ijin dari tuan muda."


"Tapi, saya bingung nyonya kemana saya harus mendatangi nyonya besar? kenapa Ji Eun tidak memberi tau terlebih dahulu dimana nyonya besar menunggu. Apa dia sengaja berbohong."ujar Liu, dia merasa ragu pada apa yang di katakan oleh Ji Eun.


Tanpa sengaja pandangan Norin mengarah pada Ji Eun yang sedang berjalan dengan jarak cukup jauh dari mereka duduk."Lihat itu Ji Eun." Tunjuk nya pada wanita itu. Liu mengikuti arah telunjuk Norin." Oh ya benar nyonya. Kalau begitu saya akan bertanya dulu padanya, mari nyonya." Setelah itu, Liu beranjak pergi untuk menemui Ji Eun.

__ADS_1


Dari kejauhan Norin memperhatikan dua orang pelayan itu sedang berbicara serius. Namun tak lama kemudian Liu pergi menjauhi Ji Eun. Dia pikir Liu sudah mengetahui keberadaan nyonya besar oleh karena itu dia tidak kembali lagi padanya.


Berulang kali Norin melihat pada benda pipih yang sedang di pegang olehnya dan berharap ada balasan dari Shin, namun lagi lagi dia hanya menelan saliva nya karena benda pipih itu belum saja bergetar.


"Apa dia sangat sibuk sehingga tidak bisa membalas pesan ku?"Norin bermonolog.


Sementara di suatu tempat lain khususnya di sebuah gedung menjulang tinggi, Shin baru saja keluar dari ruang meeting setelah dua jam meeting bersama jajaran petinggi Nobland group. Sambil berjalan Shin merogoh ponsel yang terdapat di saku celana karena ketika meeting berlangsung ponsel miliknya bergetar secara terus menerus. Dia penasaran siapa saja orang orang yang telah menghubunginya.


Shin mengembang kan senyum ketika dia melihat layar benda berbentuk pipih itu. Bagai mana tidak tersenyum, dari beberapa nama yang menghubungi nya terdapat sebuah nama yang sudah mendiaminya selama dua hari ini telah mengirim pesan padanya. Selama mendiaminya Norin tidak pernah mengangkat telpon darinya apa lagi membalas pesan. Namun hari ini dia mengiriminya sebuah pesan. Dia pun segera membuka pesan itu. Seketika senyumnya memudar setelah membaca pesan pendek berupa meminta ijin padanya untuk pergi ke supermarket dengan Liu karena Shin pikir sang istri mengiriminya pesan kalimat kerinduan padanya. Namun meskipun begitu, dia tetap menghargainya.


Shin melangkah lebar menuju ruangan tempat kerjanya. Dia tidak sabar untuk menghubungi balik nama yang sudah mengirim pesan pendek itu.


Getaran ponsel menyadarkan wanita cantik dan berhijab itu dari lamunan. Cukup lama dia menunggu balasan dari sang suami. Namun bukan berupa balasan pesan masuk ke ponsel miliknya melain kan sebuah video call terhubung.


"Kenapa harus video call? kenapa tidak melalui pesan saja."Norin menggerutu kesal. Dia sendiri sedang tidak ingin bertatap muka dengan pria yang sedang melakukan panggilan video call padanya saat ini. Dia hanya ingin balasan pesan bukan panggilan video call.


Norin membiarkan ponsel itu terus bergetar hingga ponsel itu berhenti bergetar dengan sendirinya. Setelah ponsel itu berhenti bergetar, sebuah pesan masuk. Dia pun segera membuka pesan itu.


Norin pun segera membalas pesan itu dengan singkat.


"Aku hanya butuh balasan pesan. Boleh atau tidak."


"Bagaimana jika aku tidak mengijinkannya?"


"Itu hak mu. Dan aku akan menuruti apapun keputusan mu."


Shin tersenyum membaca pesan terakhir dari sang istri yang sedang marah padanya. Hal kecil seperti ini yang membuat Shin mengaguminya, karena se kesal apa pun Norin padanya dia masih saja menghargainya sebagai layaknya seorang suami.


Wajah Norin menekuk setelah tidak mendapat ijin dari Shin. Namun dia bisa apa? Norin tidak mungkin memaksa Shin agar mengijinkan nya pergi karena dia bukan tipikal wanita pemaksa kehendak. Namun tak lama kemudian ponsel yang masih di pegang erat olehnya kembali bergetar.

__ADS_1


"Pergilah sayang, aku mengijinkan mu asal kamu harus berhati hati di sana."


Netra bulat Norin berbinar binar membaca pesan yang dikirim oleh Shin. Dia senang sekali karena Shin telah mengijinkan nya untuk pergi ke super market dengan Liu.


Ekor matanya mencari keberadaan Liu yang sejak tadi belum kembali padanya. Di tengah mencari keberadaan Liu di saat itu pula dia melihat Ji Eun yang tengah melintas.


"Ji Eun!" Panggil Norin dengan suara di tinggikan karena ji Eun berada cukup jauh darinya.


Ji Eun berhenti melangkah dan menoleh pada sang majikan yang tidak pernah di sukai nya. Namun, dia enggan melangkah mendekatinya. Dia pikir biarkan saja wanita itu yang mendatanginya karena dia sendiri yang memiliki keperluan dengan nya.


Norin melangkah lebar mendekati Ji Eun agar cepat sampai pada wanita itu."Ji Eun, kau tau dimana posisi nyonya besar memanggil bibi Liu?"tanya nya setelah berada dekat dengan Ji Eun.


"Kau mau tau?"Ji Eun balik bertanya sembari bersedekap dada dan menatapnya sinis.


"Tentu saja."


"Paviliun."Jawab Ji Eun singkat.


"Apa? tidak mungkin kau pasti bohong. Tidak mungkin nyonya besar berada di paviliun. Dia sangat jarang ke sana."


"Ck, ya sudah kalau kau tak percaya. Percuma saja kau bertanya padaku jika kau tak percaya." Ucap nya kemudian hendak melangkah pergi namun Norin mencegahnya."Tunggu Ji Eun."


"Kenapa? apa kau percaya sekarang ?"tanya ji Eun penuh percaya diri.


"Apa, apa kau tidak sedang membohongiku?"tanya balik Norin dengan perasaan ragu.


"Kalau kau tak percaya ya sudah aku tidak memaksa."


Norin tidak lagi bertanya pada Ji Eun melainkan melangkah pergi untuk menyusul Liu di paviliun.

__ADS_1


Ji Eun menatap punggung Norin sembari menyunggingkan senyum miring di bibirnya dan berkata." Dasar wanita bodoh."


__ADS_2